Pudhak Sategal Singosari

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : ?,- (TERMAHAR) Tn. H, Kebayoran View


1. Kode : GKO-388
2. Dhapur : Pandhawa Pudhak Sategal
3. Pamor : Kelengan
4. Tangguh : Singosari (Abad XI)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 1035/MP.TMII/VIII/2019
6. Asal-usul Pusaka :  Temuan Sungai Brantas
7. Dimensi : panjang bilah 35 cm, panjang pesi 6 cm, panjang total 42 cm
8. Keterangan Lain : kolektor item, pernah dipamerkan


ULASAN :

Dhapur Pudhak-satêgal winarni | kêmbang-kacang sogokan sraweyan | pinêkak sor-êsorane (Serat Centhini)

PUDHAK SATEGAL, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk lima yang tergolong sangat langka. Keris ini mempunyai ricikan; sekar kacang, jalen, lambe gajah satu, sogokan rangkap, tikel alis, sraweyan, greneng dan pudhak sategal.

Menurut Serat Centhini, Pudhak Sategal yang zaman dulu lebih lazim disebut pêkakan, merupakan sraweyan yang dibentuk menyerupai daun pudhak, letaknya di sor-soran. Bentuknya menyerupai pudhak (kelopak bunga pandan), dengan ujung-ujungnya yang runcing. Untuk keris tidak ada pakem khusus mengenai ragam posisi kedudukan pudhak sategal antara sisi depan dan belakang, sangat bergantung kreatifitas dari sang Empu. Ada yang sisi depan dan belakang rata sejajar, ada yang sisi depannya lebih tinggi, atau sebaliknya. Hanya pada dhapur tombak posisi pudhak sategal selalu dalam letak yang sejajar di kedua sisi.

Ada catatan menarik mengenai ricikan pudhak sategal yang ditulis dalam buku Ensiklopedi Keris oleh alm. Bambang Harsrinuksmo (2004). Menurutnya ricikan pudhak sategal baru ada pada zaman Mataram Akhir, dan baru populer pada zaman Surakarta. Masih menurut buku yang sama, keris-keris tangguh tua, seperti tangguh Majapahit, Blambangan, Tuban dan Madura Sepuh tidak ada yang menggunakan ricikan pudhak sategal.

Tentu saja tulisan mengenai pudhak sategal tersebut memantik diskusi yang hangat di kalangan pecinta keris. Bagi penulis sendiri juga menimbulkan sebersit pertanyaan; jika ricikan pudhak sategal baru ada di zaman mataram akhir, lalu mengapa dhapur mangkurat mangkunegara yang menurut Serat Pustakaraja Purwa dibabar pertama kali oleh Mpu Hanggareksa pada masa pemerintahan Prabu Brawijaya Sepisan (Tahun Jawa 1303) dan dhapur hanoman yang konon pertama kali dibabar oleh 800 empu (domas) atas pemrakarsa Prabu Brawijaya Akhir (Tahun Jawa 1381) menggunakan ricikan pudhak sategal sebagai salah satu kelengkapannya? Selain itu dalam Serat Centhini pun sudah menuliskan adanya dhapur Pudhak Sategal, yang secara tidak langsung menyiratkan jika di zaman Mataram Sultan Agung pun dhapur ini sudah ada.

Adhapur Pudhak-satêgal | maknanira apan wujud sayêkti | murad pangêrti puniku | dene ta rahsanira | pikiring kang manungsèku kudu-kudu | gumêlar rasa nalika | cedha yèn katêmu buri || (Serat Centhini)

Bentuk Pudhak Sategal, artinya adalah wujud, maksudnya pengertian. Rahasianya, pikiran manusia mengajak untuk berkeinginan keras membentangkan rasa agar nantinya tidak mendapat cela.

FILOSOFI, Masyarakat Jawa memang tidak bisa dipisahkan dari simbol-simbol yang melingkarinya. Berbagai ciptaan-Nya yang ada di lingkungan sekitar dapat digunakan sebagai filosofi untuk menjalankan kehidupan ini ke arah yang lebih baik menuju kesempurnaan. Di antaranya adalah pudhak.

Pudhak dalam bahasa Jawa merupakan sebutan untuk bunga pandan, dan Sategal adalah satu tegal. Dalam bahasa Jawa kata siji akan berubah menjadi sa-, yang sering diucapkan sebagai sak-, se-, ataupun sa-. Sedangkan suatu daerah lahan kering dengan landskap permukaan yang tidak rata, yang pengairannya sangat bergantung oleh air hujan (karena pada saat musim kemarau akan kering dan sulit untuk ditanami), biasanya lahan tersebut ditanami tanaman musiman atau tahunan,  dan terpisah dari lingkungan sekitar rumah oleh orang jawa disebut sebagai tegal (berbeda lagi istilahnya dengan kebun, ladang, maupun sawah). Maka Pudhak Sategal secara harfiah dapat berati bunga pandhan yang terhampar penuh sejauh mata memandang dalam suatu lahan tegalan.

Daun pandan termasuk tanaman asli dari Asia Tenggara. Tidak sulit menemukan daun yang berwarna hijau terang, berbentuk kipas panjang, sempit dan berbau harum. Daun pandan, mudah sekali menanamnya, tidak membutuhkan media khusus, cukup tanah dalam pot kecil atau polybag. Tetapi kalau ingin tumbuhnya lebih subur, lebat dan bisa berkembang besar, lebih baik ditanam langsung di tanah. 

Tua maupun muda, daun pandan mempunyai sifat yang membawa aroma harum, merupakan aroma khas dari daun pandan ini dimana pun mereka berada. Hal ini menunjukkan sifat bahwa baik pemimpin Daun Pandan (tua maupun muda) mereka selalu membawa aroma yang sedap dengan selalu memberikan yang terbaik yang dimilikinya untuk kepentingan orang banyak.

Dalam dunia pewayangan sendiri hanya ada dua kesatriya pilih tanding yang mengenakan sumping pudhak sinumpet yakni Bima dan Anoman. Sumping Pudhak Sinumpet (pinter api api balilu). Maknanya: sebenarnya cerdas tapi enggan menampakkan kecerdasannya kepada semua orang. Layaknya peribahasa “air tenang menghanyutkan”, berbeda dengan kondisi mental pada umumnya manusia di jaman sekarang, seperti diingatkan dalam Serat Wedatama: Durung Besus Kasusu Kaselak Besus (belum bisa apa-apa, tapi terburu-buru ingin terlihat pintar).

CATATAN GRIYOKULO, satu lagi sebuah artefak terangkat dari bumi pertiwi. Spektakuler… dan sejenak kita pun terhanyut, laksana memandang sebuah cermin yang menjadi saksi bisu tentang perjalanan budaya dan sejarah Nusantara. Besar dan sungguh elok, begitupun masih gagah berwibawa. Seakan membawa pesan pencapaian suatu kejayaan di masa lalu yang wajib diceritakan pada generasi milenial ini agar tidak lupa DNA-nya sebagai bangsa yang unggul, berbudaya tinggi dan bermartabat. Bukan menjadi bangsa yang bermental tempe, namun pribadi yang selalu optimis menyongsong masa depan.

Dalam “genre pusaka temuan” tentulah semua akan sepakat jika keris ini masuk dalam kategori utuh, dari ujung hingga ke bagian pesi. Semuanya tentang keris ini terbilang istimewa, mulai dari materialnya hingga ke ricikan-nya digarap secara tegas. Salah satu menarik perhatian Penulis adalah adanya semacam rêrênggan (hiasan) di atas sekar kacang berupa garis ringkel/sulur-suluran. Entah mengapa keris-keris temuan yang secara fisik mungkin sudah tidak dalam kondisi terbaiknya dan belum tentu setiap orang akan mampu menyelami keindahannya yang berselimut patina, namun harus diakui justru memancarkan guwaya wingit yang lebih dan aura perbawanya sendiri. Seolah pantang redup dalam usia senjanya.

Dan bertepatan dengan HUT Museum Mpu Tantular Sidoarjo yang ke-42, pada tanggal 21 – 25 Sepetember 2016, bersama dengan keris Parungsari Sriwijaya (klik disini) dan Sengkelat Majapahit (klik disini), keris pandhawa pudhak sategal ini turut pula dipamerkan (foto no. 3 dari kanan). Selain kehadirannya membawa pemahaman baru dalam dunia kerisologi, secara khusus tentunya juga dapat menjadi kebanggaan dan kepuasan batin tersendiri bagi pemiliknya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

2 thoughts on “Pudhak Sategal Singosari

    1. Untuk membersihkan patina yang terdapat pada keris-keris temuan memang ngeri-ngeri sedap bapak Wahyu. Terlalu kebablasan dikupas mungkin malah akan berakibat jadi hancur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *