Keris Tayuhan Nagasasra

Mahar : 9.000,000,-


1. Kode : GKO-390
2. Dhapur : Nagasasra
3. Pamor : Ilining Warih
4. Tangguh : Mataram Madiun (Abad XVIII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 1066/MP.TMII/IX/2019
6. Asal-usul Pusaka :  Pangandaran, Jawa Barat
7. Dimensi : panjang bilah 33,5 cm, panjang pesi  6,5 cm, panjang total 40 cm
8. Keterangan Lain : nagasasra primitif


ULASAN :

NAGASASRA, adalah salah satu bentuk dhapur keris naga yang paling terkenal di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Bagian gandik keris Nagasasra biasanya diukir dengan memakai badhog atau mahkota di atas kepalanya. Terkadang digambarkan juga memakai perhiasan anting dan kalung emas dengan badan/sisik naga seolah turun dari atas pucuk mengikuti kelokan luk bilahnya yang berjumlah tiga belas.

Sebagian pemilik keris dhapur Naga Sasra memasang butiran emas atau batu mulia pada moncong naga yang menganga. Konon, butiran emas atau batu mulia itu berfungsi untuk meredam sifat “galak” dan “panas” dari keris itu. Konon pula, bila situasi gawat, butiran emas atau berlian yang menyumpal di mulut naga itu dicopot, agar tuah keris itu kembali garang dan menakutkan.

Dalam kepercayaan yang berkembang di masyarakat, keris-keris varian keluarga Naga dianggap mempunyai tingkatan spiritual lebih dibandingkan keris-keris lain. Keris-keris unggulan sering dilengkapi dengan stilasi naga, karena makhluk mitologis ini dianggap sebagai simbol kerberkahan serta  penjagaan atau pelindungan fisik maupun non fisik.

NAGA PRIMITIF, istilah naga primitif merupakan sebuah istilah dalam dunia perkerisan untuk menyebutkan semua motif naga, apapun nama dhapur-nya, baik yang dihias logam mulia maupun tidak, bilah lurus ataupun luk yang dibuat dalam tampilan. sederhana. Motif pahatan naga semacam ini biasanya dibuat oleh “Empu-Empu njawi” yang tidak mengabdi di lingkungan istana. Penggunanya pada umumnya adalah tokoh masyarakat seperti kepala desa, ulama, spiritualis atau mereka yang status sosialnya tidak terlalu tinggi atau menengah. Mereka juga ingin meniru babon/pancer keris-keris agung yang dimiliki oleh Raja dan bangsawan atau bisa juga dalam pembuatannya memang sengaja ditujukan sebagai sipat kandel sehingga tidak terlalu menonjolkan unsur pamer estetika (keris tayuhan). Saking bentuknya yang sangat sederhana, bahkan kadangkala tidak jelas atau abstrak terkadang menyulitkan untuk menentukan nama dhapur kerisnya. 

FILOSOFI, Masyarakat Nusantara telah lama mengenal naga sebagai makhluk berbentuk ular besar dan mempercayainya sebagai salah satu makhluk penguasa gaib. Sayangnya, hingga kini belum pernah ada kabar kemunculan sosok naga dihadapan masyarakat banyak. Hanya sejumlah orang yang menekuni dunia spiritual yang pernah melihatnya sosoknya, itupun juga secara gaib (mata batin).

Kita tentulah sering mendengar cerita atau membaca berita/tentang penampakan hal-hal gaib atau fenomena alam yang terjadi diluar jangkauan nalar/logika manusia. Sayangnya, hanya karena tak terjangkau atau tak terpahami oleh logika, maka kadang dengan angkuh dan sombongnya kita langsung memvonis semua berita/cerita itu hanya sekadar mitos/tahayul/legenda/dongeng semata, tanpa mau berikhtiar menelusuri jejak sejarah atau jalan cerita yang sebenarnya.

Tak bisa dipungkiri, kitab suci tiada lain merupakan kitab pedoman yang menuntun manusia untuk memahami dan memaknai kebesaran dan kekuasaan Sang Pencipta. Namun Kitab suci bukanlah seperti buku ilmiah yang menjelaskan secara terperinci fenomena semesta, namun kitab suci juga mengandung signal/isyarat ilmiah yang bisa dijadikan dasar mencari dan menemukan kebebenaran yang masih ditutup kabut misteri.

“Dan Dia (Allah) telah menciptakan kuda, bagal, keledai agar kamu menungganginya (dan menjadikannya perhiasan). Dan Allah juga menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS. An-Nahl: 8)

Lagi pula, sesuatu yang dianggap gaib belum tentu tak ada. Sesuatu yang dianggap cerita mitos, tahayul, legenda, dongeng dan sebagainya, belum tentu berarti cerita itu tak pernah terjadi. Kendalanya hanya ada pada keterbatasan kemampuan akal manusia yang belum mampu menguak tabirnya. Sesuatu yang gaib adalah sebuah misteri, sesuatu yang masih menjadi rahasia. Dan tabir utama yang menjadi penghalang itu adalah keterbatasan pengetahuan kita sebagai manusia.

Keyakinan kepada hal-hal yang tak terjangkau (yang belum dipahami akal) manusia, yang dalam istilah al-quran di sebut dengan hal yang gaib (malaikat, jin, iblis, termasuk hari pembalasan, dan lain-lain) adalah salah satu sendi keimanan (Rukun Iman) dalam Islam.

“Diantara tanda-tanda-Nya ialah Dia menciptakan langit dan bumi, dan makhluk-makhluk yang melata yang disebarkan pada keduanya (langit dan bumi) dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendakiNya.” (QS. Asy-syura: 29)

Kata “makhluk yang melata” yang dalam teks asli al-quran disebut dengan “dabbah”. Oleh sebagian ulama menerjemahkannya dengan “makhluk melata”, yaitu makhluk yang berjalan atau bergerak berpindah tempat dengan tidak menggunakan kaki atau tangan atau sayap. Dalam pengertian umum, binatang yang punya ciri melata yaitu berjalan dengan perut atau otot perutnya adalah ular.

Dalam al-quran juga ditegaskan bahwa, makhluk melata yang disebut dengan “dabbah’ (ular) ini tak hanya berada dan hidup di bumi, tapi juga berada dan hidup di planet/galaksi/alam lain di langit.

“Dan kepada Allah sajalah bersujud segala makhluk melata yang  berada di langit dan semua makhluk melata yang ada di bumi dan juga para malaikat. Sedangkan mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri.” (QS. An-Nahl: 49)

Selanjutnya, bila ditelusuri dan diamati dari berbagai upacara adat yang dilakukan mayoritas msyarakat agraris di Nusantara, Ular Naga tak lain adalah simbol yang merupakan unsur penting kehidupan yang sangat lekat dengan kehidupan manusia, yakni Air. Air adalah salah satu unsur terpenting yang juga menjadi salah satu kebutuhan pokok manusia. Bahkan menurut kajian ilmu pengetahuan, air disinyalir sebagai asal mula kehidupan semua makhluk.

Manusia, dengan potensi lahir dan batin, akal dan nurani yang dikaruniakan Tuhan, dipilih oleh-Nya untuk mengemban amanat suci sebagai Khalifah (wakil Tuhan di bumi) untuk menjadi pemimpin, menjadi pengayom dan penjaga keseimbangan kosmos, menjadi penghubung langit dan bumi, yang diaplikasikan dengan menjalin hubungan baik dengan Tuhan dan menjalin hubungan baik dengan sesama dan alam semesta. Dengan demikian, maka akan tercipta tatanan kehidupan yang rahmatan lil alamin yaitu kehidupan seimbang yang menjadi penyebab rahmat/kasih sayang Tuhan selalu menyertai.

Keyakinan akan keseimbangan kosmos yang disimbolkan dengan ular naga sebagai air kehidupan dan sebagai keseimbangan kosmis antara kosmis keilahian (Ketuhanan/gaib) dengan kosmis kemakhlukkan sebagai ciptaan, senantiasa menjadi kearifan dan nilai luhur bagi orang Jawa yang kemudian dilekatkan dalam dhapur sebuah keris.

TENTANG TANGGUH, Jika pada surat keterangan museum pusaka dituliskan keris Nagasasra ini berasal dari tangguh Madiun era Mataram Akhir (Abad 18), mungkin Penulis memiliki pendapat yang lain. Menilik dari bentuk bilahnya yang ramping, tantingan sangat ringan dan dengan wasuhan besi yang berbeda dengan besi era Mataram, namun justru lebih mirip besi era majapahit bisa saja keris Nagasasra ini berasal dari Madiun Era yang jauh sebelumnya, yakni Majapahit akhir, terlebih keris-keris dengan gonjo wilut lebih populer atau banyak ditemukan di tangguh Majapahit.

Namun ada hal yang lebih pasti, keris ini tampak wingit, dalam kesederhanaan seolah menyimpan sesuatu yang lain, yang memang secara khusus dikeluarkan pada bulan Suro. Bentuk naga dipahatkan dalam stilasi primitif, mulai dari bentuk badhog (mahkota), kepala naga dengan lidah menjulur dan sisik-sisik pada badan naga yang dicukit tidak terlalu dalam (plisiran) semuanya masih tampak utuh. Besinya terlihat hitam kebiruan dengan pamor yang soft (tidak terlalu terang). Untuk warangka bawaan sebelumnya dan jejeran kuningan masih dipertahankan.

PAMOR ILINING WARIH, secara harfiah berarti air yang mengalir. Merupakan salah satu motif pamor yang bentuk gambarannya menyerupai garis-garis yang membujur dari pangkal bilah hingga ke ujung. Garis-garis pamor itu ada yang utuh, ada yang putus-putus, dan banyak juga yang bercabang. Garis yang berkelok-kelok itu seolah menampilkan kesan mirip gambaran air sedang mengalir.

Adalah simbol perjalanan hidup yang dinamis meski penuh dengan ketidakpastian atau hal-hal yang tak terduga. Meski terhalangi, air selalu bisa flexible mengalir mencari jalannya sendiri dari Gunung (hulu) hingga Samudera (hilir), membasahi daratan kering, menghidupi tempat-tempat yang tandus. Pamor ilining warih dipercaya membawa semangat pembaharuan, keluar dari masa sulit dalam kehidupannya.  Tak heran banyak Pecinta keris menggemari keris dengan pamor motif sederhana ini karena tuahnya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *