Keris Lok-13 Sriwijaya

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : ?,-(TERMAHAR) Capt. AA, Balikpapan


1. Kode : –
2. Dhapur : Lok 13
3. Pamor : Keleng
4. Tangguh : Sriwijaya
5. Sertifikasi Museum Pusaka No :
6. Asal-usul Pusaka :  Temuan Sungai Musi, Palembang
7. Dimensi : panjang bilah 35 cm, lebar ganja 12 cm
8. Keterangan Lain : kolektor item, pernah dipamerkan, masuk dalam buku


ULASAN :

PERSEBARAN KERIS DARI JAWA KE SUMATERA (ERA MATARAM HINDU), Prasasti Kalasan (778M) mengungkapkan tentang peran Rakai Panangkaran yang membantu Maharaja Syailendra bersama para pendeta-pendeta Budha mendirikan bangunan suci di Kalasa (Kalasan). Kerjasama dari kedua dinasti ini berbuah manis dengan terciptanya stabilitas di tanah Jawa. Untuk memperkuat stabilitas ini diadakan pula ikatan perkawinan antara Pramodhawardani dari wangsa Syailendra dengan Rakai Pikatan dari wangsa Sanjaya yang berlangsung antara 824M-832M. Pada tahun 856M Rakai Pikatan membantu Pramodhawardani memerangi Balaputradewa yang merasa tidak senang terhadap campur tangan keluarga Sanjaya. Kedudukan dinasti Sanjaya semakin kuat dalam memegang kendali pemerintahan. Balaputradewa akhirnya terusir ke Walaing, dengan pertahanan terakhirnya dipusatkan di bukit Ratu Baka. Dari situ keluarga Balaputradewa menyingkir ke kerajaan Sriwijaya di Sumatera dan diangkat menjadi Raja.

Dari uraian tersebut di atas menunjukkan bahwa pada pertengahan abad ke-9, telah terjadi perpindahan keluarga Balaputradewa ke Sriwijaya di Pulau Sumatera. Keluarga Balaputradewa dapat diterima dengan baik dimana disebutkan bahwa Balaputradewa diangkat menjadi Raja di Sriwijaya. Maka berdasarkan data-data arkeologis yang ditemukan di Jawa bahwa budaya keris mulai lahir dan berkembang sekitar abd ke-7 s.d abad ke-9, peristiwa perpindahan Balaputradewa ke Sriwijaya layak ditelaah lebih mendalam untuk mengetahui perkembangan budaya keris di Sumatera pada masa itu.

ARTEFAK KERIS TANGGUH SRIWIJAYA, Penelusuran budaya keris di pulau Sumatera pada masa silam juga dapat dirunut melalui beberapa temuan artefak bilah keris tua. Bilah-bilah keris tua ini seringkali ditemukan di sungai-sungai, seperti sungai Musi, Batanghari, Kampar dan Dareh oleh para penambang pasir tradisional maupun para pencari emas. Walaupun adapula artefak keris yang ditemukan di ladang atau persawahan seperti di daerah Batusangkar, Padang Laweh, dan Saruaso oleh para petani yang sedang menggarap lahannya. Menilik dari material besi dan baja serta gaya dari bentuk kerisnya menunjukkan usia yang sangat tua. Namun umumnya keris-keris tersebut sudah tidak terlalu utuh, termakan usia. Namun kadangkala juga dijumpai dalam keadaan yang masih utuh, menunjukkan kualitas besi yang prima dan tempa yang baik.

Keris-keris temuan tersebut pada umumnya hampir serupa dengan bentuk bilah tangguh Singosari atau Kahuripan, bahkan beberapa keris menunjukkan ciri-ciri keris yang sama dengan tangguh Kabudhan yang ditemukan di Jawa. Yang sedikit membedakan adalah ukurannya yang sedikit lebih besar, lebih panjang dan lebih tebal dari keris-keris berasal dari Jawa yang sezaman. Dari berbagai temuan bilah tersebut, semenjak tahun 2000-an, artefak keris-keris temuan tersebut kemudian populer di masyarakat perkerisan sebagai keris tangguh Sriwijaya. Saat ini keris yang diduga berasal dari era Sriwijaya tersebut menjadi incaran para pedagang dan para kolektor sebab memiliki value atau nilai komersial yang tinggi karena faktor kelangkaannya.

Temuan dan koleksi keris yang dipercayai berasal dari era Sriwijaya juga ada dalam koleksi yang terdapat di Museum Balaputradewa, Palembang. Keris-keris tersebut masih tersimpan dengan baik di gedung khusus yang digunakan sebagai gudang artefak museum. Selain keris-keris yang diduga berasal dari era Sriwijaya, Museum Balaputradewa juga menyimpan keris-keris lainnya, seperti keris tangguh bangkinang, palembang. minangkabau, majapahit dan beberapa keris sundang.

PAMOR KELENG, kêlêng dalam bahasa Jawa berarti hitam (cenderung glossy). Istilah pamor Keleng biasanya digunakan untuk menyebut suatu bilah keris, tombak, pedang atau tosan aji lain yang pamornya tak nampak sama sekali. Pada keris-keris keleng muda (nom-noman), memang tidak diselipi bahan pamor hanya baja (pengawak waja) tetapi pada keris-keris tangguh tua masih mengandung bahan pamor walau tidak terlihat karena kerapatan penempaan yang dibuat ratusan kali bahkan ribuan kali lipatan, menyatu dan luluh dalam bilahnya. Sehingga tampak seperti urat halus atau serat saja.

Keris-keris keleng selain mengutamakan kematangan tempa juga menitik-beratkan kesempurnaan garap. Garap yang dimaksud disini meliputi keindahan bilah, termasuk detail ricikan-nya. Sehingga banyak digemari oleh para penikmat garap. Keris keleng juga bisa menjadi bahasa tingkat kematangan lahir dan batin sang Empu. Kedalaman batin diterjemahkan dalam bilahnya yang berwarna hitam polos tanpa putihnya “bedak” pamor, mengisyaratkan jika sang Empu sudah menep (mengendap) hatinya dari pencemaran duniawi. Pamor keleng mampu menjadi inspirasi tentang sebuah ketulusan atau keikhlasan. Tuahnya susah dibaca, hanya mereka yang mengetahui ilmu esoteri saja yang bisa membaca. Namun ada juga yang beranggapan keris keleng mempunyai kekuatan esoteri yang lebih multifungsi.

CATATAN GRIYOKULO, ada rasa takjub dan keterpukauan yang mendalam ketika pertama kali menanting pusaka ini. Terkesima oleh bentuk gandik atau sor-sorannya yang lebar gonjonya sekitar 12 cm dengan panjang bilah 35 cm yang terasa asing untuk keris-keris yang dikenal dalam tangguh-tangguh pada umumnya. Gonjo dengan lebaran sepantaran yang sama mungkin adalah keris Corog dhapur Parungsari buatan Empu Brajaguna yang tersimpan di Museum Radya Pustaka, Surakarta, itupun diimbangi dengan panjang bilahnya yang sekitar 60 cm. Bagian gonjo terlihat masih tampak sangat wutuh, bagian greneng masih terbaca demikin pula pada bagian sirah cecaknya terdapat semacam lambe gajah. Bagian-bagian lain juga menampilkan ciri garap yang jelas dan tegas, semisal pada bagian odo-odo di tengah bilah yang sangat kentara menambah kekokohan serta kegagahannya. Secara umum besinya tampak sudah membatu, tampak wingit menyimpan perbawa tersendiri.

Keris ini sangatlah spesial terlebih pernah dipamerkan dalam sebuah acara bertajuk pameran keris terbesar di Indonesia, Keris Summit 2015, di Yogyakarta. Lebih dari 650 koleksi keris terbaik dari seluruh wilayah Indonesia dipamerkan, dan pusaka ini hadir untuk mewakili kebesaran Sriwijaya. Menemukan sebuah rantai sejarah yang terputus merupakan suatu kebanggaan tersendiri, artinya bahwa ada satu bilah lagi artefak sebagai bukti perjalanan sejarah sebuah bangsa dan budayanya berhasil diselamatkan. Lalu, apakah anda dikaruniai keberuntungan dan kepercayaan untuk merawat sekaligus meneruskan tradisi kejayaan Nusantara tersebut?

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan.

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *