Mahar : 4.950.000,-
1. Kode : GKO-516
2. Dhapur : Sabuk Tampar
3. Pamor : Bendo Segodo
4. Tangguh : Madiun Mataram (Abad XVIII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : –
6. Asal-usul Pusaka : Lampung
7. Dimensi : panjang bilah 35,5 cm, panjang pesi 7 cm, panjang total 42,5 cm
8. Keterangan Lain : Layak koleksi
ULASAN :
SABUK TAMPAR, merupakan salah satu bentuk dhapur keris luk sembilan. Ukuran panjang bilah keris ini normal, dan permukaan bilahnya nglimpa. Dhapur Sabuk Tampar memakai ricikan kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan-nya juga hanya satu, yakni sogokan depan saja. Selain itu keris ini memakai sraweyan dan eri pandan. Menurut cerita yang berkembang, dhapur Sabuk Tampar banyak dicari dan dimiliki oleh para pedagang, konon tuahnya dipercaya dapat memudahkan pemiliknya mempertahankan dan mencari pelanggan/relasi baru.
FILOSOFI, Sabuk—ikat pinggang—dikenakan dengan cara diubetkan, dilingkarkan mengikat raga. Ia bukan sekadar penahan busana, melainkan pralambang laku hidup. Mengubet sabuk berarti mengikat niat, mengencangkan tekad, bahwa manusia wajib bersedia berkarya demi menyambung hidupnya.
Dari situlah makna sabuk bermula: bekerja dengan sungguh-sungguh, sepenuh daya, tanpa mengeluh pada beratnya usaha. Sebab hidup tak cukup hanya dipikirkan, ia harus diupayakan. Namun kerja pun tak boleh asal bergerak. Jika laku hanya ramai di gerak, tetapi kosong hasil, itulah yang disebut “buk”—lelah yang sia-sia.
Maka sabuk mengingatkan: ikatlah badan, ikatlah kemauan, supaya kerja memiliki arah dan jerih payah menjelma menjadi buah.
Tampar—atau yang juga disebut tambang maupun dadung, adalah sejenis tali yang dibuat dari serat-serat alam. Pada masa silam, sebelum manusia bergantung pada bahan pabrikan, tampar lahir dari apa yang disediakan alam: sabut kelapa, rami, mendong, akar tanaman, rerumputan, hingga kulit dan bulu binatang.
Proses pembuatannya pun sederhana, namun sarat ketekunan. Serat-serat itu dikeringkan terlebih dahulu, lalu dipilin perlahan, disatukan, dan dikepang hingga membentuk untaian yang lebih besar dan kuat. Dari helai-helai rapuh yang berdiri sendiri, lahirlah kekuatan karena kebersamaan dan kesabaran tangan yang mengerjakannya.
Tampar mengajarkan bahwa daya ikat tidak selalu berasal dari kemewahan bahan, melainkan dari kesungguhan laku. Yang lemah bila dipersatukan, yang kasar bila dirawat dengan telaten, akan menjelma pengikat yang dapat diandalkan—sebagaimana hidup, yang memerlukan kesabaran untuk menjadi kokoh.
Dalam seni pewayangan Jawa, kita mengenal tokoh Semar, sosok yang tampil sederhana: berkain sarung bermotif kawung, bersabuk tampar, sebagaimana lazimnya busana para abdi punakawan. Namun di balik kesahajaan rupa itu, tersimpan kedudukan batin yang amat luhur. Punakawan, meskipun berderajat abdi dalem, justru menempati tempat tinggi dalam laku spiritual Jawa—penuntun, pengingat, sekaligus cermin kebijaksanaan.
Sabuk tampar yang dikenakan Semar bukan sekadar pelengkap busana, melainkan sebagai tali pengendali diri. Ia diikatkan di pinggang—di wilayah perut—yang dalam pandangan Jawa merupakan pusat hawa nafsu. Mengikat sabuk di sana ibarat mencencang, menahan, dan mengendalikan gejolak batin sendiri. Piwulangnya jelas: agar akal dan hati harus berkuasa atas hawa nafsu, bukan sebaliknya. Bila hawa nafsu dibiarkan lepas kendali, ia akan menjerumuskan pikiran dan meredupkan nurani.
PAMOR BENDO SEGODO, memiliki gambaran berupa bulatan-bulatan pamor yang berderet rapat memanjang dari pangkal hingga ujung bilah, menyerupai biji petai sepapan. Karena kemiripan visual inilah pamor ini di kalangan masyarakat Semenanjung Melayu dikenal sebagai pamor butir petai.
Namun dalam tradisi perkerisan Jawa, penamaan Bendo Segodo tidak merujuk pada petai, melainkan pada pohon bendo (Artocarpus elasticus L.). Secara etimologis, “bendo segodo” berarti bendo sebesar gada. “Bendo” (Artocarpus elasticus L.) adalah pohon hutan berbatang besar dan berperawakan kokoh, tumbuh di rimba-rimba tua Nusantara. Ia masih sekerabat dengan nangka dan sukun, namun memiliki buah dengan bentuk dan ukuran yang khas. Buah bendo berukuran besar, berisi padat, dan ketika masak dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan yang mengenyangkan.
Sedangkan “segodo” adalah sebesar gada, orang jawa biasa menyebut secara hiperbola sesuatu yang dianggapnya lebih besar dari ukuran rata-rata dengan ukuran segodo. Ukurannya jauh melampaui petai, sebab yang ditonjolkan dari bendo bukan jumlah butirnya, melainkan besarnya isi.
Dalam cara pandang orang Jawa, bendo melambangkan rezeki besar yang datang sekaligus, bukan rezeki kecil yang tercecer satu per satu. Ia adalah perlambang hasil yang terkumpul, matang, dan siap dipetik ketika waktunya tiba. Dari sinilah muncul ungkapan segodo—sebesar gada—sebagai bentuk hiperbola untuk menegaskan kelimpahan yang melampaui ukuran lumrah atau capaian yang melampaui kebiasaan. Dengan demikian, nama pamor ini tidak dimaksudkan sebagai gambaran bentuk botani secara harfiah, melainkan menafsirkan wataknya sebagai simbol kelimpahan yang besar dan berkesinambungan. Pamor Bendo Segodo juga dikenal sebagai pamor yang tidak pemilih, sehingga dianggap cocok dimiliki oleh siapa saja.
CATATAN GRIYOKULO, Secara visual, bilah keris ini tampak masih sangat utuh pada seluruh ricikan-nya. Garap luk terjaga rapi, demikian pula bentuk eri pandan/greneng yang masih jelas dan tidak aus oleh waktu. Sekar kacang melingkar halus, menempel pada gandhik, berpadu dengan pejetan dan sogokan yang tidak berimbang—sebuah ciri khas keris Madiunan yang kuat wataknya.
Besi yang digunakan menunjukkan karakter besi khas Mataram, berkesan matang, tenang, dan tidak dibuat-buat. Tidak menyisakan pekerjaan rumah lanjutan. Panjenengan tinggal menyimpan dan merawatnya dengan sepenuh rasa, agar tuah dan nilainya tetap terjaga.
Semoga keris ini dapat membawa rezeki dan keberkahan. Aamiin…
Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.
🌍 Jelajahi Dunia Tosan Aji
🔍 Temukan kawruh yang tersembunyi
📚 Jurnal, majalah, buku, hingga serat-serat kuno kini tersedia di SINENGKER.COM
📖 Ayo sinau bareng!
Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan
Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com








