Sengkelat Temuan

Mahar : 9.999,999,-


1. Kode : GKO-383
2. Dhapur : Sengkelat
3. Pamor : Nyanak (Beras Wutah?)
4. Tangguh : Palembang (Abad XIV)/ Singosari-Majapahit Awal?
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 976/MP.TMII/VIII/2019
6. Asal-usul Pusaka : Temuan Sungai Brantas
7. Dimensi : panjang bilah 36,7 cm, panjang pesi 5,8 cm, panjang total 42,5 cm
8. Keterangan Lain : kolektor item, pernah dipamerkan


ULASAN :

SENGKELAT, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk tiga belas. Keris Sengkelat memakai ricikan: sekar kacang, jalen, lambah gajah (satu), sogokan rangkap, tikel alis, sraweyan dan greneng.  Sekilas dhapur Sengkelat mirip dengan keris dhapur Parungsari. Bedanya, pada Sengkelat lambe gajah-nya hanya satu, sedangkan pada Parungsari dua buah. Menurut mitos atau dongeng dhapur Sengkelat pertama kali dibabar oleh Empu Sura atas pemrakarsa Sunan Bonang, pada tahun Jawa 1429.

Dalam riwayatnya, ada 2 (dua) versi menceritakan; versi pertama bahwa keris dhapur Sengkelat dipesan kepada Mpu Supo oleh Sunan Bonang dan versi kedua dipesan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Konon bahan untuk membuat Kyai Sengkelat adalah cis, sebuah besi runcing untuk menggiring onta milik Nabi. Namun sang mpu merasa sayang jika besi tosan aji ini dijadikan pedang (versi kedua = pangot sejenis pisau), maka dibuatlah menjadi sebilah keris luk tiga belas. Sang Sunan menjadi kecewa karena tidak sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Menurutnya, keris merupakan budaya Jawa yang berbau Hindu, seharusnya besi itu dijadikan pedang yang lebih cocok dengan budaya Arab, tempat asal agama Islam. Maka oleh Sang Sunan disarankan agar Kyai Sengkelat diserahkan kepada Prabu Brawijaya V. Ketika Prabu Brawijaya V menerima keris tersebut, sang Prabu menjadi sangat kagum akan keindahan keris Kyai Sengkelat. Dan akhirnya keris tersebut menjadi salah satu piyandel kerajaan yang mampu mengalahkan keris condong campur sekaligus menyingkirkan pagebluk yang melanda nagari.

SENGKELAT dan POLITIK, Karena warnanya merah seperti sengkelat, maka keris ini saya namakan Kiai Sengkelat. Tetap, sebenarnya keris ini kurang cocok untuk dipakai oleh seorang Santri. Ia lebih pantas dipakai oleh seorang Raja yang menguasai seluruh Pulau Jawa. Oleh karena itu Ki Supa, simpanlah keris ini baik-baik, mungkin di kemudian hari nanti keturunan kita yang akan menjadi Raja  – Sunan Kalijaga.

Menurut kepercayaan orang Jawa dan masih lestari mengakar hingga kini, seorang pemimpin tidak akan kuat lama menduduki kursinya bila tanpa didukung piandel yang cukup. Sejauh mana kebenaran dari kepercayaan ini? Bagi kebanyakan masyarakat di Indonesia, khususnya Jawa, hal ini bukan sesuatu yang saru lagi. Kepercayaan yang tidak diketahui sejak kapan bermula itu dianggap suatu keharusan yang tidak tertulis dan menjadi rahasia umum bagi setiap pemimpin bila tak ingin tahtanya segera jatuh. Bukan hanya cerita para raja dan sultan di masa lalu, tetapi para elit politik sekarang pun masih banyak yang mempercayai kekuatan atau tuah pusaka-pusaka sakti dengan berbagai bentuknya.

Banyak yang meyakini, salah satu pusaka yang cocok mendampingi dan bisa membantu kelanggengan kekuasaan adalah Keris berdhapur Sengkelat. Tak heran, meski zaman digital dimana semua ada dalam satu genggaman jari, masih  ba­nyak tokoh politik yang datang ke orang pintar demi memburu pusaka ini dengan biaya, syarat, dan resiko apapun. Keris Sengkelat sejak zaman Majapahit memang memiliki latar belakang politik yang kental, terutama dalam hubungannya dengan pudarnya sang Surya Majapahit di masa silam.

DUEL CONDONG CAMPUR – SABUK INTEN – SENGKELAT. Kita semua tentunya pernah mendengar tentang sebuah kerajaan besar (imperium) nusantara yakni Majapahit. Zaman keemasan Majapahit melekat erat pada pemerintahan Rajanya keempat, Hayam Wuruk. Bersama Patihnya Gajah Mada membangun Majapahit menuju puncak kejayaan berdasarkan falsafah kenegaraan “Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa”. Namun takdir berkata lain, dalam usia senjanya Majapahit bukan lagi memancarkan suryanya. Surya Majapahit telah meredup dan tenggelam ke dasar samudera. Keluhuran yang pernah dicita-citakan seolah telah pudar dan kehilangan makna. Kehormatan yang pernah menjadi kebanggaan beratus tahun tiba-tiba menjadi asing tak dikenal lagi tercabik oleh berbagai intrik. Majapahit perlahan-lahan meranggas, keropos, membusuk dan akhirnya tumbang. Jatuhnya Majapahit ini ditandai dengan Sengkalan, Sirna Ilang Kertaning Bumi (tahun 1400 saka).

Dalam kehidupan bernegara di Majapahit, terpecah menjadi dua golongan, yaitu golongan atas yang terdiri dari anggota kerajaan, keluarga bangsawan dan orang-orang kaya, serta golongan bawah yang terdiri dari rakyat jelata. Perbedaan dan perselisihan di antara kedua golongan ini begitu besar sehingga mengancam persatuan dan kesatuan dalam negeri. Untuk mengatasi masalah ini, konon dipanggilah sekitar seratus orang Empu untuk membuat satu keris sakti. Keris istimewa tersebut dibuat dari bahan yang diambil dari berbagai daerah dan dinamai Kyai Condong Campur. Nama tersebut dipilih sesuai dengan tujuannya. Kata “condong” dalam bahasa Jawa kuno (yang mungkin sudah diserap menjadi bahasa Indonesia) berarti “cenderung/lebih mendekati/mengarah pada…”. Sementara “campur” berarti “menjadi satu” atau “persatuan”. Dengan demikian, arti nama keris ini kurang lebih adalah “pembawa persatuan”.

Pada masa itu, setiap golongan memiliki keris yang menjadi simbol golongan mereka. Golongan Atas memiliki keris pusaka yang bernama Keris Sabuk Inten (nama yang berarti “ikat pinggang  permata/intan”) dan golongan wong cilik memiliki keris pusaka bernama Keris Sengkelat. Nama “sengkelat” diyakin berasal kari kata-kata Jawa “sengkel atine” yang berarti “hati yang berat/lelah/kecewa”, dikaitkan dengan kondisi hati masyarakat kelas bawah yang penuh kekecewaan terhadap pemerintahan yang ada. Masyarakat Majapahit (dan masih diyakini oleh masyarakat Jawa masa kini) meyakini bahwa setiap keris pusaka memiliki kekuatan spiritual dan supranatural, bahkan setiap pusaka memiliki karakter dan kecocokannya sendiri-sendiri. Demikian pula dengan keris Kyai Condong Campur. Keris tersebut diharapkan memiliki karakter pemersatu, namun betapa terkejutnya para Empu pembuat keris ketika mengetahui bahwa Kyai Condong Campur memilki karakter yang jahat dan bernafsu ingin menguasai.

Keris Sabuk Inten merasa terancam dengan kehadiran Keris Kyai Condong Campur, menantang Keris Kyai Condong Campur untuk bertarung. Meski kalah, namun dengan bantuan Keris Sengkelat akhirnya Kyai Condong Campur yang terkenal sakti itu berhasil dikalahkan. Dalam kemurkaannya Keris Kyai Condong Campur bersumpah bahwa ia akan kembali setiap 500 tahun untuk membawa ontran-ontran (bahasa Jawa, yang berarti “kekacauan/bencana”) ke tanah Jawa. Selesai mengucapkan sumpahnya, Keris Kyai Condong Campur melesat ke angkasa, meninggalkan jejak cahaya terang. Inilah yang dikenal orang Jawa/Majapahit sebagai Lintang Kemukus, bintang berekor. Mungkin inilah sebabnya masyarakat Jawa hingga saat ini masih percaya bahwa penampakan komet di langit adalah pertanda akan adanya “sesuatu”.

CERITA SENGKELAT YANG RAIB, dalam kisah perjalanan Empu Supa guna mencari Keris Kiai Ageng Sengkelat yang hilang dari gedong pusaka Majapahit terekam dalam manuskrip Babad Tanah Jawi dan dalam manuskrip Wiryodiningratan (tanpa nama, dibuat sezaman dengan Kitab Centini jaman PB IV). Dalam manuskrip Wiryodiningratan dikisahkan perjalanan Empu Supa mencari keris yang hilang dimulai ke wilayah barat, melalui Pelabuhan Banten kemudian menyeberang ke pulau Suwarnadwipa (Sumatera) hingga ke Palembang, Jambi dan ke Minangkabau. Dikisahkan juga bahwa untuk bekal perjalanannya Empu Supo banyak membuat bakalan keris dari bahan-bahan yang ia peroleh dalam setiap persinggahan di berbagai daerah ketika melakukan perjalanannya. Dalam manuskrip itu juga diceritakan bahwa Empu Supo akhirnya mendapatkan petunjuk dari Raja Palembang (tidak didebutkan namanya) mengenai keberadaan keris Sengkelat (Kanjeng Kyai Purworo) yang dicarinya. Raja Palembang tersebut juga memberika petunjuk bahwa Empu Supo harus kembali ke Tanah Jawa dan menyisir pantai utara Pulau Jawa menuju ke Timur karena keris Sengkelat yang dicarinya berada di tangan Raja Siung Laut di Blambangan (sekarang Banyuwangi dan sekitarnya).

Kisah yang lain bersama dengan Kyai Singkir, seorang Empu dari Madura, Supa membuat 40 kodhokan (keris dalam bentuk kasar, belum selesai) dan membawanya lewat jalan laut ke Blambangan dengan mengubah namanya menjadi Kiyai Kasa dan mengaku berasal dari seberang lautan. Di Blambangan Kyai Kasa mengganti namanya dengan Kyai Pitrang, lalu magang pada Kiyai Sarap, yang menerimanya karena terkesan dengan kerajinan muridnya.

Patih Blambangan ingin membuatkan sebuah pisau untuk putranya dan memesannya pada Sarap. Sarap menugaskan muridnya menyelesaikan pesanan tersebut. Sesudah pisau selesai dan putra sang Patih meninggal hanya karena tergores olehnya dan juga sebatang pohon kemuning yang tergores langsung menjadi kering. Maka sang Patih sadar, bahwa si pembuat pisau ini pasti juga membuat senjata yang handal. Keesokan harinya ia kembali menemui Sarap dan memesan sebilah keris untuknya, dan salam waktu yang singkat diselesaikan oleh muridnya, Pitrang, dengan dhapur Tilam Upih serta sebuah wahos (tombak) dengan dhapur Biring, yang kemudian diserahkannya kepada Patih yang menerimanya dengan terpesona. Sang Patih lalu mengangkat Pitrang menjadi saudara dan menceritakan kehebatan Pitrang kepada atasannya Adipati Siyung Laut. Adipati ini memanggil Supa dan memerintahkannya mutrani/membuat sebilah keris yang sama dengan keris yang dimilikinya. Pitrang menyanggupi dan memohon disediakan sebuah besalen yang bersih dan gelap agar ia dapat bekerja dengan baik dan mendapat  wahyu dari para Dewa. Ia pun meninta wesi budha (besi yang sangat tua) dan baja dan pamor, dan berjanji akan menyerahkannya segera setelah keris itu selesai, tanpa warangka.

Besalen yang gelap itu masih ditutup dengan tabir dari kain dan sang Patih menyerahkan Kyai Sengkelat kepada sang Empu, ia berjaga di luar kain penutup serta mengurus sajen dan dupa, lalu tertidur. Pitrang segera membuat 2 buah putran, menyelinap sebentar keluar dari besalen, untuk menyembunyikan Sengkelat yang asli dibawah batu di sungai, kemudian kembali dan menyelesaikan pekerjaannya.

Pada waktu ia menyerahkan kedua keris buatannya kepada sang Patih yang terbangun dari tidurnya, Patih bertanya yang mana dari keduanya yang asli. Pitrang menjawab Ia tidak tahu lagi. Pada saat ditanya oleh sang Adipati, jawabannyapun demikian dan mengusulkan agar keris-keris itu dicoba dimasukkan ke dalam sarungnya. Ternyata keduanya dapat masuk dengan tepat ke dalam sarung. Sang Adipati lalu memutuskan, bahwa keris yang berbuat demikian tidak boleh dibuat lagi dan meskipun bukan seorang Raja, tetapi karena rasa terima kasihnya ia mengangkat Pitrang menjadi Pangeran dengan nama Sendang serta menikahkannya dengan putrinya.

TENTANG TANGGUH, untuk masalah tangguh keris Sengkelat temuan ini memunculkan diskusi yang menarik, terutama soal tangguh. Karena Tangguh lebih bersifat perkiraan dan sering menimbulkan perdebatan, jauh sebelum Indonesia Merdeka para leluhur kita sudah memberikan pesan, diantaranya Ki Anom Mataram dalam Serat Centhini memberi nasehat sebagai berikut : … Poma wekasingsun, lamun ana ingkang nyulayani, atuten kemawon, garejegan tan ana perlune, becik ngalah ing basa sethithik, malah oleh bathi, tur ora kemruwuk … (ingat pesanku, bila ada yang berselisih ikuti saja lah, berdebat tidak ada gunanya, lebih baik mengalah sedikit, malah akan beruntung dan tidak ramai).

Jika yang tertulis pada Surat Keterangan Museum Pusaka TMII didapatkan keterangan dimana kemungkinan keris Sengkelat ini bertangguh Palembang abad XIV.  Namun dalam behind the scene-nya sebenarnya memunculkan dissenting opinion atau pendapat berbeda di antara kurator di Museum Pusaka, dimana ada salah satu kurator yang memberikan penilaian tangguh Singosari.

Jika diminta memberikan pendapat, meski pesi Sengkelat ini gemuk dan lebih pendek seperti keris Palembangan, namun Penulis pun cenderung lebih meyakini jika keris Sengkelat ini menampilkan karakter keris-keris Jawa Wetanan, terutama dari melihat bentuk luk, bagian gandhik dan greneng yang lebih berasa keris Jawa daripada Sumateraan. Tampaknya tangguh Singosari/Majapahit awal masih bisa diterima.

Dalam rangka HUT Museum Mpu Tantular Sidoarjo yang ke-42, pada tanggal 21 – 25 Sepetember 2016, keris ini turut dipamerkan (foto paling kanan)

TENTANG PAMOR, pamor nyanak adalah penamaan terhadap sejenis pamor yang tidak jelas kesan pembacaannya (samar), baik melalui penglihatan maupun perabaannya. Sebilah keris atau tombak yang diperkirakan mempunyai pamor sebelumnya, tetapi pamornya kemudian tidak terlihat jelas dan apabila dirabapun tidak jelas konturnya, dapat disebut pamor sanak.

Seperti keris Sengkelat ini sangat dimungkinkan jika dulunya merupakan pamor beras wutah. Dugaan tersebut dapat sedikit teridentifikasi dari guratan pamor pada bagian sraweyan, terlihat patina licin yang menampilkan pola mirip beras wutah. Hanya karena besinya sudah membatu penglihatan maupun perabaannya menjadi samar.

CATATAN GRIYOKULO, Untuk standar keris-keris temuan, sor-soran keris Sengkelat ini bisa dikatakan masih cukup utuh layaknya keris rawatan serta dibuat dengan garap ricikan yang baik (tegas). Ditunjukkan dari sekar kacang yang besar, lambe gajah yang tampil percaya diri menyeruak ke depan seperti duri, pejetan serta sogokan yang dalam, kruwingan dan ada-ada yang tegas, hingga detail greneng yang masih bisa terbaca dha-nya. Tentulah bukan Empu sembarangan yang membabarnya. Diperoleh pula sedikit sisa mendhak yang masih menempel pada pesi.

Sedangkan pada pertengahan bilah ke atas memang beberapa spot lekuk bilah sudah mulai terkorosi, namun masih bisa dimaklumi karena statusnya tadi sebagai keris temuan, terlebih ini Sengkelat! Dilengkapi warangka baru model tanggah/praon dari kayu nagasari, dengan hulu cindelaras yang unik, terbuat dari tanduk. Digambarkan seorang pemuda dengan gelung budha membawa ayam jago. Unik!

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *