Tombak Rangga Mataram Sultan Agung

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 5.555,555,-(TERMAHAR) Tn. SI – Jagakarsa, Jakarta Selatan


1. Kode : GKO-281
2. Dhapur : Tombak Rangga
3. Pamor : Pedaringan Kebak
4. Tangguh : Mataram Sultan Agung (Abad XVI)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 445/MP.TMII/V/2018
6. Asal-usul Pusaka : Tasikmalaya, Jawa Barat
7. Dimensi : panjang bilah 25,5 cm, panjang pesi 12,5  cm, tinggi methuk 1 cm, panjang total 39 cm
8. Keterangan Lain : tombak yang sangat langka, pamor meteorit, kolektor item


ULASAN :

RANGGA,  adalah salah satu dhapur tombak luk lima. Tombak ini mempunyai ada-ada yang cukup jelas,  dan semacam alur atau sogokan rangkap. Bilah tombak rangga agak tebal, tetapi biasanya rata, tidak nglimpa permukaaanya. Pada bagian sor-soran yang menghadap ke bawah terdapat dua tonjolan yang bentuknya menyudut di sisi kanan-kirinya, serupa eri pandan pada keris. Jika kita membuka serat Pakem Pusaka Duwung, Sabet, Tumbak babon asli peninggalan Suwargi R.Ng Ronggowarsito, tombak luk lima dengan sogokan rangkap dinamakan Dermayu, ageman khusus para Bupati. Dari peruntukan khususnya sepertinya sudah menjelaskan kenapa tombak Rangga termasuk salah satu dhapur tombak yang susah diketemukan hingga saat ini.

FILOSOFI, tosan aji seperti keris, pedang dan tombak mempunyai peranan khusus dari masa ke masa. Dalam bentuknya yang paling primitif merupakan senjata tikam seperti yang terlukis pada relief-relief candi. Tahap evolusi selanjutnya, tosan aji bermanifestasi sebagai pengejawantahan falsafah dan olah batin yang melahirkan sifat kandel bagi pemiliknya. Dan hingga saat ini melahirkan sebuah kecenderungan baru, tosan aji sebagai salah satu barang investasi.

Tapi mungkin ada sedikit hal yang sering dilewatkan, keris dan tombak tenyata memiliki fungsi-fungsi yang lain. Semisal menjadi salah satu tanda jasa (Gonjo kinatah Gajah Singo) serta lambang kepangkatan atau tingkat kebangsawanan, antara lain : keris Panji Anom (Panji merupakan sebutan keluarga kerajaan yang berhak menjadi prajurit. Panji digolongkan dalam kepangkatan militer oleh sebab itu panji harus memiliki pengetahuan, ketrampilan dan karakter seorang prajurit. Munculah nama-nama tersohor seperti Panji Inu Kertapati Pangeran dari Kerajaan Jenggala yang kemudian menjadi  raja dan dapat menyatukan kembali  kerajaan Jenggala dan  kerajaan Kediri, setelah menjadi raja bergelar Kameswara) dan Tombak Rangga.

Rangga (baca: ronggo) adalah gelar kebangsawanan untuk pegawai tinggi dalam birokrasi Jawa. Gelar tersebut sudah ada sejak zaman Singosari yang diteruskan oleh Majapahit. Walaupun diakui gelar tersebut tampak mengalami deformasi serta penurunan “kasta” pada era kolonial dan kerajaan-kerajaan akhir, seperti Mangkunegaran.

Sumber tertulis mengenai Rangga dapat diketemukan di Jaman Majapahit, pada kitab Negarakertagama pupuh 10: 1 , yang berbunyi :

Warnnan warnna ni sang manangkil irikang witana satata
Mantri wrddha pararyya len para pasangguhan sakaparek
Mwang sang panca ri wilwatikta mapageh demung kanuruhan
Tansah rangga tumenggung uttama ni sang marek woki penuh

atau jika diterjemahkan : Inilah pembesar yang sering menghadap di balai witana, Wredamentri, tanda menteri pasangguhan dengan pengiring, Sang Panca Wilwatikta: Mapatih, Demung, Kanuruhan, Rangga, Tumenggung, lima priyayi agung yang dekat dengan istana

Pada penjelasan lain kitab Negarakertagama mencatat bahwa; semua masalah administrasi pemerintahan Majapahit dikuasakan kepada lima pembesar di atas yang disebut Sang Panca ri Wilwatika. Rakryan Patih merupakan Pejabat Negara paling tinggi diantara lima Pejabat Pelaksana Pemerintahan lain yang dikepalainya yaitu Rakryan Demung (pejabat tertinggi kedua diantara lima Pejabat Pelaksana Pemerintahan, bertugas mengatur Rumah Tangga Kerajaan); Rakryan Kanuruhan (pejabat tertinggi ketiga di antara lima Pejabat Pelaksana Pemerintahan, bertugas melaksanakan kewajiban-kewajiban protokoler serta menjadi penghubung diantara para pejabat kerajaan); Rakryan Tumenggung (Pejabat Pelaksana Pemerintahan Bidang Militer atau sebagai Panglima Perang Kerajaan, bertugas langsung membawahi para Senopati dan bertanggung jawab atas pertahanan dan keamanan kerajaan); Rakryan Rangga (Pejabat Pelaksana Pemerintahan Wakil Panglima Tentara Kerajaan). Mereka menjalankan tugas yang diberikan oleh kerajaan dan mempunyai hubungan luas dengan berbagai daerah yang ada di bawah naungan kerajaan. Mereka inilah yang banyak dikunjungi oleh para pembesar negara bawahan dan negara daerah untuk urusan pemerintahan. Apa yang direncanakan di pusat, dilaksanakan di daerah oleh pembesar bersangkutan.

Rakryan Rangga adalah pemimpin langsung satu kesatuan militer (sekarang kira-kira sama dengan Panglima Divisi dengan pangkat: Letnan Jendral/Laksamana Madya, mungkin juga Jendral atau Laksamana). Tercatat selama Pemerintahan Jayanegara (Raja ke II Majapahit) ada tiga divisi utama kerajaan, yaitu: Jala Yudha, Jala Pati dan Jala Rananggana. Sebutan Jala menunjukkan bahwa Kerajaan Majapahit merupakan Negara Maritim (Jala = Kelautan). Satu dari tiga divisi yakni Jala Rananggana melakukan makar terhadap Sang Prabu Jayanegara. Pasukan Jala Yudha bersikap mendukung istana, sedangkan pasukan Jala Pati memilih bersikap netral.

Sedangkan pada zaman kolonial, sebagai contoh era Mangkunegaran, Rangga merupakan jabatan penggede suatu daerah (Panglawe, menguasai 25 cacah. Cacah merujuk pada nara karya atau kepala keluarga yang terlibat dalam penggarapan lahan dari pemilik atau penguasa sawah atau perkebunan dalam wilayah tertentu. Jika dihitung dari luas tanah maka sekitar 7.096,5 m2 atau 3/4 hektar atau sama dengan 1 bahu). Sebutan “Rangga” dipakai khusus jika ia terlahir dari kalangan priyayi atau darah bangsawan, jika ia berasal dari kalangan biasa disebut “Pratinggi“. Tidak hanya itu pakaian dinas yang dikenakan pun berbeda, dimana Rangga dari golongan priyayi menggunakan sikepan pendek, dengan kancing baju bertuliskan huruf jawa MN dan menggunakan jarit atau bebedan. Sedangkan Pratinggi menggunakan sikepan pendek, kancing baju hitam sebanyak 7 buah, topi laken berwarna hitam dan jarit.

Sampai saat ini pula masih banyak menyisakan toponim penamaan kampung atau daerah bersejarah di berbagai daerah di pulau Jawa yang memiliki keunikan. Ada yang berdasarkan profesi warganya hingga etnis warga yang mendominasi.  Salah satunya adalah Kranggan (ke-rangga-an) dahulu merupakan tempat berdiam seorang rangga.

TANGGUH  MATARAM SULTAN AGUNG, boleh dikatakan pada masa pemerintahannya budaya keris mencapai puncak kejayaan, baik secara teknologi, falsafah, material hingga kinatah. Sultan Agung merupakan Raja Mataram yang paling terkenal dan dalam kekuasannya pembangunan di segala bidang mengalami kemajuan yang pesat. Bahkan Thomas Stamford Raflles mencatat, bahwa Sultan Agung digambarkan oleh orang Belanda sebagai raja yang sangat pandai dan memiliki pemikiran yang cerah. Meskipun naik tahta dalam usia yang relatif muda, yakni 22 tahun Sultan Agung ternyata bukan hanya berkemampuan memimpin pemerintahan dan kemiliteran, melainkan juga mahir dalam menangani masalah kebudayaan. Pada masa itu masyarakat umum diberi kebebasan untuk memiliki keris dan para empu diberi kebebasan untuk membuat kreasi karya terbaik, sehingga pasikutan sangat beragam sejak awal pemerintahannya. Para empu juga melestarikan dengan membuat pula model keris tangguh sebelumnya dengan memadukan ciri khas era mataram Sultan Agung. Maka bisa dikatakan Jaman Mataram Sultan Agung memang menjadi surga para Empu.

Bahkan ketika  merencanakan mengempur VOC di Batavia,  Sultan Agung mempersiapkan diri melengkapi peralatan perang bagi pasukannya. Sultan Agung mengumpulkan empu – empu dan pande besi yang ada di daerah kekuasaan Mataram. Para Empu tersebut berasal dari seluruh penjuru tanah jawa berjumlah 800 dengan membawa calon kodokan masing-masing, dikumpulkan di Mataram untuk melaksanakan perintah membuat keris, tombak, meriam dan senjata perang lainnya, peristiwa inilah yang disebut “Pakelun“. Kata kelun artinya penguasaan menyeluruh atau mutlak. 800 orang empu ini kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok dipimpin oleh empu senior (empu tindih) dan kepadanya diberikan pangkat lurah mantri, yaitu empu Ki Nom, empu Legi, empu Tepas, empu Luwing, empu Guling, empu Tundung, empu Anjir, empu Gede, dan empu Mayi. Berbeda dengan keris buatan Empu “Domas” Majapahit yang keris-kerisnya mempunyai satu gaya, satu pasikutan, keris-keris karya Empu “Pakelun” Mataram lahir dengan membawa gaya masing-masing Empu.

Rasanya semua akan sepakat jika tombak ini adalah ber-tangguh Mataram Sultan Agung, rata-rata tosan aji  jaman Mataram Sultan Agung memiliki pasikutan yang demes (serasi, menyenangkan, tampan, enak dilihat). Seperti pada tombak Rangga ini, kesan gagah, nyatriyo, demes enak dipandang dan berkelas sangat nyata secara visual. Bagian kanan kirinya masih cukup berimbang, besinya tampak berserat halus dengan hiasan pamor meteor slewah (dua sisi pamor berbeda, pedaringan kebak dan beras wutah) yang royal menyatu indah, sebagai konsep Bapa Angkasa Ibu Bumi. Luk-nya sedeng tidak rengkol tidak kemba, dengan methuk wulung, polos tanpa pamor dan pesi diuntir. Bentuk sogokan-nya pun terbilang sangat unik, yakni sedikit lebih panjang pada satu sisinya (3 mm). Sangat jarang kita bisa melihat tombak dengan kelengkapan sogokan rangkap. Mungkin hanya beberapa saja, yakni biring sumben dan cekel adiluwih untuk tombak lurus, dan rangga untuk tombak ber-luk.

Menilik asal atau tangguh berdasar geografi akhir ketika tombak ini diketemukan di daerah Tasikmalaya, tombak ini dilengkapi dengan tutup bawaan sebelumnya yang terbuat dari kayu kawung (liwung?), tampak bertotol-totol seperti bulu macan dan relatif lebih berat dari kayu sejenis dalam dimensi ukuran yang sama. Pada bagian kuncup atau ujung tutup digunakan kayu cendana sebagai eksyen. Pohon kawung mempunyai tempat tersendiri di kalangan masyarakat Sunda. Dari sekian banyak tumbuhan dan pohon yang bermanfaat untuk manusia, hanya pohon kawung yang ditulis secara khusus menjadi babad di dalam naskah-naskah kuno masyarakat Sunda. Akar kuatnya menghunjam ke bawah dan mencengkeram tanah, vegetasinya yang biasanya dilereng-lereng tebing seolah olah memang diciptakan untuk menyelamatkan hidup manusia dari bahaya terkaman tanah longsor.  Pohon kawung dipercaya oleh sebagian masyarakat Sunda sebagai axis mundi atau penghubung antara langit dan Bumi. Dahulu daun kawung memang kerap digunakan untuk menulis naskah yang biasanya dibuka dengan menyebut nama dewa-dewi. Tak mengherankan bila kemudian ada anggapan bahwa pohon kawung adalah tumbuhan yang berfungsi sebagai media penyampai wahyu dari para dewa dan karuhun (asal-usul leluhur) orang Sunda. Ada lagi kelebihan pohon Kawung yaitu tahan terhadap api. Ketika terjadi kebakaran hutan misalnya atau bahkan ketika dengan sengaja dibakar, dia tidak mati, ketika semua tanaman dan tumbuhan musnah dilalap api pohon Kawung tetap hidup.

Pekerjaan selanjutnya mungkin adalah mencarikan dan memasangkan tombak pada landeyan dengan pilihan kayu yang sama. Atau jika kita merujuk pada serat-serat kuno seumpana karya Mas Ngabehi Karya Buntara: Kawruh Landeyan justru kita bisa mendapatkan referensi kayu waru adalah kayu terbaik untuk digunakan sebagai landeyan panjang, karena ringan dan ulet. Kayu yang menjadi favourite masyarakat perkerisan sekarang, seperti kayu timoho justru ditulis hanya cocok untuk dijadikan landheyan pendek, karena kurang ulet.

PAMOR PEDARINGAN KEBAK, Dahulu, orang jawa pada umumnya menyimpan beras dalam sebuah peti besar terbuat dari kayu yang disebut pendaringan. Ditinjau dari sudut arti namanya pun ada kaitannya. Wos Wutah artinya beras tumpah, sedangkan Pedaringan Kebak berarti peti beras yang penuh oleh beras. Dari segi bentuk gambaran pamornya, motif pamor pedaringan kebak mirip dengan pamor wos wutah namun bedanya tampak lebih kompleks dibandingkan bentuk gambaran pamor wos wutah, menempati seluruh permukaan bilah, menyatu atau tidak terpisah mengelompok menjadi beberapa bagian. Tuahnya dipercaya lebih kuat dibandingkan pamor wos wutah, segala upaya atau jerih payah dari apa yang telah dikerjakan menjadi suatu hasil panenan yang menumpuk dan rejeki mengalir deras memenuhi lumbung-lumbung yang ada.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

 

 

 

 

 

 

tes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.