Bendo Sagodo

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_nMahar : 3.750,000,- (TERMAHAR) Tn. A, Surakarta


1. Kode : GKO-282
2. Dhapur : Tilam Upih
3. Pamor : Bendo Sagodo
4. Tangguh : Madura (Abad XVII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 446/MP.TMII/V/2018
6. Asal-usul Pusaka : Surakarta, Jawa Tengah
7. Dimensi : panjang bilah 32,3 cm, panjang pesi 6,8 cm, panjang total   39,1 cm, lebar gonjo  7,7 cm
8. Keterangan Lain :  warangka gandar iras + hulu unik


ULASAN :

TILAM UPIH, keris dhapur Tilam Upih mempunyai bentuk lurus dengan ricikan sederhana: pejetan  dan tikel alis, tidak ada ricikan lainnya. Meskipun sangat sederhana, justru dhapur tilam upih banyak dijadikan pusaka keluarga karena memuat makna filosofis mendalam.

FILOSOFI, ricikan gandik polos dan buntut gonjo polos (tanpa greneng) menunjukkan keikhlasan hati serta kesederhanaan dalam hidup. Sedangkan tikel alis, tikel berarti dua (lipat dua) dan alis berarti batas mata yang memberi ciri wajah. Maka makna dari ricikan tikel alis adalah manusia memiliki dua sifat: baik dan buruk, kedua sifat ini wajib selalu diingat, dan menjadi pertimbangan dalam kehidupan, sehingga dalam hidup seyogyanya selalu “di jalan yang lurus”.

Tilam upih yang apabila diartikan secara harafiah adalah Tilam = alas atau tembikar yang terbuat dari anyaman daun Upih atau pelepah pohon pinang (jambe, Jw). Alas ini biasanya ditaruh di atas ranjang persegi yang terbuat dari rangka kayu. Pada jaman dahulu masyarakat jawa mempunyai kebiasaan bahwa tembikar merupakan “bagian” tak terpisahkan dari keluarga. Hal ini dapat dilihat dari keseharian masyarakat Jawa dahulu, mereka lahir di atas tembikar, dan ketika meninggal dikafani ditutup oleh tembikar pula. Tembikar ini juga digunakan untuk tempat istirahat keseharian (ngampar, Jw) yang hangat, juga ketika ada waktu berkumpul baik dengan keluarga, kerabat, tetangga, relasi maupun tamu, mereka duduk bersantai beralaskan tembikar.

Tembikar sebagai hasil anyaman, bukan sekedar sebuah produk, namun selalu ada pesan yang jauh lebih besar yang hendak disampaikan. Syarat pertama terbentuknya anyaman adalah ada lebih dari satu material yang memiliki kesamaan. Syarat berikutnya adalah saling bersinggungan dan bertumpu untuk saling menguatkan. Seperti sebuah keluarga, anyaman tidak bisa dilakukan dengan satu material tunggal. Persentuhan dua manusia atau lebih melibatkan emosi. Fluktuasi emosi hanyalah cerita-cerita kecil yang hanya akan menguatkan hubungan kekeluargaan. Keluarga harus dibimbing, diingatkan, dan diarahkan, karena dengan hal-hal tersebut  jalinan kehangatan yang sesungguhnya tengah terbentuk berujung pada satu kesamaan tujuan yang saling menguatkan.

Tidak hanya itu biasanya tembikar ini juga digunakan ketika penghuni rumah menerima tamu, bercakap-cakap sambil duduk bersila di lantai beralas tikar sesuai tradisi masyarakat Jawa yang mencerminkan suasana akrab dan rukun antara penghuni dengan kerabat dan masyarakat (duduk sama rendah, berdiri sama tinggi).

TENTANG TANGGUH, secara jujur memang tidak mudah menangguh keris ini, terutama dikaitkan dengan langgam/gaya, material besi, serta pola trap-trapan pamor. Bentuk gandiknya yang tegak dengan bagian pejetan atau blumbangan yang sempit, tikel alis yang ringkas (pendek), terlebih bentuk sirah cecak yang buweng (tidak lancip/agak membulat), dan bagian perut gonjo mbathok mengkurep dengan ekornya yang nguceng mati sekilas mengingatkan kita  dengan keris Tuban pada umumnya. Besi dan bilahnya yang terkesan nglimpo agak lebar membawa kita ke jaman Mataram. Sedangkan pada pola cak-cakan pamornya mungkin bisa berbeda antara pecinta keris satu dengan yang lainnya. Beberapa orang dengan melihat bahan pamor dan cak-cakaannya memasukkan kepada keris Mediunan (madiun). Tetapi ada pula yang beranggapan karena pamor tidak mengelompok di tengah bilah, biasanya banyak ditemui pada keris-keris madura, berbeda dengan keris Metaraman yang pamornya cenderung mengelompok di tengah bilah.

Karena pada jaman dahulu pemakaian sandangan disesuaikan dengan bentuk anatomi pemakainya, sangat dimungkinkan dahulu pemiliknya adalah orang setengah baya, kalem dengan perawakan badan besar dan gagah. Dengan bentuk bilah keris yang nglimpo agak lebar, sangat serasi bersanding dengan warangka kagok bancih dan hulu naradakandan. Warangka yang ada adalah bawaan sebelumnya, terbilang cukup istimewa dengan garapan yang rapih. Penulis pribadi entah kenapa lebih menyukai warangka lawasan atau di dalam dunia perkerisan disebut “lamen”. Tanpa mengecilkan peran meranggi-meranggi sekarang, warangka lamen seolah lebih demes, baik dari detail cecekan maupun lengkung-lengkungnya terkesan ndudud ati. Tidak ada pekerjaan rumah, panjenengan tinggal menyimpan dan merawatnya saja.

PAMOR BENDO SAGODO atau orang-0rang di Semenanjung melayu menyebutnya pamor “butir petai”. Lalu apa arti bendha segada sebenarnya? Artinya adalah bendha sebesar gada. Bendo disini bukanlah sama artinya dengan ‘benda’ atau dalam bahasa indonesia berarti ‘barang’, tetapi adalah nama sebuah tanaman atau pohon (semacam tumbuhan merambat yang buahnya seperti petai tetapi jauh lebih besar, isinya dipergunakan untuk memasak, kurang lebih sebesar telur mata sapi). Sedangkan sagodo adalah sebesar gada, orang jawa biasa menyebut benda yang dianggapnya lebih besar dari ukuran rata-rata secara hiperbolis dengan ukuran segada. Bentuk gambaran pamor ini menyerupai bulatan bulatan pamor yang terangkai mengelompok rapat, seperti “biji petai sepapan” tersusun dari bawah ke atas sepanjang bilah. Ditinjau dari terjadinya pamor, bendo sagodo tergolong pamor rekan, yakni pamor yang bentuk gambaranya telah dirancang terlebih dahulu oleh sang Empu.

Segala sesuatunya selalu dikaitkan dengan kekuatan-kekuatan alam, sesuatu yang metafisik, sebagaimana orang Jawa memahami kerisnya. Menurut sebagian pecintanya, rangkaian butir-butir bendha/petai dalam keris dan tombak melambangkan kemudahan rezeki yang berkesinambungan, membuat pemilikya lebih gampang mencari rejeki yang besar-besar, mengumpulkan hasil yang banyak dan kesejahteraan lebih baik. Seperti udan emas yang lebih banyak ditemukan pada keris brojol dan tilam upih, bendo sagodo tergolong pamor yang banyak penggemarnya sehubungan dengan tuahnya, tak heran banyak ditaruh pada keris-keris kecil (jimatan) semisal nogo kikik/nogo sri/nogo gresik. Oleh karena itu, pamor ini banyak dicari sebagai “piyandel” oleh mereka yang hidup berniaga sebagai pedagang atau pada jaman dahulu saudagar. Pamor ini tergolong tidak pemilih, dapat cocok dipakai oleh siapapun.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Pin BB : D403E3C3  Email : admin@griyokulo.com

 

 

 

 

 

 

tes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.