Tombak Megantara

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 8.555.555,- (TERMAHAR) Tn. D Tuban


1. Kode : GKO-
2. Dhapur : Megantara
3. Pamor : Ngulit Semangka
4. Tangguh : Cirebon Sepuh (Abad XV)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No :
6. Asal-usul Pusaka : Rawatan/warisan turun temurun
7. Dimensi : panjang bilah 35,5 cm, panjang pesi  18 cm, panjang total 53,5 cm
8. Keterangan Lain : dhapur tombak langka, panjang landeyan 210 cm


ULASAN :

MEGANTARA, tak hanya pada keris, tombak megantara menjadi salah satu nama dhapur tombak yang paling dicari dan diidam-idamkan oleh para penggemar tosan aji, mulai dari kolektor, pejabat militer hingga mereka yang duduk di dalam wakil pemerintahan. Dari kesemuanya ternyata bermuara dengan pola keyakinan yang sama, jika dhapur Megantara dipercaya dapat memberikan tuah kewibawaan dan kejayaan bagi pemiliknya.

Nama Megantara sendiri memang seolah memberi kesan “sesuatu yang tempatnya di atas”. Keberadaannya pun harus diakui terbilang cukup langka, karna konon katanya pada zaman dahulu hanya dimiliki oleh para petinggi kerajaan saja. Adapun ciri-ciri mengenai tombak Megantara dalam serat Centhini ditulis sebagai berikut:  luk pitu, ada-adane amung têngah satugêl watawis, grènènge sawiji.

FILOSOFI, Dalam Têmbung Kawi Mawi Têgêsipun (Wintêr, 1928), “Megantara” berarti mega wradin (Jw) atau dalam Bahasa Indonesia memiliki makna: awan yang menyebar merata.

Awan yang sering kita lihat di angkasa sebenarnya tidak lebih dari partikel-partikel air yang berasal dari perubahan uap air atau benda gas menjadi benda cair pada suhu udara di bawah titik embun atau disebut juga dengan kondensasi. Secara sederhana, awan terbentuk karena penguapan air yang berasal dari laut, danau, atau sungai. Kemudian, uap air ini akan naik ke atas menjadi titik-titik air dan terbentuklah awan, sebelum akhirnya jatuh kembali ke bumi dalam bentuk hujan.

Lewat proses terbentuknya sebuah awan, kita dapat belajar dengan lebih bijaksana bahwa semua yang ada di dunia selalu kembali berputar. Semuanya bermula, berproses, dan akan kembali pada waktunya. Memiliki awal yang berupa ketiadaan, lalu muncul perlahan, dan berproses sedemikian rupa hingga bersatu, menjadi besar dan berisi, lalu jatuh kembali ke Bumi. Bercermin dari hal tersebut, maka sebesar apapun kapasitas kita di dunia, dan sebanyak apapun dharma yang telah kita perbuat dalam hidup, pada akhirnya semua pasti memiliki babak akhir yang telah digariskan oleh Sang Pencipta.

Dalam khasanah budaya Jawa kuno, sedikitnya ada empat ajaran filsafat kepemimpinan. Salah satu diantaranya adalah Hasta Brata. Hasta Brata merupakan delapan sifat utama yang diambil dari sifat benda-benda alam, salah satunya melalui awan (himinda). Dalam wejangan Sri Rama kepada Wibisana, disebutkan seorang Pemimpin harus mampu menjalani Laku Hambeging Yama. yakni Pemimpin hendaknya meneladani sikap dan sifat Dewa Yama, dimana Dewa Yama selalu menegakkan keadilan menurut hukum atau peraturan yang berlaku demi mengayomi rakyatnya. Dewa Yama memiliki sifat seperti awan, dimana awan selalu di atas, anglimputi (menyelimuti) semua mahluk tanpa membedakan. Sebagai seorang pemimpin harus mampu berperilaku adil tidak pandang bulu. Di lain sisi, bisa pula menghadirkan ketegasan “wibawa”, jika ada yang terbukti bersalah maka akan dihukum dengan petir dan halilintar. Dengan demikian hukum tidak hanya sekedar tajam ke bawah namun tumpul ke atas.

Awan seolah menjadi batas antara dunia atas (langit) dan dunia bawah (bumi). Bagi seorang Pemimpin menjadi sebuah pengingat utama, dimana dirinya hanyalah sebuah kumpulan awan yang berarak. Dan di atas awan akan selalu ada “langit” yang lebih tinggi. Seakan memberikan penegasan bahwa siapapun kita, sehebat apapun kita, masih akan selalu ada yang lebih hebat dari kita. Tidak ada yang patut disombongkan dari segala yang telah kita miliki maupun yang telah diraih.  Namun ada banyak hal yang patut disyukuri daripada dikeluhkan karena masih ada bumi di bawahnya yang membutuhkannya dan sudah suratan menjadi bagian dari tanggung jawabnya. “Jika sudah berhasil sampai di atas, hendaknya tidak lupa dengan yang di bawah”.

Pada esensinya Megantoro adalah sebuah  sifat keutamaan dari seorang pemimpin yang harus bisa mengayomi sekaligus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi seluruh masyarakat yang dipimpinnya . Pemimpin yang memiliki hati menjejak bumi dengan jiwa ikhlas melayani, serta tak pernah lelah untuk terbang menggapai langit dalam mewujudkan visinya. Bukan ‘kakehan gludug kurang udan’.

PAMOR NGULIT SEMANGKA, disebut demikian karena pamor yang dibuat oleh sang Empu mirip sekali dengan corak pada kulit buah semangka, yakni berupa beberapa garis lengkung dari bentuk garis lengkung terkecil kemudian melebar dengan lengkungan yang membesar, menunjukkan gerak yang teratur harmonis.

Dapat dikatakan bahwa garis-garis lengkung yang berirama pada pamor ngulit semangka ini membawa pesan moral dalam kehidupan manusia yang selalu berubah (naik dan turun). Menjadi orang yang lebih percaya diri (optimis), bijaksana dalam memutuskan suatu permasalahan (dinamis), dan pandai dalam pergaulan untuk menyesuaikan dengan segala keadaan (flexible). Fase kehidupan yang kemudian berkembang untuk mencari jati diri, mau belajar dan menjalin kehidupan sosial agama. Yang nantinya akan membawa dirinya menuju ke dalam penyatuan diri melalui pasang surut  keadaan, dan pada akhir waktunya harus kembali ke asalnya.

CATATAN GRIYOKULO, umumnya di kalangan masyarakat perkerisan tombak-tombak dhapur Megantara lebih sering ditangguh era Majapahit, namun di daerah Cirebon dan sekitarnya biasanya orang mengenal tombak Megantara tidak hanya luk tujuh, namun juga luk lima. Ciri khas dari tombak Megantara adalah memiliki semacam ornamen pada bagian kanan-kiri yang terletak di sor-soran (pangkal). Keunikan dhapur Megantara yang lain adalah bentuk luk-nya yang unik, semacam perpaduan antara luk di bawah dan bilah yang lurus di atas.

Apabila kita cermati dengan seksama pada tombak Megantara ini selain ukurannya yang cukup panjang dari rata-rata tombak umumnya (yang jika diukur dari pucuk bilah hingga bagian pangkal pesi memiliki panjang sekitar 53,5 cm). Mulai pada bagian methuk tombak Megantara ini sudah memiliki bentuk yang terlihat unik. Banyak macam methuk tombak yang sering kita lihat pada berbagai tangguh, misal bentuk methuk yang mirip dengan stupa/lonceng, puthon (methuk yang bentuknya seperti tempayan terbalik), sungsun hingga methuk kinatah. Namun methuk iras yang ada pada tombak Megantara ini berbentuk seperti bawang tunggal (bawang yang hanya terdiri dari satu siung). Bentuk methuk seperti ini di masyarakat perkerisan disebut dengan methuk bawang lanang. Konon, selain sebagai simbol maskulinitas atau watak kesatria, methuk bawang lanang membawa mantra perlindungan spiritual dari roh-roh jahat. Dalam bahasa Sansekerta, bawang lanang disebut dengan lasuna, yang secara harfiah berarti “pembunuh monster” dan mungkin ini menjadi alasan di balik beragam kepercayaan yang melekat.

Selanjutnya, kita bisa mencermati area sor-soran yang padanya terdapat semacam ricikan/ornamen di kanan kiri bilah. Tentang ricikan yang ada pada tombak Megantara ini sebetulnya menarik untuk dijadikan bahan diskusi. Yang pertama, jika misal kita membuka referensi Buku Dhapur Damartaji (Buku ini adalah hasil sumbangsih KGPH Hadiwidjojo pada Kawruh Padhuwungan. Mengadopsi karya sastra berbentuk tulisan bukan gambar berjudul “Kagungan Dalem Buku Gambar Dhapuripun Dhuwung Saha Waos” karangan Raden Tumenggung Sastradiningrat, digambar arsir pensil oleh Abdi Dalem Sunarya bagian Reksapanjuta di kantor Kridhawahana. Ada sebanyak 160 jenis dhapur keris dan 49 jenis dhapur tombak). Dalam buku Dhapur versi Damartaji ini ternyata tidak digambarkan ricikan di bagian sor-soran maupun bentuk luk khas seperti yang dimaksud pada tombak Megantara. Pencarian selanjutnya kita bisa menelisik buku keris kuno “Sedjarah Keris, Pedang Tumbak yang dicetak tahun 1951 yang berisi diantaranya 140 gambar keris, pedang dan tombak. Buku ini memberikan gambaran mengenai tombak Megantara sedikit berbeda, sesuai gambar di bawah:

Hal yang kedua, pertanyaan kembali lagi kepada bentuk ricikan/ornamen apa sebetulnya yang terdapat pada sor-soran tombak Megantara? karna jika mencermati tombak-tombak Megantara yang ada seringkali tidak baku atau berbeda bentuk ornamen antara yang satu dengan yang lainnya. Ornamen yang kadang sering ditafsirkan dengan figur puthut maupun naga primitif ini bagi sebagian pemerhati tosan aji tidak lebih merupakan bentuk dari greneng atau eri pandan, sungut dan jenggot pada bilah tombak. Sebagian lagi berpendapat jika ricikan yang ada sebenarnya adalah bentuk ukiran khas majapahit (ulir, simbar, pecahan, trubusan, angkup). Sayangnya mesti nama-nama ricikan pada tombak sebagian besar sama dengan keris, namun sangat sedikit buku-buku kuno yang menuliskan dan menjelaskannya.

Terlepas dari itu semua kita bisa melihat sebuah tombak dengan besi se era Majapahit dengan batas slorok yang lembut, sehingga perubahan warna dari hitam ke warna yang lebih muda pada sisi tepi bilah tidak begitu tampak, demikian pula tantingannya ringan serta nyaring. Jika pamor Majapahit biasanya identik dengan nyeprit, maka pamor pada tombak ini tampak lebih abyor, mulai dari bagian pesi, methuk hingga ke atas dapat dikatakan ndeling merata sepanjang bilah. Ada sedikit korosi pada pamor di bagian luk atas bilah. Yang justru dari korosi tersebut kita bisa melihat jika ternyata pamornya pandes sampai dalam.

Yang tak kalah menarik adalah pada sisi kanan dan kiri ornamen sor-sor an seperti menampilkan pamor jwalana raja gundala berupa siluete kepala naga pada sisi kiri dan pandita tapa pada sisi kanan. Bagi para pemburu esoteri pamor ini menjadi menarik karna dianggap sebagai berkah tersendiri dari yang Maha Kuasa yang seringkali diyakini sebagai sosok penghuni/penjaga gaib pusaka, “wallahu a’lam”. Namun terlepas dari benar tidaknya mitos/kepercayaan tersebut tombak Megantara tetaplah sebuah tombak yang memiliki prestise tersendiri di hati para pecinta tosan aji. Jika dulu hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu, maka bisa saja saat ini hanya orang yang berjodoh saja yang bisa menemukannya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *