Tombak Pusaka Kinatah Emas Kiai Panjurung

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 9.999.999,- (TERMAHAR) Tn DHS, Semarang


1. Kode : GKO-
2. Dhapur : Biring Estri
3. Pamor : Ngulit Semangka
4. Tangguh : Mataram (Abad XVII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No :
6. Asal-usul Pusaka :  Rawatan/Warisan Turun Temurun
7. Dimensi : panjang bilah 25,5 cm, panjang pesi  14,5 cm, panjang total 40 cm
8. Keterangan Lain : tombak  pusaka kinatah emas, pesi puntiran


ULASAN :

BIRING ESTRI,Biring” adalah penamaan umum bagi dhapur tombak lurus yang bilahnya pipih dan simetris. Pada sisi bilah dhapur Biring di bagian tengah terdapat lekukan dalam, bentuknya menyerupai pinggang (bangkekan). Bagian di bawah bangkekan itu terlihat lebih lebar dibandingkan dengan bagian atasnya. Tombak Biring sendiri sebenarnya terdiri dari beberapa jenis diantaranya: biring lanang, biring wadon, biring drajit dan biring sumben.

Tombak Biring Estri (wadon) bentuknya hampir mirip dengan tombak Biring Jaler (lanang), tetapi pada tombak Biring Estri, bangkekan-nya lebih gemuk dengan bungkul (semacam tonjolan mirip irasan bawang) di bagian bawah. Selain itu bila dibandingkan dengan dhapur  Biring Jaler, bilah biring wadon sedikit lebih tebal; di tepi bilah ada gusen, dan ada-ada-nya lebih jelas daripada Biring Jaler.

Kanjeng Kiyahi Ageng Plered, tombak pusaka Keraton Kasultanan Yogyakarta yang pernah menewaskan Arya Panenangsang dan menjadi saksi sejarah serta tonggak berdirinya dinasti Mataram, konon juga berdhapur Biring, namun tidak diketahui dengan pasti jenis dhapur Biring yang mana. Bersama dengan keris Kanjeng Kiyahi Ageng Kopek, tombak Kanjeng Kiyahi Ageng Plered memiliki kedudukan paling tinggi di antara keris-keris atau tombak pusaka lainnya.

FILOSOFI, Bahasa Jawa yang merupakan bahasa ibu untuk masyarakat Jawa menjadi bagian dari kawruh basa atau pengetahuan tentang bahasa. Dalam kawruh basa sendiri terdapat istilah yang menjelaskan asal-usul dari bahasa atau kata yang dipakai. Salah satu yang cukup menarik adalah istilah untuk kata “biring”.

Menurut tutur para pinisepuh kata ” Biring” berasal dari tembung garba: Biri + ing. Tembung Garba sendiri berasal dari dua kata atau lebih yang digabung dan mengurangi jumlah suku katanya sehingga membentuk sebuah kata yang baru. Atau lebih singkatnya, tembung garba merupakan tembung yang terbentuk dengan cara menyingkat dua kata atau lebih agar mudah dalam pengucapan dan lebih ringkas.

Biring ing Pawèstrèn/Pawadonan, dari asal kata biri artinya kebiri (dikebiri), ing artinya untuk atau pada, sedangkan Pawèstrèn atau Pawadonan  berarti kemaluan perempuan. Orang barangkali tidak mau menyebutnya panjang-panjang kata sadis itu, hanya biasa menyebut Biring Estri atau Biring Wadon, supaya tidak terasa vulgar maka kata tersebut diperhalus.

Wanita dikenal sebagai makhluk yang berhati lembut. Kelembutan hati seorang wanita membuatnya menjadi sosok yang penuh kasih. Selain itu, wanita juga dikenal sebagai sosok yang peka atau perasa. Wanita mudah sekali tersentuh dan berempati dengan situasi sekitar. Kata-kata hati wanita dapat menunjukkan betapa lembut dan penuh kasihnya mereka. Wanita memang makhluk yang istimewa. Di balik kelembutan hatinya, wanita juga dikenal sebagai sosok yang kuat dan tegar. Sesulit apapun keadaan yang dihadapi wanita, tak menghalanginya untuk tetap tersenyum. Alhasil, keberadaan seorang wanita kerap jadi penengah yang mengubah suasana susah menjadi lebih tenang.

Bagi mereka yang mempercayai esoteri sebuah pusaka, tombak biring Estri merupakan pasangan dari tombak Biring Lanang.  Kata estri lahir dari kata estern dalam bahasa kawi berarti pendorong. Dengan demikian makna dhapur biring estri itu harus mampu mengebiri/menghilangkan/menutup kelemahannya, tetap tegar meski nyaris menyerah, tetap sabar meski ingin mengeluh, tetap kuat meski hampir terjatuh. Yang diumpamakan sebagai estri atau pemberi kekuatan terutama saat jiwa dan semangat sedang melemah, yang penuh cinta dan kasih sayang (ngademke). Seperti layaknya seorang wanita, cantik, anggun, luwes, penuh kasih sayang mampu meredam keangkeran, ego, emosi atau kekerasan namun tetap kuat dan landhep.

KIAI PANJURUNG, Telinga masyarakat Indonesia tentu tidak asing dengan kata “kyai”. Respon yang pertama kali muncul setelah mendengar sebutan tersebut adalah sosok yang taat dalam menjalankan agama Islam serta memiliki pengaruh besar di bidang keagamaan. Secara etimologis, kata “kyai” yang dikenal dalam bahasa Jawa saat ini sebenarnya adalah hasil evolusi dari dua buah istilah dalam bahasa Kawi alias Jawa Kuna, yakni bahasa orang Jawa semasa zaman Hindu-Buddha. “Kyai” berihwal dari “ki yayi”. Jika merujuk isi Kamus Jawa Kuna-Indonesia karya PJ Zoetmulder dan SO Robson, “ki” kurang lebih berarti gelar bagi laki-laki yang dihormati, lalu “yayi” berarti adik. Dengan demikian “ki yayi” secara bahasa Kawi berarti “adik laki-laki. Ini terutama merujuk kepada status terhormat sebagai kerabat raja.

Rupanya, yang menyandang gelar “ki yayi” tidak hanya para tokoh terkemuka. Sudah menjadi kebiasaan bagi para bangsawan Jawa untuk memberikan gelar kyai kepada benda-benda yang dianggap keramat. Istana-istana Jawa pada umumnya memiliki benda pusaka yang sangat dihormati layaknya orang yang sakti mandraguna. Jenis bendanya pun bermacam-macam, termasuk senjata, alat musik, dan kereta kuda. Keberadaan benda pusaka sangat penting bagi suatu kerajaan karena merupakan simbol kebesaran raja sekaligus pelindung dari hal-hal jahat. Dan “Panjurung” sendiri jika ditelisik dapat memiliki beberapa arti diantaranya: bantuan, pertolongan, dukungan, permohonan dan doa.

TOMBAK METHUK KINATAH EMAS LUNG MELATI DAN DAUN KLUWIH, Pohon kluwih dengan bentuk daun yang menyerupai tangan manusia merupakan visualisasi manusia yang tengadah memanjatkan doa dan memohon keberkahan dan kemurahan Tuhan Yang Maha Esa. Bentuk daun kluwih ini juga sering kita jumpai pula di mustaka masjid-masjid kuno di Jawa. Maka kluwih juga merupakan simbol dari panjatan doa.

Daun kluwih dan kata luwih (berlebih) memiliki kesamaan bunyi di akhir kata atau guru lagu yang sama. Memiliki makna, lantunan doa  agar sepanjang kehidupannya tidak berkekurangan, bahkan diberkati rezeki yang berlebih atau luwih. Berkat berupa kekayaan secara materi, kesehatan bahkan kekayaan jiwa yaitu ilmu yang berguna. Kecukupan yang tidak hanya untuk dinikmati sendiri namun juga mengalir kepada lingkungan sekitarnya. Sekaligus menjadi pameling bagi pemiliknya untuk lebih fokus menutup kekurangan dan kelemahan yang ada pada dirinya daripada menonjolkan segala kelebihan yang dimiliknya.

Dan pada akhirnya, kepada Sang Pemilik Alam kita hanya bisa memohon, agar dituntun dan dijaga selama masih diberikan kesempatan untuk menjalani dharmanya. Agar dalam perannya dapat menjadi seputih melati, senantiasa diteguhkan pada warna aslinya, serta tidak membiarkan apapun merubah warnanya hingga masanya ia harus kembali mempertanggungjawabkan semua waktu, peran, tugas dan tanggungjawabnya.

CATATAN GRIYOKULO, sudah menjadi rahasia umum jika keris, tombak, pedang maupun tosan aji lainnya yang berhiaskan kinatah/serasah emas selalu mendapat tempat spesial di hati kalangan masyarakat perkerisan. Terkhusus untuk kinatah/serasah emas pada tombak, melekat “imej” ekslusif bahwasanya tombak tersebut  berkelas pusaka. Mungkin hal tersebut tidak multak 100% benar, namun tidak pula sepenuhnya salah, karena dalam dokumentasinya banyak tombak-tombak berkelas yang saat ini masih dirawat secara kelembagaan tidak hanya polosan, namun lebih banyak dilengkapai dengan hiasan emas, terutama di bagian methuknya. Sebut saja kiai Upas yang diagungkan di kota Tulungagung, kiai Wijaya Mukti dan Kiai Turunsih di Yogyakarta.

Mungkin jika dilihat dari segi pamor, tombak pusaka ini memiliki pamor yang sederhana atau biasa saja. Namun, yang terasa istimewa apabila dibandingkan dengan pusaka-pusaka lain adalah pada besi malelanya. Jika pasir malela biasa kristal-kristal yang berkerlip akan membiaskan warna putih keperakan, sedangkan material pada bilah ini jika diamati di bawah sinar matahari tampak semburat emas yang kekuning-kuningan. Orang menyebutnya dengan malela kendaga.

Besi jenis ini pada jaman dahulu sangat disukai oleh para Raja sehubungan dengan daya keampuhannya. Dan saat ini menjadi target utama mereka yang mendalami dunia esoteri. Pada buku Serat Cariyosipun Para Empu ing Tanah Jawi 1919; ada cuplikan dalam bentuk tembang asmardana yang berkesan sakral : ‘pamore ngelamat kuning/ semu garing ingkang tosan/ kuning ingkang semu ijo/ milane tan kena kelar/ ingkang ngaku kedhotan/ wong desa kang ngaku teguh/ dicuwik nyawane minggat‘ yang artinya kurang lebih : ‘pamornya semburat kuning/ besinya agak kering/ kuning kehijau-hijauan/ maka tidak ada yang menandingi/ baik yang mengaku kebal senjata/ rakyat jelata yang mengaku kuat/ disentuh nyawanya melayang.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *