Jalak Budha Panjalu

Mahar : 15.000.000,-


1. Kode : GKO-
2. Dhapur : Jalak Budha
3. Pamor : Keleng
4. Tangguh : Panjalu/Kadiri (Abad XI)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No :
6. Asal-usul Pusaka :  Temuan dekat situs Arca Totok Kerot, Kediri
7. Dimensi : panjang bilah 18 cm, panjang pesi   4,5 cm, panjang total  22,5 cm
8. Keterangan Lain : kolektor item


ULASAN :

KERIS KABUDHAN, bagi orang perkerisan belumlah jangkep (lengkap, sempurna) rasanya bila belum memiliki dan mengkoleksi keris kabudhan, yang di pasaran lebih dikenal dengan nama keris betok atau jalak budha ini. Sebab, hingga saat ini masyarakat perkerisan percaya jika keris kabudhan dianggap sebagai leluhur, nenek moyang atau cikal bakal keris-keris Nusantara sehingga wajib terpajang di gedong pusaka sebagai keris tindih yang benar-benar mumpuni.

Istilah Kabudhan tentu saja sangat familiar dalam dunia arkeolog, dimana merujuk pada zaman Mataram Kuno pada sekitar abad VIII (menurut Prasasti Canggal, Sanjaya mendirikan Dinasti Sanjaya pada 732 Masehi) hingga pertengahan abad X, dimana pada zaman itu ada dua era kerajaan, yaitu Mataram Hindu (dibawah Wangsa Sanjaya) dan Mataram Budha (dibawah Wangsa Syailendra). Namun, istilah kabudhan sendiri sebetulnya sebuah istilah yang masih banyak digunakan oleh masyarakat Jawa untuk menyebut suatu masa atau waktu, dimana mereka sebenarnya tidak tahu secara pasti kapan tanggal dan tahun dimulainya, juga tidak bisa ditentukan kapan periode persisnya. Bagi orang Jawa sebutan itu cukup lazim, karena menganggap “zaman baulah” itu sebagai “zaman Budho”, yang tak terkait dengan dominasi satu agama tertentu dan tentu saja tidak berkaitan langsung dengan pengidentifikasian secara ilmiah. Sebutan Budho ini sama artinya dengan zaman kuno sekali. Kekunoan itulah yang kemudian menjadi daya tarik dari keris Kabudhan, hukum ekonomi pun berbicara sekaligus membuka peluang bagi oknum untuk meniru dan memalsukannya dengan menghalalkan berbagai cara.

Dalam dunia tosan aji, tangguh Kabudhan juga digunakan sebagai istilah untuk mendeferensiasi dan mengelompokkan keris dengan keadaan, bentuk atau ciri-ciri tertentu. Adapun ciri-ciri umum keris tangguh Kabudhan, antara lain:

  • Saat ini, jarang sekali keris Kabudhan ditemukan dalam bentuk utuh, sebab rata-rata merupakan hasil temuan (darat dan sungai)
  • Umumnya keris-keris Kabudhan berdhapur lurus seperti: Bethok, Jalak, Sigar Jantung, Brojol, Pasopati, Sepang dll
  • Bentuknya masih menggunakan ricikan sederhana (pejetan, sogokan, kruwingan), ricikan seperti kembang kacang dan greneng jarang ditemukan di keris kabudhan. Selain itu keris kabudhan memiliki ciri fisik tebal, pendek,serta memiliki condong leleh atau derajad kemiringan tertentu
  • Bisanya menggunakan methuk, dan pada bagian pesi berbentuk kotak (segi empat) atau lonjong yang mengecil dari arah pangkal perut ganja ke ujung pesi
  • Keris-keris yang ditemukan ada yang berpamor akan tetapi banyak yang keleng
  • Biasanya semakin tua usia keris kabudhan, sogokan semakin pendek
  • Besinya berserat berwarna kelabu kehijauan, berlapis-lapis. Tempanya juga sangat padat, seolah-olah seperti besi homogen
  • Rabaan besinya licin dan nglempung

Jika diamati secara seksama, ada beberapa ciri keris kabudhan asli (bukan prosesan),  yang akan sulit sekali ditiru, yakni:

  • Efek korosi berupa “untug cacing” serta robekan berserat atau sering disebut “sesetan” besi
  • Jika ditemukan dalam kondisi kotor dapat dibedakan yang terpendam di daerah basah (sungai) memiliki patina keras berwarna hitam legam seperti aspal. Sementara keris yang ditemukan di daerah kering (darat) terbungkus lagi oleh korosi berwarna coklat bata
  • Patina keris temuan yang asli, selain keras juga berbau “wengur” yang menyengat. Jika dibakar patinanya hanya membara, sementara keris temuan palsu jika dibakar patinanya akan keluar nyala apinya
  • Selain itu, pada keris kabudhan asli, antara bilah, gonjo dan methuk-nya sangat rapat, seolah menyatu. Sementara pada keris prosesan tidak bisa mencapai kerapatan gonjo, bilah dan methuk yang sempurna
  • Jika keris kabudhan ditemukan masih berikut hiasan-hiasan emasnya, akan lebih mudah membedakan keasliannya. Karena emas tua sulit ditiru, terutama pada warna emasnya yang kemerahan (ngunir bosok), dan kadang sebaliknya berwarna kuning muda (tai enom)

KERAJAAN PANJALU (KADIRI), Pada masa pemerintahan Mpu Sindok pusat pemerintahan kerajaan Mataram Kuno berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, tepatnya di samping muara sungai Brantas berganti nama menjadi Medang Kamulan, dengan ibukota Watan Mas. Prasasti desa Tangeran (sekarang Jombang) menyatakan Mpu Sindok memerintah bersama permaisuri Sri Wardhani Pu Khin mulai tahun 933 M. Kerajaan Medang Kamulan ini pada akhirnya dihancurkan oleh Sriwijaya yang bekerjasama dengan kerajaan kecil Wurawari. Raja yang berkuasa saat itu adalah Dharmawangsa. Penyerangan ke Medang Kamulan dilakukan pada saat sang raja mengadakan pesta perkawinan putrinya dengan Airlangga anak raja Udayana, Bali. Dharmawangsa tewas saat penyerbuan tersebut, namun Airlangga muda dapat meloloskan diri dari mahapralaya bersama abdi setianya Narottama.

Namun, pada akhirnya Airlangga dapat menyerang balik lawan-lawannya dari kerajaan Wurawari, kerajaan Wengker, dan Raja Putri dari selatan bernama Rangda Indirah dan mendirikan kerajaan Kahuripan. Raja Airlangga mempunyai tiga anak yaitu, Sanggramawijaya, Samarawijaya, dan Panji Garasakan. Airlangga ingin menurunkan tahtanya kepada putri mahkotanya Sanggramawijaya, namun Sanggramawijaya tidak bersedia menjadi raja. Sanggramijaya memilih menjadi pertapa, bernama Rara Sucian atau Dyah Kili Suci.

Pada masa akhir pemerintahan prabu Airlangga membagi daerah kekuasaanya menjadi dua, yaitu kerajaan Panjalu/Kediri dan kerajaan Jenggala. Samarawijaya mendapatkan kerajaan wilayah barat yakni Kerajaan Panjalu dengan pusat pemerintahan di kota Daha. Sementara Panji Garasakan mendapatkan kerajaan wilayah timur yang bernama Jenggala dengan pusat pemerintahan di Kahuripan. Lokasi kerajaan dibelah oleh Sungai Brantas dan gunung kawi sebagai batas pemisahnya, sedangkan konsepnya diatur oleh Mpu Baradah. Mpu Baradah tahu bahwa antara Samarawijaya dengan Panji Garasakan tidak pernah akur sejak masih kanak-kanak.

peta wilayah kerajaan Panjalu dan Jenggala

Meski kerajaan sudah terbagi dua, namun kedua anak Airlangga tetap merasa berhak atas seluruh tahta Airlangga. Sehingga peperangan terus terjadi diantara kedua kerajaan. Peperangan antara Panjalu dan Jenggala terus terjadi selama 60 tahun lamanya. Meski di awal peperangan Jenggala menang, namun pada akhirnya Panjalu lah yang mampu menguasai seluruh tahta Airlangga. Dengan kemenangan Panjalu ini, akhirnya ibukota kerajaan dipindahkan dari Daha ke Kediri. Akhirnya Panjalu lebih dikenal dengan nama Kediri.

Kerajaan Kediri berdiri sejak tahun 1045 M. Kerajaan besar ini runtuh pada tahun 1222 M. Selama 177 tahun berdiri, ada 8 raja yang berkuasa. Salah satunya adalah Sri Aji Jayabaya yang membawa Kediri pada zaman keemasannya. Pada masa Jayabaya juga dikenal mpu panday wsi bernama Mpu Kuturan. Dinyatakan dalam kisahnya mpu Kuturan mengembara ke Pulau Bali dengan wahana daun kluwih (nitih godong kluwih) membawa serta binatang kesayangannya yaitu kijang mas.

CATATAN GRIYOKULO, untuk kategori keris temuan, utamanya yang diperkirakan berasal dari tangguh kabudhan atau tangguh sepuh sanget, keris jalak budha ini bisa dikatakan dalam kondisi prima dan utuh. Meski menggunakan bentuk ricikan sederhana yang melekat pada prototype awal keris diantaranya besi malela keemasan tanpa pamor,  gandik lugas dengan tikel alis nratas, sogokan pendek, penampang bilah yang melebar ke atas (nyigar jantung), tampak dempak (pipih) dan sangkuk (melengkung) dengan condong leleh 82º tetap mampu menyuguhkan pusaka yang memikat hati. Konon di balik kesederhanaan seringkali tersembunyi kekuatan lain.

periodisasi keris dalam budaya Jawa

Kehebatan pusaka-pusaka era Kabudhan adalah penempaan besinya yang sempurna, menggunakan jenis besi yang secara visual dapat dibedakan dengan besi jaman sekarang. Teknik penempaan besinya pun berbeda dengan setelah berakhirnya era Kabudhan. Hal itu tentu saja menjadi masuk akal, ketika mpu panday wsi adalah sebuah profesi dan spesialisasi yang “diagungkan” pada masa itu, hingga mengkondisikan terciptanya keris-keris yang “agung” pula.

bentuk kerusakan seperti lubang-lubang kecil yang berbusa, disebut “untug cacing”  

bentuk pesi kotak, khas tangguh kabudhan

Keris Jalak Budha ini didapatkan bukan dari penambang pasir, pencari harta karun, ataupun lungsuran kolektor, namun justru diperoleh dari orang yang berbeda hobby, jauh dari hingar bingar dunia tosan aji yang sama sekali tidak tertarik dengan dunia perkerisan. Adapun lokasi penemuan keris tersebut berada di pinggiran sungai kering sekitar cagar budaya arca Totok Kerot, di daerah Kediri Jawa Timur. Sayang sekali karna ketidak-tahuan sebegitu berharganya artefak ini maka sedari awal tidak dilakukan dokumentasi. Bahkan sempat dilakukan pembersihan sedimen dan patina sendiri tanpa pengawasan mereka yang ahli atau terbiasa membersihkan benda-benda temuan. Salah satu hal yang Penulis tanyakan mengenai adakah bagian methuk-nya? karena bisa saja ikut terbuang saat pengelupasan sedimen. Namun karna murni ketidaktahuan, walaupun sudah dijelaskan seperti apa bentuk methuk itu tetap saja sang penemu awal tidak mengingatnya, terlebih karna sudah lama pula membersihkannya. Untungnya pada bagian bilah setelah dibersihkan semuanya masih baik-baik saja.

Berbelok sejenak, apabila dicermati seksama keris Jalak Budha kali ini agak berbeda dengan keris-keris Jalak Budha yang pernah ada di katalog Griyokulo, dimana dalam mata batin Penulis seolah merasakan aura feminisme layaknya keris sombro pada jalak budha ini. Entah bisa jadi empu penciptanya perempuan, atau senjata ini dulunya dipakai oleh seorang putri tidak ada jawaban pastinya. Namun melihat lokasi dimana keris ini ditemukan adakah hubungannya dari legenda arca totok kerot yang merupakan jelmaan putri cantik dari demang di Lodoyo, Blitar?

Apapun itu, saat menanting sendiri Jalak Budha ini, sejenak kita terhenyak, pikiran-pikiran mulai menerawang dan berimajinasi membayangkan hidup dalam zaman dimana dharma menjadi sebuah keutamaan. Zaman dimana tiap-tiap manusia berusaha menemukan takdirnya. Segalanya tidak mudah karena harus diperjuangkan dengan tetesan darah dan keringat hingga air mata. Sungguhlah beruntung kita sebagai anak cucu dapat merawat pusaka lintas  generasi yang menyimpan kisah heroiknya tersendiri. Dan marilah kita bangkitkan cerita masa lalu yang telah lama terkubur.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *