Keris Kalawijan Kala Bendu

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 7.272.727,- (TERMAHAR) Tn. AHP, SCBD Jakarta


1. Kode : GKO-480
2. Dhapur : Kala Bendu
3. Pamor : Ngulit Semangka
4. Tangguh : Madiun Sepuh (Abad XV)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No :
6. Asal-usul Pusaka :  Madiun, Jawa Timur
7. Dimensi : panjang bilah 33 cm, panjang pesi  6 cm, panjang total 39 cm
8. Keterangan Lain : kalawijan/dhapur keris langka


ULASAN :

KALA BENDU, menurut buku Gambar Dhapuripun Duwung Saha Waos Kala Bendu merupakan salah satu bentuk dhapur keris luk dua puluh tujuh (luk 27). Keris ini memakai ricikan: kembang kacang, jalen, lambe gajah dua (2), pejetan, sraweyan dan ri pandhan. Keris Kala Bendu saat ini tergolong langka, sudah tidak mudah dijumpai.

KERIS KALAWIJAN, dalam serat Tembung Becik (Padmasusastra, 1898) kita bisa menemukan arti: kalawija (wong) nanging kalangênan, palawija (tanduran). Kata Kalawija merujuk pada orang, sedangkan palawija merujuk pada tanaman. Lalu seperti apa “orang” yang dimaksud sebagai Kalawija ini? Pada kitab Bausastra Jawa (Poerwadarminta, 1939) dijelaskan bahwa Kalawija adalah kn abdidalêm kraton awujud wong-wong kang padha cacad (picak, bucu lsp). Dalam bahasa krama ngoko Kalawija merupakan abdi dalem keraton dengan wujud orang-orang yang mengalami cacat/kelainan, seperti mata picek, orang cebol yang bungkuk dll. Tidak hanya itu, Nayawirangka III dalam serat Kriya Mranggi (1929) menggunakan kata “Kalawijan” untuk menyebutkan sesuatu yang tidak baku. Dalam catatan tersebut ia membahas mengenai warangka gaya Surakarta. ……… Ingkang dhapur botên baku (kalawija): 1. bancean, alit panjang buwêng; 2. pananggalan.

Dalam dunia perkerisan sendiri keris Kalawijan paling tidak merujuk pada dua (2) pengertian:

Pertama (yang benar), adalah nama yang diberikan kepada keris-keris yang jumlah luknya tidak umum, lebih dari tiga belas.  Walaupun lebih dari 13 jumlah luknya, keris kalawijan juga mempunyai pakem ricikan dan nama dhapur.

Dan yang kedua (salah kaprah), juga lazim digunakan untuk menyebut keris lurus maupun berluk yang ricikan-nya tidak baku atau tidak sesuai pakem atau tidak punya nama dhapur. Selain pada keris, kalawijan juga terdapat pada tombak dan pedang.

FILOSOFI, Dalam bahasa kamus “Tembung Kawi Mawi Tegesipun“(Winter,1928). “Kala” berarti: jaman, kêndhang, Bathara Kala, danawa, kados, bêbaya, tata awon, nalika, langkung, măngsa, wanci, gêgêdhêg. Sedangkan “Bêndu” artinya: susah, duhka. Maka Kala Bendu secara harfiah berarti zaman yang penuh kesusahan/duka. Orang tua atau simbah kita menyebutnya dengan wolak-waliking zaman (zaman edan), atau dalam bahasa yang lebih modern dikenal sebagai kondisi VUCA  (Volatility/bergejolak, Uncertainty/tidak pasti, Complexity/kompleks and Ambiguity/tidak jelas).

Zaman Kalabendu ini pernah diprediksi oleh Prabu Jayabaya, dan pujangga besar Jawa Raden Ngabehi Ranggawarsita. Banyak orang yang menyebut hal itu sebagai ramalan. Namun jika kita telah lebih jauh sebenarnya itu bukanlah sebuah ramalan belaka. Lebih tepat kita sebut sebagai sebuah peringatan dari seseorang yang waskitha. Mereka ini sebenarnya adalah orang-orang pandai dan bermoral yang punya pandangan jauh ke depan, melebihi orang-orang pada masanya. Seorang cerdik pandai, yang menetapkan standar moral berdasarkan pada sebuah ciri-ciri dari suatu masa.  Orang waskitha tak jarang digambarkan sebagai orang bijaksana yang peka dan memahami tanda-tanda zaman. Karena kemampuannya melihat sesuatu melampaui masanya, secara supranatural banyak yang menyebutnya sebagai ramalan.

Prabu Jayabaya menyebut zaman Kalabendu mempunyai enam ciri : Pertama kehidupan masyarakat sangat sulit. Apa-apa mahal. Kedua,  banyak bapak lupa anaknya, dan keluarga bercerai berai. Ketiga, banyak orang yang berkhianat, termasuk kepada kawan sendiri. Keempat, orang yang bicara ngawur berkuasa. Modalnya berani bersuara lantang. Kelima, orang yang berkuasa jahat, dan rakyat kecil kian terpencil. Keenam, para pemimpin mengangkat kawan-kawan sendiri dengan cara yang tidak adil.

Sementara dalam Serat Centini  Ranggawarsita menyebut zaman Kalabendu sebagai suatu masa dimana ”Wong agunge padha jail kurang tutur, marma jeng pamasa, tanpa paramarteng dasih, dene datan ana wahyu kang sanyata.“ Para pemimpinnya jahil. Kalau berbicaranya ngawur, tidak bisa dipercaya dan tidak ada wahyu yang sejati. “Tanpa kangen mring mitra sadulur, tanna warta nyata, akeh wong mlarat mawarni, daya deye kalamun tyasenalangsa”. Tidak ada rasa rindu kepada teman dan saudara, tidak pernah memberi kabar berita. Jumlah orang miskin semakin banyak, dan kehidupannya semakin menderita. “Krep paprangan, sujana kapontit nurut, durjana susila dadra andadi, akeh maling malandang marang ing marga”. Banyak peperangan yang melibatkan para penjahat, kejahatan dan pemerkosaan makin menjadi-jadi dan banyak pencuri malang melintang di jalan-jalan. “Bandhol tulus, mendhosol rinamu puguh, krep grahana surya, kalawan grahana sasi, jawah lindhu gelap cleret warsa”.  Alampun rusak, banyak terjadi gerhana matahari dan bulan, hujan abu dan gempa bumi. “Prahara gung, salah mangsa dresing surur, agung prang rusuhan, mungsuhe boya katawis, tangeh lamun tentreming wardaya”. Terjadi prahara besar dan salah musim, banyak terjadi kerusuhan, tidak ada rasa tenteram dihati. “Dalajading praja kawuryan wus suwung, lebur pangreh tata, karana tanpa palupi, pan wus tilar silastuti titi tata”. Negara kehilangan wibawa , semua tata tertib, keamanan, dan aturan telah ditinggalkan. “Pra sujana, sarjana satemah kelu, klulun Kalathida, tidhem tandhaning dumadi, hardayengrat dening karoban rubeda”. Para penjahat maupun para pemimpin tidak sadar apa yang diperbuat dan selalu menimbulkan masalah  dan  kesulitan. “Sitipati, nareprabu utamestu, papatih nindhita, pranayaka tyas basuki, panekare becik-becik cakrak cakrak“. Para pemimpin mengatakan se-olah-olah bahwa semua berjalan dengan baik padahal hanya sekedar menutupi keadaan yang jelek.

Jika Zaman Kalabendu  ini masih berlangsung lama, Ronggowarsito memberi wasiat, untuk selalu “eling lan waspodo”. Eling berarti manusia harus ingat siapa dirinya dan kedudukannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Banyak cаra mаnusia untuk dapаt mengingat dan mendekatkan diri kepadа Tuhan Yang Maha Esа, salah satu wujudnya adalah dengan meningkatkan kesadаran rаsa iman dаn takwa, serta berbuat keutamaan. Selalu tаwakal dаn bersyukur dengan menyadari ketentuаn takdir. Segala sesuatu yаng terjadi di duniа ini sudah kehendak Tuhаn, tidak ada sesuаtu peristiwa yang kebetulan, semuanyа sudah diаtur oleh Tuhan. Kita hаrus tabаh dan kuat menghadapi segаla cobаan hidup, ikhlas menerimа apa pun yang sudah digariskan dengan selalu memanjatkаn rasа syukur. Apa pun yаng telah menjadi kewajiban kita, dikerjakan dengаn senang hаti, tidak tamаk, tidak rakus, tidak lobа, dan tidak serakah, tidak menginginkаn milik orang lain, dаn juga tidak iri akаn keberuntungan orang lain. Kita hendaknyа dapat menetapi dhаrma atau kewajibаn masing-mаsing dengan benar, bаik sebagai kaum brahmana, bаngsa ksаtria, waisya, maupun menjаdi golongan sudra sekalipun.

Sedangkan “waspodo” berarti kita harus memiliki watak kehati-hatian serta mampu membedakan mana yang benar dan yang salah. Terjaga dan waspada dari segala bentuk godaan dan perbuatan buruk, karena yang ingat dan waspada itu yang begja (beruntung). Namun, tentunya dengan tetap mengasurаnsikan keselаmatan jiwа raga kita kepаda Tuhan Yang Mahа Kuasа, alhasil agar kita tidаk ikut edan, tidak tergilas oleh аrus zaman, serta tidak hаnyut dalаm situasi yang tidаk menentu. Hanya dengan cаra seperti itulah kita tidak bertopang dagu diam menjаdi penonton, atau hanyа bisa meratapi nasib dalam kesedihаn dan kedukaan.

Hal baiknya adalah setelah zaman Kala Bendu berlalu akan berganti dengan zaman Kalasuba atau zaman adil makmur. Sebuah masa transisi dari zaman keburukan menuju zaman yang baik. Sebagai pameling, bahwa di balik setiap kesulitan, pasti ada kemudahan. Inna ma’aal ‘usri, yusro.

TANGGUH MADIUN, memang betul jika ditilik dari sejarah Madiun sendiri, semenjak dari Majapahit-Demak-Pajang hingga Palihan Nagari (1755) Madiun  tidak pernah berdiri sebagai kerajaan sendiri. Dengan demikian pengaruh kerajaan yang berkuasa atau kota raja tentu akan sangat berpengaruh pada budayanya, termasuk langgam keris. Namun jangan salah, meski seringkali dicibir sebagai pusaka “kelas Kadipaten” banyak diantaranya yang besinya ditempa padat dan cukup bagus. Mpu-Mpu di Madiun juga dikenal pintar dalam memilih material pada zamannya, sehingga jarang kita melihat keris-keris Madiun yang keropos-keropos atau rusak. Melalui sumber tertulis catatan keraton Surakarta Serat Panangguhing Duwung yang ditulis oleh Wirasukadga, selain Madiun disebutkan sebagai salah satu “tangguh”, Empu yang membuatnya juga tidak tanggung-tanggung, Empu Ki Kodok alias Supa Nom, yang juga dikenal sebagai  Ki Tundhung Madiun.

PAMOR NGULIT SEMANGKA, disebut demikian karena pamor yang dibuat oleh sang Empu mirip sekali dengan corak pada kulit buah semangka, yakni berupa beberapa garis lengkung dari bentuk garis lengkung terkecil kemudian melebar dengan lengkungan yang membesar, menunjukkan gerak yang teratur harmonis.

Buah semangka adalah salah satu buah yang digemari oleh Kanjeng Nabi. Dan apabila kita renungkan lebih dalam, buah semangka mencerminkan kepribadian seseorang yang rendah hati dan tidak sombong. Sikap “humble” ini disimbolkan dengan batangnya yang tumbuh merambat di permukaan tanah. Dalam 1 pohon/tanaman hanya terdapat 1-2 buah semangka saja, seolah hendak mengajarkan untuk selalu fokus memberikan yang terbaik. Buahnya besar dan rasanya menyegarkan, menggambarkan bahwa orang tersebut hidupnya penuh dengan manfaat bagi orang lain atau lingkungannya. Buah semangka juga menunjukan kedamaian bagi orang lain dengan warna kulitnya yang hijau meski di dalamnya berwarna merah, yang bisa diartikan sebagai bentuk nafsu amarah. Artinya kita harus pandai dalam menjaga hati, jangan sampai amarah kita merugikan diri kita apalagi merugikan orang lain dan menjadikan banyak musuh.

PAMOR BAWANG SEBUNGKUL, bungkul merupakan kata bilangan yang digunakan untuk menyatakan jumlah atau ukuran bawang putih. Bawang sabungkul adalah bawang yang terdapat pada satu pangkal tangkai daun bawang. Biasanya bawang sabungkul terdiri atas 8-14 siung bawang putih. Istilah bungkul tidak banyak diketahui oleh masyarakat sehingga istilah tersebut jarang sekali digunakan untuk menyatakan jumlah atau ukuran bawang putih. Masyarakat lebih mengenal kata siyung daripada bungkul sebagai penunjuk satuan atau ukuran bawang putih.

Dinamakan bawang sebungkul juga dikarenakan letak pamornya berada pada bagian bungkul keris, yakni tonjolan di bagian paling bawah dari pangkal keris, tepat di tengah bilah atau di atas pesi berupa ruas-ruas garis. Tuahnya dipercaya memberikan ketenangan lahir dan batin pemiliknya (ayem tentrem).

CATATAN GRIYOKULO, Bagi mereka yang menyukai gemerlap keindahan pamor seperti pada keris Mataram Sultan Agung, atau Nom-Noman Surakarta (Pakubuwono) dan Yogyakarta (Hamengkubuwono) mungkin akan kurang bisa menikmati garap Keris Madiunan yang terkesan kaku dengan pamor yang meski penuh rata-rata kelem (tidak ndeling/byor), tak terkecuali keris kalawijan Kala Bendu ini.

Umumnya keris-keris Madiun mempunyai ciri antara lain: penampilan cenderung sederhana (kesannya justru wagu), bentuk sekar kacang mangan gandhik, sogokan dan blumbangan yang tidak pernah imbang antara sisi kanan dan kirinya, jarang menggunakan ada-ada (bagian tengah yang lebih menonjol), serta rojehan aksara dha pada greneng-nya kurang jelas. Pamor yang ada pada keris-keris Madiun juga tak terlalu beragam. Dalam kesederhanaannya, sebagian besar keris-keris Madiun justru memiliki perbawa tersendiri. Dan memang unsur esoteri inilah yang tampaknya seperti sengaja ditonjolkan oleh keris-keris Madiun.

Secara keseluruhan kondisi bilah masih terjaga keutuhannya (bahkan hingga bagian sekar kacang yang tipis ujungnya) untuk keris yang kami perkirakan berasal dari tangguh Madiun Sepuh era Senopaten. Bentuk perawakan terlihat ramping, tantingan sangat ringan. Meski dalam tampilan sederhana (tidak byor), namun untuk dapat membuat keris kalawijan dengan luk berjumlah banyak (dalam hal ini 27), terlebih memiliki karakter luk yang jaraknya semakin merapat ke atas tentunya bukan perkara mudah. Semakin menarik, karna apabila dicermati dalam luk-luk yang rapat tersebut, pamor yang menghias bilah tampak ikut meliuk-liuk, berlenggak-lenggok ke kanan kiri mengikuti irama luk. Sebuah detail sederhana, namun sangat diperhatikan oleh sang Empu.

Selebihnya dalam pembacaan esoteri (tanjeg) Keris kalawijan ini diharapkan cocok sebagai piyandel dalam memberikan keteguhan hati dan ketenangan batin pemiliknya dalam menghadapi pasang surut keadaan dengan tetap percaya bahwa segala sesuatu akan indah pada waktunya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *