Tombak Pamor Lintang Kemukus

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 4.444.444,- (TERMAHAR) Tn. AHP, SCBD Jakarta


1. Kode : GKO-477
2. Dhapur : Kudup Melati
3. Pamor : Lintang Kemukus
4. Tangguh : Mataram (Abad XVII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 856/MP.TMII/VI/2021
6. Asal-usul Pusaka :  Garut, Jawa Barat
7. Dimensi : panjang bilah 25 cm, panjang pesi 15 cm, panjang total 40 cm
8. Keterangan Lain : pamor langka


ULASAN :

KUDUP MELATI, adalah salah satu bentuk dhapur tombak lurus, ukurannya tidak lebih dari sejengkal pemakainya, paling panjangnya hanya sekitar 20 cm. Pada dasarnya semua tombak dhapur Kudhup bukan untuk tombak menyerang atau berperang. Kegunaannya lebih sebagai maskot, benda magis atau alat bela diri. Tombak-tombak dhapur kudhup juga tidak mungkin dilontarkan karena ujungnya relatif kecil dan tidak praktis untuk tombak lontar. Kecuali dalam keadaan tertentu yang sangat mendesak.

Tombak jenis Kudhup Melati dapat dipasang pada ujung payung/songsong, ujung tangkai bendera, ujung tongkat atau pada landeyan tombak biasa. Menurut kepercayaan masyarakat, tombak ini lebih sebagai sarana bersifat magis (esoteri). Karena dimensinya yang kecil, sejak pertengahan abad ke-20 tombak dhapur Kudhup Melati banyak yang digunakan sebagai isen-isen (isian) tongkat komando, terutama bila pemiliknya seorang Tentara/Polri.

FILOSOFI, dalam bahasa Indonesia Kudup Melati artinya adalah kuncup bunga melati. Melati (Jasminum Sambac), telah dinobatkan sebagai satu dari tiga puspa bangsa, maskot dari bangsa Indonesia di dunia internasional. Kuncup bunga melati yang belum sepenuhnya mekar kebanyakan dipetik, dikumpulkan dan dirangkai menjadi roncean melati dan dipakai di hari sakral, salah satunya yakni pada perkawinan adat Jawa. Pada pengantin perempuan, roncean bunga melati biasanya digunakan pada bagian sanggul hingga menjulur ke bagian satu sisi dada (roncean tibo dodo). Namun ada juga yang menjulur sampai ke bagian pinggang. Sedang untuk pengantin pria terdapat pada dua bagian. Bagian pertama adalah ronce bunga melati sebagai kalung, lalu bagian kedua adalah ronce bunga melati yang menghiasi keris. Rangkaian melati ini dinamakan roncen usus-usus yang dikaitkan dengan legenda tewasnya Arya Penangsang.

Keris merupakan simbol kejantanan. Melambangkan seorang pria yang siap berperang menjaga harkat dan martabatnya. Simbol kejantanan ini diperkuat oleh untaian melati. Untaian melati mengingatkan mempelai pria pada Arya Penangsang yang memperjuangkan kehormatannya. Arya Penangsang tidak mundur saat terluka parah, namun tetap berperang dengan gagah berani.

PAMOR LINTANG KEMUKUS, Istilah lintang kemukus sendiri berasal dari bahasa Jawa. “Lintang” berarti bintang. Sebenarnya penyebutan lintang terjadi karena masyarakat dulu belum mengenal dan mampu membedakan atau mengklasifikasikan obyek langit seperti dalam astronomi modern saat ini. Saat itu, benda langit apa pun yang terlihat terang di langit kecuali bulan, seperti planet, rasi, komet atau meteor, semuanya disebut sebagai lintang.

Sedangkan kemukus berasal dari kata dasar “kukus” yang memiliki arti berasap. Dalam penamaan ini merujuk pada “ekor” atau cahaya terang memanjang yang terlihat dari Bumi ketika komet melintas. Secara sains, yang disebut “kemukus” adalah inti komet (nukleus) yang terdiri dari bahan- bahan beku seperti batu keras, debu, es (es air, H2O), gas-gas beku seperti karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO) dan metan (CH4) maupun mmonia (NH3), yang mencair dan menguap, lantas membentuk semacam lapisan “awan” pada sekeliling nukleus komet — disebut “coma”, artinya : ‘rambut’. Lantaran didorong oleh tekanan radiasi matahari dan angin matahari, maka bahan-bahan volatil ini terdorong ke luar menjauhi matahari, membentuk semacam “ekor”. Pencairan itu terjadi manakala komet mendekati matahari (perihelion), sehingga temperatur permukaan komet meningkat seiring dengan meningkatnya energi panas matahari yang diterimanya. Komet memiliki dua ekor, yaitu ekor debu dan ekor gas.

Disebut demikian karena pamor yang dibuat memiliki gambaran bentuk pamor serupa komet atau bintang berekor (karena asap yang muncul bisa sangat panjang seperti memiliki ekor). Jika dicermati, dari bagian sor-soran berupa bulatan pamor seperti gumpalan benang atau mirip tunggak semi, bisa juga seperti bawang sebungkul kemudian berubah menjadi garis lurus di tengah bilah (seperti sada saler) hingga ke bagian ujung bilah. Pamor ini dipercaya baik untuk mereka yang sedang mencari popularitas atau ketenaran, sekaligus juga membantu mencari jalan rezeki. Dari segi teknis pembuatannya pamor lintang kemukus tergolong pamor rekan. Pamor ini tergolong tidak pemilih.

Dalam serat Pamor Doewoeng Djilid I Babon Asli Saking Cirebon yang dicetak ulang Stoomdrukkerij de Bliksem (1935), pamor ini cocok dijadikan piyandel ke medan perang sebab tertulis jika pamor Lintang Kemukus: “agoeng bawa leksanane (gambaran seorang yang dihormati sebab konsekuen dalam ucapan dan tindakannya), wataknya brangasan (mudah panas) dan teguh (hatinya) selamat (jauh dari musibah), terhindar dari panah dan senjata”, seperti  di atas gambarnya.

Legenda lintang kemukus setidaknya pernah tercatat dalam beberapa babad misal Serat Babad Segaluh Dumugi Mataram, Serat Demak (1831), Babad Demak (1914), Sejarah Jati (1975). Dalam babad tersebut dikisahkan, pada saat itu, keris Kyai Condong Campur keluar dari tempat penyimpanannya dan menimbulkan wabah penyakit di kerajaan Majapahit yang menyerang banyak orang, termasuk permaisuri Prabu Brawijaya, Dwarawati. Kemudian, terjadi pertempuran antara keris Kyai Condong Campur dengan keris Kyai Sabuk Inten yang dibantu keris Kyai Sengkelat. Kyai Condong Campur pun kalah dan kembali ke tempatnya sehingga wabah berakhir. Setelah itu Prabu Brawijaya pun memerintahkan untuk melebur keris Kyai Condong Campur. Saat keris dilebur dengan cara dibakar hingga warnanya menjadi merah membara, tiba-tiba Keris Kyai Condong Campur melesat ke angkasa dan berubah menjadi lintang kemukus yang disaksikan banyak orang. Dari situlah, lintang kemukus dianggap sebagian masyarakat Jawa sebagai pertanda akan datangnya suatu bencana, kerusuhan, kekacauan, perang, kelaparan, kematian, atau wabah penyakit (pageblug). Keyakinan itu tetap bertahan hingga kini dan diteruskan secara turun temurun sehingga diyakini kebenaranya oleh sebagian orang jawa.

CATATAN GRIYOKULO, Sudah tidak sering lagi kita melihat tombak-tombak dengan pamor miring yang memang dulunya lebih banyak difungsikan sebagai “piyandel” karena sebagian besar tombak kodratnya memang digunakan sebagai senjata tempur. Sebagai tombak piyandel mungkin beberapa orang yang “peka” atau yang dianugerahi bakat khusus  sejak lahir akan merasakan aura yang berbeda. Di mata penulis sendiri, umumnya aura perbawa muncul pada tombak/keris yang berukuran birawa (besar) dengan garap tegas, namun pada tombak ini, dengan ukuran tidak besar, tidak memakai ricikan yang rumit, pamor juga bukan jenis pamor miring yang indah (bahkan ada sedikit meleset pada garis sada salernya) tetap saja ia tampak tidak kehilangan sinarnya. Bagi penulis masuk akal juga jika keris/tombak dengan pamor Lintang Kemukus dulunya dijadikan piyandel berperang. Seperti kepercayaan Jawa, lintang kemukus dianggap sebagai tetenger atau semacam “alarm” dalam membaca tanda-tanda alam akan datangnya sesuatu yang tidak baik atau malapetaka, maka jika kemudian lintang kemukus ini diabadikan dalam sebuah bentuk pamor akan membawa mimpi buruk bagi orang/lawan yang melihatnya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *