Tilam Upih Sekar Lampes

Mahar : 5.750.000,-


1. Kode : GKO-472
2. Dhapur : Tilam Upih
3. Pamor : Sekar Lampes
4. Tangguh : Pajajaran (Abad XIV)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 851/MP.TMII/VI/2021
6. Asal-usul Pusaka :  Rawatan/Warisan Turun Temurun
7. Dimensi : panjang bilah 32,8 cm, panjang pesi  6,7 cm, panjang total 39,5 cm
8. Keterangan Lain : pamor langka


ULASAN :

TILAM UPIH, adalah  salah satu bentuk keris lurus yang sangat populer. Meskipun ricikan-nya sederhana; gandhik polos memakai dua (2) kelengkapan ricikan saja: pejetan dan tikel alis dengan buntut polos (tanpa tingil, ri pandan atau greneng) tidak membuatnya kalah pamor dibandingkan keris-keris lainnya. Justru dhapur Tilam Upih adalah bagian dari empat keris utama orang Jawa. Selain Tilam Upih, biasanya keluarga Jawa masa lampau memiliki keris dengan dhapur Tilam Sari, kemudian Brojol, dan Jalak Sangu Tumpeng. Di keraton Yogyakarta sendiri, kira-kira terdapat tiga keris pusaka yang ber-dhapur Tilam Upih, yaitu KK Pulanggeni, KK Sirap, dan KK Sri Sadono.

FILOSOFI, Tilam-upih kang rumuhun | makna pasêmonnira | murat jalma wadon dene rahsanipun | pamikire marang katga | dikaya mikir padêmi ||

Menurut ilmu simbol perkerisan dari Sunan Kalijaga yang ditulis di dalam Serat Centhini, Tilam Upih adalah lambang dari wanita. Mengandung makna pasemon jika seseorang telah mencintai keris sikapnya bagaikan orang yang mecintai  seorang perempuan yang menjadi garwa (istrinya), dimana ingatan pikirnya selalu tertuju kepadanya.

Ibarat seorang tentara yang menganggap senjata api sebagai istri kedua, bagi lelaki Jawa keris adalah istri kedua yang juga harus selalu mendapat perhatian. Artinya, ada aktivitas atau pengorbanan (waktu, tenaga, biaya) untuk merawatnya dengan baik. Dalam perkembangan budaya masyarakat Jawa, keris dipercaya sebagai salah satu tolok ukur serta perlambang laki-laki sejati. Terlebih dengan munculnya pandangan bahwa kesempurnaan hidup seorang laki-laki Jawa harus memenuhi lima unsur, yakni curigo (keris/senjata), turonggo (kuda/kendaraan), wismo (rumah), wanito (istri), dan kukilo (burung/hiburan). Bentuk keris lurus mengandung sikap istiqomah dan tawajjuh, yakni konsisten dalam melakukan kebaikan, teguh dalam satu pendirian dan tidak akan tergoyahkan oleh berbagai macam rintangan dalam mendapatkan jalan lurus menuju ridho-Nya.

PAMOR SEKAR LAMPES, adalah salah satu motif pamor yang pola gambarannya menyerupai untaian bunga. Bentuk gambaran pamor ini agak mirip dengan pamor Sekar Anggrek, hanya saja garis-garisnya lebih tebal, Menurut sebagian kalangan pecinta keris, pamor Sekar Lampes mempunyai tuah yang dapat menambah kewibawaan pemiliknya. Tetapi pamor ini tergolong pamor pemilih, artinya tidak setiap orang akan merasa cocok bila memiliknya.

CATATAN GRIYOKULO, Pusaka ini menunjukkan kepada kita, tidak harus dhapur ganan atau keris yang memiliki ricikan kompleks saja yang bisa menampilan aura ngayang batin. Meski tidak bisa dikatakan utuh pamornya, tidak pula membuat pusaka ini kehilangan perbawa-nya. Sebab pada akhirnya kecantikan memang akan memudar juga tergerus oleh sang waktu, namun guratan-guratan bintang terang pada zamannya masih akan tetap bisa terbaca.

Pada bagian gonja pusaka ini guratan-guratan kejayaan tersebut masih terabadikan dalam bentuk tatanan pamor setengah lingkaran seperti motif batik sisik ikan yang rapih. Tidak ada kata lain, selain keris ini menggambarkan kerendahan hati sekaligus kebesaran pemiliknya pada zamannya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *