Sangkelat Mataram Bungkem

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 5.000.000,- (TERMAHAR) Tn DHS, Semarang


1. Kode : GKO-469
2. Dhapur : Sangkelat
3. Pamor : Beras Wutah
4. Tangguh : Mataram (Abad XVII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 848/MP.TMII/VI/2021
6. Asal-usul Pusaka :  Rawatan/Warisan Turun Temurun
7. Dimensi : panjang bilah 37,8 cm, panjang pesi  6,7 cm, panjang total 44,4 cm
8. Keterangan Lain : kembang kacang bungkem, warangan lama


ULASAN :

SANGKELAT, ada pula yang menyebutnya Sengkelat, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk tiga belas. Ukuran panjang bilahnya sedang, dan memakai ada-ada, sehingga permukaannya nggigir sapi. Sengkelat memakai kembang kacang; ada yang memakai jenggot dan ada yang tidak; lambe gajah-nya hanya satu. Selain itu ricikan lainnya adalah tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan, dan greneng. Menurut mitos/dongeng dhapur pancer Sengkelat dibabar oleh Empu Sura pada tahun Jawa 1429 atas pemrakarsa Sunan Bonang.

FILOSOFI, Sangkelat sajroning kawula alit – bebas tapi tau batas, tak perlu dikekang karena tau jalan pulang,  menunduk bukan berarti takluk, akan berontak jika terinjak…

Jika di dalam dunia pewayangan sosok kawula alit (rakyat kecil) sering disimbolkan ke dalam diri punakawan (semar), Maka dalam dunia perkerisan muncul “Kyahi Sangkelat” yang dalam berbagai naskah/babad menjadi bagian dari berdirinya Kasultanan Islam di Pulau Jawa. Pada mitologi dunia perkerisan keris Sangkelat dianggap sebagai lambang sosok kawula alit yang mempunyai watak prasaja (sederhana), jujur, sabar, andhap asor (rendah hati).

Sangkelat selalu punya kisahnya, menilik keris dhapur luk tigabelas ini penulis menjadi teringat dengan lakon legendaris pewayangan (cerita) “Semar Mbangun Kahyangan” disambungkan dengan kondisi aktual bangsa Indonesia tercinta ini. Lakon Semar Mbangun Kahyangan,  merupakan lakon kategori carangan (Lakon carangan itu mengambil dari lakon pakem yang mendapat tambahan cerita lainnya, dari lakon carangan itu selanjutnya melahirkan berbagai macam gagrag yang selalu berbeda pada setiap dalang), artinya merupakan gubahan dari lakon-lakon pakem atau yang diambil dari kitab-kitab kuna seperti Kakawin Mahabarata, Kakawin Ramayana, Pustaka Raja Purwa dan Serat Purwakandha yang sudah menjadi pakem utama dalam dunia pedalangan. Inti dari lakon ini, Ki Lurah Semar Badranaya menggugat para kesatria di kraton Hastina. Tak luput para Pandawa yang dianggap lalai memegang amanat. Namun pada kenyataannya, niat Ki Lurah Semar Badranaya membangun (kembali) kahyangan yang sudah sumende dalam diri kesatria Pandawa itu justru menimbulkan kesalahpahaman.

Jika mau jujur mengakui (bukan pandangan pesimis) bahwa  Negara ini sesungguhnya sudah suméndé. Suméndé artinya sudah ambruk karena pilar-pilar penyangganya sendiri sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Hanya saja dikatakan masih suméndé karena Negara tidak dalam posisi benar-benar roboh karena masih tertopang atau tertahan pilar-pilar di luar kemampuan yang dimiliki negara. Tampak seolah Negara ini masih berdiri, itu disebabkan adanya kekuatan yang dimiliki oleh wong cilik, dan sebagian “pembesar” yang masih memiliki hati nurani.

Kisah Semar Mbangun Kahyangan selalu relevan pada setiap kondisi. Kekuasaan selalu memabukkan, menjadikan penguasa lalai pada amanat dan lupa kepada rakyat. Pesan Semar (baca – Sengkelat) adalah suara rakyat, yang kendati lirih, terkadang memuat niat kebaikan dan kebenaran. Hari ini, ketika penguasa menelantarkan rakyat dengan asyik korupsi berjamaah, mengabaikan rasa keadilan sebab hukum serasa tajam ke bawah namun tumpul ke atas, kita merasa bahwa inilah saat yang tepat untuk menghadirkan Semar di tengah-tengah kita. Karena sudah banyak terbukti pada akhirnya penguasa yang lalim akan terkoreksi oleh rakyat jelata. Adakah sang Semar modern atau Semar millenium? Itu tidak penting, marilah kita bangun kayangan dalam hati, dalam tindakan, dalam pergaulan dan dalam tiap kaki langkah kita.

TANGGUH MATARAM, Dalam pupuh tembang serat Centhini disebutkan Tangguh Mataram sebagai  berikut :  yèn tangguh ing Ngèksiganda | iya ing samangke iki | Iku ana loro rupa | ing Mataram Senapati winarni | sikutan prigêl srêng bagus | wêsi biru sêmunya | garing alus pamor pandhês tancêpipun | angawat kêncêng tur kêras | tan ana kang nguciwani || Karsa dalêm sri narendra | yèn iyasa wangkingan kaya iki | dhuwung wus tinampèn gupuh | kalawan Mas Cêbolang | tiningalan sasikutan dhèmês bagus | amung wêsi radi mêntah | pamor kathah mubyar putih ||

Atau jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kurang lebihnya sebagai berikut: Jika tangguh Ngeksiganda (Mataram) ada dua jenis; pada jaman Senopaten pasikutan prigel (ulet) dan bagus, besi berwarna semu kebiruan, pamornya kering halus, menetapnya pamor kokoh pandes, ngawat, kencang dan keras, tidak ada yang mengecewakan. Sedangkan pada jaman Sultan Agung pasikutan demes (gagah), bagus, besi agak mentah, pamor banyak berwarna putih terang.

PAMOR BERAS WUTAH, adalah motif yang cukup familiar di dunia perkerisan, bentuknya didominasi oleh butiran-butiran putih menyerupai beras yang tersebar. Beras Wutah bermakna pengharapan untuk kemakmuran dan rejeki yang melimpah.

CATATAN GRIYOKULO, bersama dengan keris Tilam Upih pamor Sekar Lampes, keris Sangkelat ini Penulis dapatkan dari salah satu perumahan elite di daerah Cibubur. Keris-keris ini sebenarnya adalah keris-keris warisan yang dulunya sudah lama dirawat. Meski Sangkelat bukan merupakan dhapur keris yang langka, demikian pola dengan motif beras wutah yang menghiasi juga bukan merupakan pamor yang sulit ditemui namun untuk menemukan keris dengan garap seperti ini lokasian (di daerah-daerah) rasanya saat ini sudah tidak mudah.

Secara keseluruhan keris ini masih tampak gagah, setiap bagian liukan luk-nya yang nggigir sapi juga terlihat cukup utuh. Pandangan pertama akan tertuju pada bagian muka, dimana terlihat ricikan sekar kacang melingkar dengan bagian ujung menempel gandhik mboto rubuh-nya (mbungkem). Banyak orang mencari bentuk sekar kacang semacam ini karna dianggap memiliki tuah untuk membungkam lawan. Pada bagian jalen juga tampak menonjol karena dibuat oleh sang Empu panjang dan besar. Bagian pejetan dan sogokan dibuat lebar dan dalam hingga kandas waja. Beberapa orang sangat menyenangi garap sogokan kandas waja, karna mempertontonkan kepiawaian sang Empu dalam mengekspresikan karyanya. Pada bagian luk ketiganya juga terlihat batasan sepuhan (quenching) menambah bobot spiritualnya.

Dan apabila kita cermati lebih detail pada bagian pamornya, tampak tatanan pamor beras wutah yang cenderung ngrawit (rumit) berwarna terang. Apabila keris ini diwarang ulang tentu saja akan menampilkan detil pamor yang lebih kontras. Terakhir, untuk sandangan yang ada masih menggunakan sandangan sebelumnya, tidak ada satu bagian pun yang dilorot (diambil/ditukar).

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *