Tilam Upih Lar Gangsir Agal

Mahar : 5.555.555,-


1. Kode : GKO-474
2. Dhapur : Tilam Upih
3. Pamor : Lar Gangsir
4. Tangguh : Tuban Era Mataram (Abad XVII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 853/MP.TMII/VI/2021
6. Asal-usul Pusaka :  Jakarta
7. Dimensi : panjang bilah 34,6 cm, panjang pesi  6,9 cm, panjang total 41,5 cm
8. Keterangan Lain : pamor jarang


ULASAN :

TILAM UPIH, tampaknya hampir semua buku literatur sepakat bahwa ricikan yang ada pada dhapur Tilam Upih hanyalah tikel alis dan pejetan, Bentuk  ricikannya yang relatif sederhana tidak neko-neko, menjadikannya lebih banyak orang yang bersedia memakainya di masa lalu dan hingga sekarang relatif lebih mudah diketemukan dan banyak tersebar di dalam masyarakat, dengan kata lain dhapur sangat populer atau terkenal.

FILOSOFI, Tilam upih dapat diartikan “tidur pada alas” (semacam tikar yang terbuat dari anyaman daun kelapa). Tidur dalam konteks pandangan Jawa, merupakan perlambang ketentraman dalam kehidupannya secara lahir dan batin. Orang dalam keadaan tidur adalah orang yang mampu mengendalikan kondisi jasmani dan terutama lepas dari pengaruh panca inderanya. Dalam tidur tidak ada angan-angan, nafsu duniawi dan merupakan sebuah kondisi kepasrahan total. Dasar dari filosofi Tilam Upih adalah tidur pada sebuah landasan, memberi makna kepasrahan diri dan penyerahan diri kepada Tuhan YME.

Upih merupakan simbol pohon kelapa yang sangat tahan terhadap penyakit (hama) tumbuhan dan alam. Jarang kita melihat pohon kelapa yang ambruk tertiup angin. Semua bagian dari pohon kelapa bermanfaat dan dapat digunakan untuk kebutuhan manusia. Tidak ada yang terbuang sia-sia. Hal tersebut merupakan sebuah isyarat, manusia harus menjadi pribadi ulet dan kuat menjalani hidup serta dapat memberi maanfat bagi keluarga, orang lain serta bangsanya. Ricikan gandik polos dan buntut gonjo polos menunjukkan keikhlasan hati serta kesederhanaan dalam hidup. Sedangkan tikel alias, tikel berarti dua (lipat dua) alis berarti batas mata yang memberi ciri wajah. Maka makna dari ricikan tikel alis adalah manusia memiliki dua sifat: baik dan buruk, kedua sifat ini wajib selalu diingat, dan menjadi pertimbangan dalam kehidupan, sehingga dalam hidup seyogyanya selalu “di jalan yang lurus”.

TANGGUH TUBAN ERA MATARAM, pada era Mataram keris Tuban agak mengalami sedikit pergeseran bentuk. Bila bilahnya pada masa sebelumnya rata-rata tipis, maka pada masa Mataram, agak lebih tebal dengan bentuk nglimpo mengikuti model keris Mataram.  Bagian pejetan juga lebih sempit dari era sebelumnya dan gandik-nya agak tegak. Besinya tampak hitam, tempaannya nyaris sempurna sehingga mewujudkan bilah keris yang nyaris tidak berpori-pori. Pada bagian sirah cecak umumnya meskipun masih ada pengaruh era sebelumnya tapi sudah tidak terlalu buweng (bulat), dengan bentuk ekor gonjo agak melandai ke bawah.

PAMOR LAR GANGSIR AGAL, Lar = sayap dan Gangsir (brachytrypes portentosus) termasuk jenis jangkrik berukuran sangat besar dan berwarna hitam, warna hitam terdapat pada seluruh bagian tubuhnya. Tubuh gangsir jantan terlihat kokoh dan sangat tenang. Habitat asli jangkrik gangsir dapat di temukan di daerah yang sedang dan menyukai suasana sepi, biasanya banyak di temukan di kuburan, mereka membuat lubang untuk bersarang. Mungkin saat ini kita jarang menemukan jangkrik gangsir karena jangkrik ini kurang aktif pada lingkungan di bandingkan jenis jangkrik lainnya. Maka, sesuai dengan penamaannya lar gangsir adalah motif pamor unik dimana goresan garis pamornya tampak rumit, lipatan dan puntiran menghasilkan pola nginden yang cantik mirip morfologi umum ruas-ruas sayap jangkrik gangsir.

Secara teknis pamor lar gangsir sendiri dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaknis lar gangsir lembut (nyutro), lar gangsir sedeng, dan lar gangsir agal (besar, tidak lembut). Karena tingkat kerumitan, tak banyak jumlahnya, maupun filosofi yang terkandung di dalamnya, pamor ini dianggap istimewa. Salah satu pusaka utama Keraton Yogyakarta, Keris Kangjeng Kyahi Ageng Kopek konon berpamor lar gangsir. Selain itu keris atau tombak dengan pamor lar gangsir biasanya tergolong tinggi mas kawinnya.

Menurut kepercayaan pamor lar gangsir mempunyai tuah yang dapat membantu pemiliknya menangkal hal-hal tidak baik (tolak bala), namun pamor ini tergolong pemilih, artinya tidak semua orang akan merasa cocok bila memilikinya.

FILOSOFI, Lar Gangsir = Gelar Ageman Siro, konon merupakan sebuah ajaran makrifat Sunan kalijaga, yang memiliki makna bahwa gelar atau jabatan pangkat, ketenaran, kekayaan, kecantikan dan ketampanan dan lain sebagainya di dunia ini hanyalah sebuah ageman atau pakaian yang bisa dikenakan dan ditanggalkan (hak pakai bukan hak miik). Tidaklah kekal bagi pemiliknya, semua itu adalah titipan dari Yang Maha Kuasa yang suatu saat pasti akan dimintaNya kembali.Sebagai pameling dalam kehidupan kita, jangan sampai kita terjebak oleh silaunya gemerlap kehidupan dunia. Jangan juga kelebihan yang kita miliki menjadikan kita sombong, takabur, lupa diri dan bertindak sewenang-wenang kepada orang lain dan merendahkan harkat dan martabatnya. Jangan sampai kelebihan yang kita miliki malah menjadikan bumerang bagi diri kita sendiri.

CATATAN GRIYOKULO, Meskipun pamor lar gangsir yang ada tidak menampilkan detil yang lembut/nyutro (agal, khas pesisiran yang sederhana), tidak mengurangi rasa untuk kita dapat menikmati keindahan keris sepuh. Besi pada pusaka ini juga tergolong halus, ringan, nyaring, dan matang tempa. Warangka kayu timoho dengan ilat-ilatan kulit penyu pada pendoknya meskipun sudah uzur juga masih cocok-cocok saja untuk mendampingi bilah yang ada. Tidak ada pekerjaan rumah menanti. Panjenengan tinggal menyimpan dan meneruskan untuk merawatnya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *