Jangkung Mangkurat Bonang Rinenteng

Mahar : 7.500.000,-


1. Kode : GKO-470
2. Dhapur : Jangkung Mangkurat
3. Pamor : Bonang Rinenteng
4. Tangguh : Mataram Senopaten (Abad XV)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 849/MP.TMII/VI/2021
6. Asal-usul Pusaka :  Rawatan/Warisan turun temurun
7. Dimensi : panjang bilah 36 cm, panjang pesi  7 cm, panjang total 43 cm
8. Keterangan Lain : termasuk pamor langka


ULASAN :

JANGKUNG MANGKURAT, mengambil referensi dari tabel ricikan dan nama dhapur dalam Buku Keris Jawa Antara Mistik dan Nalar (2006) karangan Alm. Haryono Haryoguritno, Dhapur Jangkung Mangkurat memiliki ciri-ciri sebagai berikut: Luk tiga, gandhik memakai kembang kacang, jalen, lambe gajah-nya satu (1), pejetan dan greneng pada bagian ganja.

Menurut sebagian kalangan, dhapur Jangkung Mangkurat dan Jangkung Mangkunegara cocok dimiliki oleh para pejabat tinggi pemerintahan,  perwira militer/polisi, hingga anggota legislatif yang taksu-nya diyakini dapat memperlancar karier, pangkat dan kedudukan yang mapan bagi pemiliknya.

FILOSOFI, Kata Jangkung berarti menuntun, melindungi, mengawasi, dan menjaga dari kejauhan. Sedangkan Mangkurat berasal dari kata mangku yang berarti menopang atau menyangga dan rat artinya adalah jagad atau dunia semesta. Jangkung Mangkurat mempunyai arti mengatur jagad semesta dan seisinya. Berdasarkan nama tersebut, tersirat makna simbolik terkait dengan suatu ajaran kepemimpinan.

Bahwa hidup orang jawa itu kiblatnya bukan untuk dirinya sendiri. Bahwa selain ‘hamengku-memangkat‘ trah keluarga sendiri, untuk menjadi manusia yang unggul dan berderajad tinggi, juga hamengku, hamengkoni, hamemangku, menjunjung tinggi masyarakat yang ‘ngawula‘ kepadanya, serta masih pula berjuang demi kesejahteraan seluruh umat manusia. Pendek kata membuat dunia menjadi tempat yang semakin layak dihuni oleh manusia.

TANGGUH MATARAM ERA PANEMBAHAN SENOPATI,| ing Mataram Senapati winarni | sikutan prigêl srêng bagus | wêsi biru sêmunya | garing alus pamor pandhês tancêpipun | angawat kêncêng tur kêras | tan ana kang nguciwani  || Serat Centhini

Dalam Serat Centhini ditulis Tangguh Mataram Senopaten mempunyai bentuk pasikutan yang prigel sereng bagus, besi semu biru, kering halus, pamornya menancap pandes, ngawat kencang, keras, tidak ada yang mengecewakan. Pada umumnya keris-keris Senopaten masih membawa karakter bentuk dan bahan dari keris-keris Majapahit, hal ini dikarenakan empu-empu pada masa Panembahan Senopati merupakan empu Majapahit dan atau keturunannya.

PAMOR BONANG RINENTENG, mengenai pamor yang satu ini, Tammens (1991) dalam bukunya De Kris, Magic Relic of Old Indonesia menuliskan sesuatu yang agak berbeda dari buku-buku perkerisan dalam bahasa Indonesia. Jika pemahaman yang ada dalam benak masyarakat perkerisan selama ini mempercayai tuah pamor Bonang Rinenteng serupa dengan pamor Udan Mas yakni kerezekian, namun dalam bukunya tersebut Tammens justru menulis jika tuah pamor Bonang Rinenteng adalah kepemimpinan.

Jika diterjemahkan secara bebas, pamor yang unik dan jarang ini berasal dari bentuk salah satu instrumen suara Jawa yang bernama gamelan. Bentuknya sangat unik dan bisa saja membingungkan karena memiliki kemiripan dengan pamor lain (udan mas dan sekar kopi). Karakter dari pamor bonang rinenteng dianggap positif dimiliki oleh pejabat/pemimpin/penguasa, memberikan kebanggaan harga diri dan kekuasaan.

CATATAN GRIYOKULO, di pasar tosan aji sendiri pamor bonang rinenteng memiliki rata-rata harga mas kawin yang bisa dibilang tidaklah murah jika dibandingkan pamor sepuh lainnya. Selain terbilang cukup langka, kemungkinan lain karena bentuknya yang memiliki kemiripan dengan rajanya pamor kerezekian, yakni pamor udan mas otomatis membawa sugesti kepercayaan tersendiri yang kurang lebih sama.

Secara kesuluruhan penampilan bilah masih OK. Bagian muka dimana terdapat sekar kacang, jalen pun masih terlihat utuh. Beruntungnya lagi, jika kebanyakan pamor bonang rinenteng yang terdapat pada keris-keris sepuh umumnya ditemukan sudah mulai pudar puserannya, untuk keris Jangkung ini bisa dikatakan cukup baik terlebih bagi keris yang diperkirakan berasal dari Era Mataram awal. Warangka dengan jejeran berselut yang ada pun sudah macak baris. Kami pikir sudah tidak ada pekerjaan rumah menunggu.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *