Kujang Wayang Sang Hyang Antaboga Cirebonan Kolektor Item

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 12.750.000,- (TERMAHAR) Tn. Z, Kepualauan Riau


1. Kode : GKO-476
2. Dhapur : Kujang Wayang
3. Pamor : Nyanak
4. Tangguh : Cirebon (Abad XIX)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 855/MP.TMII/VI/2021
6. Asal-usul Pusaka : Klaten, Jawa Tengah
7. Dimensi : panjang bilah 23 cm, panjang pesi  7 cm, panjang total 40 cm
8. Keterangan Lain : kolektor item


ULASAN :

KUJANG WAYANG, memiliki karakteristik yang berbeda dengan kujang-kujang lainnya, dimana penamaan dan bentuknya tidak menyerupai hewan/binatang yang ada di alam sekitar. Bila diperhatikan, nama dan wujudnya justru mengadopsi bentuk dari wayang purwa. Karena ditengarai berkembang setelah masa Mataram Islam jenis kujang wayang ini tidak terdapat di berita Pantun Bogor (pantun yang menceritakan berbagai bentuk dan jenis kujang  pada zaman Sunda Pajajaran). Kujang wayang sangat populer di daerah Cirebon dan sekitarnya, biasanya disimpan sebagai pusaka.

ANTABOGA, Naga sebagai motif hias nusantara diperkirakan telah hadir sebelum kedatangan Hindu. Penggunaan bentuk naga dalam budaya Indonesia dapat ditemukan pada artefak yang beragam bentuk dan ukuran. Mulai dari ukiran patung, alat musik, motif kain, hiasan dinding, senjata, dan sebagainya. Walau dibuat dengan gaya kedaerahan masing-masing, ternyata bentuk visual naga pada setiap daerah di Indonesia memiliki beberapa kesamaan. Pada kebudayaan Jawa, akan banyak ditemukan kesamaan bentuk naga, yaitu naga selalu menggunakan hiasan kepala dan mahkota. Walaupun bentuk dan motif hiasnya berbeda, namun penggunaan mahkota dan hiasan kepala menjadi sangat khas pada bentuk naga-naga Jawa. Kesamaan bentuk ini secara merata tersebar di pulau Jawa. Sebagai salah satu contoh adalah bentuk kujang wayang pada tokoh naga Sang Hyang Anantaboga, atau biasa disebut Antaboga.

Dalam budaya Jawa dan juga beberapa budaya Asia Timur lainnya, Naga merupakan makhluk mitologis dengan bentuk ular besar. Naga diasosiasikan pula dengan air. Naga juga dipercaya sebagai penghuni dunia bawah. Dalam hal ini naga dan tanah merupakan kesatuan mikrokosmos. Selanjutnya kesuburan tanah juga erat kaitannya dengan mitos Dewi Sri. Bagi masyarakat Jawa Dewi Sri dikenal sebagai dewi padi, lambang kesuburan.

Kata “Ananta Bhoga” secara harfiah berarti makanan yang tidak ada habisnya. Dia merupakan simbolisasi dari tanah atau bumi yang menjadi sumber abadi segala makanan bagi semua makhluk hidup di bumi. Dalam konteks ini, maka penggunaan visualisasi aksesoris berbentuk naga pada Antaboga diharapkan dapat membawa kesuburan, gemah ripah loh jinawi.

FILOSOFI, Disebutkan bahwa dalam kisah Mahabarata, Sang Hyang Anantaboga atau Antaboga disebut dengan Naga Sesa. Dia merupakan anak dari Dewi Kadru yang meminta anak kepada Resi Kasyapa. Kemudian Dewi Kadru diberi banyak sekali anak diantaranya Naga Sesa (Antaboga), Naga Basuki, Naga Taksaka, Naga Erawata, Naga Elapatra dan lainnya.

Dalam cerita pewayangan, terdapat perubahan silsilah dan asal usul Antaboga. Dalam buku “Ensiklopedi Wayang Purwa”, Antaboga berkedudukan sebagai dewa dengan gelar Batara yang berwujud seekor naga. Silsilahnya dimulai dari Sang Hyang Wenang yang memiliki putri Dewi Sayati, yang kemudian menikah dengan naga jin yang bernama Anantawisesa dan memiliki dua putra yaitu Anantadewa dan Anantaswara, keduanya berwujud naga. Anantadewa memiliki putra Anantanaga sedangkan Anantaswara memiliki putri Dewi Wasu. Anantanaga dan Dewi Wasu menikah dan memiliki putra bernama Antaboga.

Sang Hyang Anantaboga/Antaboga adalah tokoh wayang yang merupakan raja dari segala jenis ular dan termasuk kedalam jajaran para Dewa (Hyang). Keistimewaan tokoh wayang Antaboga ini yaitu, dapat berubah dari bentuk manusia menjadi bentuk naga demikian sebaliknya. Perubahan bentuk ini disebut dengan Tiwikrama. Selain itu, setiap  1000 tahun sekali Sang Hyang Antaboga berganti kulit. Dalam pewayangan, dalang menceritakan bahwa Sang Hyang Antaboga memiliki Aji Kawastrawam, yang membuatnya dapat menjelma menjadi apa saja sesuai dengan yang dikehendakinya. Antara lain ia pernah menjelma menjadi garangan putih (semacam musang hutan atau cerpelai) yang menyelamatkan Pandawa dan Kunti dari amukan api pada peristiwa Bale Sigala-gala. Sang Hyang Antaboga juga mempunyai kemampuan menghidupkan orang mati yang kematiannya belum digariskan, karena ia memiliki air suci Tirta Amerta. Air sakti itu kemudian diberikan kepada cucunya Antareja dan pernah dimanfaatkan untuk menghidupkan Dewi Wara Subadra yang mati karena dibunuh Burisrawa dalam lakon Subadra Larung.

Antaboga memiliki kahyangan di Saptapratala (sapta=tujuh pratala=bumi) atau bumi lapis ke tujuh. Dia memiliki istri Dewi Supreti serta memiliki dua orang putra yaitu Nagatatmala dan Dewi Nagagini. Tingkah laku, gaya bicara dan tabiatnya mencerminkan kependetaannya. Jika marah, ujung ekornya digerakkan sedikit saja dapat menimbulkan gempa yang dahsyat di Arcapada dan Suralaya (bahasa padalangannya disebut goro-goro).

Antaboga dalam bentuk naga mengambil bentuk ular, dengan karakteristik wajah seperti manusia, dengan hiasan kepala.  Jika ditinjau pada bagian visual wajah, kental dengan bentuk kepercayaan mistis. Bentuk kepala Antaboga merupakan penyatuan dari kepala ular pada umumnya, dengan karakteristik manusia dan raksasa. Mata Drona dan mulut yang terbuka dan memiliki taring (mrongos) merupakan mata dan mulut golongan raksasa. Dari bentuk mata dan mulut serta bentuk wajah, dapat dilihat bahwa Antaboga diposisikan ke dalam golongan raksasa.

Posisi kepala yang menghadap ke atas (lanyapan) memperlihatkan pribadi yang berwibawa, tegas, agresif dan percaya diri.  Hiasan kepala yang digunakan Antaboga adalah Mahkota, dengan tiga tingkat Jamang. Namun ada beberapa versi Antaboga yang menggunakan Kethu Dewa (hiasan kepala yang memiliki bentuk bundar menyerupai matahari, bulan, atau dunia). Hiasan berbentuk mahkota ini dalam pewayangan biasanya dikenakan oleh golongan raja atau dewa.

Bentuk badan Antaboga dalam bentuk naga dipengaruhi oleh ular. Hal ini berhubungan dengan status Antaboga sebagai raja dari segala jenis ular. Bagian depan badan Antaboga lebih tinggi menggambarkan bahwa Antaboga memiliki sifat dan kemampuan manusia, yaitu dapat berdiri. Antaboga dalam bentuk naga termasuk ke dalam kategori Ricikan atau kategori binatang. Karena badan Antaboga memiliki sisik pada punggungnya terpengaruh oleh bentuk ular. Sesuai dengan identitas Antaboga sebagai raja dari segala ular.

CATATAN GRIYOKULO, Meski sudah sangat langka, jenis kujang wayang biasanya seringkali ditemukan di daerah cirebonan. Cirebonan sendiri digunakan untuk mendefinisikan sebagai wilayah budaya yang mencakup daerah Pantai Utara Jawa dari Cilamaya di barat hingga ke Brebes di timur. Hampir semua bentuk kesenian yang ada di daerah ini merupakan hasil serapan dari daerah lain. Namun, dalam beberapa hal juga menunjukkan lokus kemandiriannya dari Jawa.

Dibandingkan dengan jenis kujang-kujang lain, kujang wayang umumnya memang menampakkan garap lebih detail dari saudara tuanya, sehingga menampakkan kesan cantik, dinamis, hidup dan juga wingit. Pada kujang ini, karakter  wayang Anantaboga dalam bentuk Naga berusaha diwujudkan sang Guru Teupa ke dalam sebuah kujang pusaka. Bentuk kepala mahkota Antaboga dengan mulut yang terbuka memiliki taring, badan seolah tegak berdiri dan kulit bersisik merupakan penyatuan dari kepala ular naga, dewa, manusia sekaligus makhluk dari golongan raksasa. Apabila kita perhatikan, bentuk kujang wayang antaboga dan keris ganan naga kulonan memiliki kemiripan karakter, dimana terkesan sederhana dan dibuat dalam bentuk dua dimensi. Begitulah gaya kulonan dengan latar belakang budaya spiritual yang kental. Sangat layak untuk dirawat dan dikoleksi, terlebih jenis kujang seperti ini sudah termasuk langka.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *