Balebang HB Panji Pilis Wadana Lima

Mahar :?,-


1. Kode : GKO-473
2. Dhapur : Balebang
3. Pamor : Udan Mas
4. Tangguh : Mataram HB V (Abad XIX)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 852/MP.TMII/VI/2021
6. Asal-usul Pusaka :  Pekalongan, Jawa Tengah
7. Dimensi : panjang bilah 37 cm, panjang pesi  7 cm, panjang total 44 cm
8. Keterangan Lain : kolektor item


ULASAN :

BALEBANG, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk tujuh. Keris ini mempunyai ricikan lain seperti, kembang kacang, jalen, lambe gajah satu, sogokan rangkap, tikel alis, sraweyan dan greneng.

Menurut serat Sejarah Narendra Ing Tanah Jawi, bersama dengan dhapur tilam upih dhapur balebang pertama kali dibabar oleh Mpu Brama Kadhali pada tahun Jawa 261 atas perintah Sri Maharaja Budhawaka pada saat akan menyerbu kerajaan Purwacarita yang saat itu diperintah oleh Sang Hyang Bathara Kala. Keris Balebang itu diberikan nama “Dewa Pamunah”. Namun dalam serat Centhini dituliskan pada zaman penutup wali, kanjeng Sunan Kalijaga yasa keris dhapur Kidangsoka dan Balebang.

FILOSOFI, berasal dari dua (2) kata camboran, yakni Bale (bangunan) dan Kambang (terapung di atas air), yaitu bangunan yang terdapat pada bagian tengah kolam yang digunakan untuk kepentingan anggota kerajaan. Kedua unsur kata “Bale” dan “Kambang” tersebut tidak bisa dipisahkan karena keduanya merupakan satu kesatuan yang menunjukkan satu bangunan tertentu.

Bale Kambang dulunya adalah merupakan tempat pencerahan atau menyepi Raja-raja untuk mendekatkan pada Sang Hyang Widi Wasa dalam mendapatkan wahyu demi kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya serta memohon untuk dijauhkan dari pagebluk maupun bencana alam.  Selain itu Bale Kambang lazim pula digunakan sebagai peristirahatan pribadi untuk menenangkan pikiran dengan para istri atau selir-selir, mulai dari jaman Kediri dimasa Dhandang Gendhis sampai pada jaman Mataram Yogyakarta HB VII.

Dalam kajian semiotiknya Bale Kambang dipengaruhi konsep kosmologi Hindu tentang alam semesta, dimana disebutkan bahwa alam semesta itu bepusat pada Gunung Mahameru yang dikelilingi oleh tujuh lautan dan tujuh pegunungan secara berselang-seling. Bale atau bangunannya dianggap sebagai Gunung Mahameru, sedangkan air kolam yang mengelilingi bangunan merupakan lautan yang mengelilingi Gunung Mahameru, dan tepi kolam yang meninggi dapat dianggap sebagai rangkaian pegunungan yang mengelilingi Gunung Mahameru.

Keberadaan Bale Kambang yang biasanya terdapat pada kebudayaan Jawa-Hindu tetap berlanjut pada era Kerajaan Islam di Pulau Jawa. Dimana nampak adanya upaya untuk mewujudkan suatu ruang yang dimaksudkan untuk menginternalisasi manusia dalam dunia batin. Sultan yang kesehariannya disibukkan oleh urusan-urusan politik diminta untuk mendamaikan hatinya dengan mengingat (berdzikir) dan berakhir pada perenungan (tafakkur). Selain itu kontempelasi atau mukasyafah, merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh Kaum Sufi untuk mencari kedekatan dan hubungan langsung dengan Allah, kedekatan tersebut dapat berupa iluminasi visioner (kurang lebih memiliki arti jawa weruh sakdurunge winarah, mengetahui sesuatu sebelum peristiwa itu terjadi).

Maka, secara simbolis Bale Kambang bukan semata-mata bangunan fungsional visual belaka yang membawa manusia pada suasana intim dan meditatif, melainkan mengandung kepentingan filosofis memayu hayuning bawana. Tak heran dhapur Balebang dipercaya mengejawantahkan ketentraman rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah, kebahagiaan lahir dan batin,  dijauhkan dari hal-hal yang sifatnya kurang baik, serta berkah turun temurun hingga anak-cucu, sesuai dengan perwujudan jumlah luknya yang tak lepas dari campur tangan Pitulungan (pertolongan) Yang Maha Kuasa.

KINATAH PANJI PILIS WEDANA LIMA, Kinatah ingkang namung ing gandhik tuwin lambe gajah, nami panji pilis, punika tur kadhang botên namung rêrênggan, ananging kangge sarana ngêndhokakên dhuwung ingkang watakipun brangasan, kêras Dhuwung = Wesi Aji, Nayawirongka, 1936.

Menurut Serat Dhuwung = Wesi Aji yang ditulis Mas Ngabei Nayawirongka tahun 1936, kinatah panji pilis merupakan sejenis hiasan emas yang ditempelkan pada bagian gandik serta lambe gajah-nya. Dijelaskan pula pemberian kinatah tersebut terkadang bukan hanya dimaksudkan sebagai hiasan untuk menambah keindahan pada bilah semata, namun lebih difungsikan untuk suatu maksud tertentu (esoteri), yakni sebagai sarana meredam keris yang mempunyai watak brangasan atau keras (panas).

Dalam falsafah Jawa, cerita Panji menggambarkan perjalanan hidup manusia dan perjalanan spiritual manusia (mencari dan menemukan). Semua manusia akan mengalami proses perjalanan yang sama, hanya saja waktu dan jalannya bervariasi. 

Dan apabila mengacu pada “Serat Duwung = Wesi Aji” di atas disebut kinatah Panji “Pilis” (bukan Wilis). Pilis dapat berarti obat tradisional (berwarna agak hitam) yang dipaliskan atau dilekatkan di dahi dan di pelipis (untuk sakit kepala, wanita yang baru melahirkan, dan sebagainya); atau garis silang di dahi untuk menangkal penyakit (berdasarkan kepercayaan). Lebih dari itu, di kalangan masyarakat perkerisan juga mempercayai, keris-keris dengan kinatah Panji Pilis digunakan sebagai salah satu “ciri” untuk mengenali keris-keris yang dulunya dimiliki oleh Sentana atau kerabat kerajaan.

WADANA LIMA, berdasarkan jumlah wadana (bidang atau permukaan yang diberi hiasan) terdapat beberapa kategori hiasan emas sebagai berikut:

  • Wadana Siji/satunggal (eka wadana) adalah hiasan emas pada bidang wuwung sebuah ganja keris.
  • Wadana Loro/kalih (dwi wadana), adalah hiasan emas pada dua bidang sisi gandhik, atau pada kedua permukaan samping ganja.
  • Wadana Telu/tiga (tri wadana), adalah hiasan emas pada tiga bidang, misalnya pada wuwung ganja yang berhias wadana siji, ditambah lagi dengan kedua sisi ganja. Jadi permukaan yang dihias emas ada tiga bidang.
  • Wadana Lima/gangsal (panca wadana) adalah hiasan emas pada lima bidang, yakni wadana telu ditambah dengan kedua sisi gandhik.
  • Wadana Pitu (sapta wadana) adalah hiasan emas pada tujuh bidang, yakni wadana lima ditambah dua bidang lagi.
  • Wadana Sanga (nawa wadana) adalah hiasan emas pada sembilan bidang, yakni wadana pitu ditambah dengan bagian wadidang bolak-balik.
  • Wadana Sawelas (dhesta wadana) adalah hiasan emas pada sebelas bidang, yakni wadana sanga ditambah dengan bagian tengah dan ujung bilah bolak-balik.

menghitung jumlah wadana keris

PAMOR UDAN MAS, masyarakat perkerisan mempercayai pamor udan mas adalah salah satu pamor yang sangat spesial, sebagai pamor ‘kuwat kebandan, urip mapan’ (bakat kaya dan hidup sejahtera). Secara simbolis pamor udan mas (hujan emas) mengandung arti ‘kemakmuran yang menyeluruh bagaikan hujan jatuh di hamparan sawah yang menguning subur’. Padi menguning seolah menjadi wakil keagungan dan keberkahan Tuhan, ia seakan memberi sebuah buku terbuka untuk dibaca. Hamparan sawah yang menguning subur tidak hanya memberi harapan serta jawaban atas doa maupun ikhtiar akan kecukupan pangan bagi keluarga dan orang banyak (kemakmuran), atau zaman sekarang panen melimpah sering dianalogikan menghasilkan pundi-pundi rupiah (kekayaan) namun juga  berbagai macam penghayatan manusia Jawa terhadap kehidupan.

Seperti padi, semakin menguning semakin merunduk”. Filosofi padi ini sangat relevan dengan kehidupan kita. Boleh dikatakan, kebijaksanaan padi bagaikan sang mahaguru. Dia mengajarkan kita untuk berbuah dan berisi. Dimana padi menguning ibarat fase kematangan hidup manusia, yang merunduk karena berisi. Maknanya “semakin kita merasa bisa maka kita harus bisa semakin merasa”. Dan dengan segala kelebihannya justru akan membumi dan memberikan manfaat bagi sebanyak-banyaknya orang, bukan sebaliknya.

PAMOR METEORIT PRAMBANAN, Bahan dari batu meteorit dianggap bahan terbaik  karena melambangkan campur tangan Dewa (karena datangnya dari langit) dan apabila kemudian dipadukan dengan bahan yang berasal dari bumi pertiwi (besi dan baja) tentunya dipercayai akan mewujudkan sebuah pusaka yang ampuh. Konsep ini adalah manifestasi dari falsafah bersatunya Bapa Angkasa dan Ibu Bumi.

Batu pamor yang berasal dari meteor yang terkenal adalah yang jatuh di desa Klurak. Klurak adalah nama sebuah desa yang lokasinya di daerah sekitar candi Prambanan. Ada 3 buah desa dengan menggunakan identitas klurak, yaitu :

  1. Klurak wetan, masuk wilayah Desa Tlogo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah.
  2. Klurak kulon, masuk wilayah Desa Madurejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Propinsi DIY.
  3. Klurak kembar, masuk wilayah Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Propinsi DIY.

Sejak tahun 1985, desa Klurak Wetan dan Klurak Kulon sudah terhapus dari peta, karena adanya proyek Taman Purbakala Nasional Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Dulu kedua desa tersebut lokasinya tepat dibelakang candi Prambanan (tepat disebelah utaranya) dengan jarak sekitar 500m yang berupa persawahan subur. Kedua klurak itu dibatasi oleh sebuah jalan propinsi yang merupakan tapal batas propinsi Jawa Tengah dan DIY.

Konon menurut cerita batu meteorit yang jatuh pada masa pemerintahan Pakubuwono III ini ada dua, menimbulkan kawah sedalam 10 meter dan lebar 15 meter, serta menyebabkan kebakaran dan kerusakan desa-desa di sekitarnya. Pada tanggal 13 Februari 1784 meteor ini sebagian besar diambil dan dibawa ke kraton Surakarta dengan suatu upacara besar-besaran yang dipimpin oleh Adipati Jayaningrat. Namun sayangnya, Pakubuwono III belum sempat menggunakan pamor tersebut karena telah mangkat. Pengambilan kedua dilakukan pada tanggal 12 Februari 1797 atas perintah Pakubuwono IV. Batu meteor yang diambil cukup besar yaitu lebih dari 1 meter kubik. Setelah itu masih diadakan pengambilan lagi hingga kali ke empat di masa pemerintahan Pakubuwono IX. Namun sejarah tidak mencatat bagaimana pihak keraton Yogyakarta mendapatkan batu meteor Prambanan. Apakah diberi oleh keraton Yogyakarta ataukah mengambil sendiri.

Batu meteor ini di keraton Surakarta disimpan, dikeramatkan dan diberi nama Kiai Pamor. Bilamana kraton atau pembesar isatana hendak membuat keris atau tombak diambilah sedikit batu meteor ini. Setiap raja membuat keris para abdi dalem empu yang diperintahkan juga ikut mengambil keperluan sendiri. Oleh sebab itu di pasaran saat itu juga beredar batu pamor Prambanan yang sudah tentu nilainya tinggi sekali. Pada tahun 1930 harga batu pamor Prambanan seberat 1 reyal atau 30 gr saja harganya bisa mencapai 2.5 – 10 gulden. Sebagai perbandingan harga beras waktu itu hanya 5 sen per kg. (1 gulden = 100 sen).

Tosan aji yang menggunakan pamor meteor Prambanan ditandai dengan rupa pamor yang putih bersih berguwaya sinar rembulan (agak kekuning-kuningan), menampilkan kesan barik (tekstur yang kasar seperti kikir), dan terasa kasap jika diraba. Secara visual, komposisi kristalnya yang heterogen akan menampilkan nuansa-nuansa warna abu-abu pada bilah keris atau tombak dan memancarkan kesan yang sangat indah dan berwibawa.

TANGGUH HAMENGKUBUWONO IV hingga Hamengkubuwono V, menurut Serat Pakem Pusaka, Duwun, Sabet, Tumbak babon asli tetilaranipun suwargi R. Ng Ronggowarsito Kaliwon Pudjangga Kraton Surakarta ditulis dalam ejaan lama :

Jasanipun Ingkang Sinuwun Sultan H.B. kaping IV Empu Bradjawedanala sisihanipun Supa Bradjasinga, gandjane sebok sebut luntar radi tjekak, gandik radi landung memel sebok, tikel alise pedjetan wijar djero landung, sogokan tjijut djero landung, siwilah kandele sedengan radi gilig, dedeg sedengan, luk-lukane radi keker, wesine alus anglugud garing sanget, pamorane alus mandes ngawat sami sekar Prambanan sadaja, dene tjirine gandik dipun kinatah Pandjiwilis.

Jasanipun Ingkang Sinuwun Sultan H.B. kaping V Empu Supa Bradjasinga, gandik ageng sebok landung, gandjane sebut luntar memban sebok radi pandjang, tikel alise pedjetan wijar djero landung, sogokane tjijut djero radi tjendak, siwilah radi ngadal meteng, radi kandel lan gilig, dedeg sedengan, luk-lukane keker, wesine alus anglumer mbludru, sekare mandes radi agal, mubyar sanget, sekar Prambanan sadaja.

CATATAN GRIYOKULO, tentunya tak gampang bisa mendapatkan keris sepuh pamor udan mas yang ditempa dalam keris berluk. Tak mudah bukan berarti tak ada. Rasanya akan sulit pula menemukan kekurangan pusaka ini, kecuali hiasan emas lung melati di beberapa tempat yang sudah mulai hilang dan warangka yang mungkin akan lebih sejiwa jika menggunakan gaya Yogjan. Namun terlepas dari hal tersebut di atas, kita sama-sama bisa melihat dari bahan besi, baja, pamor, garap hingga keutuhan bilahnya kesemuanya sudah mampu berbicara dan duduk sendiri dalam jajaran kelas priyayi. Apapun yang berkelas memang tidak pernah bohong, dimanapun berlian tetaplah berlian.

Penulis sendiri ketika menanting pusaka ini, seperti merasakan adanya energi positif. Ada keterpukauan ketika melihat tatanan pamornya yang jauh tampak lebih indah aslinya daripada yang terlihat dalam foto. Ada semacam vibrasi yang memunculkan ketenangan, kedamaian dan perasaan atau hal-hal lain yang mungkin agak susah diterjemahkan dalam bahasa tulisan. Tak banyak hal lagi yang bisa dituliskan. Hanya harapan dan doa kami semoga nantinya pusaka ini menjadi pusaka mahanani bagi pemiliknya. Aamiin….

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *