Naga Pasundan Lekuk 13

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 7.131.313,- (TERMAHAR) Tn H, Pamulang, Tangerang Selatan


1. Kode : GKO-460
2. Dhapur : Naga Siluman
3. Pamor : Nyanak (Wengkon?)
4. Tangguh : Cirebon (Abad XVIII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 585/MP.TMII/III/2021
6. Asal-usul Pusaka :  Garut, Jawa Barat
7. Dimensi : panjang bilah 33 cm, panjang pesi  6 cm, panjang total 39 cm
8. Keterangan Lain : naga primitif, unyeng pada jejeran


ULASAN :

NAGA SILUMAN, adalah salah satu bentuk dhapur keris bentuk Naga yang paling mudah dikenali, secara umum visualiasi dari dhapur ini memiliki ciri menonjol yakni kepala naga digarap secara samar dan badan naga seolah-olah menghilang, menyatu ke dalam bilah keris, Selain itu ricikan lainnya adalah; sraweyan, ri pandan, dan atau greneng. Karena ada beberapa bentuk luk Naga Siluman, penyebutan dhapur Naga Siluman sebaiknya disertai keterangan mengenai jumlah luknya. Konon menurut dongeng atau mitos dhapur pancer Naga Siluman dibuat pertama kali oleh Mpu Gebang pada masa pemerintahan Prabu Ciungwanara di kerajaan Pajajaran, sekitar tahun 1326 M.

FILOSOFI, Membicarakan “Naga” bagaikan berbicara mengenai sesuatu yang ada namun tiada. Sejak dulu kita hanya mengenalnya dalam dongeng, lukisan, atau gambar. Terlebih lagi  sejak zaman purba sampai sekarang tidak pernah ditemukan bukti-bukti scientific (ilmiah) dari keberadaan makhluk itu seperti bukti keberadaan fosil dinosaurus misalnya. Naga bisa jadi memang tidak pernah nyata. Sebagai makhluk mitologis, Naga bisa digambarkan berbeda-beda dalam tiap budaya. Dalam budaya timur yang berbeda dengan budaya barat Naga tidak dianggap sebagai binatang yang ganas dan penuh ancaman, karenanya harus ditaklukkan. Naga lebih merupakan binatang paling unggul di antara binatang yang bersisik, seperti ikan, ular, atau buaya. Naga dianggap sebagai sumber kebijaksanaan dan kekuatan. Bagi kebudayaan Cina, Naga adalah sari dari prinsip “Yang”, simbol maskulinitas. Bagi budaya Nusantara dipandang sebagai lambang kebesaran dimana Naga identik dengan Raja dan kekuasaan.  Secara mitologis Naga dianggap sebagai makhluk pemilik kekuatan supranatural yang membawa empat anugerah, yaitu kemakmuran, kehormatan, penjagaan, dan keseimbangan. Tak heran banyak yang meyakini keris berdhapur naga memiliki tuah bisa melindungi harta dan kekayaan, serta menolak unsur-unsur jahat yang akan mengganggu pemiliknya.

“Siluman atau seluman” dalam bahasa sansekerta berarti khayalan (penglihatan), yaitu bayangan yang dibangkitkan oleh kekuatan magis. Pengertian lainnya adalah maniluman yang artinya bersifat magis, mempesonakan. Maka pengertian naga siluman secara harafiah dapat diartikan sebagai naga yang tidak kelihatan atau naga yang ada dalam alam khayal (gaib dan mistis), namun membangkitkan kekuatan magis yang mempesona dan kharismatik. Dhapur naga siluman tergolong langka, dan pada jaman dahulu banyak dipakai oleh tokoh agama atau orang-orang yang suka mendalami dunia spiritual.

PAMOR NYANAK, adalah penamaan terhadap sejenis pamor yang tidak jelas kesan pembacaannya (samar), baik melalui penglihatan maupun perabaan. Sebilah keris atau tombak yang diperkirakan mempunyai pamor sebelumnya, tetapi pamornya kemudian tidak terlihat jelas dan apabila dirabapun tidak jelas konturnya, dapat disebut pula sebagai pamor sanak. Disebut nyanak/sanak kemungkinan berasal dari arti sanak sendiri yang dalam bahasa jawa berarti keluarga yang tidak jauh.

Sedikit dari Penulis, jika bilah ini diminyaki kemudian dicermati secara seksama, ternyata pada pinggiran bilah terdapat semacam garis-garis halus yang membingkai tepian bilah. Orang menyebutnya sebagai pamor wengkon. Konon pusaka dengan pamor wengkon adalah pusaka yang “diijabkan” untuk menjaga dan melindungi pemiliknya dari bahaya tak terduga, penangkal hal-hal yang tak kasat mata, penangkal fitnahan (tolak bala).

CATATAN GRIYOKULO, Memang tidak mudah, melihat keris ganan Pasundan dengan kacamata di eranya, terlebih membandingkannya dengan tolok ukur tangguh keris Jawa lainnya, semisal Mataram Sultan Agung maupun kesempurnaan garap Surakarta (Pakubuwono) yang boleh dikata didasarkan atas konsep presisi.

Sepintas bentuk kepala Naga Pasundan mirip dengan ornamen hiasan kekarangan (Karang Naga) pada pojok-pojok bangunan adat maupun bangunan suci yang ada di Bali. Namun, adapula yang berpendapat jika hiasan yang ada di atas kepala naga adalah serupa dengan mahkota bino kasih, yang merupakan mahkota asli raja Pajajaran akhir sebelum runtag (runtuh). Bentuk Naganya pun terkesan masih sangat primitif dengan pahatan yang masih sangat sederhana dalam dua dimensi. Bentuk ini secara tidak langsung menunjukkan kesederhanaan alat yang digunakan. Namun di lain sisi sebenarnya bukan berarti sang Empu tidak mampu membuat bentuk Naga dalam tiga dimensi. Tapi seperti inilah gaya keris Pasundan. Dalam hal gandhik Naga misalnya, jarang yang berbentuk seragam seperti keris-keris Jawa tengahan maupun wetanan. Kepala naga kadang mendongak ke atas, ada yang menganga terlalu lebar, menengok ke belakang dan lain sebagainya.

Demikian pula pemakaian bahan material keris dalam hal ini besi, masih didasarkan atas makna spiritual. Sehingga pertimbangan pemilihan bahan besi ataupun pamor, bukan demi keindahan kosmetik semata. Akan tetapi atas dasar manfaat spiritual bagai pemakainya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *