Keris Udan Mas Empu Djeno + Sertifikat

  10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 25.000.000,- (TERMAHAR) Tn. LS, Semarang


1. Kode : –
2. Dhapur : Sabuk Inten
3. Pamor : Udan Mas
4. Tangguh : Ngentho-entho
5. Sertifikasi : No. 105 Tanda Tangan Mpu Djeno
6. Asal-usul Pusaka :  Mpu Djeno
7. Dimensi : panjang bilah 34,7 cm
8. Keterangan Lain : kolektor item


ULASAN :

Roso sejati, sejatining roso, roso kembar. Duh Gusti Allah ingkang Maha Agung, kawula nyaosaken jumlah pangabekti konjuk ngersa dalem Gusti Allah. Dosa lan kalepatan kawula, kawula nyuwun pangapunten. Duh Gusti wekdal menika kula badhe ngayahi damel tosan aji wujud dhuwung kanti berkah pangwaos dalem kawula pitados bilih tosan aji sakmangkenipun  tosan aji menika saged mahanani. Duh Gusti kawulo nyuwun pepadang… nyuwun pepadang… nyuwun pepadang… nyuwun pepadang.. nyuwun pepadang

Bait di atas adalah penggalan lantunan doa yang dimunajatkan oleh Empu Djeno ketika mengawali ritual membabar sebuah pusaka. Tidaklah mudah mencari empu keris di zaman sekarang. Keris yang tak hanya indah di mata, namun juga bertuah. Maklum, profesi pembuat keris dengan cara klasik saat ini nyaris punah. Adalah Empu Djeno Harumbrodjo, empu yang membujang seumur hidupnya ini namanya telah tercatat dalam tinta emas dunia seni tempa pamor dan akan selalu dikenang oleh masyarakat perkerisan Nusantara sebagai salah satu legend, Empu terbaik di era Kamardikan. Bernasab Empu kondang dari kerajaan Majapahit, ia keturunan ke 15 dari Empu Jokosupo alias Pangeran Sedayu. Lahir pada Jumat Legi 8 Juni 1929 di dusun Gatak, Kelurahan Suberagung Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Teknik tempanya yang masih “taat” menggunakan cara lama leluhurnya “dilambari” dengan ritual yang sama di masa lalu melahirkan bilah keris yang tak kalah mutunya dari keris-keris unggul masa silam.

silsilah empu djeno

Kakang Sulungnya adalah seorang wanita, sedangkan tiga kakak laki-lakinya adalah Yosopangarso, Genyo Diharjo dan Wignyosukoyo. Semasa hidupnya Yosopangarso juga menjadi Empu penempa keris, ia tinggal tidak jauh dari dusun Gatak. Pada pertengahan tahun 1980-an Empu Yosopangarso meninggal dunia, dan salah seorang putranya yakni Supianto mewarisi bakat bapaknya. Sedangkan dua kakaknya yang lain, Genyo Diharjo dan Wignyosukoyo, tidak melanjutkan tradisi turun-temurun tersebut karena alasan-alasan kompleks, seperti perubahan zaman, pergeseran kepercayaan di kalangan masyarakat dan hal-hal lain yang bersifat klasik, yakni langka pemesan, ongkos pembuatan yang tinggi, dan pekerjaan berat yang mengharuskan tirakat.

Sedikit flashback, pada zaman-zaman kerajaan dan jauh sebelum NKRI berdiri, di Yogyakarta terdapat dua jejeneng empu yang masing-masing berada di bawah konvensi teritorial Kepatihan Danurejan dan Kasultanan Yogyakarta. Empu Supowinangun termasuk abdi dalem Kepatihan Danurejan, sedangkan Empu Supodahana termasuk abdi dalem Kasultanan Yogyakarta. Sepeninggal Empu Supodahana praktis Kasultanan Yogyakarta tidak memiliki Empu keris, karena tidak ada keturunan dari Empu Supodahana yang melanjutkan tradisi itu. Tapi walaupun kekuasaan Patih Danurejo dan wilayahnya terhapus dan kini kompleks Kepatihan digunakan sebagai lokasi Pemerintah Pemprov DIY, tradisi yang diturunkan Supowinangun masih dapat bertahan.

Namun semenjak kraton Kasultanan Yogyakarta menyatakan diri bergabung dengan NKRI, pada proses-proses sosial budaya di kalangan rakyat Yogyakarta juga mengalami perubahan paradigma. Empu Supowinangun tidak lagi memiliki komitmen/kewajiban pada Kepatihan Danurejan lagi, dan hubungan dengan Kraton Yogyakarta tidak lagi mutlak hubungan antara Raja dan Empu, selaku abdi dalem dan junjungannya, walaupun unggah-ungguh dan adat-istiadat tetap dijaga dengan baik.

Menurut catatan Isaac Groneman, seorang pemerhati perkembangan budaya keris Jawa, sebelum tahun 1910 seni tempa logam keris telah mengalami kemunduran demikian jauh, menjadi ancaman sejak permintaan senjata-senjata semakin menurun. Keberadaan pusat-pusat besalèn keris berkurang, karena dukungan sektor penyangganya surut. Pada tahun 1963 Empu Supowinangun meninggal dunia. Akibatnya, pembuatan keris dengan gaya ngentho-etho sempat berhenti tidak lagi dilakukan. Saat itu, seni membuat keris sempat dianggap tinggal dongeng. Supowinangun, yang dianggap empu terakhir keraton Yogyakarta telah meninggal, tanpa kepastian penerusnya.

Baru pada tahun 1973, seorang peneliti budaya keris Jawa asal Hawaii, bernama Garret Solyom mengunjungi Desa Ngéntha-éntha Yogyakarta. Kedatangan Solyom, selain terkait dengan penelitiannya tetang budaya keris Jawa, juga kemudian memberikan dorongan dan uluran tangan kepada Yosopangarso dan Harumbrojo. Almarhum Panembahan Harjonagoro alias Go Tik Swan kala itu juga berperan dalam mengarahkan dan mendanai proyek Harumbojo.

Seiring dengan berjalannya waktu, pada tahun 1975 seorang kapten kapal berkebangsaan Jerman bernama Dietrich Drescher, menaruh perhatian kepada budaya keris Jawa. Ia kemudian mengunjungi Desa Ngéntha-éntha dan meminta kepada Yosopangarso bersaudara untuk membuatkan keris. Drescher mengerti bahwa Yosopangarso bersaudara saat itu masih sedikit enggan melakukan percobaan membuat keris, namun ia terus memberi semangat dan dorongan agar tidak menyerah begitu saja. Drescher juga menyediakan bahan pamor yang sulit didapat di dalam negeri. Berbagai pertimbangan dan desakan yang terus-menerus, akhirnya membuat Yosopangarso dan adik-adiknya: Genyodiharjo, Wiknyosukoyo, dan Jeno Harumbrojo melaksanakan percobaan membuat keris. Mereka kembali bekerja bersama-sama merekonstruksi metode kuno dalam proses pembuatan keris. Satu per satu keris hasil percobaannya lahir.

Tokoh-tokoh terpilih seperti Empu Yosopangarso maupun Djeno Harumbrodjo mampu menjadi empu keris yang handal. Kesetiaan terhadap tradisi justru menjadi pembeda dengan masa kini. Berkat keberanian mengambil risiko memasuki tantangan zaman teknologi modern, nafas pembuatan dan pelestarian keris berdenyut lagi dan dapat disaksikan sampai sekarang. Inspirasi, semangat, bakat, kecintaan, dan konsistensi yang menjiwai tekadnya telah memicu besalen-besalen keris yang lain di Indonesia untuk ikut berkembang. Mereka kemudian mampu mewarnai kembali keragaman tradisi budaya Jawa, eksis bersama budaya moderen. Kemudian secara tidak langsung juga membuka jalan dalam mengantarkan keris Indonesia untuk diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 2005.

Sepeninggal Empu Djeno, karya-karyanya banyak diburu oleh para kolektor. Rata-rata para kolektor mempunyai sudut pandang jika nasab sebagai keturunan empu kondang zaman Majapahit sangatlah penting. Tanpa nama besar dan keturunan langsung dari Empu kondang zaman dahulu, rasa ketertarikan orang-orang barangkali tidak akan sebesar saat ini. Karna kalau sekedar keris baru, sudah banyak. Tapi sangat sedikit yang dibuat oleh keturunan Empu.

Kelebihan lain dari Empu Djeno adalah membuat dari kodokan awal. Tidak hanya melaras kodokan pesanan yang sudah ada, seperti kebanyakan pengrajin sekarang. Tapi dari menempa, bahkan memilih bahan besi, baja, dan bahan pamor hingga finishing sampai jadi. Sedangkan dhapur-dhapur keris yang dihasilkannya adalah mutrani, yaitu meniru dhapur keris yang sudah ada, khususnya dhapur-dhapur keris Yogyakarta. Sepertinya mendiang Empu Djeno belum pernah membuat dhapur keris yang baru.

Dan setiap kali keris buatannya diserahkan kepada pemesannya, Empu Djeno selalu menyertakan selembar sertifikat, yang berisi tentang deskripsi karyanya itu, perawatannya, dan lengkap dengan bubuhan tanda tangannya. Selain dimaksudkan untuk legitimasi keaslian keris, Empu Djeno agaknya sadar betul tentang arti penting dokumen sebuah karya, yang akan bermanfaat bagi generasi selanjutnya. Barangkali, selama perjalannya Empu Djeno sudah banyak belajar dari sering munculnya kesimpang-siuran pendapat di kalangan para pakar keris yang menyangkut penetapan tangguh suatu keris beserta nama Empu pembuatnya. Hal ini, karna di zaman dulu dokumen yang menerangkan tahun pembuatan dan nama empu pembuatnya memang belum ada.

CIRI-CIRI TANGGUH NGENTHO-ENTHO, lapisan pamornya ada 256 tidak momyor (gemebyar) lebih berkarakter sederhana, bilahnya tidak terlalu tebal, ada kruwingan atau agak cekung di tengah, ujungnya nyujen cenderung lancip. Luk-nya sedang, tidak kembo maupun terlalu dalam. Blumbangan atau pejetan-nya agak lebar. Tikel alis-nya nggagang terong. Gandhik-nya mboto rubuh. Greneng-nya agak lebar tapi cetek (dangkal). Ganja-nya mbuntut urang.

Kisah hidup mengenai Empu Djeno Harumbrodjo sebenarnya pernah juga ditulis di Majalah Pusaka Keris Vol 17/2010. Berikut kami scan artikel tersebut untuk bahan nostalgia bersama:

(silahkan klik pada gambar untuk memperbesar tampilan)

CATATAN GRIYOKULO, tak semua orang diberi kesempatan untuk bisa memesan keris kepada Empu Djeno. Apalagi, di kala masa hidupnya, mendiang Empu Djeno tidak membabar karyanya secara massal, sehingga jumlahnya sangat terbatas. Harus diakui, dari darah empu dan tangan dinginnya, keris-keris yang dihasilkan Empu Djeno tidak hanya senjata fisik namun juga sebuah karya spiritual yang berhasil memukau banyak orang. Tidak heran Sultan Hamengkubuwono IX pun berkenan memesan keris kepadanya.

Secara umum penampilan bilah keris ini tampak wangun dan prasojo. Dalam kesederhanannya seolah menyimpan sesuatu yang lain. Jika diperhatikan pada bagian sekar kacang mangan gandhik cenderung tidak dikikir dengan rapi, sehingga terkesan lugu, demikian pula bagian sogokan dibuat tidak terlalu dalam, dan bagian greneng-nya agak maju. Hebatnya, masih terbilang luwes. Keistimewaan yang lain tentu ada pada wasuhan besi “klan Supo” yang tampak halus pulen dan mengkilap, tidak ada yang retak rambut sedikitpun. Tantingan-nya pun terbilang ringan, hal yang tergolong tidak mudah didapat dari keris-keris kamardikan. Demikian pula dengan pamor udan masnya yang khas, berupa bulatan-bulatan berjajar dua juga tampak lembut menyatu dalam garis-garis yang lembut.

Pada umumnya kita sering melihat keris buatan Empu Djeno menggunakan sertifikat yang dikuratori oleh Empu Sungkowo, namun pada pusaka ini membawa sertifikat dengan tanda tangan Empu Djeno. Dan jika boleh jujur, keris sabuk inten pamor udan mas ini akan tampak “lebih cantik dan greget” saat menanting langsung daripada melihatnya via foto-foto, ada semacam ruh yang tidak bisa ditangkap oleh lensa.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *