Kidang Mas Pesi Gapit

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 5.500.000,- (TERMAHAR) Tn. AHP, SCBD Jakarta


1. Kode : GKO-459
2. Dhapur : Kidang Mas
3. Pamor : Ngulit Semangka
4. Tangguh : Mataram (Abad XV)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 553/MP.TMII/III/2021
6. Asal-usul Pusaka :  Garut, Jawa Barat
7. Dimensi : panjang bilah 34,5 cm, panjang pesi 6,5 cm, panjang total 41 cm
8. Keterangan Lain : pesi gapit, warangka baru


ULASAN :

KIDANG MAS, Kidang Mas atau Kidang Kencana diwujudkan dalam sebuah bentuk keris berluk sembilan dengan ricikan gandhik polos atau tanpa sekar kacang. Keris ini memiliki ricikan yang lain berupa: pejetan, tikel alis serta greneng pada bagian gonjo-nya.

FILOSOFI, “Sawijineng kewan alasan memper wedhus, nanging ulese mrusuh kuning ngemu giring arane kidang kencana. Aja dumeh kidang, nanging beda lan kidang liyane, dheweke duwe prabawa kang gedhe, nganti gawe kepencute sapa kang wuninga. Mungguh sapa sejatine kang memba-memba dadi kidang iki, ora liya abdi kinasih, hiya pothete negara Ngalengka, kang ora omo liya kajaba Ditya Kala marica saperlu nggora godha Dewi Sinta. Sang Dewi kapilu marang kaindahan, kidang kencana nganti lali purwa duksina menawa tetelun lagi ana madyaning alas kang gawat kaliwat. Kidang musna lan sang Dewi aminta ingkang Raka Prabu Rama supaya arsa ambujug nganti kacandhak arsa kanggo klangenan….. ” Kutipan dari Epos Ramayana.

Di sebuah negeri yang bernama Mantili ada seorang puteri nan cantik jelita bernama Dewi Shinta. Dia seorang puteri raja negeri Mantili yaitu Prabu Janaka. Suatu hari sang Prabu mengadakan sayembara untuk mendapatkan sang Pangeran bagi puteri tercintanya yaitu Shinta, dan akhirnya sayembara itu dimenangkan oleh Putera Mahkota Kerajaan Ayodya, yang bernama Raden Rama Wijaya. Namun dalam kisah ini ada juga seorang raja Alengkadiraja yaitu Prabu Rahwana, yang juga sedang kasmaran terhadap Dewi Shinta.

Dan ceritapun berawal, dalam sebuah perjalanan Rama dan Shinta dan disertai Lesmana adiknya, sedang melewati hutan belantara yang dinamakan hutan Dandaka, sang raksasa Prabu Rahwana mengintai mereka bertiga, khususnya Shinta. Rahwana ingin menculik Shinta untuk dibawa ke istananya dan dijadikan istri. Dengan siasatnya Rahwana mengubah seorang hambanya bernama Kala Marica menjadi seekor kijang kencana. Dengan tujuan memancing Rama pergi memburu kijang jadi-jadian itu, karena Dewi Shinta menginginkannya, dan memang benar setelah melihat keelokan kijang tersebut, Shinta meminta Rama untuk menangkapnya. Karena permintaan sang istri tercinta maka Rama berusaha mengejar kijang seorang diri sedang Shinta dan Lesmana menunggui hasil perburuan Rama. Shinta khawatir dengan keadaan Rama yang tak kunjung datang, akhirnya Shinta meminta Lesmana untuk menyusul Rama, Lesmana pun kemudian menyusul Rama, akan tetapi Lesmana memberikan pelindung kepada Shinta, guna menjaga keselamatan Shinta yaitu dengan membuat lingkaran magis. Dengan lingkaran ini Shinta tidak boleh mengeluarkan sedikitpun anggota badannya agar tetap terjaga keselamatannya.

Setelah Lesmana pergi Rahwana pun berusaha menculik Shinta dengan merubah wujudnya menjadi seorang Brahmana tua, Shinta merasa kasihan terhadap Brahmana Tua, akhirnya Shinta mengulurkan tangannya dan keluar dari lingkaran magis yang dibuat oleh Lesmana, alhasil Shinta pun diculik oleh Rahwana dan di bawa ke Alengka, Disaat Shinta di Negara Alengka datang Hanoman untuk menyampaikan pesan sebagai utusanya Rama, kemudian Hanoman mengobrak-abrik taman Argasoka. Rahwana berhasil menangkap Hanoman dan membakarnya, namun sang Kera Putih itu berhasil melolosakan diri, Hanoman pun menceritakan semua kejadian itu dan akhirnya Rama kemudian datang di Negara Alengka untuk merebut Shinta Kembali, terjadilah pertempuran dan dimenangkan oleh Rama, setelah Rama bertemu dengan Shinta kembali, Rama menolak Shinta yang menggap bahwa Shinta sudah tidak suci lagi selama Shinta berada di kerajaan Alengka, maka Rama meminta bukti kesuciannya, yaitu dengan melakukan pati obong. Karena kebenaran, kesucian Shinta dan pertolongan Dewa Api, Shinta selamat dari api. Dengan demikian terbuktilah bahwa Shinta masih suci dan akhirnya Rama menerima kembali Shinta dengan perasaan haru dan bahagia. Dan akhir dari kisah ini mereka kembali ke istana masing-masing.

Dhapur Kidang Mas merupakan sebuah pengingat: ketercukupan harta kekayaan dan segala kebutuhan hidup serta kemuliaan derajat tidaklah salah jika dikejar, tetapi hendaknya jangan sampai terlupa, bahwa aspek materiil seperti uang, emas, aset dan harta keduniawian lainnya itu sifatnya hanya sementara. Semua itu tampak menggoda dan bisa menjadikan kita “tersesat, akibatnya seperti kisah di atas, perjuangan panjang dan pengorbanan besar menanti di depan Rama dan Lesmana untuk membebaskan Sinta dari sekapan Rahwana. Sehingga perlu diingat bahwa harta yang sesungguhnya adalah Ibadah kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, amal jariyah, serta segala ilmu dan kebaikan yang kita lakukan bagi orang lain.

PESI GAPIT WAYANG, atau dikenal juga pesi ceblokan. Melihat bentuk pesi-nya yang berbeda dengan pesi keris umumnya agak susah memang untuk merunut apa yang menjadi latar belakang pembuatan pesi dengan model seperti gapit yang ada pada wayang ini. Terlebih memperhitungkan hal ketika sang Empu dalam penempaan membuat kodokan tidak seperti kebiasaan normalnya membuat pesi menyatu dengan bilahnya, tetapi bagian pesi-nya justru diambilkan dari landepan kodokan (bagian ujung) atau malah dari jenis besi lain. Dalam proses selanjutnya batangan calon pesi ini kemudian dibelah sedikit pada salah satu bagian ujungnya menjadi dua, dan masing-masing belahan digunakan untuk menjepit bilah keris, yang kemudian ditempa supaya menempel/menyatu.

Konon menurut kepercayaan yang ada, tujuan dari pembuatan pesi gapit adalah lebih kepada sisi atau hal-hal yang sifatnya esoteri, yakni meningkatkan kekuatan/daya magis dari suatu pusaka tertentu hingga memudahkan “kontrol” dari isi/gaib pusaka tersebut. Selain itu banyak pula mitos mengiringi seputar pesi gapit ini, diantaranya adalah konon dipercaya model pesi yang unik seperti ini merupakan ciri khas (signature) dari seorang Empu yang bernama Empu Jigja. Yang jelas pada keris-keris tangguh tua seperti Majapahit, Pajajaran, Cirebon sepuh dan beberapa keris Mataram, sering diketemukan teknik membuat keris dengan pesi gapit.

PAMOR NGULIT SEMANGKA, Dapat dikatakan bahwa lukisan garis-garis lengkung pada pamor ngulit semangka ini membawa pesan moral dalam kehidupan manusia yang selalu berubah (naik dan turun). Menjadi orang yang lebih percaya diri (optimis), bijaksana dalam memutuskan suatu permasalahan (dinamis), dan pandai dalam pergaulan untuk menyesuaikan dengan segala keadaan (flexible). Fase kehidupan yang kemudian berkembang untuk mencari jati diri, mau belajar dan menjalin kehidupan sosial agama. Yang nantinya akan membawa dirinya menuju ke dalam penyatuan diri melalui pasang surut  keadaan, dan pada akhirnya harus kembali ke asalnya.

CATATAN GRIYOKULO, Mereka yang gemar menangguh keris mulai dari bagian gonjo atau mereka yang kadang “kepo” dengan isi bilah yang ada dalam warangka, penampakan wuwungan gonjo keris kidang mas ini terbilang menarik. Bentuknya yang nguceng mati dengan bagian gendok (perut) yang gendut berpadu dengan sirah cecak yang nguncup. Dari bentuk wuwungan gonjo-nya saja sudah cukup untuk menghadirkan obrolan seru mengenai tangguh. Ada yang menangguh Majapahit hingga demak, bahkan ada yang mengira keris ini ber-gonja iras.

pesi gapit

Tidak hanya bagian pesi yang unik (berbentuk gapit wayang), jika diperhatikan secara seksama pada bagian pamornya pun menampilkan guratan-guratan yang berbeda. Meski sudah tidak terlalu kontras, namun sesekali dasaran pamor miring tampak berpadu dengan pamor mlumah di beberapa area. Bentuk semacam ini di masyarakat perkerisan ada yang menyebutnya sebagai pamor golang-goling (pamor miring ditimpa pamor mlumah). Pamor golang-goling oleh sebagian orang termasuk digemari, karna dipercaya bukan buatan sembarang empu, sehingga diyakini masuk dalam duwung tataran pusaka. Di katalog Griyokulo sendiri, seingat penulis baru dua kali menghadirkan pusaka dengan model pesi gapit (sebelumnya di tahun 2016, bisa dibaca disini).

pamor mlumah miring

Selain itu, tantingan keris kidang mas ini terbilang sangat ringan, khas tantingan dari keris-keris era Majapahit atau peralihannya (Senopaten) dengan condong leleh (derajad kemiringan bilah) yang terbilang tegak. Keris Kidang Mas ini selain sudah dijamas, sudah pula disandangi dengan warangka baru sehingga Panjenengan tinggal meneruskan untuk merawatnya saja.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *