Singo Kikik

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 11.000.000,- (TERMAHAR) Tn. A Malaysia


1. Kode : GKO-21
2. Dhapur : Singo Kikik
3. Pamor : Beras Wutah
4. Tangguh : Madura (Abad XVII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 38/MP.TMII/II/2015
6. Asal-usul Pusaka :  Trenggalek, Jawa Timur
7. Dimensi : panjang bilah32,6  cm, panjang pesi 6 cm, panjang total 38,2 cm
8. Keterangan Lain : dhapur langka


ULASAN :

SINGO KIKIK, banyak juga yang menyebutnya dengan Gana Kikik. Sepintas keris ini mirip dengan keris Singo Barong, dimana pada bagian gandik diukir dengan bentuk hewan menyerupai serigala (ajag) atau anjing hutan asli Indonesia dalam posisi duduk dengan mulut terbuka seolah sedang melolong, kaki depannya tegak, sedangkan kaki belakangnya ditekuk. Sama halnya dengan keris Singo Barong, dhapur Singo Kikik tergolong populer dan banyak penggemarnya karena dipercaya sebagai ageman bukan sembarang orang.

FILOSOFI, Bagi sebagian orang, anjing adalah hewan peliharaan yang menggemaskan. Kesetiaan dan kepintarannya selalu membuat jatuh cinta. Namun, ada satu jenis anjing asli endemik Indonesia yang jarang disebut namanya. Jenis ini hidup di hutan belantara hingga wilayah pegunungan. Perawakannya sedang, secara fisik memiliki panjang sekitar 90 cm, tinggi 50 cm dan berat sekitar 12 Kg hingga 20 Kg. Bulunya berwarna cokelat kemerahan. Bagian bawah dagu, leher, hingga ujung perutnya putih, sedangkan ekornya panjang dan berbulu tebal kehitaman sehingga sekilas tampak seperti serigala, padahal bukan.

Namanya anjing ajag (Cuon alpinus) atau orang jawa dahulu menyebutnya Asu kikik. Di Indonesia, terdapat dua jenis ajag yaitu Cuon alpinus javanicus [anjing hutan jawa] dan Cuon alpinus sumatrensis [anjing hutan sumatera]. Sejauh ini, penelitian tentang ajag di Indonesia masih terbatas. Belum ada data pasti mengenai populasinya di Sumatera dan Jawa. Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi, anjing ajag merupakan jenis satwa dilindungi.

Ajag dikenal sebagai karnivora bahkan termasuk predator buas saat sedang berburu. Ajag biasanya hidup dan berburu secara kelompok, berjumlah 5 – 12 Ekor. Tetapi terkadang ajag juga berburu secara soliter (sendiri). Itulah mengapa Ajag mampu berburu memangsa hewan yang lebih besar dari tubuhnya seperti babi hutan, rusa, sapi dan kambing. Ajag juga suka memangsa hewan yang kecil seperti Monyet, kelinci, dan Tikus. Karena semakin terancam kehilangan habitat dan sebab kepiawaiannya sebagai “predator senyap”, hingga saat ini ajag masih sering dimitoskan sebagai makhluk jadi-jadian yang suka menghisap habis darah ternak di daerah pedesaan.

Lantas mengapa bentuk relief asu ajag/kikik yang dipilih? Tentu saja ada latar belakang mengapa dipilih simbolisasi tersebut, yang secara bijak semestinya dikaitkan dengan konteks kehidupan di masa lalu, bukan kikik dalam konteks kacamata zaman sekarang. Seperti kita tahu dalam cerita rakyat Sunda ada kisah Sangkuriang, Dayang Sumbi dan seekor anjing jelmaan Dewa yang bernama si Tumang. Kemudian dalam kitab Mahaprasthanikaparwa terdapat pula kisah para pandhawa mencapai moksha yang ditemani seekor anjing yang menarik untuk dituliskan.

Dikisahkan, beberapa tahun setelah darah di Kurusetra mengering karna bharatayudha, dan Hastinapura menjelma menjadi nagari agung di bawah pimpinan Prabu Parikesit. Saat itulah Yudhistira merasa tugasnya telah selesai. Yudistira memutuskan meninggalkan segala keterikatan dunia (Wanaprasta) untuk mendaki puncak Mahameru. Keempat adiknya: Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa terkesiap. Mereka tak mau ditinggalkan di istana, memilih ikut serta dalam perjalanan suci itu. Tak ketinggalan Drupadi bersimpuh di kaki suaminya untuk diajak serta. Drupadi meleleh mengenang nasibnya yang remuk. Nun di balairung Hastinapura kemolekan tubuhnya nyaris terumbar oleh tangan mesum Dursasana ketika para ksatria ini mempertaruhkan dirinya di meja dadu.

Saat akan memulai pendakian, di kaki gunung, seekor anjing mengikuti Yudhistira. Kemana Yudhistira berjalan si anjing dengan setia mengikuti. Awalnya anjing itu hendak diusir oleh adik-adik Yudhistira, Namun, karena melihat anjing yang berwarna hitam itu sekalipun kurus tetapi kuat, Yudhistira mencegahnya. Anjing itu pun ikut bersama mereka.

Perjalanan menuju puncak Mahameru, semakin ke atas, udara semakin tipis dan angin bertiup semakin kencang. Tak berapa lama Drupadi terjatuh, badannya lemah sekali. Hawa gunung yang dingin dan sulitnya jalur pendakian membuat Drupadi kehabisan tenaga hingga harus dibantu oleh Bima. Namun akhirnya Drupadi tidak sanggup lagi, ia meninggal di pangkuan Yudhistira sebelum mencapai puncak Mahameru. Setelah mengurus jenazah Drupadi secara layak, para Pandawa melanjutkan perjalannya. Kematian Drupadi ternyata baru awal, sebab tak lama berselang Sadewa terlihat sangat kelelahan dan sempoyongan. Nafasnya tersengal-sengal, Sadewa pun jatuh tersungkur sebelum mencapai puncak Mahameru. Setelah Sadewa, kini giliran Nakula yang tidak kuat untuk meneruskan perjalannya. Panas yang mengelupas kulit berubah dingin yang mendera tulang. Sadewa mulai limbung. Ia pun meninggal. Begitulah seterusnya Arjuna  juga bernasib sama. Bima pun mulai gontai. Terseok-seok ia berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya beberapa langkah di belakang kakaknya. Tapi ia semakin tertinggal jauh. Hingga akhirnya tubuh raksasa itu berdebam jatuh menimpa bumi. Yudhistira menghentikan langkahnya untuk memberikan penghormatan terakhir kepada para pahlawan Bharatayudha itu. Tidak ada satu pun yang mampu menyertai Yudhistira hingga puncak. Kini tinggal seorang putera Kunti yang lemah ditemani anjing setia yang mereka temui di kaki gunung. Yudhistira meneruskan langkahnya.

Setelah mencapai puncak Mahameru, suasana menjadi hening. Namun tiba-tiba Yudhistira terdongak melihat langit bergemuruh dan terbelah. Dari balik awan Batara Indra muncul mengendarai kereta kencana yang dihela delapan kuda sembrani putih. Berhenti tepat di hadapan putera sulung Pandu Dewanata ini. Batara Indra menyampaikan bahwa Yuhistira diperbolehkan masuk ke dalam kahyangan dengan jasad kasarnya, tetapi sang anjing tidak diperbolehkan memasuki kahyangan. Mendengar hal itu, Yudhistira kemudian berkata bahwa ia rela tidak masuk ke dalam kahyangan bila anjing yang setia menemani perjalannya tidak diijinkan masuk. Batara Indra takjub mendengar kata-kata Yudhistira. Seketika pula, sang anjing berubah menjadi Batara Dharma. Bathara Dharma ternyata sedang menguji budi luhur puteranya, dan memang terbukti bahwa Yudhistira adalah orang yang berbudi luhur tanpa cela. Dewa Kebajikan itu pun memuji Yudhistira dan mengajaknya naik ke swargaloka.

Kisah di atas  tidak bertujuan untuk menceritakan fakta, namun bertujuan untuk menanamkan nilai. Tentang apa yang dianggap luhur, apa yang dijunjung dan apa yang dianggap benar. Dengan kata lain semua aspek dalam kisah tersebut tidak lebih dari simbol. Bila di hubungkan dengan konteks kehidupan manusia dan bila kita amati secara seksama proses meninggalnya manusia, sebelum manusia mati karena usia tua dan sebelum nyawa keluar dari badan jasmani, sebenarnya badan manusia telah lebih dahulu ditinggalkan oleh Dewi “Drupadi” yang disimbulkan dengan hasrat manusia untuk berdandan dan bersolek karena manusia yang sudah lanjut usia biasanya meninggalkan kebiasaan ini. Manusia selanjutnya ditinggalkan oleh “Nakula dan Sadewa” yang mensimbolkan ketajaman pikiran dan ingatan. Kemudian manusia akan ditinggalkan oleh “Arjuna” yang mensimbolkan ketampanan dan kecantikan jasmani. Dan yang terakhir manusia akan ditinggalkan oleh “Bima” yang mensimbolkan kekuatan fisik. Dan peristiwa meninggalnya Bima, digambarkan paling dramatis karena di dideskripsikan dengan adanya teriakan kesakitan dan hembusan nafas yang berat sampai akhirnya nafas itu menghilang, begitu pula halnya ketika manusia menjelang ajalnya. Dan yang terakhir, Yudhistira melambangkan roh manusia yang abadi dan anjing kikik itu melambangkan “karma” perbuatan manusia, Suba Karma dan Asuba Karma (hasil perbuatan baik dan hasil perbuatan buruk). Maka ingatlah, kebiasaan untuk berdandan, ketajaman pikiran dan ingatan, ketampanan dan kecantikan jasmani, serta kekuatan phisik tidaklah kita bawa serta. Hanya tabungan perbuatan baik dan buruklah yang akan kita bawa serta di kehidupan berikutnya. Dan bila puncak gunung Mahameru diibaratkan akhir kehidupan, ternyata hanya orang yang setia sampai akhir akan mencapai puncak dari kematian itu.

Kikik adalah binatang penjaga manusia, tuannya. Padanya ada kesetiaan dan kekuatan

CATATAN GRIYOKULO, Sepintas mirip dengan keris Singo Barong, tidak ada rujukan pasti yang dapat dijadikan acuan untuk membedakan dhapur singo (barong) dan singo (kikik). Beberapa orang menilai dhapur Kikik mempunyai bentuk mulut yang lebih runcing, lebih menyerupai serigala yang sedang melolong sedangkan singo (barong) memiliki tubuh yang lebih besar (kekar) dengan rumbai-rumbai di punggungnya, serta ekor singo barong lebih kentara melebar dibandingkan singo kikik. Bahkan untuk keris inipun beberapa orang merasa masih masuk dhapur Singo Barong.

Terlepas apakah ini dhapur Singo Barong atau Singo Kikik, apabila kita coba perhatikan keris Singo Kikik ini tergolong istimewa pada detail garapnya, terutama pada gandik-nya. Detail lekuk pamor pada  badan hingga ke alat kelaminpun terbentuk dengan rapi dan sempurna seolah mengisyaratkan maskulinitas kejantanan. Pada mulut sang kikik terselip emas (ngemut = jawa), pemberian emas ini bukan sesuatu yang tidak disengaja, ada makna lebih dimana pemberian emas pada mulut singa ini mempunyai maksud untuk meredam aura hawa panas dari keris ini. Dan pada nomor Surat Keterangan dari Museum Pusaka TMII tercantum  No: 38/MP.TMII/II/2015, karena keris ini memang dibuatkan sertifikat 6 tahun yang lalu, yakni pada tanggal 17 Februari 2015.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *