Tombak Pamor Tambal Lima Kolektor Item

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 9.555.555,- (TERMAHAR) Tn. AP Senen, Jakarta Pusat


1. Kode : GKO-454
2. Dhapur : Biring Lanang
3. Pamor : Tambal (lima)
4. Tangguh : Majapahit Peralihan/Senopaten (Abad XV)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 297/MP.TMII/II/2021
6. Asal-usul Pusaka :  Madiun, Jawa Timur
7. Dimensi : panjang bilah 22 cm, panjang pesi 7,8 cm, panjang total 29.8 cm
8. Keterangan Lain : kolektor item


ULASAN :

TOMBAK DHAPUR BIRING LANANG, Biring adalah penamaan umum bagi dhapur tombak lurus yang bilahnya pipih dan simetris. Tombak Biring sendiri sebenarnya terdiri dari beberapa jenis diantaranya: biring lanang, biring wadon, biring drajit dan biring sumben. Kanjeng Kiyahi Ageng Plered, tombak pusaka Keraton Kasultanan Yogyakarta, konon juga berdhapur Biring, tetapi tidak diketahui dengan pasti jenis dhapur Biring yang mana.

FILOSOFI, nama lainnya adalah Biring Jaler. Nama sesungguhnya adalah Biring ing Palanangan, dari asal kata biri artinya kebiri (dikebiri), ing artinya untuk atau pada, sedangkan palanangan berarti kemaluan laki-laki. Jadi artinya adalah tombak sebagai senjata untuk mengebiri kemaluan laki-laki. Orang barangkali tidak mau menyebutnya panjang-panjang kata sadis itu, hanya biasa menyebut Biring Lanang atau Biring Jaler, supaya tidak terasa vulgar, maka kata tersebut diperhalus.

Tombak Biring Lanang ini biasanya bilahnya berbadan kekar, kuat dan tajam. Bagian kepet pada sor-soran berbentuk lengkung ke atas, walaupun sederhana berbentuk indah, namun dibalik keluwesannya tombak ini umumnya (walau tidak semua) sebagai senjata yang diperuntukkan untuk berperang. Auranya biasanya bersifat panas, dipercaya apabila orang membawa tombak dhapur ini menjadi orang pemberani dan tidak takut untuk mati. Cocok bila dahulu dipakai untuk para Panglima Perang dan Senopati. Tombak ini dapat dipasang pada landheyan panjang seperti blandaran (panjang 3x badan pemiliknya), panurung (panjang 2x badan pemiliknya) , pegon (panjang 1x badan pemilik ditambah rentangan tangan ke atas) maupun landeyan pendek seperti, limpung (panjang ujung jari tengah dengan siku), atau landheyan sekilan.

BESI MRAMBUT, selain untuk menyebut suatu jenis pamor yang terdapat pada tosan aji, istilah mrambut juga digunakan untuk menilai besi wasuhan keris. Besi yang mrambut artinya besi itu tampak berserat halus bagaikan rambut. Kesan tersebut bisa dirasakan melalui perabaan maupun melalui penglihatan. Tuahnya kira-kira hampir sama, yakni untuk menangkal atau menolak bala (halangan), atau sesuatu yang tidak diinginkan.

PAMOR TAMBAL, sesuai dengan namanya dibuat dengan cara ditambal di bilah, bentuknya mirip dengan goresan kuas besar pada sebuah bidang lukisan. Walau seringkali posisi/jaraknya tidak merata/sama namun tetap indah dipandang. Pamor tambal tergolong pamor rekan yang sengaja dirancang oleh sang Empu.

Bagi sebagian pecinta keris, pamor tambal dipercaya sebagai pamor pemilih, artinya tidak semua orang cocok untuk memilikinya. Namun bagi mereka yang cocok, pamor ini mempunyai tuah yang konon baik untuk kemajuan karir, serta memudahkan pemiliknya mencapai derajad dan kedudukan sosial yang tinggi di dalam masyarakat (junjung derajad).

Sacara filosofi dan spiritual, pamor tambal dibuat sebagai doa/harapan agar setiap kelemahan dan kekurangan kita akan ditambal dan ditutupi-Nya, sebagai pemilik kuas Sang Pelukis Kehidupan. Pamor Tambal dapat juga mengandung arti akan adanya sebuah “ikhtiar” untuk mewujudkan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Sebuah perlambang bahwa kita manusia sadar sebagai hamba yang penuh ketidaksempurnaan. Dalam kerendahan hati memohon agar setiap celah kelemahan dan kekurangan kita akan ditambal oleh Sang Penata Kehidupan dan berharap segala sesuatunya ditutup sesuai rancangan-Nya.

LIMA, dalam budaya Jawa angka lima melambangkan kesempurnaan hidup manusia, baik secara fisik/lahiriah maupun tingkat spiritual/agama. Anugerah pertama dan terbesar dalam hidup adalah ketika Sang Pencipta memberikan kelengkapan panca indera. Manusia yang sempurna secara fisik/lahiriah adalah mereka yang terlahir tanpa ada kekurangan dalam salah satu panca inderanya, yang diikuti pula tanda fisik lainnya yakni memiliki lima jari tangan dan lima jari kaki. Selanjutnya Tuhan selalu mengingatkan bahwa manusia harus selalu bersyukur dan meminta ampun atas segala dosa dilakukannya di dunia dengan menjalani syariat Agama, yang misal dalam Islam berjumlah lima hal pokok, rukun islam serta sholat lima waktu.

Maka bagi orang Jawa, angka lima adalah pokok menuju kesempurnaan. Oleh karena itu pula, orang Jawa memiliki lima jenis hari (bukan tujuh yang seperti kita anut) yaitu pon, wage, kliwon, legi, dan pahing. Tidak hanya dijadikan sebagai jumlah hari, masyarakat Jawa menilai lelaki sempurna lahir batin baru akan dianggap sebagai seorang “satria” ketika sudah mencapai astobroto atau memiliki lima hal yang melengkapi hidupnya. Lima hal itu ialah: Griya (rumah), Wanita (isteri), Turangga (kuda), Kukila (burung), dan Curiga (keris).

CATATAN GRIYOKULO, jika dalam Surat Keterangan Museum tertulis perkiraan tombak ini adalah era Mataram Senopaten, namun Penulis secara pribadi akan cenderung menangguhnya sebagai tombak era Majapahit setelah melihat karakter besi, perawakan yang ramping serta tantingan yang super ringan. Namun, terlepas dari masalah tangguh, ada temuan menarik dari buku “Pakem Pusaka” Duwung Sabet Tumbak babon asli peninggalan R, Ng Ronggowarsito mengenai dhapur tombak Biring (drajid) dengan pamor tambal yang ternyata baik dipakai oleh para pembesar (bupati ke atas) supaya besar keberuntungannya dan luhur derajadnya.

Maka sebenarnya bisa dinalar pula jika mereka-mereka yang menganut paham esoteri  mempercayai keris-keris maupun tombak dengan pamor tambal memiliki bobot spiritual tinggi serta istimewa. Pamor tambal dianggap sebagai pamor “jangkep” yang umumnya dimiliki dalam tahap akhir suatu fase dalam hidup. Dan percayalah, tombak pusaka yang menjadi salah satu “klangenan” Griyokulo ini lebih terlihat memikat aslinya daripada yang bisa dihadirkan melalui sebingkai foto, seperti ada “soul” yang tidak bisa ditangkap oleh lensa, harus dirasakan.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *