Naga Sruwe Pasundan

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 12.555.555,- (TERMAHAR) Tn D, Ciputat, Tangerang Selatan


1. Kode : GKO-455
2. Dhapur : Naga Sruwe
3. Pamor : Bendo Segodo
4. Tangguh : Cirebon (Abad XVIII)/ Dermayu?
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 408/MP.TMII/II/2021
6. Asal-usul Pusaka :  Sukabumi, Jawa Barat
7. Dimensi : panjang bilah 35,5 cm, panjang pesi  6,8 cm, panjang total 42,3 cm
8. Keterangan Lain : Sangat layak disimpan dan dirawat sebagai piyandel.


ULASAN :

NAGA SRUWE, adalah salah satu bentuk dhapur keris ber-gandhik ganan naga luk lima. Biasanya ukiran kepala Naga Sruwe bentuknya lugas atau tanpa hiasan emas. Selain itu, dhapur ini memakai ricikan tambahan lain seperti: pejetan, sraweyan dan ri pandhan. Selain Naga Sruwe luk lima, terdapat pula  bentuk dhapur Naga Sruwe lurus. Bentuk bilahnya seperti pedang suduk, dan pada bagian gandhik naga-nya tanpa ekor serta lugas (tanpa tatahan).

Naga sruwe
Bênêr, pêdhang suduk, sor-soran naga tanpa buntut, lugas.

Naga sruwe a
Luk lima, gandhik naga sirah lugas, pejetan, sraweyan, ri pandhan.
Sumber : Serat Kawruh Empu (Wirapustaka, 1914)

FILOSOFI, “Naga” adalah sebuah kata dari bahasa India pra-Arya, kesamaan katanya dalam bahasa Sanskrit adalah “Srpa”.

Sebagai salah satu makhluk mitologis yang mengagumkan, Naga secara fisik seringkali dibedakan dari ular biasa. Naga Jawa digambarkan bertubuh lebih besar dari ular biasa, memakai mahkota dan perhiasan lainnya. Dalam arsitektur Jawa Kuno, peninggalan Arkeologi dari masa Hindu-Buddha di Jawa Timur abad X-XVI ragam hias Naga (yang digambarkan sendiri, maupun bersama tokoh garuḍa) ini ditemukan di kompleks percandian, pemandian suci (patirthan), dan di gua-gua pertapaan. Yang menjadi menarik perhatian adalah, ragam hias jenis ini tidak ditemukan pada kepurbakalaan masa sebelumnya, yaitu masa Hindu-Buddha di Jawa Tengah (abad VI sampai awal abad X).

Naga Jawa dipercaya sebagai simbol penguasa bumi, sedangkan garuda adalah simbol penguasa langit

Sedangkan “Sruwe”, dalam bahasa Kawi berarti: kang pinunjul dhewe (ing babagan olah fisik); 2 kang bêcik dhewe.

Seseorang yang bijaksana akan selalu menginginkan perubahan untuk menjadi lebih baik. Yang ada dalam benaknya adalah: “hari ini harus lebih baik dibandingkan hari kemarin, dan hari esok dapat lebih baik dari hari ini”. Untuk dapat berubah menjadi lebih baik itu tidaklah mudah, butuh proses, tidak bisa kun faya kun terjadi begitu saja. Maka untuk mencapainya, tidak ada cara lain yang dapat dilakukan kecuali menjalani proses pengembangan diri. Sebab dengan proses itulah seseorang dapat memperbaiki berbagai kesalahannya, menutupi kekurangannya dan mengatasi ketidakmampuannya. Menjadi pribadi yang terbaik berarti sudah mengenal diri sendiri dengan baik. Sudah mengenal tubuh sendiri dengan baik. Sudah mengenal pikiran sendiri dengan baik. Dan sudah mengenal jiwa sendiri dengan baik. Pribadi yang baik adalah dia yang bisa menerima segala kekurangan ataupun kelebihan dari dirinya sendiri. Dia tidak merasa paling unggul dibandingkan dengan orang lain. Dia menghormati segala perbedaan yang ada dengan cara tidak menyebut kekurangan dari orang lain, baik secara lisan di depan maupun diam-diam di belakang.

Nahas, tidak sedikit dari kita justu terlalu membanggakan diri sendiri dan merasa paling sempurna. Kita melihat kelemahan orang lain tanpa mau berintrospeksi diri. Kita melakukan apa pun semata-mata untuk meraih pujian sehingga mengotori jiwa kita. Kita ingin menjadi yang terbaik, tetapi justru menjadi tidak baik dengan sifatnya sendiri.

KONSEP “PARIGEUING” DALAM NAGA SRUWE, Berbeda dengan ganan keris Naga yang berasal dari Jawa bagian tengah maupun wetanan yang lebih banyak memakai mahkota/topong, bentuk tutup kepala yang ada pada keris ganan ini kental dengan darah Pasundan karena menyerupai bentuk iket Sunda dengan nama Makuta Wangsa. Iket Makuta Wangsa merupakan iket kepala yang biasa dipakai oleh Raja Sunda terdahulu. Selaras dengan keberadaan luk Naga Sruwe yang berjumlah lima (5), siapa pun yang memakai iket jenis Makuta Wangsa maka ia harus mengamalkan Panca Dharma, yang berarti lima awal kehidupan.

Lima makna Panca Dharma tersebut adalah :

  1. Apal jeung hormat ka Purwa Daksi artinya mengetahui dan menghormati asal usul diri
  2. Nurut kana hukum jeung aturana artinya tunduk pada hukum dan peraturan
  3. Boga elmu, teu meunang bodo yang berarti harus memiliki pengetahuan dan tidak bodoh
  4. Mengagungkan Sang Hyang Tunggal artinya Mengagungkan Tuhan Yang Maha Esa
  5. dan yang terakhir adalah Bakti ka lemah cai yang berarti kita harus berbakti kepada tanah air

Kepala naga nampak sedikit mendongak. Posisi ini diintepretasikan sebagai sikap seorang pemimpin yang ngarurat batu berwatak teguh, menunjukkan rasa percaya diri dan kewibawaan, serta senantiasa sadar dengan amanat dan tanggung jawabnya yang diembannya sebagai seorang pemimpin. Selain itu, posisi kepala mendongak menandakan ketegasan seorang pemimpin untuk dapat bersikap adil tanpa pilih kasih.

Tutuk/mulut naga tampak sedikit terbuka (menyeringai) dengan mut-mutan jaton (konon campuran dari tujuh jenis bahan logam) menunjukkan sikap kehati-hatian dalam bertutur kata. Karena kata-kata dari seorang Raja adalah sabda yang tidak bisa ditarik kembali dan apa yang telah diucapkan seorang raja merupakan hukum yang harus dipatuhi, tidak hanya oleh para bawahan, melainkan juga berlaku bagi dirinya sendiri. Maka kesepahaman dalam satu pikiran, perkataan dan perbuatan menjadi sebuah keutamaan.

Badan Naga yang tampak pendek dilengkapi dengan sisik menjuntai ke atas, terkesan seperti ular yang sedang turun dari langit adalah wujud dari suatu proses pemahaman spiritual menuju purnawisesa atau kesempurnaan hidup dengan orientasi untuk mengetahui awal dan akhir, baik di sakala ‘dunia kini’ maupun di niskala ‘akhirat kelak’. Sedangkan, bentuk badan sang Naga yang dibuat pendek dibandingkan bilahnya sendiri menjadi pikukuh untuk menjaga setiap keinginan kita agar tak melebihi keinginan duniawi. Salah satunya adalah dengan cara menjauhi empat watak manusia yang membuat kerusakan di dunia (catur bhuta), yakni:

  1. Burangkak, dikenal sebagai mahluk maha gila yang sangat mengerikan, tidak ramah, sering membentak, berbicara sambil membelalakan mata dengan nada suara yang menghina. Burangkak berkelakuan kasar, berhati panas, tidak tahu tata krama dan sering melanggar aturan. Merasa derajatnya lebih tinggi dari orang lain. Pemimpin yang demikian tak ubahnya seperti raksasa, buta kala.
  2. Mariris, orang yang menjijikan  lebih dari bangkai binatang yang membusuk; manusia yang suka mengambil hak orang lain, korup, menipu, berdusta. Pemimpin yang berkarakter mariris jauh lebih busuk dari bangkai binatang yang sangat hina dan menjijikan.
  3. Marén, adalah sebangsa raksasa bermuka api. Pada awalnya rakyat menduga bahwa pemimpin tersebut berwatak dingin menyejukkan, mampu membawa masyarakat hidup damai dan tentram, namun setelah menjadi pemimpin ternyata malah membawa panas dan menimbulkan bencana di masyarakat. Pemimpin Marédé, adalah orang yang hanya menimbulkan kekacauan, menghasut, mengadu domba, menciptakan permusuhan, pertumpahan darah atau hanya menjadi pembawa bencana dalam kehidupan.
  4. Wirang, ditampilkan sebagai binatang yang menakutkan, yaitu orang yang tidak mau jujur, tidak mau mengakui kesalahan dirinya, tidak mau berterus terang, serta selalu menyalahkan orang lain. Wirang berwatak tercela seperti suka mengancam, membunuh, merusak, tidak pernah jera  apalagi bertobat.

Maka yang diharapkan dengan kehadiran seorang Pemimpin adalah untuk mampu ngretakeun bumi lamba, dalam arti seorang Raja/Pemimpin harus mampu mensejahterakan dan memberdayakan semesta dunia kehidupan. Dengan demikian, tugasnya sebagai pemimpin adalah mewujudkan lingkungan hidup dan kehidupan yang sejahtera, bermatabat, dan penuh dengan rahmat dan ridha Sang Pencipta.

PAMOR BENDO SAGODO, atau orang-orang di Semenanjung melayu menyebutnya pamor “butir petai”. Lalu apa arti bendha segada sebenarnya? Bendha (sering dilafalkan “bendo”) disini bukanlah sama artinya dengan ‘benda’ atau dalam bahasa indonesia berarti ‘barang’, tetapi adalah nama sebuah tanaman atau pohon (Artocarpus elasticus) yang masih  yang termasuk dalam famili Moraceae  dan genus Artocarpus ini masih berkerabat dekat dengan Nangka, Sukun, dan Cempedak. Di beberapa wilayah di Indonesia pohon Bendha, dikenal dengan beberapa nama lokal yang berbeda. Mulai disebut sebagai kalam (Mentawai), torop (Karo), bakil (Melayu), dan tarok (Minangkabau). Juga dinamai benda, teureup (Sunda), bendha (Jawa), kokap (Madura), dan taeng (Makassar). Sedang di Kalimantan dikenal sebagai erap, kapua, kumut, atau pekalong. Saat ini Benda mulai menjadi tanaman langka. Tumbuhan ini semakin sulit ditemukan karena tergusur oleh berbagai tanaman budidaya lain.

Kata gada berarti alat atau senjata yang digunakan untuk memukul. Selain itu, gada juga memiliki arti: ‘kumpulaning rentenganing kolang-kaling lan panunggale ‘sekumpulan atau rentetan buah kolang-kaling’ (Bausastra Jawa, 2011:196). Kata ‘gada’ juga digunakan oleh masyarakat Jawa Tengah sebagai kata penggolong untuk menunjukkan jumlah buah petai, kolang-kaling, dan buah-buah lain yang sejenis. Bendho sagada berarti buah bendho yang tumbuh dalam satu tangkai. Istilah gadha sebagai penunjuk satuan atau ukuran tidak banyak diketahui oleh masyarakat. Istilah tersebut sepertinya hanya dikenal oleh beberapa orang saja. Hal itu terjadi karena istilah sagadha hanya digunakan oleh beberapa kalangan saja, seperti pedagang sayur dan masyarakat yang tinggal di daerah yang banyak terdapat pohon petai.

Menurut sebagian pecinta keris, rangkaian butir-butir bendha dalam keris dan tombak melambangkan kemudahan rezeki yang berkesinambungan, membuat pemilikya lebih gampang mencari rejeki yang besar-besar, mengumpulkan hasil yang banyak dan kesejahteraan lebih baik. Oleh karena itu, pamor ini banyak dicari sebagai “cekelan” oleh mereka yang hidup berniaga (pedagang). Pamor ini tergolong tidak pemilih, dapat cocok dipakai oleh siapapun.

Namun, jika kita merujuk kawruh pamor yang lebih lama, dalam buku “Pakem Pusaka” Duwung Sabet Tumbak babon asli peninggalan R, Ng Ronggowarsito tercatat jika pamor benda sagada yang terdapat dalam keris tombak dan pedang ternyata tidak hanya menjadi monopoli kaum saudagar. Pamor benda sagada juga cocok dimiliki oleh para ageng (Bupati ke atas) dipercaya memiliki tuah baik sekali,  besar perbawanya, luhur sekali, keberuntungannya besar dan rezekinya banyak.

CATATAN GRIYOKULO, “wingit merbawani” adalah kata yang dianggap pas dan tidak berlebihan dalam menggambarkan tangkapan rasa “fisik” maupun “non fisik” dari pusaka ini. Kesan wingit ditangkap dari garap klasik/primitifan yang sederhana namun hidup, serta penampilan besinya yang hitam dan halus yang sangat mendominasi. Sedangkan karakter merbawani diperoleh dari tangkapan rasa dengan melihat guwaya keris secara keseluruhan. Meski bilah masih terlihat sangat tebal, lebar dan utuh, namun saat dijenting dengan ujung jari terdengar nyaring sekali bunyinya, pertanda sangat matang tempa. Sangat dimungkinkan pula jika keris Naga Sruwe ini berasal dari era yang lebih sepuh dari yang diperkirakan/tertulis pada Surat Keterangan yang ada. Apalagi bentuk Naga Pasundan memang lebih jarang ditemui.

Sandangan yang adapun sudah miyayeni. Pilihan kayu gaharu wangi dengan coraknya yang khas bukannya tanpa alasan. Kayu yang disebut-sebut berasal dari surga ini tidak hanya efek dari wanginya saja yang menentramkan jiwa, namun diyakini dapat pula menjaga “isi” pusaka serta dapat digunakan untuk menangkal serangan jin hingga menetralisir serangan ilmu hitam atau santet.

Yang tidak terlupa justru sebuah kejadian saat bilah Naga Sruwe ini diputihkan untuk diwarangi. Sudah menjadi kebiasan jika semua tosan aji yang ada di katalog Griyokulo Penulis putihkan sendiri secara tradisional. Adapun tujuaannya adalah paling tidak untuk memastikan proses “treatment” yang benar, dalam arti mengurangi segala hal yang akan mempercepat keausan/korosi pada bilah, seperti pemakaian asam kimia berlebih. Dari ratusan bilah yang telah diputih sendiri, ternyata Naga Sruwe ini cukup “ampuh” membuat tangan Penulis gatal-gatal seperti budukan hingga ke bagian siku. Kejadian yang sama dan lebih parah juga pernah terjadi 6 tahun lalu ketika penulis memutihkan sebilah keris lurus dengan pamor rojo gundolo, dan keris ini tetap kami rawat hingga saat ini.

Kurang pas pula rasanya jika harus membandingkan apple to apple antara keris-keris Pasundan dengan era keris-keris nom-noman yang sudah established dalam bingkai kacamata berbagai parameter, seperti kekuatan material, detail garap hingga tata pamor. Karena masing-masing berasal dari latar belakang budaya dan bisa saja tujuan spiritual yang berbeda. Misalnya dhapur Ganan Pasundan yang terkesan sangat primitif dan dibuat dalam bentuk dua dimensi. Hal ini bukan berarti Sang Empu tidak mampu untuk membuat bentuk Naga dalam bentuk tiga dimensi. Tapi memang seperti itulah gaya dari keris Ganan Pasundan.

Mungkin ada benarnya jika para orang tua mengatakan: “Ketika kesederhanaan terbentuk oleh berbagai pertimbangan, termasuk hal-hal yang filosofis, maka keserderhanaan menjadi keindahan yang tidak terukur”. Terlebih Doa yang dipanjatkan serta filosofi yang dititipkan sang Empu amatlah dahsyat, agar nantinya pemilik/pemegang pusaka ini dapat menjadi versi terbaik diri sendiri atau meraih yang terbaik di bidangnya. Aamiin.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *