Keris Palembang Cherita Lok 9 TUS

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 7.000,000,- (TERMAHAR) Tn. AHP, SCBD Jakarta


1. Kode : GKO-453
2. Dhapur : Kidang Soka (Cherita Lok 9?)
3. Pamor : Ngulit Semangka (Sor-soran : Tunggak Semi)
4. Tangguh : Palembang (Abad XVII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 296/MP.TMII/II/2021
6. Asal-usul Pusaka :  Rawatan/Warisan Turun Temurun
7. Dimensi : panjang bilah 34,5 cm, panjang pesi  ? cm, panjang total ? cm
8. Keterangan Lain : TUS, kolektor item


ULASAN :

RICIKAN DHAPUR, keris lok sembilan ini menggunakan ricikan atau kelengkapan : bulalai gajah (sekar kacang, Jw) yang dilengkapi bajanguik/rawai/duri pandan (jenggot, Jw), lidah tiong (jalen, Jw) yang unik dimana berjumlah dua, rigi gandik (lambe gajah, Jw) satu, pichitan (pejetan, Jw) dan aring susun (robyong, Jw).

KARAKTERISTIK BILAH, Budaya keris di Sumatera biasa disebut dengan istilah “keris rumpun Sumatera” walaupun kental mendapat pengaruh budaya keris Jawa dan budaya keris Bugis namun dalam perkembangannya tetap menemukan karakteristik dari budaya-budaya kerisnya yang mencerminkan adat budayanya sendiri. Budaya perkerisan di Sumatera juga bersifat lebih universal, karena adanya interaksi antar daerah dan antar suku yang begitu baik dan kondusif, sehingga tidak terjadi kefanatikan dalam kepemilikan dan pemakaian keris. Selain itu, secara visual keris-keris di Sumatera memiliki kemiripan bentuk dan bahkan seringkali dikombinasikan sedemikian rupa sehingga sulit dikenali identitas asal kerisnya. Budaya penangguhan guna merunut gaya, asal daerah, dan juga perkiraan dibuatnya suatu keris juga belum lazim dilakukan di Sumatera

Adapun ciri dan karakteristik kerisnya dapat diuraikan secara umum sebagai berikut :

  • Panjang bilah antara 33-35 cm
  • Perawakan bilah secara keseluruhan tampak gagah, besar dan serasi. Sepintas lalu bilah kerisnya tampak menyerupai keris gaya Surakarta atau Yogyakarta.
  • Besinya rata-rata matang tempaan, liat dan berurat-urat.
  • Gandiknya pendek, agak pipih namun tanpak tegas dan serasi. Bagian gandik menyerupai keris-keris Jawa nom-noman.
  • Jalen dan lambe gajah-nya runcing tetapi relatif pendek.
  • Bila memakai sogokan realtif dalam, tegas, namun agak sempit.
  • Rigi atau greneng-nya tegas namun agak pendek, jarang-jarang, dan agak dangkal.
  • Picitan atau pejetan tampak lebar dan cukup tegas.
  • Sekar kacang-nya pendek namun melingkar cukup luwes dan indah.
  • Ganjanya sedang atau sedikit pendek dan rata-rata bagian ekornya sedikit turun.
  • Pinggang bilah agak menyempit.

KARAKTERISTIK WARANGKA DAN HULU, di Sumatera warangka keris juga dikenal dengan nama sarung atau sampir. Sarung bagi masyarakat Sumatera umumnya, walaupun memiliki nilai-nilai esensi yang sama namun tiap-tiap daerah memiliki pengertian dan makna simbolis yang berbeda-beda. Masyarakat Nias memandang sampir sebagai simbol dari bentuk perahu pendatang (orahu, Nias) yang mencerminkan sebagai simbol kendaraan roh-roh leluhur. Lain lagi bagi masyarakat Gayo (Aceh), mereka memandang bahwa sampir merupakan tempat bersemayamnya daya-daya kekuatan gaib pada bilah keris. Oleh karena itu harus dibuat seindah dan semewah mungkin. Mereka percaya bahwa apabila sampir keris dibuat indah dan mewah maka daya-daya gaib pada keris akan senantiasa terjaga dengan baik. Bagi masyarakat Minangkabau, sarung keris mencerminkan makna filosofis sesuai dalam bentuknya. Misalnya sarung tanggah kabau atau tanggah kerbau, merupakan stilasi dari tanduk kerbau yang mencerminkan tentang asal-usul Minangkabau. Bagi masyarakat Lampung, sampir merupakan simbol dari suatu kendaraan untuk mencapai tujuan dan cita-cita spiritual. Mereka juga memahami bahwa sebuah sampir harus dibuat dari bahan kayu atau tulang binatang pilihan karena dipercaya sebagai pengikat daya-daya gaib pada kerisnya. Dan bagi masyarakat Palembang, sampir merupakan simbol perahu besak (perahu besar) yang mencerminkan kehidupan masyarakat Palembang di masa lalu yang hidup dan tinggal di atas perahu. Hingga tahun 1930-an masih dijumpai masyarakat Palembang yang hidupnya menetap dan tinggal di atas perahu.

Sedangkan hulu keris Palembang pada umumnya memiliki ukuran lebih pendek dan lebih kecil bila dibandingkan dengan hulu keris dari daerah Sumatera lainnya, hal ini dikarenakan untuk keserasian dengan bentuk warangka keris Palembang yang cenderung kecil, pendek namun cukup tebal dengan detail-detail bagian warangka yang tegas. Budaya keris Palembang juga mengenal ulu sriwijaya atau juga biasa disebut ulu tua, yaitu hulu keris yang bentuknya sederhana seperti potongan kayu.

CATATAN GRIYOKULO, lagi…. sebuah artefak peninggalan yang masih sangat utuh dapat ditemukan kembali untuk dirawat dan dititipkan kepada generasi mendatang. Pusaka ini didapatkan tidak dari pelosok desa namun justru terselip di tengah hiruk pikuk dan hingar bingarnya kota Metropolitan. Didapatkan dari Kompleks Departemen Luar Negeri Jakarta Selatan dalam kondisi yang masih sangat original adalah sebuah berkah tersendiri walau bisa dikatakan saat ditemukan pertama kali dalam kondisi yang kurang/tidak terawat. Perlu waktu 2 minggu untuk membebaskan dari karat yang menyelimuti bilah. Saat perendaman dan pewarangan juga membawa kesulitannya tersendiri, karena bagian hulu luday tidak dicopot takut akan pecah atau retak meski dipanaskan.

kondisi bilah saat kotor pertama kali didapatkan dan sebelum warangka perahu besak digebeg

Setelah selesai dilakukan pembersihan dan pewarangan terjawab sudah segala rasa penasaran. Sebuah keris Palembang yang cantik membawa darah pamor Bugis dengan corak gonjo pamor melintang.  Dari bentuk lok dan ricikan-ricikan yang ada pada bilah bisa dikatakan masih sangat utuh (TUS). Bagian pedongkok (mendak, Jw) terbuat dari perak juga masih asli bawaan sebelumnya, menempel pada hulu Luday yang terbilang tak banyak populasinya, tak heran jenis hulu ini banyak diburu.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *