Jalak Ngore Tayuhan Madiun Sewulan

Mahar : 5.005.000,-


1. Kode : GKO-457
2. Dhapur : Jalak Ngore
3. Pamor : Nyanak
4. Tangguh : Madiun Sewulan? (Abad XVII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 459/MP.TMII/II/2021
6. Asal-usul Pusaka :  Jakarta
7. Dimensi : panjang bilah 35 cm, panjang pesi  7 cm, panjang total 42 cm
8. Keterangan Lain : warangka dusun, luk sinandi


ULASAN :

JALAK NGORE, adalah salah satu bentuk dhapur keris lurus. Panjang bilah keris ini berukuran sedang, ada-adanya terlihat jelas dan tepat sampai ke ujung bilah. Selain itu keris ini memakai gandik polos, pejetan, tikel alis, sraweyan dan greneng. Menurut mitos/dongeng keris Jalak Ngore pertama kali dibabar oleh Empu Anjani pada masa pemerintahan Prabu Pamekas dari Pajajaran pada tahun Jawa 1248.

FILOSOFI, Jalak-ngore ginupita | maknanipun ura nora sawiji | murat pikir kang lumaku | mungguh ta rahsanira | manungsèku pan nora kêna kalimput | sanalika bawarahsa | pupuntoning barang pikir || (Serat Centhini)

Bentuk Jalak Ngore artinya terurai, tidak menyatu. Artinya pikiran yang bekerja. Maknanya adalah, manusia itu tidak boleh menutup diri, harus senantiasa bermusyawarah, mempertimbangkan akal pikiran.

Jalak Ngore atau jalak yang sedang mengurai (menggelar) bulu-bulunya. Mempunyai makna aktif bergerak melepaskan dari kesulitan atau mengurai keruwetan dari setiap permasalahan secara teliti dan bertahap. Untuk mencapai cita cita dan tujuan, diperlukan kesungguhan, ketekunan, kewaspadaan dan kesabaran. Tidak ada orang sejahtera/kaya mendadak, semua harus dirintas dari bawah. Alon alon waton kelakon, Gliyak gliyuk waton tumindak, yang berarti : meskipun pelan-pelan tapi mendapatkan hasil, tertatih-tatih tapi tetap dilakukan.

GANDHIK WUNGKAL GERANG, jika biasanya pada keris-keris umumnya ujung sirah cecak berada dalam satu garis lurus dengan garis gandhik, maka pada gandhik yang dikatakan wungkal gerang agak berbeda karena sedikit melengkung. Sesuai dengan namanya hal ini didasari dengan bentuk pada benda yang dinamakan “wungkal“. Wungkal sendiri merupakan batu pengasah. Masyarakat pedesaan di Jawa menggunakan batu pengasah yang berasal dari batu alam untuk menajamkan perkakas rumah tangga seperti pisau, golok, sabit dan berbagai senjata tajam lainnya. Sementara kata “gerang” berarti aus. Sehingga “wungkal gerang” berarti wungkal yang sudah aus karena seringnya digunakan. Istilah wungkal gerang biasanya banyak dipakai oleh para pecinta keris di Yogyakarta.

Batu wungkal yang sudah gerang melambangkan pikiran dan kecerdasan yang senantiasa diasah, sehingga mampu memahami kondisi yang ada dan diharapkan mampu menyelesaikan segala permasalahn yang ada. Penafsiran yang lain akan gandhik wungkal gerang adalah mengacu pada konsep ulul albab. Istilah ulul albab berasal dari dua kata, yakni ulu dan albab. Kata Ulu artinya memiliki, sedangkan albab berasal dari kata allubb yang artinya otak/pikiran. Albab disini bukan mengandung arti otak/pikiran beberapa orang, melainkan milik satu orang. Dengan demikian ulul albab artinya orang yang memiliki otak berlapis-lapis. Sedangkan menurut pendapat yang lain ulul albab adalah orang yang melakukan dua hal, yaitu tazakur, yakni mengingat (Allah) dan tafakkur memikirkan (ciptaan Allah). Sehingga gandhik wungkal gerang merupakan perlambang dari konsep ulul albab, yaitu seseorang yang memiliki pikiran yang tajam khususnya dalam mengingat Allah dan memikirkan kebesaran-Nya.

TANGGUH MADIUN SEWULAN, Sebenarnya sejumlah keris tangguh Madiun lama, banyak yang menyerupai bentuk-bentuk tangguh Mataram. Atau lebih spesifiknya, mirip dengan tangguh Mataram Kartasura. Dan selain Empu Madiun dari Brangkal, tepatnya di daerah kota Magetan sekarang atau orang lebih mengenalnya sekarang sebagai keris Mageti dengan rata-rata memiliki besi yang lumer karna tempaan yang rapat, terdapat pula Empu Madiun lain yakni yang berasal dari Sewulan.

Berdasarkan cerita tutur, Desa Sewulan dulunya merupakan tanah perdikan yang dihadiahkan Raja pada akhir kerajaan Majapahit. Sewulan berasal dari kata Sewu dan Wuwul. Sewu adalah seribu dan Wuwul sama dengan ukuran tanah yang diperkirakan seluas satu hektar. Jadi kemungkinan Sewulan semula wilayah yang seluas kurang lebih seribu hektar yang dijadikan tanah perdikan (bebas dari pajak) atau glondhong pengareng-areng. Konon, pada zaman Demak, ditanah perdikan ini tinggal seorang Empu keris dari kerajaan Islam pertama Jawa itu yang bernama Empu Suro-yang nantinya menurunkan generasi pembuat keris. Empu Suro ini diyakini oleh masyarakat perkerisan sebagai Ki Umyang dari Demak. Pada zaman Mataram Kartasura, Sewulan merupakan salah satu desa di Madiun yang membuat keris untuk kepentingan keraton tersebut (sekitar pemerintahan Susuhunan Amangkurat II, Susuhunan Amangkurat III, Sunan PB I dan Sunan PB II).

Para Empu Sewulan juga mengalami masa keemasan pada masa Madiun dipimpin oleh Bupati Madiun ke XXIV, Raden Haryo Tumenggung Kusnodiningrat tahun 1900-1929. Karena pada masa itu, semua Lurah di seluruh Kabupaten Madiun mendapat hadiah berupa keris buatan para Empu dari Sewulan. “Sayangnya pada tahun 1970-an, para keturunan Empu yang  tinggal di Sewulan rata-rata hanya membuat alat-alat pertanian, mereka menjadi pande besi saja. Dan Empu “keris isian” terakhir yang dikenal dari Sewulan adalah Mohammad Slamet yang meninggal pada awal tahun 2000.

Menurut artikel yang pernah dimuat dalam majalah Tempo Edisi 24 Juni 1978 Empu Mohammad Slamet (55 tahun) mewarisi keahlian Bapaknya secara turun temurun. Sesuai dengan kebiasaan di zaman dahulu setiap keris harus dicocokkan dengan pemiliknya, maka sebelum menempa Empu Slamet biasanya menanyakan hari lahir, weton (hari lahir menurut perhitungan kalender Jawa), pekerjaan, dan maksud memiliki keris tersebut. Adapun mahar pembuatan keris di tahun tersebut (1978) yang disepakati adalah berkisar sebesar uang Rp 5.000.

Selama 36 tahun, Empu Slamet dibantu tiga orang panjak untuk menempa besi di besalen. Setelah keris memperoleh bentuk yang diinginkan, ritual selanjutnya adalah memberi “isi” sesuai dengan pesanan. Biasanya Empu Slamet harus puasa mutih selama tiga hari tiga malam. Artinya tiga hari tiga malam dia harus makan beberapa kepal nasi putih tanpa lauk, beberapa teguk air putih, tidak tidur dan harus bersemedi. Selain Empu Slamet di desa Sewulan, terdapat dua orang Empu di Yogyakarta dan seorang yang lain di Madura, mereka ini masih melestarikan membabar keris tayuhan dengan cara-cara lama.

Masih dalam artikel yang sama, ditulis sesuatu yang mungkin agak kurang bisa diterima akal jika Empu Slamet mengaku bahwa pada hari-hari tertentu, dia bisa memanggil roh dari masing-masing kekuatan, untuk kemudian dimasukkan ke dalam keris pesanan tersebut. Ada yang “isi”nya berupa “kekuatan Majapahit”, atau “kekuatan Blambangan” atau “kekuatan Mataram”. Menurut Empu Slamet: seorang pegawai, biasanya lebih cocok kalau memiliki keris tanpa luk (lekuk) yang disebut keris jalak ngore. Seorang pedagang jika ingin dagangannya laris,  maka keris jangkung yang berluk tiga akan cocok untuknya. Yang profesinya jadi dukun, keris urubing damar yang luknya satu cocok jadi cekelan. Para kiyai sebaiknya memiliki keris sempono yang luknya sembilan. Sedangkan petani agar sawahnya subur, wajib memiliki keris pendawa yang berluk lima. Rupanya, semakin banyak luk keris, semakin besar tanggungjawab pemiliknya. Misalnya seorang peramal/penasehat spiritual sebaiknya memiliki keris buto ijo yang berluk tujuh. Petugas keamanan dari kalangan polisi/milter harus pula memiliki sebuah keris yang mempunyai luk 11 buah dan kerisnya bernama sabuk inten. Khusus untuk penjabat tinggi yang ingin kekuasaannya langgeng keris yang wajib dimiliki adalah sengkelat kudu yang berluk 17. Dan yang paling banyak luk-nya ialah keris setan kober (luk 27) dan keris setan prayangan (luk 29 ). Yang memiliki keris ini, “pasti dagangannya laris”. Namun  saat artikel dalam majalah Tempo tersebut dibuat belum pernah ada yang memesan keris berluk 27 dan 29 itu.

PAMOR NYANAK, adalah penamaan terhadap sejenis pamor yang tidak jelas kesan pembacaannya (samar), baik melalui penglihatan maupun perabaan. Sebilah keris atau tombak yang diperkirakan mempunyai pamor sebelumnya, tetapi pamornya kemudian tidak terlihat jelas dan apabila dirabapun tidak jelas konturnya, dapat disebut pula sebagai pamor sanak. Disebut nyanak/sanak kemungkinan berasal dari arti sanak sendiri yang dalam bahasa jawa berarti keluarga yang tidak jauh.

CATATAN GRIYOKULO, secara sekilas melihat keris Jalak Ngore ini yang pada bagian depan memiliki gandik melengkung atau lazim disebut wungkal gerang, serta bagian belakang memiliki wadidang landai dan gonjo belakang melambai panjang ke bawah agak mirip dengan style Mageti. Hanya saja biasanya pesi keris tangguh Mageti memiliki bentuk yang khas (sirah gendelo) dan tikel alis yang lebih ekstrim melengkung ke atas. Berbeda pula dengan tangguh Mageti yang bilahnya mbembeng mendekati gaya HB, justru bilah Jalak Ngore ini cenderung ngadal meteng mendekati gaya PB.

Jika dideskripsikan secara visual keris Jalak Ngore ini memiliki bentuk ganja sebit lontar panjang sehingga posisi pesi agak maju ke depan dengan greneng aksara dha-nya rojehannya lebar dan dangkal. Pada bagian gandhik terlihat tebal (sebog) seperti keris-keris Mataram HB, tikel alis pendek dan dangkal, pejetan yang tidak imbang lebarnya, dalamnya dan tingginya antara satu dengan yang lain. Perbedaan bentuk antara sisi satu dengan sisi sebaliknya dalam hal pembuatan ricikan (pejetan, sogokan dll) kerap ditengarai sebagai salah satu pembeda tangguh Madiun dengan yang lainnya.

Untuk segi pamornya agak susah membacanya. Di kalangan masyarakat perkerisan Jawa Timur, pamor seperti ini disebut pamor wojo. Tapi ada juga yang mengatakan pamor seperti ini oleh para orang tua zaman dahulu disebut nglumut, atau seperti lumut yang ada di dalam air, kita bisa melihat samar-samar bayangan namun tidak begitu jelas. Demikian pula pamor keris Jalak Ngore ini, ada namun seolah tersembunyi di dalam besinya yang pulen, semisterius keris tayuhan.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *