Pasopati Udan Mas

Mahar : 8.888.888,-


1. Kode : GKO-456
2. Dhapur : Pasopati
3. Pamor : Udan Mas (Tiban)
4. Tangguh : Cirebon (Abad XVI)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 458/MP.TMII/II/2021
6. Asal-usul Pusaka :  Sukabumi, Jawa Barat
7. Dimensi : panjang bilah 31,3 cm, panjang pesi 7,5 cm, panjang 38,8 total cm
8. Keterangan Lain : warangka dusun


ULASAN :

PASOPATI, ada yang menyebut dengan nama Pasupati. Adalah salah satu bentuk dhapur keris lurus yang sangat populer karena banyak dicari oleh para pecinta tosan aji. Keris Pasopati sangat mudah dikenali karena memakai ricikan yang khas, yakni kembang kacang pogog, dimana ‘belalai’-nya seolah terpotong di bagian pangkalnya. Namun kembang kacang yang pendek itu bukan disebabkan patah, melainkan dari awal pembuatan sengaja mengikuti kelengkapan suatu ricikan atau pakem. Selain itu keris Pasopati memakai jalen, lambe gajah, sogokan, tikel alis, sraweyan, dan greneng. Keris Pasopati biasanya juga memakai ada-ada sehingga permukannya tampak seperti nggigir sapi dan kontur bilahnya menampilkan kesan ramping.

FILOSOFI, Dalam kakawin Arjuna Wiwaha  dikisahkan Arjuna bertapa di gunung Indrakila karena kesadarannya sebagai seorang kesatria. Dalam tapanya Arjuna diuji apakah lakunya tersebut demi mengejar ambisi pribadi atau benar-benar demi menjalankan dharma/kewajibannya. Tujuh bidadari dengan kecantikan yang tak terbayangkan diutus Bathara Indra untuk menggoda kekushyukan Arjuna. Namun demikian, oleh karena Arjuna telah berhasil mencapai keteguhan hati, maka ia sama sekali tak terganggu oleh godaan para bidadari jelita tersebut.

Selanjutnya, Bathara Indra sendiri yang menguji apakah Arjuna benar-benar seorang ksatria yang sedang menjalankan dharma-nya, ataukah seseorang yang sedang melarikan diri dari masalah keduniawian. Dalam ujian kedua ini, Bathara Indra menyamar sebagai seorang resi tua yang memperolok jiwa kesatriaan Arjuna. Ia muncul dalam bentuk seorang resi yg menghardik Arjuna, bahwa dengan segala tapa bratanya Arjuna belum mencapai kesempurnaan dan hal sia-sia belaka, karena sebetulnya Arjuna hanya mengejar pembebasan dirinya sendiri, ‘ego-spiritualis’. Dengan teguh Arjuna menjawab, bahwa tujuannya bukanlah untuk keselamatan diri, juga bukan untuk kepentingan keluarga Pandawa, melainkan untuk menyelamatkan kebenaran dalam peperangan akhir antara dharma melawan adharma. Demi dharmanya itu Arjuna berani berkorban apa saja, bahkan nyawa sekalipun. Mendengar jawaban tersebut Resi tua tersebut kembali wujudnya sebagai Bathara Indra. Bathara Indra sangat bahagia hatinya, karena telah menemukan seorang kesatria berbudi luhur yang akan mampu menghadapi Niwatakawaca, Raksasa Angkara Murka yang mengancam Kahyangan, Istana para Dewa.

Ujian berikutnya adalah Mamang Murka, raksasa utusan Prabu Niwatakawaca yang berwujud babi hutan yang sangat besar menyerangnya dengan ganas. Akhirnya babi hutan tersebut mati dipanah oleh Arjuna. Persoalan timbul, karena babi hutan tersebut mati karena tertancap dua buah anak panah. Ternyata ada seorang kesatria lain yang juga membidikkan anak panah ke babi hutan tersebut. Sudah selayaknya, Arjuna yang sebelumnya bertarung keras penuh luka dengan babi hutan dan akhirnya berhasil membunuh mati hewan tersebut, merasa lebih layak mendapatkannya, dari pada seorang kesatria asing yang langsung memanah babi hutan yang telah lemah tersebut. Untuk menentukan siapa yang berhak atas hewan buruan tersebut sang kesatria mengajak perang tanding, mengadu kesaktian. Akan tetapi, bagi Arjuna, siapapun orangnya yang berhak mendapatkannya bukan menjadi masalah. “Wahai Ksatria, kalau kamu merasa berhak sebagai pembunuh Mamang Murka, dan mau melaporkan ke Kahyangan silakan. Bagiku, ada adharma yang mati sudah memadai, itu bentuk kasihku terhadap kebenaran”. Sang kesatria asing merasa dipermalukan dengan pernyataan Arjuna yang menohok kecongkakannya lalu menyerang Arjuna sehingga terjadilah perang tanding yang luar biasa. Hingga akhirnya baju perang Arjuna hancur, akan tetapi Arjuna berhasil mendekap kedua kaki musuhnya, sehingga musuhnya terjatuh dan perkelahian terhenti. Tiba-tiba kesatria tersebut berubah wujudnya menjadi Bathara Guru. Bathara Guru sangat terkesan atas kerendahan hati Sang Arjuna. Arjuna telah lulus ujian akhir dan oleh Bathara Guru, diberikan hadiah senjata panah sakti bernama “Pasopati”.

Ujian pertama tak ubahnya ujian gemerlapnya dunia. Bidadari adalah lambang nafsu keduniawian. Ironisnya saat ini betapa banyaknya ‘Arjuna wurung’ , atau ‘Arjuna gagal’ yang jatuh karena ujian awal yang biasanya berupa: harta, tahta dan wanita. Ujian kedua selanjutnya adalah bagaimana mengesampingkan ego pribadi.  Orang yang sudah lepas dari ego pribadi berarti dia sudah mampu memimpin diri sendiri, dia akan siap memimpin sekelompok orang, memimpin organisasi, atau bahkan memimpin negara. Dan ujian terakhir adalah Mamang Murka sang raksasa yang berubah wujud menjadi babi hutan, yang sebenarnya tidak lain adalah untuk mengalahkan musuh terbesar dalam hidup, yakni sifat kehewanan dalam diri sendiri.

Arjuna telah melewati berbagai ujian dan mampu berdiri tegak mengatasi tantangan. Atas kegenturan tapa-nya, Arjuna dianggap layak/pantas memperoleh Pasopati, dan bahkan diberikan ganjaran menikahi Bidadari. Maka, dia yang menemukan jati-dirinya, akan dihadiahi alam semesta dengan pemenuhan kebutuhan duniawinya. Temukan Gusti lebih dulu, maka semua akan ditambahkan-Nya.

Semoga kita semua masuk dalam golongan yang “dipantaskan” untuk mendapat segala berkah dan ridho-Nya

PAMOR UDAN MAS, adalah salah satu pamor yang menjadi impian para kolektor dan pecinta keris untuk dimiliki. Sebagian besar diburu karena kepercayaan akan tuahnya (ngalap berkah) yang konon bisa membuat pemiliknya terus diguyur dengan rezeki dan segala kebaikan-kebaikan lainnya.

Apabila kita membuka buku semisal De Kris 2, Magic Relic of Old Indonesia yang ditulis oleh G.J.F.J. Tammens (1993) pada hal 149 mengenai pamor udan mas (golden rain) tertulis:

The pamor Udan Mas is a magnificent pamor, but difficult to describe. Basically it consists of round shapes, made up of circles (at least three). The way they are made an their position on the blade are subject of dispute. Some example are : rings in the middle of the blade, with or without rows of smaller rings; only small rings on either side of the blade; rings appearing in groups of five, as on a dice; rings spread out at random on the blade, large and small ones mixed; flat rings or with a dip, caused by hammer-blows or another such method. Plenty of possibilities to choose from. It’s positive character has made it especially favoured by merchant. It brings wealth. This is why krisses with this pamor motif are expensive and frequently appear as forgeries

Pamor udan mas merupakan salah satu pamor yang mengagumkan, namun agak susah untuk digambarkan. Pada dasarnya tersusun oleh bulatan-bulatan (puseran),  yang masing-masing puseran tersebut terdiri dari lingkaran penyusun lebih kecil (paling sedikit tiga). Cara pamor ini dibuat dan posisi/pola pada bilah seringkali menjadi perdebatan. Beberapa contoh diantaranya :

  1. Letak puseran (besar) berada tepat di tengah bilah, bisa dikelilingi barisan puseran yang lebih kecil, bisa pula tidak.
  2. Hanya berbentuk puseran-puseran kecil pada sepanjang pinggir bilah.
  3. Puseran yang ada membentuk pola group lima-lima, seperti pada dadu.
  4. Puseran menyebar secara acak di permukaan bilah, besar dan kecil bercampur.

Puseran rata dari atas hingga bawah disebabkan oleh tempaan palu atau motode lainnya. Banyak variasi yang bisa dipilih. Karakter positifnya telah membuatnya digemari oleh banyak orang. Dipercaya dapat mendatangkan kekayaan/kemakmuran. Itulah mengapa keris-keris dengan pamor udan mas umumnya mahal dan seringkali menjadi obyek pemalsuan.

Selain Tammens yang mendeskripsikan tak kurang dari 4 varian pamor udan mas, salah satu pendekar besi dari Yogyakarta, Empu Djeno juga pernah menggambar 60 dari 300 model pamor yang dikenalnya, termasuk bentuk pamor udan mas.

PAMOR RAJA TEMENANG, Pamor ini berupa gambaran lingkaran bersusun, seperti lingkaran pamor udan mas, atau lingkaran seperti mata kayu yang berada tepat di tengah gonjo keris, sejajar dengan lubang pesi, dan letaknya harus di kedua sisi, depan maupun belakang. Menurut kepercayaan pamor raja temenang mempunyai tuah yang baik, yakni untuk “memenangkan” segala permasalahan hidup.

CATATAN GRIYOKULO, Secepat mata memandang dhapur Pasopati umumnya orang-orang akan tertuju pada bentuk sekar kacang-nya yang memang jarang dimiliki oleh dhapur keris lain, yakni pogog. Jika kita melihat bentuk sekar kacang keris ini akan terlihat bentuk pogog ngirung buta (besar seperti hidung raksasa). Keunikan lain dari keris ini adalah bidang yang menghubungkan jalen dengan lambe gajah dikreasikan melengkung oleh Sang Empu, juga pada bagian cocor sirah cecak terdapat guratan lancip semacam duri. Bentuk sogokan yang dangkal, terkesan asal jadi, dan ron dha nunut umum ditemukan pada keris-keris Cirebonan. Jika kita menengok ke bagian pesi-nya pun agak tidak lumrah panjangnya (sekitar 7,5 cm) dibandingkan panjang pesi keris umumnya. Bagi sebagian pecinta esoteri justru menyenangi tombak maupun keris yang mempunyai panjang pesi di atas rata-rata, karna dianggap menyimpan tuah tertentu.

Sayangnya pada bagian besi sudah tampak grasak terkorosi, demikian pamornya mulai memudar. Sedikit berbelok, jika ada yang bertanya mengapa korosi semacam ini bisa terjadi?  Maka jawabnya akan didapat dari keyakinan simbah-simbah zaman dahulu yang menganggap keris-keris seperti ini sudah pernah “makan darah”. Walau sebagian orang akan berkeyakinan lain, dimana korosi semacam itu mungkin saja terjadi karna adanya kebiasaan di zaman dahulu yang merawat keris dengan cara yang kurang benar, yakni minyak hanya ditumpahkan pada bagian lubang warangka/wuwungan ganja tanpa menghunus bilahnya. Alhasil jika minyak yang diberikan terlalu kental (seperti misik hitam) mengakibatkan bilah susah tercabut dari warangkanya dan minyak yang disiramkan tadi justru turun dan membasahi bagian bawah gandar, semakin lama semakin membuat lembab, berjamur dan akhir taiyengan. Hal ini semakin diperparah jika pada bagian gandar bawah tidak diberikan lubang kecil untuk tempat keluarnya minyak. Penulis sendiri jika ditanya, lebih memilih mempercayai korosi yang ada lebih disebabkan disebabkan oleh dua faktor, yakni material besinya sendiri yang dipercepat dengan perawatan sebelumnya yang kurang benar/ keris ini telah lama dibiarkan tidak terawat sebagai mana mestinya atau proses pembersihan sebelumnya yang menggunakan cara tidak tepat.

Besi Grasak menurut Kitab Jitapsara juga disebut sebagai besi  Tepel, karna terbuat dari tanah padas. Yang paling menonjol ada warnanya yang hitam dan terkesan kering, Masih menutut Kitab Jitapsara besi grasak akan sangat bagus jika dibuat gegaman, dan diyakini akan menjadi pusaka ampuh. Hanya saja jika pemiliknya tidak dapat mengontrol emosinya akan membuat pemegangnya mudah gelap mata. Jenis besi ini, menurut banyak muncul pada zaman Pajajaran sampai Majapahit. Oleh orang tua zaman dahulu besi grasak sering dianggap besi yang hidup karna mampu menghabiskan banyak minyak sekali kuas. Mungkin hal yang nalar yang bisa menjelaskan adalah umumnya besi grasak mempunyai pori-pori lebar daripada besi yang dianggap pulen, wajar bila minyak mudah terserap masuk ke dalam pori-pori.

Namun apapun itu Pasopati tetaplah Pasopati, sebuah keris pilih tanding di zamannya. Dan udan mas adalah udan mas, seperti air hujan yang banyak dirindu untuk membasahi bumi dan membawa segala keberkahannya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *