Tombak Naga Penganten

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 7.111.111,- (TERMAHAR) Tn. AHP, SCBD Jakarta


1. Kode : GKO-449
2. Dhapur : Naga Penganten
3. Pamor : Mrambut
4. Tangguh : Cirebon (Abad XVIII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 4/MP.TMII/I/2021
6. Asal-usul Pusaka :  Kediri, Jawa Timur
7. Dimensi : panjang bilah 30 cm, panjang pesi 7 cm, panjang total 37 cm
8. Keterangan Lain : sudah dijamas dan diwarangi


ULASAN :

NAGA PENGANTEN, ada yang menyebutnya juga sebagai Naga Sarama adalah salah satu bentuk dhapur keris dan tombak yang cukup populer serta mudah dikenali. Biasanya dhapur ganan naga ini berbentuk lurus, namun adapula yang ber-luk dengan ciri khas bagian sor-soran terdapat bentuk naga saling membelakangi. Pada keris, posisi naga terletak pada bagian gandhik depan dan wadhidang belakang. Sedangkan untuk tombak, kedua naga tersebut terdapat pada sisi kanan dan kiri bilah.

“pasangan penganten nogo iku kanggo patuladhan tumrap pasangan kang awet, yaiku atut runtut, nganti tumeka kaken-kaken inen-inen utawa langgeng lan iso slamet uripe, rezeki tansah sempulur ora kendhat. Tegese menawa gayutane karo bab anak, wong mau bakal diparingi keturunan sing akeh. Amarga yen anake akeh, rezekine ya lir gumanti dadine akeh. Upama bab tetanduran tansah angsal panen hasile awet terus, turah-turah. Uga kanggone wong bebakulan dadi laris lan hasile mengko iso turun-tumurun tekan anak putu.”

“pasangan pengantin nogo merupakan contoh pasangan abadi yang serasi dan harmonis sampai usia senja, bahkan menutup mata. Hidupnya bisa selamat dunia akhirat, rezekinya terus mengalir tanpa henti. Artinya jika berkaitan dengan keturunan, orang tersebut akan diberikan anugerah anak yang banyak. Karena kalau anaknya banyak makanya otomatis rezekinya juga akan bertambah banyak. Atau jika berhubungan dengan tanaman dapat memperoleh hasil sawah/ladang yang berlimpah. Untuk orang yang berdagang dapat sukses/laris, sehingga usahanya dapat diturunkan kepada anak-cucunya.”

FILOSOFI, Sesuai namanya dhapur Naga Penganten atau Naga Sarama berwujud sepasang pengantin naga. Pandangan hidup orang Jawa meyakini konsep adanya dua dunia, yaitu dunia mondial dan dunia transenden, wujud dari sifat lahiriah-fisik, dan batiniah-rohaniah. Naga Penganten tak ubahnya wujud perkawinan kosmis menjadi dwitunggal atau loro-loroning atunggal. Secara kosmogoni manisfetasi bentuk tak terindera menjadi terindera, yang mencerminkan kemanunggalan unsur laki-laki dan perempuan, manusia dan sesamanya, juga manusia dengan Tuhan-nya. Ini artinya bahwa sangkaning dumadi (asal muasal sesuatu atau dunia baru) adalah hasil persatuan dua kosmis yang berbeda, tetapi keduanya saling melengkapi, sebagaimana pula ditemukan dalam berbagai fenomena budaya Jawa yang menunjukkan posisi berpasangan tetapi saling berlawanan.

 

Tak cukup berhenti disitu saja, dalam konsep kepemimpinan Jawa juga dikenal falsafah panunggalan, atau asas manunggaling kawula (rakyat) dengan gusti (pemimpin). Antara rakyat dengan pemimpin haruslah bersatu padu, sinergis dan harmonis agar supaya dapat menciptakan kemakmuran bersama. Masyarakat dan penguasa sesungguhnya adalah pasangan. Jika konsep ini dapat dipahami dan dipegang teguh oleh seorang pemimpin, maka bukanlah mustahil untuk menciptakan suatu negeri yang adil makmur gemah ripah loh jinawi.

PAMOR MRAMBUT, merupakan salah satu motif atau pola gambaran pamor yang bentuknya menyerupai deretan garis yang membujur dari pangkal hingga ujung keris, seperti rambut lurus yang terurai. Seringkali memang garis-garis itu bukan garis yang utuh, melainkan terputus-putus. Tuah pamor ini oleh para pecinta keris adalah untuk menangkal atau menolak bala (halangan), atau sesuatu yang tidak diinginkan. Pamor ini tergolong pamor yang pemilih, sebab tidak setiap orang akan cocok bila memilikinya. Selain itu istilah mrambut juga digunakan untuk menilai besi wasuhan keris. Besi yang mrambut artinya besi itu tampak berserat halus bagaikan rambut. Kesan tersebut bisa dirasakan melalui perabaan maupun melalui penglihatan.

CATATAN GRIYOKULO, meski bisa diklasifikasikan sebagai naga primitifan namun kesan wingit terpancar kuat dari tombak ini ketika dibuka dari tutupnya. Aura wingit ini kemungkinan sangat dipengaruhi oleh karakter besi tombak ini yang cenderung keras membatu, mempresentasikan kekokohan dan ketangguhan. Pada bagian methuk juga cukup unik bentuknya, methuk tinggi dan iras justru lebih banyak ditemui pada tombak-tombak palembang dan sekitarnya. Di atas methuk terdapat bagian runcing seperti duri yang mengarah ke bawah, ricikan semacam ini dinamakan “sungut“.

Keunikan yang lain adalah batas sepuhan (quenching) atau proses pendinginan yang tiba-tiba suatu logam untuk mendapat tingkat kekerasan tertentu, terlihat kentara 1 cm di atas kepala naga hingga ke bagian pucuk bilah. Di masa lalu, penyepuhan adalah sebuah ritual wajib dalam tahap akhir pembuatan sebuah pusaka. Selain untuk mengeraskan bilah, secara spiritual proses ini dipercaya untuk menguatkan esoteri pusaka itu sendiri. Oleh karenanya dikenal beragam teknik penyepuhan dari yang biasa/normal hingga ekstrim, seperti: sepuh dilat (dengan menjilat keris yang sedang panas membara), sepuh akep (keris diletakkan diantara bibir atas dan bibir bawah Empu dan ditiup), sepuh kempit (dilakukan dengan menjepit keris yang sedang membara di ketiak Empu), dan sepuh wadi/sepuh wewadi/sepuh saru, yang biasanya dilakukan secara khusus oleh Empu wanita dimana menjepit bilah yang panas tersebut pada bagian pangkal paha/vitalnya. Agak susah diterima nalar memang.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *