Pasupati

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 8.555.555,- (TERMAHAR) Tn. A, Malaysia


1. Kode : GKO-451
2. Dhapur : Pasupati
3. Pamor : Banyu Mili
4. Tangguh : Mataram (Abad XVII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 151/MP.TMII/I/2021
6. Asal-usul Pusaka :  Nganjuk, Jawa Timur
7. Dimensi : panjang bilah 32,7 cm, panjang pesi  6,5 cm, panjang total 39,2 cm
8. Keterangan Lain : dhapur langka, besi mekangkang lanang?


ULASAN :

PASUPATI, adalah salah satu bentuk dhapur keris lurus yang sangat populer dan banyak dicari oleh kalangan masyarakat perkerisan. Ukuran panjang bilahnya sedang, kontur bilahnya biasanya menampilkan kesan ramping namun agak tebal karena keris ini memakai ada-ada sehingga permukaan bilahnya nggigir sapi. Uniknya, keris ini memakai kembang kacang yang bentuknya berbeda dari kembang kacang keris-keris umumnya, yakni pogog. Selain itu keris Pasupati memakai ricikan lain seperti jalen, lambe gajah (1), tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan dan greneng pada bagian gonjo-nya. Seperti halnya dhapur Naga Sasra. Megantara dan Singa Barong, konon dhapur Pasupati-pun pada zaman dahulu hanya dimiliki oleh orang-orang dengan kedudukan tertentu saja, seperti Senapati. Beberapa pusaka milik keraton Kasultanan Yogyakarta ber-dhapur Pasupati adalah Kanjeng Kiyahi Lindri dan Kanjeng Kiyahi Naga.

Menurut Kitab Pelbagai Pengetahuan Tentang Hal keris yang dimelayukan oleh R. Soedjonoredjo (1937) berdasarkan cerita dan kepercayaan orang Jawa, Prabu Gendroyono di Mamenang Kediri lah yang mula-mula menitahkan membuat senjata sesudah perang Baratayuda. Baginda menitahkan membuat berbagai senjata yang serupa dengan senjata-senjata yang sudah hilang dan terkubur bersama jasad hulubalang dalam perang besar tersebut. Diantara beberapa senjata yang dititahkan oleh Sang Prabu Gendronyono ialah delapan belas (18) bilah keris. Adapun nama bentuk keris-keris itu ialah :

  1. Lar Ngatap
  2. Pasupati
  3. Cundrik
  4. Jalak Dinding
  5. Kalamisani
  6. Balebang
  7. Tilam Upih
  8. Sepang
  9. Sempana Bener
  10. Sempana Luk
  11. Bango Dolog
  12. Santan
  13. Karacan
  14. Bakung
  15. Yuyu Rumpung
  16. Carubuk
  17. Kebo Lajer
  18. dan Singha

Selanjutnya, apabila kita membaca Serat Pustakaraja Purwa diterangkan bahwa dhapur Pasopati bersama dengan patrem, cundrik, lar ngatap serta senjata lain seperti cakra, kunta, katana, cundha, sarata, kalaka, sakri, nagapasa, sanggali, dibabar pertama kali oleh Empu Ramadi yang merupakan Bapak Empu di Tanah Jawa pada masa pemerintahan Sri Paduka Maharaja Budda tahun Jawa 152 di Medhangkamulan, ibukota kerajaan Mataram Kuno (diperkirakan berada di Gunung Lawu), yang pada waktu itu pulau Jawa masih menyatu dengan Sumatra sebelum letusan Gunung Krakatau.

FILOSOFI, Dalam segala kisah heroiknya setiap kesatria pasti memiliki senjata pamungkas. Selain untuk membela diri dari ancaman musuh, senjata tersebut juga digunakan untuk menghadapi lawan, ataupun melindungi mereka yang lemah, tertindas dan terzalimi. Lebih menariknya, dalam hal cara memperoleh senjata pamungkas tersebut, selalu diceritakan pula bahwa jalan yang ditempuh masing-masing kesatriya melalui “rute” yang tak mudah. Ada upaya lahir batin dalam mengatasi rintangan, halangan dan berbagai cobaan sebelum sang kesatriya tersebut “layak” mendapatkannya.

Misalnya untuk mendapatkan pasupati (dalam cerita pewayangan pasupati sebenarnya bukanlah nama dhapur sebuah keris, melainkan sebuah panah sakti yang berbentuk wulan tumanggal/bulan sabit), Arjuna melakukan tapa brata mesu budi sepenuh jiwa di gunung Indrakila. Ketika melihat akan keteguhan hati Arjuna bertapa brata, Batara Indra mencoba menggodanya. Untuk itu maka dikirimnya tujuh bidadari kahyangan terbaik, yakni Dewi Warsiki, Dewi Irimrin, Dewi Tunjungbiru, Dewi Wilutama, Dewi Supraba, Dewi Gagarmayang, dan Dewi Lengleng Mulat untuk menggoda tapa Arjuna. Dalam melaksanakan tapa bratanya, Arjuna sama sekali tidak tergoda akan kemolekan tujuh bidadari tersebut. Kemudian, datang lagi bidadari-bidari yang menyamar menjadi istri-istri Arjuna, seperti Dewi Wara Sembadra, Dewi Wara Srikandi. Niken Larasati, Niken Sulastri, dan tidak lupa Abimanyu yang masih kecil. Dalam ujian-ujian selanjutnya pun Arjuna dapat melewatinya dengan baik. Memang keteguhan hati Arjuna di dalam bertapa brata tidak ada satupun yang dapat menyamainya. Singkat kata, Arjuna mendapat pusaka Pasupati dari Batara Guru seusai lakon Arjuna Wiwaha adalah karena tapa brata yang sempurna di gunung Indrakila.

Dalam kitab epos Mahabharata keampuhan Pasupati ini tergambar melalui duel terakhir dalam perang Bharatayuda untuk menentukan Pandawa atau Kurawa yang berkuasa di tanah Astina. Perang yang berlangsung selama 17 hari sebelumnya harus segera diakhiri. Duel ini menjadi yang paling ditunggu oleh para Dewa sekalipun, pertanda berakhirnya perang besar Bharatayuda Jayabinangun. Arjuna melawan Adipati Karna, Kebaikan melawan Kejahatan. Dan pada akhirnya Pasupati inilah yang mampu mengakhiri perang besar bharatayuda. Adipati Karna gugur terkena Pasupati Arjuna tepat di lehernya.

Sebagai manusia kita harus siap dengan suka duka kehidupan, berani menghadapi berbagai macam ujian maupun masalah, siap berada di atas ataupun di bawah, mengikuti irama hidup. Belajar dari kupu-kupu, yang awalnya hanyalah seekor ulat kecil nan lemah tak berdaya bahkan dianggap menjijikkan kemudian berproses dalam gelapnya kepompong, dengan sabar menyiapkan diri untuk terbang dan menjadi indah. Tuhan memberikan cobaan, halangan, rintangan sejatinya untuk membuat kita menjadi pribadi yang kuat. Terkadang lingkungan sekitar memang lebih banyak tak mendukung dan kerap menghakimi suatu kegagalan, namun kendali ada pada diri kita akankah kita makin terpuruk atau menjadi pemenang. Jika kita menghadapi setiap masalah dengan mengeluh, tak ridho dan tak ikhlas bagaimana bisa menjadi juaranya? Yang terbaik adalah mengikuti alurnya karena menungso ngunu mung sak dermo ngelakoni, manusia hanya sebatas menjalani hidup, kendati demikian bukan berarti hanya bisa pasrah dan diam, adalah butuh perjuangan penuh serta usaha keras untuk meraih takdir terbaik!

Jika ulat berubah menjadi kupu-kupu yang cantik setelah bertapa dalam kepompong, dan kisah Arjuna Wiwaha dalam pewayangan memberikan suri tauladan tirakatnya seorang satriya pilih tanding yang digambarkan sebagai jagoning dewa pujaning dewi, lalu bagaimana kisah kita?

Pasupati adalah lambang ilmu paripurna, simbol kelurusan dan keteguhan hati dalam perjuangan menggapai cita-cita besar

PAMOR BANYU MILI, atau sering disebut iling warih yang secara harfiah berarti air yang mengalir. Merupakan salah satu motif pamor yang bentuk gambarannya menyerupai garis-garis yang membujur dari pangkal bilah hingga ke ujung. Garis-garis pamor itu ada yang utuh, ada yang putus-putus, dan banyak juga yang bercabang. Garis yang berkelok-kelok itu seolah menampilkan kesan mirip gambaran air sedang mengalir.

Tuhan menciptakan air agar manusia bisa mengambil pelajaran darinya. “Hidup yang mengalir seperti air” bukan berarti kita tidak mempunyai arah dan tujuan, atau sekedar berpasrah diri terhadap keadaan. Justru sebaliknya, dengan kita meniru air yang mengalir, kita seharusnya mempunyai visi dalam kehidupan. Hal utama yang patut diteladani dari perjalanan air menuju muara adalah keyakinan dan konsitensinya. Tak peduli seberapa jauh jaraknya dari muara, air pasti akan tiba di sana.

Bagi seorang pemimpin, sifat dari air yang selalu mengalir ke tempat lebih rendah, analog dengan sikap rendah hati yang harus ia miliki. Air selalu ingin berguna bagi makhluk hidup yang ada di bawahnya. Ibarat pemimpin, air adalah sosok pemimpin yang mempunyai jiwa melayani. Saat ia di atas, maka ia akan menjadi pelayan bagi orang-orang yang membutuhkan di bawahnya. Terlebih air identik dengan sumber kehidupan, maka seorang Pemimpin yang memiliki jiwa melayani adalah sumber kesejahteraan bagi masyarakat yang dipimpinnya.

PAMOR RAJA TEMENANG, Pamor ini berupa gambaran lingkaran bersusun, seperti lingkaran pamor udan mas, atau lingkaran seperti mata kayu yang berada tepat di tengah gonjo keris, sejajar dengan lubang pesi, dan letaknya harus di kedua sisi, depan maupun belakang. Menurut kepercayaan pamor raja temenang mempunyai tuah yang baik, yakni untuk “memenangkan” segala permasalahan hidup.

WESI MANGANGKANG LANANG, rupane ireng semu wungu, otote katon wadhag, nanging alus koyo bludru, caritane wesi iku loro lanang wadon, iku asale teko ulo naga kang ana sajroning segara, yen oleh wesi mangangkang lanang wus dadi gagaman, iku luwih dening becik yen ginawa perang ingkang andeleng giris kaya andeleng ula gedhe, ampuhe kaya angilangake getih, didemeni wong akeh, sarta den luluti ing donya, donyane ora kena dialani ing wong, lan dadi panawaning upas wisa iku, ya iku kang dadi pangeraning wesi, yen den thingthing swarane grung, dawa swarane, dene kang dadi pangane, endhasing macan lan balung banyak dibakar winorake lawan warangan, lengane bintoro, lan dhedhes trenggalung (Serat Wesi Aji).

Dinamakan besi Mangangkang Lanang sebab warnanya hitam keunguan. Jika diamati dengan teliti, besi ini seolah mempunyai semacam urat-urat yang kasar namun jika diraba ternyata halus lumer seperti kain bludru. Konon menurut serat-serat kuno besi mangangkang ada dua: yakni mangangkang lanang (laki-laki) dan mangangkang wadon (perempuan). Besi ini diceritakan berasal dari ular naga  yang berada di dasar samudera. Jika mempunya besi mangangkang lanang yang sudah menjadi senjata akan lebih baik jika dibawa ke medan perang sebab musuh yang melihatnya akan ketakutan seperti melihat ular besar. Ampuh juga makan darah, dicintai banyak orang, tidak bisa dicelakai orang. Besi ini dapat pula dijadikan penawar bisa, karna itulah besi mangangkang lanang dinamakan pangerannya besi, apabila disentil suaranya drung bergema panjang. Adapun yang menjadi sesajiannya adalah kepala macan dan tulang angsa yang dibakar kemudian dicampurkan dengan warangan. Minyaknya bintoro dan minyak dhedhes trenggiling.

CATATAN GRIYOKULO, dari segi garap ricikan mungkin pasupati tak serumit sardula mangsah atau se-realis ganan dhapur nagasasra, maupun singo barong. Namun dalam segala kesederhanaannya ricikan yang disandangnya ternyata tak mengurangi kesakralan dhapur pasopati sebagai pusaka pilih tanding di zamannya. Itulah kenapa Penulis sendiri ketika melolos bilah ini dari warangkanya selalu betah untuk memandangnya, ada ketertarikan yang berbeda jika dibandingkan dengan dhapur-dhapur lain. Dalam tafsir/roso keris Pasupati ini seolah menggambarkan kerendahan hati sekaligus kebesaran pemiliknya pada zamannya.

Secara umum bilah masih dalam kondisi terjaga hingga ke bagian pesi masih sangat utuh dan kuat. Perawakan bilah prigel dan manis dengan warna besi bludru berserat, padat, keras, pamornya pandes. Meskipun warangan lama dan belum diwarangi ulang terlihat masih mampu menampilkan kontrasnya besi dan pamor. Karakter keris-keris mataraman terlihat salah satunya pada bagian bebel (atas sogokan) yang terlihat cembung apabila gandhik dihadapkan ke muka. Tantingan keris juga dirasakan sangat ringan dan meskipun sedikit tebal ternyata jika disentil mengeluarkan bunyi yang sangat nyaring. Sebagai sebuah pusaka dengan besi piihan maka keris Pasupati ini layak untuk dijadikan piyandel.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *