Tayuhan Nogo Siluman Primitif

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 7.171.717,- (TERMAHAR) Tn. AHP, SCBD Jakarta


1. Kode : GKO-427
2. Dhapur : Naga Siluman
3. Pamor : Nggajih
4. Tangguh : Pesisiran Cirebon (Abad XVII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 122/MP.TMII/XII/2020
6. Asal-usul Pusaka :  Sukabumi
7. Dimensi : panjang bilah 34,2 cm, panjang pesi  7 cm, panjang total 41,2 cm
8. Keterangan Lain : warangka baru


ULASAN :

NOGO SILUMAN, Secara umum visualiasi dari dhapur ini pada bagian gandhik-nya dipahat/diukir bentuk kepala nogo sebatas leher dengan moncong menganga. Lalu setelah bagian lehernya, badan dari nogo tersebut seolah menghilang, menyatu ke dalam bilah keris. Selain itu ricikan lainnya adalah sraweyan, ri pandan dan/atau greneng.

Penampilan dhapur Nogo Siluman umumnya sederhana dan wingit. Jika ada hiasan paling hanya berupa mut-mutan emas di bagian moncong naga. Kebanyakan pamornya keleng atau hanya tiban,  serta cenderung di-sinengker-kan oleh pemiliknya. Konon Pangeran Diponegoro misalnya, adalah sosok lain yang perjuangannya juga dikaitkan dengan keris pusaka “Kyai Nogo Siloeman”. Pangeran dari Keraton Yogyakarta putera Sultan Hamengkubuwono III itu diceritakan selalu menyelipkan keris (Kyai Nogo Siloeman?) dengan warangka gayaman timoho pelet kendhit di dadanya. Dengan jubah dan surban kiai, keris pusakanya selalu tersengkelit secara jelas.

FILOSOFI, Membicarakan “Nogo” bagaikan berbicara mengenai sesuatu yang ada namun tiada. Sejak zaman dulu kita lebih banyak mengenalnya dalam suguhan dongeng, lukisan, atau gambar, namun hingga saat ini tidak pernah ditemukan bukti-bukti ilmiah dari keberadaan makhluk tersebut. Sebagai makhluk mitologis, sosok ular besar ini bisa digambarkan berbeda-beda dalam tiap budaya. Nogo Jawa biasanya digambarkan dalam figur tampilan visual mengenakan mahkota, badan posisi tegak (seperti huruf S), dan ekor dengan ujung berbentuk kudhup bunga melati. Bagi masyarakat nusantara, nogo dianggap sebagai sosok pelindung atau pengayom, sehingga umum ditemukan dalam pahatan gerbang, pintu masuk, atau undakan tangga dengan maksud melindungi bangunan yang ia tempati.

Dalam cerita pewayangan Jawa, “Nogo” dianggap sebagai bangsa terkuat dan memiliki kebijaksanaan tertinggi pada zamannya sehingga disinggung sebelum peperangan besar Baratayudha bangsa satu ini diharamkan oleh para Dewata ikut campur dalam perang tersebut. Dalam dunia pakeliran disebutkan bahwa para dewa mempunyai skenario bahwa keluarga Bharata (Pandawa dan Kurawa) harus berperang sampai titik darah penghabisan untuk memperebutkan Astinapura. Ini takdir para dewa yang harus terjadi. Karena itu apapun yang menghalangi skenario ini, harus disingkirkan. Menurut para dewa, Antareja salah satu dari tiga Ksatria Pandawa yang pasti akan menggagalkan Bharatayuda. Tidak perlu ada perang tanding selama 18 hari, salah satu anak Pandawa ini dipastikan akan dalam sekejap menumpas Kurawa, sehingga yang akan terjadi adalah penumpasan kilat sekaligus pembunuhan massal, bukan perang dahsyat yang membanjirkan darah di kedua pihak. Sehingga Antareja anak dari Bima yang memiliki darah nogo dari ibunya Nagagini, harus ditiadakan sebagai tumbal sebelum perang berlangsung.

Sedangkan “Siluman”, dalam KBBI Siluman memiliki dua (2) arti. Dalam arti nomina atau kata benda siluman dapat menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan (Siluman berarti makhluk halus yang sering menampakkan diri sebagai manusia atau binatang). Arti dari siluman bisa juga masuk dalam jenis adjektiva atau kiasan sehingga penggunaan siluman bisa bukan dalam arti kata yang sebenarnya, sehingga siluman dapat mengubah kata benda atau kata ganti, dengan menjelaskannya menjadi lebih spesifik (Siluman berarti tersembunyi tidak kelihatan).

Yang membedakan dhapur Nogo Siluman dengan dhapur Nogo yang lain adalah motif nogo tersebut ditampilkan dalam bentuk kepala hingga lehernya saja, tanpa badan. Makna simbolisnya bahwa sebagai seorang pemimpin harus “eling”, karena apa yang ia miliki seperti harta dan tahta adalah sampiraning urip (titipan sementara tidak dibawa mati). Juga sebagai pasemon untuk hidup dengan kerelaan menanggalkan segala keinginan daging.

Dalam diri manusia mengalir hasrat keinginan berupa nafsu yang bertalian dengan tubuh jasmani yang sudah mengakar menjadi semacam ‘candu’. Tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, Keinginan itu begitu memikat hati manusia, sehingga manusia cenderung untuk memenuhi keinginan itu. Kalau seseorang biasa mengumbar jiwanya dengan segala keinginan, maka jiwanya selalu menuntut atau menagih untuk dipuaskan dengan berbagai hal lain. Inilah yang membuat banyak orang tertawan dari keinginan yang satu dan terjerat keinginan lainnya. Bagi seorang insan kamil sudah bisa mencintai Tuhannya maka keduniawian tidaklah menarik lagi.

MOTIF PRIMITIF, istilah nogo primitif  biasanya dipergunakan sebagai istilah keris nogo yang dari segi garapnya dibuat dengan sangat sederhana atau kadangkala abstrak/tidak jelas. Motif pahatan nogo semacam ini biasanya dibuat oleh empu-empu “njobo” atau luar keraton yang kemampuan penguasaan teknologinya masih sederhana. Saking bentuknya yang sederhana tadi  untuk menentukan  nama dhapurnya pun seringkali menemui kesulitan.

Keris Nogo Primitif  ini biasanya ditemukan di desa-desa yang jauh dari lingkungan kota praja (keraton). Disinyalir pemakainyapun adalah masyarakat umum yang status sosialnya tidak begitu tinggi (demang, bekel/kuwu/lurah dsb). Mereka mencoba meniru keris-keris agung yang dimiliki oleh raja atau para bangsawan atau memang dalam pembuatannya sengaja dikhusukan sebagai sipat kandel sehingga tidak terlalu menonjolkan unsur pamer estetika (keris tayuhan).

Penamaan dhapur keris nogo yang menambahkan kata “primitif” di belakangnya biasanya menjadi penanda bahwa keris tersebut dibuat oleh luar tembok istana. Misalnya keris Nogo Siluman Primitif, artinya keris dhapur Nogo Siluman dengan garap sangat sederhana (primitif) sehingga dianggap sebagai karya empu njobo keraton.

TANGGUH PESISIRAN, untuk memahami tangguh pesisiran perlu juga memahami pemetaan variasi regional dari budaya Jawa. Dimana pulau Jawa terbagi menjadi banyak daerah mulai dari barat yakni banten, kemudian sunda, pesisir, di tengah ada bagelen, negarigung, mancanegari, sampai ke timur tanahbrang wetan dan paling ujung adalah blambangan. Sedangkan pesisiran sendiri adalah untuk menyebutkan daerah-daerah di sepanjang pantai utara Jawa, dibagi menjadi dua; yakni pesisir kulon mulai dari Cirebon, Tegal, Pekalongan hingga sekitar Kendal. Kemudian pesisir wetan mulai dari Semarang, Demak terus ke utara, Jepara sampai ke timur di daerah Tuban.

Budaya masyarakat pesisir Jawa dinilai sarat dengan keunikan dan kekhasannya sendiri. Ciri khas budaya pesisiran adalah lugu. Kita bisa melihat dari sifat-sifat umum masyarakat pesisir yang berwatak keras dan lugas, cenderung ceplas-ceplos ketika berbicara, tidak ada yang ditutup-tutupi. Sifat yang lain adalah terbuka dimana keberagaman kehidupannya cenderung akulturatif dan adaptif, ternyata sangat berkaitan dengan kondisi (lingkungan alam berupa pantai terbuka) dan letak geografis posisi-posisi daerah pesisir yang secara geopolitik berjauhan dengan pusat pemerintahan atau kerajaan.

KERIS BUNGKEM WAJA, adalah penamaan untuk keris yang pada bagian sirah cecaknya terbelah tuahnya dipercaya dapat menutup mulut serta merontokkan keberanian musuhnya dalam menggunakan senjata.

CATATAN GRIYOKULO, Sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat perkerisan jika saat ini tidaklah mudah menemukan keris nogo ori sepuh. Aura dan karakter keris tayuhan sangat terasa ketika melolos keris nogo siluman ini dari warangkanya. Kesan lugu khas pesisiran  terbaca dari perwatakan garap naga keris ini, bentuk naga yang sederhana seolah menyiratkan tidak perlu pengakuan status ‘ke-nogo-an-nya’ dari orang lain. Meski secara visual, ukiran ganan nogo pada bilah ini digarap secara sederhana, namun ternyata tidak meninggalkan pakem naga-naga Jawa yang umumnya memakai mahkota dan sumping. Sisik-sisik sang naga pada bagian lehernya juga dipahatkan melalui guratan-guratan dangkal. Terdapat beberapa spot korosi pada luk-nya, namun pada bagian titik jatuhnya panitis (pucuk bilah) masih bisa dikatakan utuh. Besinya terkesan keras, madas agak kering dan cepat menyerap minyak, patut diduga dalam penyepuhannya menggunakan air yang mengandung kadar garam tinggi. Besi yang cepat/boros menyerap minyak (seolah minum atau haus) menurut pitutur orang tua zaman dahulu adalah besi yang ‘hidup’.

Tata pamor yang menghias bilahpun seolah diserahkan “kodratnya” kepada Yang Maha Kuasa terjadinya (Jwalana). Bagi sang pemilik dianggap sudah selesai dengan masalah ‘bungkus’ dengan lebih memilih ‘isi’. Bungkem waja pada bagian sirah cecaknya dianggap sebagai berkah tersendiri sebagai pemberian dari Yang Maha Kuasa. Tidak berlebihan kiranya banyak pujangga mengatakan jika kesederhanaan adalah puncak dari keindahan.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *