Jimatan Semar

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 5.555.555,- (TERMAHAR) Tn. AHP, SCBD Jakarta


1. Kode : GKO-450
2. Dhapur : Jimatan Semar Kuncung
3. Pamor : Kol Buntet
4. Tangguh : Cirebon (Abad XVII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 5/MP.TMII/I/2021
6. Asal-usul Pusaka :  Rawatan/Warisan Turun Temurun
7. Dimensi : panjang bilah 14 cm, panjang pesi 4,7  cm, panjang total 18,7 cm
8. Keterangan Lain :  warangka cemara wangi


ULASAN :

JIMATAN, Berakar dari kepercayaan animisme dan dinamisme warisan nenek moyang berabad-abad lamanya, banyak diantara masyarakat umum yang masih menyimpan beberapa “cekelan” (barang pegangan) yang dianggapnya mempunyai kekuatan magi serta dapat berpengaruh pada kehidupannya. Barang pegangan yang dipercaya sebagai “sarana pengantar” penyelesaian masalah duniawi oleh orang jawa disebut sebagai jimat atau azimat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, jimat atau azimat berarti barang (tulisan) yang dianggap mempunyai kesaktian dan dapat melindungi pemiliknya, digunakan sebagai penangkal penyakit dan sebagainya. Sedangkan dalam jarwo dosok jimat sendiri berasal dari etimologi dalam bahasa Jawa yaitu “Ji” atau siji yang berarti satu dan “mat” atau dirumat bermakna selalu dipelihara atau dijaga.

Hal yang perlu digaris-bawahi disini menurut keyakinan masyarakat Jawa, bahwa tuah yang dihasilkan dari jimat tentunya hanya berasal dari Tuhan semata. Berdasarkan keyakinan tersebut, bahwa bukan karena jimatlah seseorang menjadi selamat, dicintai banyak orang ataupun lancar rezekinya (fungsi jimat tentunya berbeda-beda, tergantung tujuan si penggunanya). Itu semua merupakan berkah yang diberikan oleh Tuhan dan jimat hanya berfungsi sebagai media atau perantara saja.

SEMAR KUNCUNG, bagi masyarakat Jawa meskipun bukan termasuk golongan dhapur tombak maupun keris, jimatan semar yang seringkali hadir dalam bentuk garap sederhana tetaplah dianggap sebuah tosan aji. Karena memang dalam pembuatannya pun melalui proses yang sama dengan keris/tombak/pedang yakni dengan cara tempa lipat memakai bahan besi, baja dan pamor. Salah satu Empu di pulau Jawa yang masih menempa tosan aji dalam bentuk Semar dengan ritual dan tirakat yang cukup ketat adalah Empu Ngadeni yang dijuluki Empu Pungkasan dari Gunung Kidul. Penulis mendengar langsung penuturan beliau untuk membabar Semar justru tidak sembarangan waktunya perlu mendapat wisik lebih dahulu. Demikian pula dengan petung hari tempa, puasa/tirakat, doa dan berbagai sajen yang ada tidak kalah “jangkep” dengan saat membabar keris/tombak pesanan.

Dan jimatan semar sebagai sebuah produk budaya tosan aji ternyata memiliki beberapa bentuk dengan cirinya masing masing. Selain Semar Mesem yang paling populer terdapat pula bentuk “Semar lain” yang tidak kalah pamor, yakni Semar Lungguh dan Semar Kuncung. Jika Semar Mesem berbentuk bulat, lebar dan simetris, mulutnya membuka seolah sedang tersenyum. Dan Semar Lungguh berwujud mirip sosok semar yang tengah lungguh atau duduk bersemedi. Maka sesuai namanya Semar Kuncung identik semar dengan rambut kuncungnya yang panjang.

FILOSOFI, Kuncung Semar terletak di atas dahi, yang merupakan sekelompok rambut yang disisakan dibagian depan kepala ketika rambut dipotong. Lawan kata kuncung adalah gombal yang bagian rambut disisakan pada bagian belakang seperti kepala tokoh punakawan lain, yakni Bagong. Kuncung menggambarkan bahwa setiap manusia akan mengalami penuaan, sehingga manusia harus selalu sadar/memahami dari mana dirinya berasal dan kemana manusia akan kembali nantinya (sangkan paraning dumadi).

Badan Semar digambarkan berbentuk bulat (ngropoh). Ini merupakan simbol dari bumi sebagai tempat manusia tinggal. Semar itu sifatnya abadi karena jika Semar ini tiada, bisa dipastikan bahwa bumi juga akan ikut hancur. Sesungguhnya yang dimaksud Semar di sini adalah bukan tokohnya, akan tetapi sifat atau makna-makna kebaikan yang terkandung di dalamnya.

Selain itu, mulut Semar digambarkan sangat lebar, sebagai simbol untuk tidak pernah jemu menyuarakan kebenaran dan terus mengajak pada hal-hal kebaikan. Dalam bahasa Jawa, mulut biasa juga disebut cangkem yang berarti di cang-cang bari mingkem. Artinya, kita harus senantiasa menjaga mulut kita dari perkataan yang tidak perlu atau tidak baik. Jika sekiranya perkataan itu tidak benar, tidak baik dan akan menyakiti orang lain, maka sebaiknya diam.

PAMOR KOL BUNTET, atau ada yang menyamakan dengan sebutan puser bumi. Nama Kol Buntet diambil dari sejenis kol atau hewan laut semacam keong/kerang. Konon pamor ini diilhami oleh pola  fosil kol, yang pada prosesnya terjadi dari cangkang keong yang telah mati tertimbun tanah selama ratusan tahun. Dalam proses fosilisasi tersebut, cangkang keong lalu terisi dengan pasir, tanah dan juga endapan lumpur sehingga menjadi buntu (buntet) dan keras.

Sedikit berbeda dengan pamor puser bumi yang puserannya lebih mirip dengan pamor udan mas (terdiri dari lingkaran-lingkaran lebih kecil di dalamnya), maka secara visual pamor Kol Buntet bentuk gambarannya menyerupai lingkaran obat nyamuk (spiral circle). Pamor ini umumnya terletak di bagian sor-soran. Namun kadang-kadang ada juga yang di tengah bilah. Kol Buntet merupakan pamor titipan. Jadi pamor itu disusulkan kemudian, tidak bersamaan pembuatannya dengan pamor utamanya. Mereka yang percaya meyakini jika pamor Kol Buntet mempunyai tuah yang baik terutama sebagai media untuk menyelesaikan masalah ketika dianggap sudah buntu atau tak ada jalan keluar. Bentuk Kol Buntet yang buntu/tertutup juga melambangkan perlindungan atau memagari pemiliknya dari bahaya, guna-guna, menghindari fitnah orang lain dan beberapa diantaranya malah diyakini berkaitan dengan kesaktian/kekebalan. Namun begitu, pamor ini bisa dikatakan agak pemilih, meskipun setiap orang dapat memilikinya, namun sebaiknya pemilik keris ini senantiasa menghindari dari perbuatan maksiat, terutama dalam kaitan dengan soal hubungan lawan jenis.

CATATAN GRIYOKULO, hampir 99% jimatan semar yang beredar di pasar rata-rata hanya merupakan  barang ‘kelas koden‘ (dari arti kodian) atau produk yang dijual secara masal untuk keperluan dunia mistik, perdukunan atau segmentasi lain. Bentuknya pun kebanyakan hampir seragam, karena dihasilkan dengan cara dituang dalam cetakan yang sama. Apalagi bermimpi menemukan yang “sepuh”, bisa menemukan jimatan semar yang memang sedari awal dibabar, dalam arti bukan hasil owah-owahan saja atau rombakan tombak dengan ritual ketat selayaknya sebuah tosan aji adalah sebuah keberuntungan tersendiri. Dan keberuntungan ini mungkin saja menjadi jodoh Panjenengan.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *