Brojol Gajah Gelar

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 5.555.555,– Kombes Pol YW, Semarang


1. Kode : GKO-452
2. Dhapur : Brojol
3. Pamor : Gajah Gelar
4. Tangguh : Tuban Era Majapahit (Abad XV)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 199/MP.TMII/I/2021
6. Asal-usul Pusaka :  Pekalongan, Jawa Tengah
7. Dimensi : panjang bilah 29,3 cm, panjang pesi 5,7 cm, panjang total 35 cm
8. Keterangan Lain : pamor langka


ULASAN :

BROJOL, Jika beberapa dhapur keris seringkali ditemukan berbagai bentuk perbedaan mengenai ricikan yang menyertainya, nampaknya mengenai bentuk dhapur brojol semua buku keris, baik serat-serat lama hingga buku-buku baru sepakat menuliskan deskripsi yang sama; brojol adalah sebuah keris lurus yang sangat sederhana, hanya memakai satu (1) buah ricikan saja, yakni pejetan. Selain keris Tilam Upih, brojol adalah salah satu dhapur keris yang juga banyak ditemukan di setiap tangguh/era.

FILOSOFI, Dalam bahasa Jawa “brojol” berarti keluar, yang berhubungan dengan proses kelahiran seorang bayi dari gua garba ibu. Seperti yang kita ketahui bersama, kelahiran merupakan proses dimana seorang ibu memperjuangkan dua nyawa sekaligus, dirinya sendiri dan anak yang dikandung selama sembilan bulan. Seberat apapun proses itu, didalamnya terdapat cinta dan harapan dari seluruh anggota keluarga, harap-harap cemas namun bahagia dalam menanti kelahiran buah hati.

Jabang bayi yang mbrojol dari rahim ibunya adalah suci, dia tidak bisa memilih terlahir dari siapa, misalpun terlahir dari hubungan “tidak sah”, bayi tetaplah suci, ibarat kertas ia masih bersih putih tanpa coretan. Sedangkan hitam putihnya nanti akan sangat tergantung dari orang tuanya atau penulisnya. Ketika bayi lahir saat itulah ia mengenal dunia pertama kalinya, ia diberi wewenang untuk menjalani kehidupan selanjutnya. Ia dihadirkan untuk bisa menjadi “manusia” sampai suatu saat bisa kembali kepada-Nya melalui jalan yang benar. Dari segi pandang lain, Brojol melambangkan awal mula, sebuah titik awal dari perjalanan anak manusia di dunia fana ini.

GAJAH GELAR, adalah salah satu jenis motif pamor yang gambarannya berupa empat hingga lima buah garis lurus yang membujur berjajar dari sor-soran hingga pucuk bilah. Masing masing garis tebalnya 3 sampai 5 mm. Tuahnya dipercaya dapat menambah kewibawaan dan membuat pemiliknya menjadi bertambah kekuasannya. Pamor Gajah Gelar hampir mirip dengan Pamor Janur Sinebit, perbedaannya adalah gambaran garis pamor Janur Sinebit lebih mengumpul di tengah. Dari segi pembuatannya termasuk pamor miring dan langka yang tidak sembarang orang akan cocok bila memilikinya. Mereka yang berprofesi sebagai wakil rakyat atau mereka yang duduk di tampuk pemerintahan hingga perwira polisi atau militer lebih cocok memiliknya.

“Gajah” adalah salah satu hewan yang besar, tinggi, gagah dan kuat yang hidup di dalam hutan. Meskipun kelihatan lamban namun sejatinya gajah dilahirkan dengan ketajaman naluri atau pandai dalam membaca isyarat, cerdas dalam memaknai gelagat yang melebihi hewan-hewan lainnya. Gajah selalu hidup dalam kelompok, biasanya kawanan ini  dipimpin oleh Gajah yang paling dewasa dan paling besar/kuat. Sebagai hewan mamalia besar, gajah memerlukan daya jelajah yang luas. Dalam mencari makan pun mereka selalu bergerombol tidak pernah berpisah. Sehingga kemanapun mereka pergi jejak-jejak yang ditinggalkan akan terlihat, semak-semak hingga tanaman tanaman kecil yang dilaluinya akan rebah diterjang kawanan ini seperti jalan yang terbuka. Mereka merobohkan pohon untuk menyediakan pakan bagi herbivora dan hewan kecil lainnya. Mereka membuang biji dan mikroba saat berjalan untuk menyebarkan dan menyuburkan tanaman di padang sabana. Karena kemampuan spesialnya ini sebelum ada tank hingga truk sebagai alat transportasi, kawanan gajah di zaman dahulu dipergunakan sebagai alat angkut logistik hingga infanteri pembuka. Menurut cerita wayang ringgit purwa, beberapa raja yang memiliki tunggangan gajah adalah Prabu Baladewa dari kerajaan Mandura. Gajah tunggangannya bernama Kyai Puspadenta, warnanya putih. Adapula Ptabu Suyudana yang bertahta di kerjaan Ngastina mempunyai tunggangan gajah bernama Esthitama. Gajah dalam penggambaran kultural telah lama digunakan sebagai inspirasi dalam konsep mitologi, simbolisme, dan agama. Dalam mitologi dan tradisi agama, baik di Asia dan Afrika, gajah digambarkan sebagai simbol kekuatan dan kebijaksanaan.

Sedangkan “Gelar” dalam Kamus Tembung Kawi Mawi Tegesipun (Winter, 1928) memiliki beberapa arti/makna: wontên, gumêlar, tata, tingkah. Maka garis/alur-alur besar yang terdapat dalam pamor Gajah Gelar” ibarat jejak dari pasukan gajah yang digelar untuk menerjang rintangan dan membuka jalan bagi yang lain sekaligus menciptakan jalan perubahan. Bagi pemiliknya pamor Gajah Gelar menggambarkan semangat yang besar, penuh gelora dan tekad bulat untuk mencapai cita-cita. Sekaligus sebuah sifat yang harus diteladani, besar namun tidak sombong.

Apa yang kita lakukan semata-mata untuk diri sendiri, akan terkubur mati bersama kita. Namun perubahan yang kita lakukan untuk orang lain, akan terus hidup kekal abadi

MAS KUMAMBANG, adalah pamor yang terletak di bagian gonjo. Bentuknya merupakan garis mendatar yang berlapis-lapis mirip dengan kue lapis. Jumlah lapisannya pun beragam, ada yang hanya dua atau tiga lapis saja, namun ada pula yang sampai enam bahkan tujuh lapis. Namun jumlah lapisan tersebut tidak berpengaruh pada tuahnya hanya menunjukkan jumlah lipatan pamornya. Pamor Mas Kumambang ini menurut sebagian pecinta keris termasuk baik tuahnya. Pemilik keris dengan ganja semacam ini bisa bergaul baik dengan kalangan atas maupun bawah. Mereka yang dalam pekerjaannya banyak berhubungan dengan orang lain atau pihak ketiga, tidak ada salahnya jika memiliki keris yang gonjo-nya berpamor mas kumambang ini.

CATATAN GRIYOKULO, karena umumnya keris-keris dengan dhapur sederhana memiliki pamor mlumah yang biasa pula, maka melihat sebuah keris ber-dhapur sederhana dengan pamor miring tentunya akan bisa mencuri hati siapapun yang melihatnya. Secara umum keris ini masih cukup terawat. Besinya terasa halus jika diraba. Tantingan sangat ringan, dengan thinthingan bunyi yang sangat nyaring pertanda matang tempa. Meskipun warangan lama masih bisa menampilkan detil yang kontras antara pamor, besi dan slorok bajanya. Apabila dicermati lebih kepada detail bentuk gandhik, penampang gonjo hingga sudut condong leleh akan didapatkan sebuah kesan yang berbeda dengan keris-keris umumnya. Orang-orang zaman dahulu menyebut bentuk perawakan seperti ini dengan “dedegipun sangkuk/wungkuk” yang mirip leher janaka/kresna yang lehernya dibuat rebah/sedikit rebah atau dalam dunia wayang disebut wanda mangu. Mereka yang percaya pada esoteri, keris-keris dengan bentuk yang agak beda/janggal dari yang lain justru malah dianggap “sesuatu”, dulunya adalah pusaka.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *