Sengkelat Banyumasan

Mahar : 4.500.000,-


1. Kode : GKO-439
2. Dhapur : Sengkelat
3. Pamor : Beras Wutah
4. Tangguh : Mataram (Abad XVII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 1136/MP.TMII/XI/2020
6. Asal-usul Pusaka :  Banyumas, Jawa Tengah
7. Dimensi : panjang bilah 35,5 cm, panjang pesi  6,3 cm, panjang total 41,8 cm
8. Keterangan Lain : warangka dusun


ULASAN :

SENGKELAT, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk tiga belas. Sengkelat memakai kembang kacang; lambe gajah-nya hanya satu. Selain itu ricikan lainnya adalah sogokan rangkap, sraweyan, ri pandan, greneng, dan kruwingan. Keris dhapur Sengkelat menjadi salah satu dhapur klangenan Pecinta Tosan Aji. Ada beberapa pusaka milik keraton Kasultanan Yogyakarta yang juga berdhapur Sengkelat. Keris-keris itu adalah KK Laken Manik, KK Naga Puspita, KK Tejokusumo.

SENGKELAT dan POLITIK, Menurut kepercayaan orang Jawa dan masih lestari mengakar hingga kini, seorang pemimpin tidak akan kuat lama menduduki kursinya bila tanpa didukung piandel yang cukup. Sejauh mana kebenaran dari kepercayaan ini? Bagi kebanyakan masyarakat di Indonesia, khususnya Jawa, hal ini bukan sesuatu yang saru lagi. Kepercayaan yang tidak diketahui sejak kapan bermula itu dianggap suatu keharusan yang tidak tertulis dan menjadi rahasia umum bagi setiap pemimpin bila tak ingin tahtanya segera jatuh. Bukan hanya cerita para raja dan sultan di masa lalu, tetapi para elit politik sekarang pun masih banyak yang mempercayai kekuatan atau tuah pusaka-pusaka sakti dengan berbagai bentuknya. Banyak yang meyakini, salah satu pusaka yang cocok mendampingi dan bisa membantu kelanggengan kekuasaan adalah Keris berdhapur Sengkelat. Tak heran, meski zaman digital dimana semua ada dalam satu genggaman jari, masih  ba­nyak tokoh politik yang datang ke orang pintar demi memburu pusaka ini dengan biaya, syarat, dan resiko apapun.

Kepopuleran Sengkelat memang tak lepas dari latar belakang politik yang kental, terutama dalam hubungannya dengan pudarnya sang Surya Majapahit di masa silam. Dalam riwayatnya yang diceritakan dalam berbagai babad, ada 2 (dua) versi menceritakan; versi pertama bahwa keris dhapur Sengkelat dipesan kepada Mpu Supo oleh Sunan Ampel dan versi kedua dipesan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Konon bahan untuk membuat Kyai Sengkelat adalah cis, sebuah besi runcing untuk menggiring onta milik Nabi. Namun sang mpu merasa sayang jika besi tosan aji ini dijadikan pedang (versi kedua = pangot sejenis pisau), maka dibuatlah menjadi sebilah keris luk tiga belas. Sang Sunan menjadi kecewa karena tidak sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Menurutnya, keris merupakan budaya Jawa yang berbau Hindu, seharusnya besi itu dijadikan pedang yang lebih cocok dengan budaya Arab, tempat asal agama Islam. Maka oleh Sang Sunan disarankan agar Kyai Sengkelat diserahkan kepada Prabu Brawijaya V. Ketika Prabu Brawijaya V menerima keris tersebut, sang Prabu menjadi sangat kagum akan keindahan keris Kyai Sengkelat. Dan akhirnya keris tersebut menjadi salah satu piyandel kerajaan yang mampu mengalahkan keris condong campur sekaligus menyingkirkan pagebluk yang melanda nagari.

FILOSOFI, Sengkelat ibarat Semar, sosok Punakawan yang merupakan hasil modifikasi Sunan Kalijaga dan tidak ditemukan dalam cerita Ramayana dan Mahabarata. Sosok yang merangkum seluruhnya. Semar itu  dewa sekaligus wong cilik. Jika ditarik garis, Semar bagaikan garis melingkar. Di atas sebagai dewa, di bawah sebagai wong cilik. Sengkelat adalah simbol berjuang bersama “wong cilik”. Wong cilik adalah istilah bahasa Jawa, yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia secara literal berarti orang kecil. Istilah ini tentu bukan secara fisik, tetapi merupakan bahasa kiasan untuk menggambarkan kaum ekonomi lemah, orang-orang yang berpendapatan rendah, bekerja di sektor informal, dan mungkin juga tidak sempat mengenyam pendidikan dengan tingkat yang lebih tinggi. Tetapi mereka harus tetap bekerja untuk mempertahankan hidup mereka, untuk menghidupi keluarga hingga mempertahankan agar dapur tetap berasap. Tuntutan hidup tersebut membuat mereka harus mau bekerja sesuai dengan kemampuan apapun yang mereka miliki.

Cap sebagai “wong cilik” bukan sebagai alasan ongklak-angklik (bermalas-malasan atau santai). Nasib seseorang ditentukan bukan semata-mata karena nasab (keturunan atau silsilah keluarga), melainkan oleh kasab (usaha dan prestasi kerja). Seperti catur pion walaupun paling kecil langkahnya namun tidak pernah mundur, akan terus maju berjuang. Ini adalah karakter sesungguhnya dari wong cilik. Dan jika “wong cilik” merupakan representatif dari rakyat, maka sebagai pemimpin yang harus diingat adalah suara rakyat adalah juga suara Tuhan.

PAMOR BERAS WUTAH, disebut demikian karena gambaran pamor yang ada menyerupai beras yang tumpah tercecer. Namun jika kita renungkan bersama, sebutir beras akan memiliki sebuah cerita tersendiri yang bisa kita ambil sebagai sebuah pelajaran hidup. Semua dimulai dari tanaman padi. Yang dipanen oleh para petani setelah menguning, dan dipukuli ke sebuah papan agar bulir-bulir padi itu bisa jatuh (rontok) dan dikumpulkan. Bulir-bulir padi yang rontok tersebut, akan dibawa dan ditaruh kedalam sebuah lesung untuk sekali lagi, dipukuli oleh alu-alu. Bulir-bulir padi ini akan lepas dari kulitnya dan akan berubah menjadi butir-butir beras. Setelah itu, semua itu akan dikumpulkan, dikarungi dan dijual sebagai beras siap masak.

Mari kita bayangkan jika beras itu adalah jati diri kita masing-masing. Dimulai dari awal pertumbuhan. Pada saatnya akan ‘menguning’-matang dengan seiiringnya waktu. Pematangan ini pun tergantung dari kondisi tanah, yang bisa kita artikan kondisi lingkungan di mana kita tumbuh. Namun satu hal yang pasti, jika memang bibit padi itu adalah bibit unggul, maka ia pun akan tumbuh dengan baik.

Setelah ‘matang’ maka kepribadian beras itu diuji. Dibanting dari batang utamanya, seperti saat sebagai taruna atau sebagai seorang individu, ‘dilepas’ untuk merantau di dunia nyata. Setelah kita semua ‘lepas’ dari batang utama kita, yaitu orang tua kita, maka kita dihentak, di’alu’ oleh kenyataan dunia. Setelah bulir-bulir padi itu lepas dari sekamnya, semua karakter sesungguhnya dan apapun yang menutupi jati diri kita yang sebenarnya akan ‘terkupas’ dan menunjukkan apa buah atau inti sebenarnya.

CATATAN GRIYOKULO, sebagai salah satu dhapur klangenan para kolektor, keris Sengkelat dalam koleksi katalog Griyokulo bisa dikatakan dhapur keris yang paling banyak ditampilkan pada web. Jika dihitung mungkin sudah puluhan pusaka ber-dhapur Sengkelat yang sudah berpindah tangan kepada tuan barunya baik melalui pemaharan langsung (offline) maupun online.

Langgam/style/gaya yang ada pada keris Sengkelat ini apabila dilihat dengan seksama tergolong agak sedikit berbeda dengan keris-keris Mataram umumnya. Yang paling kentara adalah pamornya yang cenderung ngapas atau tidak seterang pamor Mataram. Perbedaan yang lain juga terlihat pada bagian pejetan/blumbangan, dimana pada era Mataram umumnya berbentuk persegi, sedangkan gandhik dan pejetan/blumbangan pada keris ini terlihat tinggi. Demikian pula pada bagian sogokan depan belakang yang tampak dangkal dengan janur yang tidak tajam. Hal lain yang bisa dicermati adalah pada area beberapa mili di atas sogokan yang disebut bebel untuk keris Mataram biasanya akan tampak lebih cembung daripada area lain, ternyata tidak berlaku pada keris ini. Justru keris-keris dengan langgam/gaya seperti ini biasanya dikatakan tangguh Banyumasan. Terlebih hal ini dikuatkan berdasarkan tangguh geografi keris ini terakhir dijumpai atau ditemukan berada di daerah Banyumas Jawa Tengah.

Melihat bentuk sekar kacang serta posisi jalen dan lambe gajah-nya yang berada agak di tengah gandhik, odo-odo di tengah bilah dan kruwingan yang hanya sampai pada luk ketiga untuk kemudian hilang, dan semakin didukung oleh tantingan yang terbilang super ringan, sangat dimungkinkan jika keris Sengkelat ini berasal dari era sezaman Panembahan Senopati atau era-era Mataram awal. Untuk sandangan yang ada masih menggunakan warangka ladrang bawaan sebelumnya yang masih cukup layak dipertahankan.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *