Kujang Pakarang

Mahar : 2.950.000,-


1. Kode : GKO-436
2. Dhapur : Kujang Pakarang (Congkrang?)
3. Pamor : Mrambut
4. Tangguh : Cirebon (Abad XVIII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 949/MP.TMII/IX/2020
6. Asal-usul Pusaka :  Ciamis, Jawa Barat
7. Dimensi : panjang bilah 33,2 cm, panjang pesi  7,3 cm, panjang total 40,5 cm
8. Keterangan Lain : sudah dijamas dan diwarangi


ULASAN :

KUJANG PAKARANG, adalah kujang dengan fungsi sebagai senjata, bukan dimaksudkan sebagai senjata “ofensif” untuk menyerang, tetapi hanya untuk “defensif” mempertahankan diri (bela diri) di kala keadaan sangat terpaksa. Sebagai pakarang memenuhi dua fungsi yakni fungsi peperangan dan fungsi pertanian.

CONGKRANG, Bentuknya seperti sabit hanya saja bagian tajamnya lebih panjang. Besarnya seperti golok, namun ujungnya bengkok. Fungsinya sebagai pembuka lahan. Pada saat membersihkan semak-semak dalam upaya membuka lahan, selain membawa congkrang juga membawa sabit, parang, golok, kored, cangkul serta alat-alat yang sekiranya yang dibutuhkan .

Sunda Pajajaran lain mudu pinter perang tapi mudu pinter diperang” Pakujajar Majajaran

FILOSOFI, kalimat di atas adalah gambaran dari DNA atau karakter rakyat Pajajaran dan keturunannya dahulu kala yang bukan mesti pandai berperang, tapi mesti pandai di kala diperangi. Pernyataan ini terbukti pula, bahwa dalam seluruh cerita pantun, ataupun catatan sejarah dimana tidak ada satu pun kisah yang memberitakan Kerajaan Pajajaran menyerang atau menaklukan kerajaan lain, kecuali malah digempur negara lain.

CATATAN GRIYOKULO, jika umumnya kujang pakarang/congkrang bentuknya menyerupai kaki congcorang atau belalang sembah maka pakarang yang satu ini justru lebih memiliki kedekatan morfologi dengan cangak. Kekhasan cangak terlihat melalui surai jambul di kepalanya. Banyaknya jumlah Cangak merupakan indikator gemah ripah loh jinawi dalam bentuk ketersedian pangan, yaitu ikan dan kualitas air di suatu wilayah tersebut. Melihat kecantikan, dan sifat-sifat unggul burung satu ini dalam hubungannya dengan alam  membuat Empu-empu zaman dahulu terinspirasi membuat sebuah pusaka dengan role model burung cangak.

Bentuknya yang cantik menjadikannya lebih pantas dipusakakan daripada sebagai perkakas harian. Sarangka-nya juga unik, mengambil bentuk salah satu dari sembilan punakawan dari Cirebon, yakni Cungkring.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *