Tombak Mastaka

Mahar : 5.555.555,-


1. Kode : GKO-437
2. Dhapur : Mastaka
3. Pamor : Keleng
4. Tangguh : Madura (Abad XX)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 950/MP.TMII/IX/2020
6. Asal-usul Pusaka :  Bumi Jawa, Tegal
7. Dimensi : panjang bilah 22 cm, panjang pesi 9,3 cm, panjang total 31,3 cm
8. Keterangan Lain : dhapur tombak langka


ULASAN :

MASTAKA, dalam buku“Kagungan Dalem Buku Gambar Dhapuripun Dhuwung Saha Waos (1920)” mastaka adalah salah satu bentuk dhapur tombak lurus. Bentuk tombak ini cukup unik karena memiliki semacam hiasan di bagian sor-soran, ada yang berbentuk blorong, makutha/pucuk masjid kuno, hingga ada pula yang berbentuk semacam kelopak bunga (orang menamakannya wijaya kusuma). Demikian pula bentuk penampang bilahnya, agak berbeda dengan jenis-jenis tombak biasanya karena berbentuk persegi seperti hal nya cipiran.

Apabila kita berkunjung ke Museum Radya Pustaka di Surakarta, maka kita akan dapat melihat berbagai macam tombak, beberapa diantaranya mirip dengan mastaka namun diberikan label nama dhapur lain, yakni Kunta.

FILOSOFI, “mastaka” kadang diucapkan “mustaka” atau “mestaka” adalah serapan dari Bahasa Sansekerta yang dalam Bausastra Jawa (Poerwadarminta, 1939) paling tidak memiliki beberapa arti, yakni: 1. pucuk, puncak; 2. makutha; 3. êndhas; 4. êndhas-êndhasan (pucuking) mêsjid. Di masa lalu tombak dhapur mastaka dipasang atau diletakkan pada ujung landeyan atau bagian pucuk dari bendera (umbul-umbul) kerajaan. Penamaan dhapur Mastaka ini sangat dimungkinkan berhubungan dengan letak tombak itu sendiri yang selalu berada di atas kepala dan simbolis kehadirannya sebagai pelengkap atribut kebesaran raja atau kerajaan.

Hampir serupa dengan tombak menur (tombak yang menjadi isian payung songsong), di kalangan para pemburu esoteri yang berikhtiar “ngalap berkah” dari berbagai benda/pusaka mempercayai jika tombak mastaka memiliki “grade” atau derajat supranatural khusus. Pada zaman dahulu tombak mastaka bukan untuk dimiliki pribadi/perorangan namun menjadi inventaris/milik keraton/raja. Maka oleh mereka, memiliki satu tombak mastaka dianggap sama dengan memiliki puluhan bahkan ratusan pusaka paling ampuh. Tidaklah mengherankan apabila sampai saat ini belum tentu semua orang bisa kadunungan mendapatkannya, karena secara logika memang seharusnya tombak mastaka ini tidak akan banyak jumlahnya.

PERUBAHAN FORMAT SURAT KETERANGAN, sehubungan dengan masa berakhirnya tugas Haji Duduh Hidayat sebagai kurator pada tanggal 31 Agustus 2020 kemarin, maka sertifikasi yang dikeluarkan oleh Museum Pusaka mulai bulan September ini mengalami sedikit perubahan. Adapun perubahan yang dimaksud adalah mengenai bentuk tanda tangan: dimana jika sebelumnya menggunakan 2 (dua) tanda tangan (kurator dan kepala museum), maka “sementara” untuk saat ini hanya akan menggunakan 1 (satu) tanda tangan saja, yakni Kepala Museum.

CATATAN GRIYOKULO, Jika membaca apa yang tertulis pada Surat Keterangan disebutkan bahwa pamor tombak mastaka ini adalah keleng. Namun apabila kita perhatikan lebih seksama, meskipun tombak ini belum diwarangi ulang terdapat pula alur-alur pamor, terutama di bagian sor-soran sekitar bagian methuk kelopak bunga. Selanjutnya, apabila kita lepas bagian hulu/landeyan-nya, model pesi pada tombak ini cenderung persegi. Secara teknis dan ergonomi bentuk pesi persegi cenderung akan lebih “mengunci” posisi bilah pada landeyan, menjadikannya tidak mudah “muntir” atau bergeser kedudukannya saat terkena hentakan yang keras.

Sedangkan warangka yang ada masih menggunakan sandangan dusun sebelumnya yang tidak jelas modelnya. Jika nantinya sandangan tombak ini diganti dengan model tongkat komando maupun sken akan sangat mendongkrak wibawa.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *