Sempana Luk Hemet

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 4.499.999,- (TERMAHAR) Tn. A, Malaysia


1. Kode : GKO-438
2. Dhapur : Sempana
3. Pamor : Ngulit Semangka
4. Tangguh : Cirebon Awal (Abad XV)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 954/MP.TMII/IX/2020
6. Asal-usul Pusaka :  Pangandaran, Jawa Barat
7. Dimensi : panjang bilah 34 cm, panjang pesi 6,5 cm, panjang total 40,5 cm
8. Keterangan Lain : warangka dusun


ULASAN :

SEMPANA, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk sembilan, yang tergolong sederhana. Keris ini hanya memakai kembang kacang, lambe gajah-nya satu dan greneng. Ricikan lainnya tidak ada. Walaupun sederhana penampilannya, Sempana termasuk dhapur keris yang populer dan sering dijumpai.

Menariknya, dari beberapa pusaka kagungan ndalem Kasultanan Kasepuhan Cirebon yang menjadi ageman aktif Alm Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arif Natadiningrat salah satunya adalah Sempana Luk 9 dengan kinatah. Keris ini memakai model warangka gayaman dari kayu timoho (digebeg tanpa diplitur) dengan hulu tunggak semi mataraman, yang agak berbeda dengan sandangan Cirebon lainnya (tidak dihitamkan). Pusaka ini disimpan dan dipamerkan di Museum Keraton Kasepuhan Cirebon (berpasangan dengan cangak lihat foto di atas).

MAKNA LUK SEMBILAN, Jika kita mencermati jumlah luk pada keris dari beberapa tangguh, akan kita dapati bahwa ada tangguh tertentu yang diyakini oleh banyak kalangan perkerisan hanya dibabar dengan jumlah maksimal luk sebanyak 9 (sembilan). Hal ini umumnya bisa kita ketemui pada keris dari tangguh Kulonan misalnya. Keris-keris tua yang diperkirakan berasal dari Kulonan seperti Pajajaran dan Segaluh jarang sekali ditemui berlekuk lebih dari sembilan dan biasanya juga tanpa sogokan.

Mengapa demikian? Pertama yang diyakini adalah, dalam ajaran Jati Sunda dikenal adanya proses kehidupan manusia yang harus melalui sembilan mandala sejak di dunia fana dan alam baka. Kesembilan mandala yang harus dilalui manusia tersebut adalah (naik secara vertikal): Mandala Kasungka, Mandala Parmana, Mandala Karna, Mandala Rasa, Mandala Seba, Mandala Suda, Jati Mandala, Mandala Samar dan Mandala Agung. Sejak dari Jati Mandala maka wilayah tersebut sudah termasuk Mandala Kasucian, tempat berdiamnya para Karuhun (leluhur) yang sudah mencapai alam kasucian. Dengan demikian keris yang memiliki luk berjumlah 9 (sembilan) adalah merupakan pengejawantahan cita-cita bagi urang Sunda buhun jika meninggalkan alam dunya yakni “balik ka Hyang lain ka Dewa”. Jika roh manusia telah selesai menjalankan tugas hidup dan kehidupannya di Buana Panca Tengah, maka sukma harus kembali ke Buana Nyungcung (Tuhan YME). Namun yang menentukan tempat seseorang sesudah kematian adalah sikap, perilaku, dan perbuatan selama hidup di Buana Panca Tengah.

Kedua, angka hanya ada 9, sebab angka 10 dan seterusnya adalah angka perpaduan. Maka, apabila menilik pada jumlah angka dasar yang ada (0-9), angka 9 (sembilan) memiliki nilai yang paling tinggi. Tak heran bila angka tersebut sering disebut sebagai simbol kesempurnaan sekaligus dimaknai dengan kerahasiaan. 9 (sembilan) adalah batas kemampuan dan penalaran pikiran manusia, sebab setelah sembilan akan kembali 0 (kosong), lalu mulai lagi dengan hitungan awal pertama atau satu (1).

LUK HEMET, adalah salah satu ragam bentuk luk keris, atau tombak. Luk yang Hemet adalah lekukannya sangat samar, sehingga sekilas lebih mirip dengan dhapur leres (lurus) daripada dhapur luk. Luk hemet hampir serupa dengan luk kemba, namun luk hemet lekukannya tampak lebih tidak begitu nyata dibandingkan luk kemba. Lawan dari luk kemba/hemet ini adalah luk rengkol atau luk yang lekukannya sangat dalam, sehingga tampak lebih nyata berkelak-kelok. Karakter luk dalam suatu keris atau tombak termasuk sangat vital dan menentukan suatu tangguh. Misalnya jika suatu keris luknya hemet, mungkin keris itu tergolong keris kulonan; dan hampir dipastikan bukan tangguh Pengging.

TANGGUH CIREBON AWAL, Keris-keris tua yang diperkirakan berasal dari Cirebon umumnya dibagi dalam tiga periode, yakni era Cirebon Awal (dimulai dari era Sunan Gunung Jati hingga Panembahan Ratu II), Cirebon Madya/Tengah (era Sultan Sepuh I sampai Sultan Sepuh IV dan Cirebon Akhir (Sultan Sepuh V hingga Sultan Sepuh VIII). Jika keris-keris yang berasal dari era Cirebon Madya dan Cirebon Akhir banyak dipengaruhi gaya keris Mataram, maka keris-keris yang diperkirakan berasal dari periode Cirebon Awal masih banyak membawa pasikutan (langgam/gaya) leluhurnya yakni keris-keris Pajajaran. Dimana yang paling kentara adalah bentuk luk-nya yang kemba dan hemet (samar atau samun). Karakter pamornya juga banyak didominasi tampilan pamor yang ngapas dan nggajih. Bagi sebagian orang, kekhasan lainnya adalah bentuk greneng yang cukup bisa dibedakan dengan greneng mataraman. Keris-keris tangguh Cirebon Awal memang lebih ditujukan sebagai pusaka tayuhan yang lebih mengutamakan daya yoni/taksu, sesuai aliran keagamaan pada masa itu yang lebih ke arah tasawuf dan lahirnya tarekat Satariyah.

PAMOR NGULIT SEMANGKA, disebut demikian karena pamor yang dibuat oleh sang Empu mirip sekali dengan corak pada kulit buah semangka, yakni berupa beberapa garis lengkung dari bentuk garis lengkung terkecil kemudian melebar dengan lengkungan yang membesar, menunjukkan gerak yang teratur harmonis.

Buah semangka adalah salah satu buah yang digemari oleh Kanjeng Nabi. Dan apabila kita renungkan lebih dalam, buah semangka mencerminkan kepribadian seseorang yang rendah hati dan tidak sombong. Sikap “humble” ini disimbolkan dengan batangnya yang tumbuh merambat di permukaan tanah. Dalam 1 pohon/tanaman hanya terdapat 1-2 buah semangka saja, seolah hendak mengajarkan untuk selalu fokus memberikan yang terbaik. Buahnya besar dan rasanya menyegarkan, menggambarkan bahwa orang tersebut hidupnya penuh dengan manfaat bagi orang lain atau lingkungannya. Buah semangka juga menunjukan kedamaian bagi orang lain dengan warna kulitnya yang hijau meski di dalamnya berwarna merah, yang bisa diartikan sebagai bentuk nafsu amarah. Artinya kita harus pandai dalam menjaga hati, jangan sampai amarah kita merugikan diri kita apalagi merugikan orang lain dan menjadikan banyak musuh.

PERUBAHAN FORMAT SURAT KETERANGAN, sehubungan dengan masa berakhirnya tugas Haji Duduh Hidayat sebagai kurator pada tanggal 31 Agustus 2020 kemarin, maka sertifikasi yang dikeluarkan oleh Museum Pusaka mulai bulan September ini mengalami sedikit perubahan. Adapun perubahan yang dimaksud adalah mengenai bentuk tanda tangan: dimana jika sebelumnya menggunakan 2 (dua) tanda tangan (kurator dan kepala museum), maka “sementara” untuk saat ini hanya akan menggunakan 1 (satu) tanda tangan saja, yakni Kepala Museum.

CATATAN GRIYOKULO, Bagi mereka yang menggemari esoteri sebuah pusaka, keris-keris kulonan dengan jumlah luk sembilan seperti dhapur Sempana seringkali dicari untuk dijadikan pusaka ageman pribadi. Keris-keris sepuh kulonan memang dipercaya banyak kalangan memiliki bobot spiritual khusus, tak ketinggalan juga keindahannya tersendiri.

Apabila dicermati karakter keris Pajajaran masih terbawa pada keris Sempana ini, seperti pada bentuk luk-nya yang hemet, karakter pamor yang ngajih namun tidak terlalu putih terang, serta condong leleh sekitar 84 derajad, sehingga pawakan-nya terasa  tegak. Terdapat sedikit korosi alami karena faktor usia yang tidak bisa dilawan. Adalah kewajaran pula jika bagian yang terkena sepuh (quenching) biasanya akan tampak lebih ngrekes pinggir bilahnya. Dan penyepuhan ini adalah salah satu indikator yang bisa digunakan untuk membedakan keris buatan lama dengan keris buatan baru (pada bagian yang disepuh biasanya saat diputihkan akan terlihat lebih hitam dan susah diputihkan, demikian pula besinya biasanya lebih berpori atau ngrekes). Karena proses penyepuhan sang Empu jua lah yang menjadikan bilah keris Sempana ini akan sangat nyaring bunyinya ketika disentil menggunakan ujung jari.

Dan secara keseluruhan bilah keris Sempana ini masih terbilang cukup utuh mulai dari pangkal pesi hingga ujung panitis yang memang sudah seharusnya akan sedikit jatuh ke depan. Jika waramgka yang ada diganti sarangka dan garan Cirebonan tentu lebih asyikkk.

 Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *