Tombak Tayuhan Raja Suleman

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar :?,-(TERMAHAR) Tn. AHP, Gatsu – Jakarta


1. Kode : GKO-433
2. Dhapur : Sigar Jantung
3. Pamor : Wengkon Isen (Raja Sulaiman), Kalacakra tiban?
4. Tangguh : Madura (Abad XVIII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 743/MP.TMII/VIII/2020
6. Asal-usul Pusaka :  Rawatan/warisan turun temurun
7. Dimensi : panjang bilah 25 cm, panjang pesi  12,5 cm, panjang total 37,5 cm
8. Keterangan Lain : rajanya pamor


ULASAN :

PUSAKA TAYUHAN, merupakan sebutan bagi keris, tombak, dan tosan aji lain yang dalam pembuatannya lebih mementingkan soal esoteri daripada keindahan garap, pemilihan bahan besi baja atau pembuatan pola pamornya, hingga masalah sandangan sekalipun. Di balik kesederhanaannya, pusaka semacam itu biasanya mempunyai perbawa tersendiri, seperti kesan wingit, angker, memancarkan kesan magis dan ada kalanya nggegirisi (menakutkan). Walaupun sisi keindahan tidak dinomorsatukan, jenis-jenis pusaka tayuhan tetaplah memiliki kharismanya tersendiri karena pembuatnya adalah juga seorang Empu dengan persyaratan laku tertentu pula. Dan sebagai seorang yang dianggap pinunjul di masyarakat tentu saja karya-karya yang dihadirkan akan mempunyai bobot spiritual tersendiri.

SIGAR JANTUNG, merupakan nama dhapur tombak lurus, lebar dan pipih. Bentuknya mirip belahan jantung pisang. Tombak ini sederhana sekali, tanpa ada-ada, tanpa bungkul. Diduga tombak ini secara praktis dibuat bukan untuk senjata fungsional, melainkan sebagai benda pusaka yang diharapkan tuahnya.

Selain menjadi nama dhapur tombak. Sigar Jantung juga merupakan nama dhapur keris lurus yang sangat langka. Ukuran bilahnya pendek, lebar dan lurus; bagian tengah bilah bentuknya seperti jantung pisang, gandik-nya tipis, pejetan-nya sempit, dan biasanya memakai gonjo iras.

FILOSOFI, dinamakan Sigar Jantung karena bentuknya memang seperti jantung pisang yang dibelah tepat di tengahnya menjadi dua (sigar, Jw). Jantung Pisang (tuntut, Jw) merupakan bunga pisang yang akan bertukar menjadi buah pisang apabila masak. Dari jantung inilah muncul setiap tahap sisir buah pisang. Sebelum buah pisang (muda) muncul, terlebih dahulu dibungkus dengan semacam kulit yang berwarna merah. Dan nantinya, kulit tersebut akan membuka dan memperlihatkan bakal buah pisang yang masih kecil dan berwarna hijau. Dan ujung dari tandan buah pisang yang tidak akan menjadi buah pisang lagi inilah yang banyak diambil dan dimanfaatkan orang sebagai bahan masakan.

Mengapa jantung pisang sampai mengilhami para Empu zaman dahulu untuk kemudian melekatkan simbol-simbol alam itu di dalam berbagai karya mereka, diantaranya pada keris maupun tombak? Jantung pisang boleh dikatakan simbol kehidupan. Bunga pisang adalah lambang dari jantung. Ibarat tubuh, iman adalah jantungnya. Ketika jantung tidak berfungsi lagi maka tubuh pun akan mati. Ketika iman tidak ada lagi di dalam hati, maka apa gunanya hidup ini?

PAMOR RADJA SOELEMAN, tahukah Panjenenengan sekalian? Jika kita membuka literatur lama mengenai pamor dari babon asli Surakarta, ternyata ditemukan hal yang cukup mengagetkan. Dimana dituliskan bahwa pamor yang paling “mahal” harganya salah satunya adalah Raja Sulaiman, bukan pamor miring seperti yang kita kenal selama ini, semisal blarak sineret, ron genduru, sekar mayang dan pamor sejenisnya.

Selanjutnya, jika kita membuka lebih dalam buku Pamor Duwung ada juga pamor Gaibulguyup yang memiliki mahar 100 negara sama dengan Raja Suleman. Di bawahnya ada pamor Gur, harganya 1 negara. Namun, mengenai “harga pamor” ini adapula sutresna keris yang berpendapat bahwa nilai/harga (100 negara) bukan merujuk makna secara denotasi melainkan lebih kepada sebuah perlambang, artinya yang berhak mendapat pamor seperti itu tadi hanya orang-orang yang terpilih atau mendapat wahyu. Atau bisa pula pamor ini sangat pemilih, tidak setiap orang akan cocok.

pamor duwung, babon asli saking surakarta stoomdrukkerij de bliksem 1937

Berikut adalah petikan dari serat pamor duwung (1937) :

Yen ono pamor mangkene roepane iki, diarani pamor Radja Soeleman, regane satoes negara, sapa sang nganggo barang karepe katekan, lan kena ginawe toembal lelara, yen digawe perang bisa ngaling-ngalingi kang nganggo, lan diwedeni setan, lan ora kena dialani.

Yang apabila diterjemahkan dalam bahasa indonesia kurang lebihnya sebagai berikut :

Jika ada pamor yang bentuknya seperti (bintang lima) ini dinamakan pamor Raja Sulaeman, maharnya 100 negara, siapa yang menyimpan atau memakainya (semua) hal atau keinginannya akan tercapai, dan bisa dijadikan tumbal sakit penyakit, jika dibawa untuk berperang bisa melindungi (marabahaya) pemakainya, (terlebih lagi) ditakuti oleh (golongan) setan atau lelembut, juga tidak bisa dijahati (orang lain)

Maka bisa dipahami mengapa di kalangan para “pemburu esoteri” pamor ini duduk dalam jajaran kasta istimewa sebagai rajanya pamor. Sebab, siapa yang tak mengenal Nabi Sulaiman (Raja Salomo)? yang bisa dikatakan sebagai satu-satunya raja yang paling kaya dan manusia berhikmat (bijaksana) di zamannya.

PAMOR WENGKON ISEN, wengkon adalah pamor yang bentuknya  menyerupai garis yang membingkai sepanjang sisi pinggir bilah. Sedangkan isen dalam bahasa Jawa artinya adalah isian. Maksud pamor wengkon isen adalah bentuk pamor wengkon yang mempunyai isian pamor lain di dalamnya. Tuah pamor wengkon isen kira-kira hampir sama dengan pamor wengkon, yang merupakan wujud doa dan harapan akan tidak ada bahaya, tidak ada masalah dan tidak ada halangan (siro winengku, nir ing sambekolo).

PAMOR KALACAKRA TIBAN, pamor kalacakra berbeda dengan rajah kalacakra. Jika rajah kalacakra bentuknya menyerupai binatang kalajengking dan roda cakra, maka pada pamor kalacakra bentuknya menyerupai huruf X dengan bulatan di tengah sebagai titik temu dua garis yang bersilangan. Tergolong pamor yang langka atau jarang terdapat. Tuahnya dipercaya untuk penguasaan wilayah, kestabilan kekuasaan, kewibawaan dan kepemimpinan. Baik sekali dimiliki oleh tokoh masyarakat, pemimpin partai maupun pimpinan pemerintahan. Dipercaya dapat pula sebagai sarana penolak guna-guna.

CATATAN GRIYOKULO, dengan membaca pola pamor yang terdapat pada tombak ini seolah tuah atau daya magis yang diharapkan dari sebuah tombak dengan kategori “pusaka” sudah jangkep (lengkap). Adalah dipercaya merupakan kumpulan dari semua hal-hal baik, mulai dari dibebaskan dari segala rintangan dan godaan (wengkon), segala keinginan ijabah, hingga tak hanya disegani oleh manusia, namun ditakuti pula oleh golongan jin/setan (raja sulaiman). Belum lagi soal “pagar diri/gaib” yang dapat membalikkan hal-hal yang sifatnya tidak baik ke asalnya, serupa dengan rajah yang cukup terkenal, yakni rajah kalacakra. Dan ketika disandangkan ke dalam warangka sken menjadikannya semakin mudah untuk dapat disengkelit oleh pemiliknya kemanapun sebagai “piyandel”.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *