Sabuk Inten Senopaten

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 5.111.111,- (TERMAHAR) Tn. AHP, BSD City


1. Kode : GKO-435
2. Dhapur : Sabuk Inten
3. Pamor : Beras Wutah
4. Tangguh : Mataram Senopaten (Abad XV)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 948/MP.TMII/IX/2020
6. Asal-usul Pusaka :  Buluspesantren, Kebumen
7. Dimensi : panjang bilah 33.5 cm, panjang pesi 6,5 cm, panjang total 40 cm
8. Keterangan Lain : pendok perak, warangan lama


ULASAN :

SABUK INTEN, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk sebelas. Keris ini memakai kembang kacang, jalen, lambe gajah, sogokan rangkap, tikel alis, sraweyan, dan ri pandan atau greneng. Menurut Serat Centhini bersama dengan dhapur Katga, Nagasasra, Buto Ijo dan Menjarang (Mendarang), keris Sabuk Inten pertama kali dibabar oleh 800 Empu (Dhomas) pada masa pemerintahan Prabu Brawijaya wekasan (akhir) tahun Jawa 1381.

FILOSOFI, Nama Dhapur Sabuk Inten menjadi semakin terkenal sejak tahun 1970-an, karena disebut-sebut dalam buku cerita silat Jawa berjudul ‘Nagasasra Sabuk Inten‘, karya S.H Mintardja. Dua keris ini disebut-sebut sebagai warisan zaman Majapahit. Keduanya bahkan sering disebut dalam satu rangkaian Nogososro-Sabuk Inten. Tak lain karena kedua keris ini diyakini sebagai sepasang lambang karahayon atau kemakmuran sebuah kerajaan. Nogososro mewakili wahyu keprabon yang hilang dari tahta Demak dan Sabuk Inten mewakili kemuliaan dan kejayaannya. Naga Sasra Sabuk Inten bukan sekedar pusaka berwujud keris, tetapi sebuah lambang kehidupan pengembaraan manusia yang memburu kesempurnaan sejati dalam kehidupan di dunia.

Selain itu, dengan mendengar nama keris Sabuk Inten kita juga akan langsung terngiang dengan pusaka KK Bontit kebesaran Kadipaten Pakualaman, pasangan “sejiwa” KK Kopek berdhapur Jalak Sangu Tumpeng milik Sultan HB yang bertahta. Sepanjang sejarah Kadipaten Pakualaman, bertahtanya Adipati Paku Alam yang baru selalu ditandai dengan penyematan Kangjeng Kiai Bonthit. Keris Kangjeng Kyai Bontit ini memang bukan keris sembarangan, keris ini selalu menjadi simbol penguasa Kadipaten Pakualaman. Kisahnya bisa dirunut jauh hingga masa berkuasanya Mangkubumi yang kemudian menjadi Hamengku Buwono I. Menjelang akhir masa kepemimpinannya, HB I mewariskan dua keris pusaka pada dua anaknya. Keris Kiai Kopek diserahkan kepada HB II (Sultan Sepuh) sementara keris pendamping Kiai Kopek, Kiai Bontit diserahkan kepada pangeran Notokusumo yang kemudian menjadi Adipati Paku Alam I. Saat itu HB I berpesan kepada kedua anak kesayangannya untuk saling mendukung. Kasultanan Yogyakarta tak akan bisa berdaulat tanpa dukungan Pakualaman. Begitu pula sebaliknya, kadipaten Pakualaman tak akan ada tanpa Kasultanan Yogyakarta. “Karena itulah namanya Kiai Bontit, karena berarti menjadi pendukung dari belakang.

Dhapur Sabuk-intên ika | maknanipun sosotya luwih adi | murade atinirèku | dene ta rahsanira | kamulyaning manungsèku tinartamtu | kudu anganggo sarengat | tatakrama kang prêmati ||

Menurut Serat Centhini bentuk Sabuk Inten artinya adalah permata yang sangat indah, maksudnya adalah hati manusia sendiri. Adapun rahasia maknanya adalah bahwa kemuliaan manusia itu sudah ditentukan, tinggal meraihnya saja dengan cara memperhatikan tata krama (norma dan moral) yang berlaku.

Sabuk Inten mengingatkan pemiliknya untuk senantiasa hidup dalam kesadaran, bahwa hidup adalah (se) welas atau belas kasih Tuhan YME, lingkungan dan orang tua. Oleh karena itu manusia perlu juga memancarkan belas kasih dari Sang Pencipta kepada sesamanya. Berdasar pemahaman ilmu tanda (semiotik) manusia yang mampu menjadikan belas kasih sebagai sabuk kehidupan, maka ia akan berhasil menempuh kehidupan. Luk sebelas pada intinya juga merupakan lambang kedinamisan dan semangat pantang menyerah untuk menggapai tujuan.

TANGGUH MATARAM SENOPATEN, menurut Buku Keris & Tombak Jawa Dwipa (Sugiri Suganda, 2012) secara umum adalah sebagai berikut:

  • Tanting : enteng, ringan
  • Besi : kebanyakan ngrekes, beberapa ada yang halus
  • Pamor : agak banyak
  • Baja : tebal tipisnya cukup, sepuhan cukupan sebatas wadidang
  • Bilah : cukupan
  • Gonjo : nyecak nyander, tetapi tidak terlalu nglempreh
  • Gandik : agak tipis, sekar kacang juga kecil dan tipis
  • Pejetan : tidak terlalu dalam, wangunnya persegi
  • Sogokan : dangkal agak sempit, panjang sogokan sempit
  • Ada-ada : hanya sampai lu ke-3 habis
  • Kruwingan : sama, diatas luk ke-3 cuma samar-samar saja
  • Luk : kemba sedikit
  • Wedidang : mblancir

PAMOR BERAS WUTAH, Sederhananya, keris tak jauh dari kebiasaan masyarakat Jawa yang gemar mendoakan anak keturunannya supaya bahagia. Dengan begitu, dapat dipahami bahwa keris merupakan sebuah wujud untaian doa, baik dari si pemesan maupun dari laku sang empu yang membuat. Doa itulah yang sebetulnya perlu dilestarikan, karena doa yang paling ampuh sekalipun tidak akan jatuh dari langit.

Gambaran motif pamor yang menyerupai tebaran butiran beras yang tumpah (tercecer) ini mengandung sebuah doa; “Mbesuk anak putuku aja sampe nemu sengsara sebagaimana yang kami alami. Hidup bahagialah kalian, dengan beras yang berkecukupan, sehingga diistilahkan ‘mawur-mawur‘ (wutah atau tumpah) menandakan kehidupan yang gemah ripah loh jinawi (makmur penuh berkah).

GONJO WULUNG, adalah sebutan bagi gonjo yang sama sekali tidak berpamor. Maka yang terlihat hanya besi/baja-nya saja yang berwarna hitam (klawu, Jw). Kebanyakan keris dengan gonjo wulung berasal dari tangguh Mataram, khususnya Mataram Sultan Agung. Banyak pendapat yang mencoba memberi penjelasan mengapa sebuah keris yang bilahya berpamor bagus, tetapi bagian gonjo-nya dibuat bercorak wulung:

  1. Pertama, ada yang berpendapat bahwa keris itu adalah “keris bagus luar dan dalam” yang kemudian dibuatkan putran. Agar kesinambungan dari kekuatan abstrak kedua keris terus terjaga, maka ganja dari keris yang asli diambil untuk ikut dilebur bersama bahan material logam lainnya yang telah disiapkan untuk membuat bilah keris baru. Sedangkan keris asli yang dibuatkan putran-nya tadi, dibuatkan ganja baru, yakni ganja wulung untuk meningkatkan kembali isoteri.
  2. Kedua, gonjo polos juga sering digunakan untuk menutupi kepusakaan keris tersebut, agar pada saat disarungkan ke dalam warangka ciri motif/pamor tidak “terbaca” dari luar. “Pager” perlindungan demikian dimaksudkan agar keris yang bermutu dan dipercayai memiliki angsar yang baik, tidak mudah dideteksi lawan, atau diincar oleh mereka yang memiliki niatan jahat untuk mencuri, juga untuk menghindar dari incaran raja dan keluarganya (yang pada jaman dahulu tidak segan-segan untuk mengambil keris yang baik milik kawula-nya jika memang menginginkannya).
  3. Ketiga, gonjo susulan juga banyak digunakan untuk kepentingan penggantian terhadap ganja yang sudah ada, baik karena ganja yang lama sudah rusak atau cacat, hilang, atau memang pemilik keris berkeinginan untuk mengganti dengan yang baru. Meski dapat saja pemilik keris menggantikannya dengan gonjo yang lebih bagus, seperti dengan hiasan kinatah emas, namun untuk kasus penggantian gonjo yang rusak atau cacat, menurut kebiasan yang berlaku dulu, pemilik keris akan membuat gonjo baru yang bercorak wulung. Dengan gonjo polos semacam itu orang akan mengetahui bahwa keris telah kehilangan gonjo asli dan kemudian oleh pemiliknya dibuatkan sebuah gonjo yang baru.
  4. Keempat, sengaja dibuat karena pertimbangan estetika. Bilah yang berpamor ramai atau kontras, memang akan berpenampilan lebih indah disandingkan dengan gonjo wulung agar keindahan pamor berfokus pada bilah itu sendiri.

PERUBAHAN FORMAT SURAT KETERANGAN, sehubungan dengan masa berakhirnya tugas Haji Duduh Hidayat sebagai kurator pada tanggal 31 Agustus 2020 kemarin, maka sertifikasi yang dikeluarkan oleh Museum Pusaka mulai bulan September ini mengalami sedikit perubahan. Adapun perubahan yang dimaksud adalah mengenai bentuk tanda tangan: dimana jika sebelumnya menggunakan 2 (dua) tanda tangan (kurator dan kepala museum), maka “sementara” untuk saat ini hanya akan menggunakan 1 (satu) tanda tangan saja, yakni Kepala Museum.

CATATAN GRIYOKULO, Meskipun Sabuk Inten bukan merupakan salah satu dhapur keris yang sulit ditemukan, namun untuk mencari dan mendapatkan keris Sabuk Inten yang “nyess” di hati juga membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Griyokulo pun dalam tahun 2020 ini belum sekalipun memaharkan dhapur Sabuk Inten, bahkan terakhir memaharkan dhapur Sabuk Inten di bulan Februari 2019.

 Secara keseluruhan keris ini masih terbilang cukup utuh, apalagi dengan menilik perkiraan tangguh pembuatannya di zaman Panembahan Senopati. Bentuk sekar kacang ngecambah aking yang ada masih bisa dikatakan “nggelung” dengan sempurna tanpa terputus ujungnya. Karna banyak pula model kembang kacang seperti ini yang telah pugut lalu dikatakan kembang kacang nguku bima. Kecantikan ini diimbangi pula dengan lambe gajah dan jalen yang lancip seperti miji puh. Bahkan, sang Empu seolah ingin membuat klimaks penampilannya dengan imbangan cocor sirah cecak yang sedikit runcing ditarik ke depan (nyathis, Jw), yang tidak banyak dilihat pada keris-keris umumnya. Berpadu dengan gonjo wulung asli bawaannya (bukan ganten) menambah kesan penampilan yang kalem dan prasaja namun miyayeni. Ternyata tidak harus berhiaskan pamor miring yang rumit dan kompleks agar sebuah pusaka terlihat luwes atau cantik. Dengan pamor biasa pun, asal ricikan digarap dengan tegas dan baik akan mampu mewujudkan pusaka dengan kelas berbeda.

Jika diminyaki keris ini akan tampak wingit, sedangkan saat kering atau tidak basah oleh minyak besi slorok-nya akan terlihat kehijau-hijauan juga bagian gonjo wulung-nya. Untuk sandangannya sendiri meskipun lawasan tetap tak terlihat ketinggalan zaman, sayang jika harus dipurnatugaskan. Terlebih deder/ukiran blimbingan gaya Bagelen atau Banyumasan sudah langka. Semakin spesial karena didapatkan dari salah satu pondok pesantren di daerah Kebumen, Jawa Tengah.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *