Jaran Guyang TUS

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 7.000.000,- (TERMAHAR) Tn. AHP, Gatsu – Jakarta


  1. Kode : GKO-430
  2. Dhapur : Jaran Guyang
  3. Pamor : Beras Wutah Malela
  4. Tangguh : Cirebon (Abad XVIII)
  5. Sertifikasi No : 629/MP.TMII/VII/2020
  6. Asal-usul Pusaka : Bandung
  7. Dimensi : panjang bilah 39,7 cm, panjang pesi 7 cm, panjang total 46,7 cm
  8. Keterangan Lain : warangka sandang walikat kayu cemara wangi

Ulasan :

JARAN GUYANG, merupakan salah satu bentuk dhapur keris luk tujuh. Ukuran panjang dan lebar keris normal. Bilahnya nglimpa. Gandik-nya lugas tanpa sekar kacang dan cenderung tipis, menggunakan ricikan lainnya berupa blumbangan dan tingil, atau terkadang tidak memakai tingil, melainkan ri pandan atau greneng wurung. Ciri khas lainnya adalah bentuk blumbangan yang samar memanjang ke atas.

Meski Jaran Guyang bukan termasuk keris yang menggunakan ricikan yang kompleks namun sebenarnya dhapur satu ini termasuk agak jarang ditemui. Terlebih yang sedari awal memang dibabar sebagai dhapur Jaran Guyang, bukan hasil owahan keris lurus yang diluk tujuh kemudian menjadi dhapur Jaran Guyang.

Sebagian masyarakat perkerisan mempercayai bahwa keris dhapur Jaran Guyang cocok bagi mereka yang gemar berpetualang untuk menaklukkan hati para wanita. Konon sejak ratusan tahun yang lalu sudah lekat dengan kultur masyarakat, terutama pedesaan, dari ujung barat hingga ujung timur pulau Jawa mantra ajian pengikat kuno, Jaran Goyang sebagai ilmu pengasihan tingkat tinggi, karena tidak hanya sanggup menundukkan sukma orang yang dituju tapi juga sanggup mempengaruhi nafsu birahi orang yang dituju.  Oleh sebab amat dahsyatnya dampak dari Ilmu pelet ini banyak yang melarang dalam penggunaannya terkecuali ditekadkan sebagai pasangan sehidup semati serta bukan main-main. Anda boleh percaya boleh tidak, namun faktanya hal ini memang menjadi salah satu kekayaan khasanah budaya tanah air. Saat ini mereka yang menjalani Jaran Goyang sudah semakin berkurang karena kecenderungan manusia modern saat ini yang pragmatik dan materialistis. Memiliki kemapanan, banyak kekayaan, akan terlihat lebih nalar untuk memikat lawan jenis ketimbang bersusah payah menjalani laku mistik Jaran Goyang. Namun demam lagu Jaran Goyang yang dibawakan oleh pedangdut Nella Kharisma seolah mengajak ‘mengingat’ dan mengangkat pamor Jaran Guyang kembali. Benarkah demikian? mari kita tilik filosofi sebenarnya.

FILOSOFI, Kuda mempunyai kualitas yang berbeda dari hewan peliharaan lain dan berperan dalam semua kebudayaan di dunia. Kuda berhubungan dengan bangsawan dan para dewa. Kuda merupakan hewan yang kuat dan cerdas, mempunyai semangat tinggi dimana cenderung mewakili spirit dan passion terkait motivasi dalam hidup. Kuda menjadi simbol khas yang mewakili kekuatan fisik, psikologis, vitalitas dan emosional. Kuda di dalam ta’birnya adalah martabat dan kehormatan seorang laki-laki, kejayaannya, kekuasaannya dan kemuliaannya.

Jaran (kuda) Guyang (dimandikan) atau kurang lebih artinya kuda yang (sedang) dimandikan. Dahulu kuda-kuda lebih banyak dimandikan dan diberikan minum di sungai-sungai atau sumber-sumber air yang airnya relatif masih jernih bebas polutan. Untuk dapat memandikan mamalia tersebut, pemiliknya harus turun lebih dahulu ke tepian tempat dimana kuda akan dimandikan sehingga pemilik dan kudanya ‘sama-sama basah’. Dengan cara tersebut hewan mamalia ini akan ‘menurut’ saja ketika tali kekangnya ditarik ke dalam sungai oleh pemiliknya. Kuda peliharaan tidak akan mau mencebur begitu saja dengan cara menghalaunya ke dalam air. Pada saat dimandikan kuda seringkali bergoyang dengan gerakan seperti mundur yang melintang. Mungkin karena hal itulah terjadi deviasi nama dari ‘guyang‘ menjadi ‘goyang‘.

Memandikan (mengguyang) kuda bukan sekadar untuk mempercantik dan mengharumkan kuda. Memandikan kuda berarti melakukan ritual mensucikan diri. Mensucikan diri berarti membersihkan diri jiwa dan raga. Harapannya ketika kuda selesai diguyang, maka si pemilik bisa mendapatkan spirit baru dalam kehidupannya. Pemilik dan kudanya (yang memiliki jumlah kaki empat) merupakan simbol dari seorang manusia yang harus mampu mengendalikan empat (4) hawa nafsunya, yakni napsu amarah, nafsu aluwamah/lawwamah, napsu supiyah, dan nafsu mutmainah.

PAMOR BERAS WUTAH, adalah gambaran motif pamor yang menyerupai tebaran butiran beras yang tumpah (tercecer). Mengandung sebuah doa; “Mbesuk anak putuku aja sampe nemu sengsara sebagaimana yang kami alami. Hidup bahagialah kalian, dengan beras yang berkecukupan, sehingga diistilahkan ‘mawur-mawur‘ (wutah atau tumpah) menandakan kehidupan yang gemah ripah loh jinawi (makmur penuh berkah).

CATATAN GRIYOKULO, Style keris-keris yang berasal dari kulonan (Jawa Barat) sangat terasa pada keris Jaran Guyang ini. Mulai dari ukuran-nya, luk-nya hingga ricikan-nya, seperti ron dha nunut yang banyak terselip di keris-keris kulonan. Keris-keris dengan panjang lebih dari 39 cm di daerah Jawa Tengah maupun Jawa Timur biasa disebut keris corok, namun di daerah Cirebonan dan Jawa Barat keris dengan ukuran corok seperti itu justru bisa dikatakan umum. Terlebih keris-keris Cirebon memang lebih ditujukan sebagai pusaka tayuhan yang lebih mengutamakan daya yoni/taksu, sesuai aliran keagamaan pada masa itu yang lebih ke arah tasawuf dan lahirnya tarekat Satariyah.

Besinya khas dengan masih tingginya kandungan besi “malela” dan memiliki tampilan bahan pamor yang berkerlip-kelip, berkesan ngapas atau kurang cerah yang kadang menyulitkan pembacaan pamor-nya. Meskipun secara keseluruhan masih terlihat sangat utuh, sangat mungkin pula jika keris ini dibuat pada era/abad yang lebih tua daripada yang diperkirakan atau tertulis di Surat Keterangan.

Karena warangka bawaan sebelumnya sudah dalam kondisi rusak parah hingga tak bisa terselamatkan lagi, terpaksa sandangan kami buatkan baru berupa sandang walikat dan hulu keris model wayang yang terbuat dari kayu Cemara Wangi (Renthes) hasil tebangan sendiri. Tidak semua pohon Cemara kayunya wangi memang, hanya sedikit atau jenis tertentu saja. Kayu Cemara wangi mungkin bisa dijadikan alternatif pengganti kayu Cendana wangi Tim-tim, khususnya dari segi value money. Terbukti mampu menyebarkan aroma wangi yang menyejukkan hati, sekaligus ampuh merawat bilah keris Jaran Guyang ini yang dicoba untuk tidak diminyaki, tetap tidak taiyengan (tidak berkarat).

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *