Keris Tayuhan Raja Sulaiman

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : ?,- (TERMAHAR) Tn. AP, Senen, Jakarta Pusat


1. Kode : GKO-370
2. Dhapur : Brojol
3. Pamor : Nunggak Semi+Ngulit Semangka+Raja Sulaiman
4. Tangguh : Madura  (Abad XVIII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 762/MP.TMII/VII/2019
6. Asal-usul Pusaka :  Jakarta
7. Dimensi : panjang bilah 35,5 cm, panjang pesi 7,5  cm, panjang total 43 cm
8. Keterangan Lain : rajanya pamor


ULASAN :

KERIS TAYUHAN, merupakan sebutan bagi keris yang dalam pembuatannya lebih mementingkan soal esoteri daripada keindahan garap, pemilihan bahan besi dan pembuatan pamornya. Keris semacam itu biasanya mempunyai kesan wingit, angker, memancarkan kesan magis dan ada kalanya nggegirisi (menakutkan).

Walaupun sisi keindahan tidak dinomorsatukan, keris tayuhan tetaplah memiliki kharismanya tersendiri karena pembuatnya adalah juga seorang Empu, dan sebagai seorang yang dianggap pinunjul di masyarakat tentu saja karya-karya yang dihadirkan akan mempunyai bobot spiritual tersendiri. Patut diketahui bahwa keris-keris pusaka milik keraton, baik di Yogyakarta maupun di Surakarta, pada umumnya adalah jenis pusaka tayuhan. Dhapur keris tayuhan juga biasanya memiliki bentuk ricikan sederhana, misalnya brojol, tilam upih, jalak sangu tumpeng, atau dhapur lain, dan bukanlah jenis dhapur yang mewah dengan tambahan ornamen/hiasan kinatah emas yang rumit atau bermacam-macam. Di kalangan masyarakat perkerisan, keris Tayuhan juga bukan termasuk keris yang mudah diperlihatkan kepada orang lain, apalagi dengan tujuan untuk pamer ego (kebanggaan), namun lebih bersifat pribadi (sinengker). Keris tayuhan biasanya disimpan dalam kamar pribadi dan hanya dikeluarkan jika akan dijamas seperti misal saat bulan Suro.

TAYUHANperbedaan keris ageman dan tayuhan (sumber : Ensiklopedi Keris hal 466 )

BROJOL, adalah salah satu dhapur keris lurus yang paling banyak dijumpai dan mudah dikenali bentuknya, karena hanya memiliki 1 (satu) kelengkapan ricikan saja yang menyertainya yakni: pejetan, selain itu tidak ada ricikan lainnya lagi. Menurut mitos/dongeng keris dhapur brojol bersama dengan dhapur betok dibabar oleh mpu Windusarpa pada masa pemerintahan Nata Prabu Kudalaleyan, tahun jawa 1170.

FILOSOFI, (m)brojol adalah suatu istilah atau terminologi jawa sering dipergunakan untuk mengungkapkan peristiwa lahirnya jabang bayi ke dunia (hijrah dari alam rahim ke alam dunia). Maka sudah sepantasnya kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena telah dilahirkan sebagai manusia. Makhluk yang Dia ciptakan dan siapkan sebagai pemimpin bumi ini dengan segala isinya. Sehingga Dia sempurnakan manusia itu dengan dua kelebihan utama (akal dan hati) yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya.

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu.” (QS. Adz Dzariyat: 56). Namun kenyataannya banyak manusia yang lupa pada tujuan hidup dan tujuan penciptaan dirinya. Mereka kehilangan arah saat menjalani kehidupan dunianya. Mereka gagal memaknai fitrahnya. Sehingga manusia banyak yang terjerumus dalam kehidupan yang bertolak-belakang dengan maksud Tuhan menciptakan mereka dengan melakukan kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah.

Sebagaimana makna dari “hijrah” itu sendiri adalah kembali kepada fitrah (keadaan asal ketika seorang manusia diciptakan). Manusia terlahir dalam keadaan suci, bersih dan tanpa dosa. Seorang anak yang dilahirkan ke dunia tidak membawa apa-apa, tapi justru membutuhkan pertolongan orang lain (bidan, dokter, dukun bayi). Lalu mengapa engkau tidak melihat betapa lemahnya dirimu? Layakkah kita sebagai manusia untuk sombong?

Seseorang yang kembali kepada fitrahnya, mempunyai makna ia mencari kesucian dan pencerahan. Berusaha menjadi jiwa yang tidak terjerat oleh duniawi dan sanggup melepaskan segala macam penyakit hati (dendam, rasa benci, iri dengki, sombong, fitnah dll). Sehingga terhindar dari sifat merasa diri kita lebih baik, lebih hebat, lebih suci, sedangkan orang lain tidaklah lebih tinggi daripada kita. Sebuah proses untuk kembali menempuh jalan lurus sebagaimana pada saat ia baru dilahirkan ke dunia serta kembali kepada tujuan pertama hidup manusia, yaitu untuk beribadah menyembah Sang Penciptanya.

Maka pesan luhur yang hendak dititipkan oleh sang empu melalui dhapur brojol adalah supaya setiap orang diingatkan untuk kembali kepada fitrahnya sebagai manusia. Makhluk istimewa yang sengaja diciptakan dan disiapkan oleh Tuhan untuk menjadi khalifah di muka bumi. Untuk itu manusia perlu kembali kepada fitrahnya (lahir baru/hijrah), memutus dosa-dosa lama dan tak jemu untuk terus-menerus dalam hayat berproses untuk memperbaiki diri, memperbaiki cara berpikir, dan memperbaiki cara berucap serta bersikap.

MAS KUMAMBANG, adalah pamor yang terletak di bagian gonjo. Bentuknya merupakan garis mendatar yang berlapis-lapis mirip dengan kue lapis. Jumlah lapisannya pun beragam, ada yang hanya dua atau tiga lapis saja, namun ada pula yang sampai enam bahkan tujuh lapis. Namun jumlah lapisan tersebut tidak berpengaruh pada tuahnya hanya menunjukkan jumlah lipatan pamornya. Pamor Mas Kumambang ini menurut sebagian pecinta keris termasuk baik tuahnya. Pemilik keris dengan ganja semacam ini bisa bergaul baik dengan kalangan atas maupun bawah. Mereka yang dalam pekerjaannya banyak berhubungan dengan orang lain atau pihak ketiga, dianjurkan memiliki keris yang gonjo-nya berpamor mas kumambang ini.

PAMOR RAJA SULAIMAN, apabila kita membuka buku-buku perkerisan khususnya mengenai hal ikhwal pamor terdapat perbedaan bentuk mengenai pamor Raja Sulaiman ini. Pada buku-buku perkerisan yang baru seperti Ensiklopedi Keris (2004) bentuk dari pamor Raja Sulaiman digambarkan berupa bintang bersudut enam (6) mirip lambang orang Yahudi yang kini menjadi bendera Israel. Masih menurut buku yang sama, letaknya pamor ini tepat di tengah sor-soran, dengan jarak 1 – 2,5 cm dari garis/batas gonjo atas. Pamor ini termasuk pamor titipan/ceblokan yang disusulkan setelah keris selesai dibuat. Tuah/angsar pamor Raja Sulaiman merupakan kumpulan dari hal-hal baik atau hal-hal yang positif. Menyangkut soal penangkal bahaya, ditakuti lawan dan disegani orang-orang di sekitarnya, kewibawaan dan kekuasaan. Karena dianggap sebagai rajanya pamor maka tergolong menjadi pamor pemilih, dimana tidak setiap orang akan cocok memilikinya.

perbedaan pamor Raja Sulaiman; (kiri) bintang segi enam dari buku Ensiklopedi Keris, 2004 dan (kanan) berbentuk bintang sudut lima dari buku Pamor Duwung, 1937

Sedangkan pada serat-serat lama seperti Pamor Duwung (Babon Asli Saking Surakarta, 1937) kita akan menemukan bentuk pamor Raja Sulaiman yang sedikit berbeda dengan apa yang digambarkan di buku-buku baru. Meskipun letaknya sama di bagian bongkot atau sor-soran sebuah tosan aji. Perbedaannya pamor Raja Sulaiman menurut Babon Surakarta berupa bintang bersudut lima (mirip irisan buah belimbing). Keterangan yang ada pada buku ini juga lebih difokuskan pada sisi esoteri (menyangkut tuah, angsar, daya gaib dan kepercayaannya), sebagai berikut;

Yen ono pamor mangkene roepane iki, diarani pamor Radja Soeleman, regane satoes negara, sapa sang nganggo barang karepe katekan, lan kena ginawe toembal lelara, yen digawe perang bisa ngaling-ngalingi kang nganggo, lan diwedeni setan, lan ora kena dialani.

Yang apabila diterjemahkan dalam bahasa indonesia kurang lebihnya sebagai berikut :

Jika ada pamor yang bentuknya seperti (bintang) ini dinamakan pamor Raja Sulaeman, maharnya 100 negara, siapa yang menyimpan atau memakainya (semua) hal atau keinginannya akan tercapai, dan bisa dijadikan tumbal sakit penyakit, jika dibawa untuk berperang bisa melindungi (marabahaya) pemakainya, (terlebih lagi) ditakuti oleh (golongan) setan atau lelembut, juga tidak boleh disakiti (jahat) orang lain (karena karma akan berbalik dibalas Yang Kuasa).

Setelah selesai membaca sisi ‘intangible” mengenai fungsi/kegunaan pamor satu ini (baca: Raja Suleman) bulu kuduk terasa merinding. Akhirnya bisa dipahami mengapa di kalangan para “pemuja esoteri” pamor ini duduk dalam jajaran kasta istimewa, karena dalam deskripsi penjelasannya memang seolah tuah atau daya magis yang diharapkan jangkep (lengkap). Mulai dari kumpulan dari semua hal-hal baik, segala keinginan pemakainya dapat tercapai, disegani oleh manusia dan ditakuti golongan jin/setan. Belum lagi soal “pagar diri/gaib” yang dapat membalikkan hal-hal yang sifatnya tidak baik ke asalnya, serupa dengan rajah lain yang cukup terkenal, yakni rajah kalacakra.

Tidak ketinggalan ada pula beberapa hal baru yang bisa kita ketahui, salah satunya pamor yang pada zaman dahulu dianggap mempunyai nilai maharnya tinggi, salah satunya adalah Raja Suleman, bukan jenis pamor miring dengan teknik rumit yang kita pahami sekarang, seperti misal blarak sinered. Selanjutnya, jika kita membuka lebih lanjut dalam buku Pamor Duwung ada juga pamor Gaibulguyup yang memiliki mahar 100 negara sama dengan Raja Sulaiman. Di bawahnya ada pamor Gur, harganya 1 negara. Namun adapula sutresna keris yang berpendapat bahwa nilai/harga (100 negara) bukan merujuk makna secara denotasi melainkan lebih kepada sebuah perlambang, artinya yang berhak mendapat pamor seperti itu tadi hanya orang-orang yang terpilih atau mendapat wahyu.

CATATAN GRIYOKULO, Mungkin jika dinilai dari garap fisik keris ini tampak seperti keris dhapur lurus biasa dengan tampilan garis pamor yang tebal dan byor rata-rata umumnya  keris dari tanah Madura (Tuban Sumenep?). Ya, karna segala sesuatu bisa saja relatif. Namun untuk memaknai sebuah rajah pada pusaka kuranglah bijak jika semata hanya mengandalkan mata telanjang. Karena dalam pembuatan rajah itu sendiri tidak lepas dari “maksud/kebutuhan khusus”, dimana ada sesuatu yang ditinggikan/diagungkan/disakralkan sehingga perlu diabadikan dan tentu saja dalam prosesnya dilambari (dilandasi) dengan tirakat (mbesut raga). Oleh karenanya sebuah rajah menjadi personal atau memiliki hubungan spiritual pribadi yang khusus dengan pemiliknya.

Rajah yang ada pada pusaka ini adalah Raja Sulaiman bolak-balik di kedua sisi, yang tentu saja dulunya tidak sembarangan ditorehkan. Cara menorehkannya pun agak berbeda, karena terlihat sengaja  disamarkan. Hanya dengan perabaan akan dapat dirasakan bentuk bintang limanya yang timbul keluar (emboss). Hal ini sangat masuk akal, karena sebuah Rajah bukanlah sesuatu yang untuk dipamer-pamerkan. Apa gunanya jika musuhmu tau? Bahkan secara pribadi Penulis pernah mempunyai pengalaman membabar sebuah pusaka dhapur Pandhita Kembar kepada Empu Ngadeni dengan permintaan khusus penambahan sebuah rajah. Oleh Mpu Ngadeni Rajah tersebut sesuai gambar yang disertakan memang dibuat persis/serupa, namun alangkah kagetnya ketika finishing pembabarannya justru ditutup kembali  dengan cara ditempa oleh Mpu Ngadeni pada area sekitar rajah. Wedaran dari beliau adalah: “bahwa Rajah adalah ikhtiar pribadimu dengan Yang Di Atas, biarlah menjadi rahasiamu, tidak perlu orang lain tahu!”.

Terkadang pada akhirnya sisi sebuah keindahan pada sebilah pusaka bukan hanya tergantung pada mata, tapi terutama pada hati yang melihatnya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *