Blawong Kumbokarno

Harga : 1.500.000,-


  1. Perabot : Blawong
  2. Model : Wayang
  3. Motif : Kumbakarna
  4. Bahan : Kayu Jati TPK Perhutani
  5. Dimensi : Tinggi +/- 70 cm, lebar +/- 40 cm, tebal +/- 3 cm, berat +/- 4 kg
  6. Keterangan Lain : diukir detail

Ulasan :

BLAWONG, adalah papan kayu jati yang biasanya diukir dengan motif tertentu (paling banyak motif wayang). Selain sebagai pajangan yang digantung di dinding ruang tamu maupun bagian dinding rumah lain, papan seperti ini zaman dahulu digunakan untuk meletakkan keris. Namun, lebih dari itu, bisa menambah kharisma bagi pemilik. Tak ayal, para pemilik keris di Jawa di masa lalu kerap menghiasi blawong dengan ornamen-ornamen tertentu. Itu sebabnya, dulu, hampir disetiap dinding rumah masyarakat Jawa selalu memajang blawong dengan dua keris terpasang secara vertikal. Bagi pemilik rumah, pajangan blawong dan keris itu menumjukan jikalau si pemilik rumah telah memenuhi syarat sebagai wong jowo. Konon blawong diperkirakan telah ada sejak zaman Kerajaan Mataram dipimpin Sultan Agung

FILOSOFI, Ornamen yang diukir pada blawong seringkali menyiratkan makna-makna tertentu yang berkait dengan simbol atau keinginan pemiliknya. Misalnya, tokoh-tokoh dalam wayang kulit yang tidak populis dipilih adalah Kumbakarna, Raksasa berwatak Ksatriya. Bersama-sama dengan tokoh wayang lain, yakni Basukarna (Adipati Karna) dan Patih Suwanda (Bambang Sumantri), Kumbakarna dijadikan simbol inspirasi oleh KGPAA Mangkunegara IV (1809-1881) untuk menulis Serat Tripama. Sebuah serat atau tulisan yang berisikan tentang kisah kepahlawanan dalam membela negaranya.

Pada saat kraton Alengka diobong, Rahwana kehabisan punggawa mau pun para anggota keluarganya yang mati ketika melawan laskar wanara di bawah pimpinan Hanuman sebagai utusan Rama, maka harapan satu-satunya yang tersisa adalah adiknya yaitu Kumbakarna.

Rahwana datang ke goa dimana Kumbakarna tertidur untuk membangunkannya. Kumbakarna tahu bahwa Rahwana itu adalah kakaknya dan juga sekaligus raja junjungannya. Namun Kumbakarna juga tahu bahwa segala bencana yang dihadapi Rahwana merupakan karma akibat nafsu angkara murka Rahwana menculik Shinta isteri Rama, yang akhirnya membawa peperangan di Alengka.

Dan ketidak-setujuan atas tindakan penculikan yang dilakukan oleh Rahwana itu juga disampaikan secara langsung. Bahkan Kumbakarna pun juga memberikan nasihat sekaligus menegur perbuatan kakaknya sampai meminta agar kakaknya sudi mengembalikan Dewi Sinta kepada Rama sehingga perang tidak berlarut-larut. Namun sayangnya Rahwana tetap pada pendiriannya dan Kumbakarna pun sebagai seorang yang berwatak satriya harus maju berperang membela negaranya. Disinilah watak luhur sosok Kumbakarna hadir, Ia bersedia menjadi senapati tetapi tidak untuk membela kakak/rajanya namun demi membela tanah tumpah darah dan tanah kelahirannya Alengka yang selama ini memberi hidup dan membesarkannya akan dirusak oleh musuh.

Pada akhirnya Kumbakarna pun harus gugur di medan perang oleh anak panah Guwawijaya milik Rama, hanya atas tersingkapnya rahasia titik kelemahannya yang dibocorkan oleh adik bungsu Rahwana, Gunawan Wibisana, yang ikut berpihak kepada Rama. Paripurnalah dharma dan kewajibannya sebagai seorang ksatria.

Dari kisah heroik Kumbakarna bisa kita petik pesan moral yang hendak disampaikan: Sikap bela negara, nasionalisme dan patriotisme harus dilandasi atas dasar kecintaan terhadap bumi pertiwi, bukan sikap yang berlandaskan loyalitas membabi-buta terhadap siapa yang menjadi pemimpinnya yang keinginan sendiri tidak benar.  Bukan “Right or Wrong is My Country, tapi Right is Right and Wrong is Wrong” seperti itulah ungkapan yang cocok untuk menggambarkan sikap ksatriya Kumbakarna. Semua itu membuktikan bahwa kebenaran adalah kontekstual akibat relatif dan subyektif tergantung dari sisi apa dan siapa memandangnya. Maka Kumbakarna bukan hanya membela sesuatu yang dianggap memiliki kebenaran namun baginya juga membela negara, bangsa dan rakyatnya.

CATATAN GRIYOKULO, meski bukan buatan lamen (lawas/kuno), namun blawong ini sengaja dibuat untuk membangkitkan kembali nostalgia identitas Jawa yang mulai tersingkir menggunakan bahan terpilih, yakni kayu Jati TPK. Kayu jati yang dikelola oleh perhutani mulai dari pembibitan hingga penebangan dikenal memiliki kualitas yang sangat bagus dibanding jenis kayu jati yang lain. Bisa dipastikan berumur tua, sebab setiap tahunnya perhutani selalu menyeleksi pohon-pohon yang siap untuk ditebang (tentunya akan dipilih yang tua-tua terlebih dahulu).

Melalui jasa seorang kawan ukiran Kumbakarna agar dapat dikerjakan dengan detil sesuai pakemnya oleh pengukir wayang langganan Ki Manteb Soedharsono. Karakter mata plelengan, hidung pelokan, mulut ngablak dengan kumis, jenggot, dan cambang yang sangat lebat. Ia memakai mahkota makutha dengan hiasan turidha, jamang susun tiga, jungkat penatas, karawista, dawala, nyamat, bersumping mangkara dan kancingnya gelapan utah-utah pendek. Rambut gimbal ngore memakai praba sebagai simbol kebesarannya. Badan raksasa dengan ulurulur naga mamangsa dan talipraba dengan motif geometrik. Posisi kaki jangkahan denawa raton dan dengan dua pasang uncal kencana, sepasang uncal wastra, clana cindhe puspita dan dodot bermotif parang rusak. Atribut lainnya kelatbahu raksasa raja gelang denawa raton. Tanpa diberikan pernis atau pewarna kayu lainnya untuk menonjolkan detil ukirannya. Sangat pantas untuk disandingkan dengan pusaka kesayangan, hanya tinggal mengebor sesuai titik-titik yang diinginkan.

Ditawarkan sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *