Tongkat Komando

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 5.555,555,- (TERMAHAR) Tn. AHP, Gatsu – Jakarta


1. Dhapur : Cis/Tongkat Komando
2. Pamor : Beras Wutah
3. Tangguh : Mataram Akhir?
4. Asal-usul Pusaka :  Bandung, Jawa Barat
5. Dimensi : panjang bilah 43,5 cm, panjang pesi  13,3 cm, panjang total 56,8 cm
6. Keterangan Lain : kolektor item


ULASAN :

TONGKAT KOMANDO, merupakan salah satu atribut resmi pejabat negara maupun petinggi militer. Menjadi salah satu benda yang tak boleh terlewat dibawa oleh para pejabat yang memimpin/mengepalai sebuah kesatuan. Di era sekarang, tongkat komando biasa dipakai para perwira (bagi yang berhak) di lingkungan militer, kepolisian, hingga kejaksaan. 

Menilik sejarahnya, cerita mitologi Hindhu mengenai Ganesha yang tangan kanannya divisualisasikan memegang patahan gading yang ternyata adalah patahan dari gadingnya sendiri (ekadanta) tampaknya turut menginspirasi lahirnya atribut ini (tongkat komando). Patahan gading yang ada dalam genggaman tangan kanannya itu ia gunakan untuk menulis, entah itu di batu, kayu, dan lain sebagainya, dengan maksud untuk mengajari manusia ilmu pengetahuan.

Tongkat komando kemudian berevolusi sebagai identitas kepemimpinan yang menjadikannya sebagai simbol orang terpilih, simbol kekuasaan, simbol kedudukan, simbol perintah dan sebagainya. Tongkat komando juga menjadi simbol sahnya pemegang suatu jabatan tertentu. Maka tidaklah mengherankan jika serah terima suatu jabatan salah satunya ditandai dengan penyerahan tongkat komando. Atribut ini juga dipercaya dapat menambah pesona, karisma, dan wibawa bagi pejabat yang mengenakannya.

MITOS ATAU CERITA NYATA? Peci beludru hitam, kacamata hitam dan tongkat komando, tiga benda ini menjadi atribut ikonis yang selalu melekat di badan sang proklamator RI, Soekarno saat menjadi presiden pertama negeri ini. Yang paling banyak diperbincangkan tentunya tongkat komandonya karena dipercayai memiliki daya/kekuatan magis. Selama berpuluh-puluh tahun hingga sekarang fenomena tentang keampuhan dan kesaktian Tongkat Komando Bung Karno seolah tetap menjadi sebuah misteri. Apa isen-isen (isi) yang terdapat di dalam tongkat komando tersebut? hingga  dimana keberadaan tongkat komando milik sang proklamator setelah lengser kini? seolah menjadi unfinished story dalam memori kita.

Bukan hanya masyarakat sipil biasa saja yang penasaran dengan tongkat komando Soekarno. Bahkan ketika Bung Karno berkunjung ke Kuba pada 13 Mei 1960, pemimpin revolusi Kuba Fidel Castro sampai menanyakan langsung soal kesaktian tongkat komando tersebut. Terlebih adanya fakta mencengangkan yang dikaitkan kepada Soekarno lantaran saat membawa tongkat tersebut ia selalu selamat dari tujuh kali upaya pembunuhan. Di radio-radio saat sidang pengadilan penembak Bung Karno, terungkap kesaksian sang eksekutor mengalami kejadihan aneh saat hendak menembak Bung Karno karna tiba-tiba saja badan Bung Karno bisa terbias menjadi lima, sehingga ia kebingungan. Secara teknis agak mustahil rasanya jika peluru meleset karena Bung Karno ditembak dari jarak yang cukup dekat sedangkan penembaknya bukanlah orang biasa namun dilakukan oleh pasukan terlatih. Wallahu a’lam

CATATAN GRIYOKULO, jika lazimnya tongkat komando diisi dengan tombak dhapur cacing kanil maupun cipiran yang umumnya berpamor mrambut, ilining warih atau malah hanya nyanak, maka tongkat komando yang kami hadirkan ini tergolong spesial karena berisi tombak cis yang secara garap tidak bisa dipandang sebelah mata. Tombak yang berbentuk persegi empat dan lurus di tiga perempat bagian bawah dan kemudian berluk lima di bagian atasnya ini sungguh menampilkan pamor beras wutah yang tidak kalah dengan keris/tombak pada umumnya. Bagian methuk iras pun turut mendapat sentuhan khusus, seolah tidak mau kalah dalam mengimbangi keartistikan bentuk bilahnya.

Bentuknya yang panjang dengan penampakan yang kokoh dan runcing seolah masih dapat diandalkan kapan saja sebagai senjata pamungkas jika harus berhadapan dengan kere waja (baju zirah) sekalipun. Dengan total panjang yang hampir mencapai 60 cm sangat dimungkinkan jika dulunya cis ini digunakan sebagai tombak isen-isen teken, atau tongkat untuk berjalan yang lazim digunakan sebagai atribut lapangan para priyayi di zaman kolonial. Budaya membawa teken ini tidak hanya terjadi di zaman kolonial, bahkan kebiasaan Sunan Gunung Jati saat syiar  agama pun tidak pernah lepas dari cis/tongkat dalam berkhotbah. Memang saat membawa tongkat komando ini jika dirasakan ada semacam mood booster tersendiri yang meningkat di dalam diri.

Tongkat komando ini terbuat dari perpaduan kayu dan tulang ketika awal didapatkan masih dalam kondisi yang baik serta sudah disetel, sehingga kita tidak direpotkan oleh hal-hal lain. Namun, jika Panjenengan mempunyai taste atau jiwa seni berlebih, pengukiran dengan suatu motif tertentu dapat menjadi alternatif untuk menambah keindahan. Atau apabila tongkat ini akan dijadikan piyandel dan atribut fungsional, penempelan logam lambang kepangkatan hingga logo korsa dapat langsung ditambahkan.

Semoga dapat bemanfaat digunakan untuk para pengemban amanah sang penjaga Kedaulatan NKRI. Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *