Semar Lungguh

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 5.555,555,- (TERMAHAR) Tn. AHP, Gatsu – Jakarta


1. Dhapur : Jimatan Semar Lungguh
2. Pamor : Beras Wutah
3. Tangguh : Sepuh
4. Asal-usul Pusaka :  Jakarta
5. Dimensi : panjang bilah 11,2 cm, lebar  cm, panjang pesi 8,8 cm, panjang total 20 cm
6. Keterangan Lain : warangka dusun


ULASAN :

Semar diriwayatkan adalah jelmaan dewa, hadir dalam situasi yang kontradiksi, dalam suatu garis keturunan dewa namun terkucilkan karena terlahir sebagai rakyat jelata dengan penampakan yang kurang ideal menurut standar dunia. Semar digambarkan pula sebagai bapak para punakawan yang menjadi para abdi bagi Ksatria Pandawa. Sebagai pamomong para pandawa, semar juga diyakini mempunyai kekuatan supranatural yang luar biasa, terlebih hubungannya yang eksklusif bersentuhan dengan konsep manunggaling kawula lan Gusti.

Dalam sudut pandang umum mereka mungkin hanyalah abdi dalem yang dipandang dari kacamata manusia tidaklah begitu penting peranannya, namun dengan menggunakan mata batin hubungan keberadaan punakawan dan pandawa mempunyai korelasi spiritual. Bahwa untuk mencapai derajat mulia, maka memerlukan kawan, pendamping dalam bentuk seperti para punakawan. Hal tersebut kemudian ikut terbawa dalam budaya tosan aji yang kemudian melahirkan inspirasi untuk melekatkan sosok eyang semar dalam bentuk “cekelan“.

SEMAR LUNGGUH, Selain Semar Mesem dan Semar Kuncung terdapat pula bentuk “Semar lain” yang tidak kalah pamor, yakni Semar Lungguh. Jika Semar Kuncung identik dengan rambut kuncungnya yang panjang. Semar Mesem berbentuk lebih lebar dan simetris, mulutnya membuka seolah sedang tersenyum. Maka sesuai namanya Semar Lungguh berwujud mirip sosok semar yang tengah lungguh atau duduk bersemedi.

Ingsun amatek ajiku si Semar Lungguh
Uri-uri Semar teko welaja asihku
Suryo kembar Panetraku
Hong Semar lungguh nang jagad
Bumine satriyo
Langite begawan
Kabeh welas welasih
Wibowo ne ksatriyo
Timindake Ksatriyo
Pamore Waskitho
Hong si Semar Lungguh ..

Sebuah mantra dalam bahasa Jawa mengenai Semar Lungguh, diharapkan mereka yang sedang di-emong Semar menjadi “waskita”, yang artinya : tajam mata batinnya, dapat mengetahui hal-hal yang telah maupun bakal terjadi, cerdas, bijaksana dan hati-hati dalam berbicara, bertindak dan mengambil keputusan.

CATATAN GRIYOKULO, Jika biasanya kita melihat jimatan semar-semar pada umumnya lebih banyak sebagai produk cor-coran atau hasil cetakan dengan bentuk/rupa yang hampir seragam dan lebih sering difungsikan sebagai sarana klenik/ praktek perdukunan, maka tidak salah jika Semar Lungguh ini meskipun bukan nama dhapur suatu keris/tombak namun bagi masyarakat Jawa masih digolongkan sebagai tosan aji, karena memang dalam pembuatannya melalui proses yang sama dengan keris/tombak/pedang yakni dengan cara tempa lipat memakai bahan besi, baja dan pamor.

Secara visual Semar ini mempunyai kuncung yang sangat panjang, ke-khas-an bentuk Semar Lungguh terdapat pada bentuknya yang tidak simetris, lebih tinggi sisi bagian belakang, sehingga memang mirip orang sedang duduk bersemedi. Bagian yang menjadi keunikan lain adalah bagian sor-soran bawah yang berombak mirip gonjo sepang. Selain itu terdapat kelengkapan lain berupa methuk. Tampak pula pamor beras wutah menghias di hampir seluruh permukaan bilah, meskipun warangan lama namun masih cukup kontras. Sandangan yang ada yang merupakan bawaan sebelumnya pun tampak sederhana.

Monggo kami persilahkan bagi Panjenengan yang ingin meneruskan untuk merawatnya. Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *