Naga Sapta Pudhak Sategal TUS

Mahar : 20.777,777,-


1. Kode : GKO-411
2. Dhapur : Naga Sapta
3. Pamor : Ngulit Semangka
4. Tangguh : Mataram (Abad XVIII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 122/MP.TMII/I/2020
6. Asal-usul Pusaka :  Rawatan/Warisan Turun Temurun
7. Dimensi : panjang bilah 36 cm, panjang pesi 7 cm, panjang total 43 cm
8. Keterangan Lain : kolektor item


ULASAN :

NAGA SAPTA, merupakan keris luk 7 dengan bagian gandhik berukir kepala naga bermahkota, badan naga ditampilkan secara utuh hingga ke bagian petit (ekor) yang seolah-olah menggeliat ke arah pucuk bilah (panitis). Ricikan lain yang terdapat pada keris Naga Sapta adalah greneng atau ri pandan.

Pada masa pemerintahan PB VII (1830-1858) berkenan membabar dhapur Naga Sapta. Seorang Empu terkenal dengan keris-kerisnya yang wingit, yakni Empu Singowijoyo diperintahkan untuk membabar tujuh buah pusaka (versi lain mengatakan hanya sampai lima). Pada bilah terukir sosok naga dengan badannya memenuhi bilah. Keris ini dihias pula dengan tatahan sebanyak sangang wadono atau sembilan sisi, sampai ke ujung bilah. Keris Naga Sapta menjadi lambang perjuangan spiritual dan diplomasi. Pemberian KK Naga Sapta oleh PB X kepada Gustaf V (Raja Swedia), Benito Mussolini diktator Italia), Pangeran Hendrik (suami Ratu Wilhelmina, kerajaan Belanda) merupakan wujud perjuangan untuk mengembalikan kejayaan keraton Mataram di masa lalu.

FILOSOFI, “Naga” merupakan makhluk mitologi yang hadir hampir di seluruh kebudayaan di dunia. Naga biasanya menjadi tokoh pendukung dalam dongeng mitos atau legenda.  Namun begitu terdapat perbedaan pandangan yang signifikan antara kebudayaan barat dan timur terhadap naga. Dalam mitologi kebudayaan barat, khususnya Eropa digambarkan sebagai simbol kejahatan, sosok yang memiliki karakter jahat, cenderung merusak, dan dianggap sebagai musuh yang harus dilenyapkan. Beberapa mitologi Eropa menjelaskan, bahwa seseorang yang dapat mengalahkan naga disebut sebagai pahlawan. Sedangkan dalam pandangan kebudayaan Timur, sosok naga dikenal sebagai simbol kekuasaan, keunggulan, kemuliaan dan kemakmuran.

Dalam budaya Jawa khususnya dalam arsitektur Jawa Kuno, naga ditemukan pada era kerajaan-kerajaan Jawa Timur, dari abad ke-10 sampai 16. Yang tertua terdapat di petirtaan Jalatunda di lereng Gunung Penanggungan. Tampak seekor naga melilit di bagian bawah lingga-lingga semu yang ada di kolam utama. Naga dalam bahasa Sansekerta berarti ular (jantan). Namun di Jawa sendiri naga lebih merujuk pada dewa ular yang berwujud sebagai sesosok mahluk sakti berbentuk ular raksasa. Naga Jawa digambarkan juga memakai mahkota di atas kepalanya, terkadang juga memakai perhiasan anting dan kalung. Naga Jawa dianggap sebagai sosok pelindung atau pengayom, sehingga umum ditemukan dalam pahatan gerbang, pintu masuk, atau undakan tangga bangunan-bangunan suci dengan maksud melindungi bangunan yang ia tempati. Dalam budaya Jawa Kuno, naga sering berhubungan dengan air dan kesuburan.

Sapta” dalam bahasa Sansekerta berarti “tujuh”. Dan jumlah Luk Naga Sapta seluruhnya yang berjumlah tujuh merupakan “angka sakral”. Tengok saja, hari dalam satu minggu berjumlah tujuh. Langit pun disebutkan bersap tujuh. Demikian pula bumi diceritakan juga bersap tujuh. Dan dalam bahasa Jawa angka 7 disebut “pitu” yang dalam jarwo dosok memiliki makna pitutur, pitungkas, piwulang, pituduh dan pitulungan, yaitu nasehat, pesan, ajaran yang baik, bimbingan dan pertolongan (dari Yang Maha Kuasa).

Bentuk visual dari mahkota secara denotasi merupakan simbol tradisional dalam bentuk tutup kepala yang dikenakan oleh raja, ratu atau dewa. Secara konotasinya, mahkota merupakan lambang kekuasaaan, kejayaan, legitimasi dan kemakmuran. Jika mahkota tersebut disematkan pada seseorang berarti orang tersebut memiliki kekuasaan, tahta atau kedudukan, pemimpin. Mahkota sang naga berbentuk topong (seperti milik adipati karna, bukan kuluk kanigoro milik prabu kresna), yang dalam dunia pewayangan biasa dikenakan seorang raja bila sedang memimpin peperangan (Raja sebagai panglima perang). Mahkota ini juga biasa dikenakan oleh para bupati atau raja kecil (kerajaan vasal). Jika diamati mahkota pada keris ini terdiri dari 3 susun, yang berarti 3 perilaku kesatria untuk berpikir, berkata, dan berbuat yang baik dan benar (Tri Kaya Parisudha).

Sumping sekar kluwih sebagai hiasan telinga juga dapat dimaknai bahwa sebagai seorang raja atau pemimpin yang mempunyai banyak keluwihan (kelebihan) harus memiliki ketajaman pendengaran dan pandai memilah hal baik dari apa yang ia dengar. Ketajaman pendengaran ini akan menuntun seorang raja untuk dekat dengan Tuhan, dekat dengan rakyat, dan dekat dengan hati nuraninya sendiri.

Kepala naga nampak sedikit mendongak. Posisi ini diintepretasikan sebagai sikap seorang pemimpin yang menunjukkan rasa percaya diri dan kewibawaan, serta senantiasa sadar dengan amanat dan tanggung jawabnya yang diembannya sebagai seorang pemimpin. Selain itu, posisi kepala mendongak menandakan ketegasan seorang pemimpin untuk dapat bersikap adil tanpa pilih kasih.

Mata naga menatap ke depan dengan sorot tajam namun memiliki kesan tenang menunjukkan sikap kepemimpinan dan kewibawaan yang menekankan suri tauladan. Sebagai seorang  pemimpin yang baik harus memenuhi kewajibannya, “berbudi bawa leksana, ambeg adil para marta“, atau berlimpah budi luhurnya, adil dan penuh kasih terhadap semua yang hidup. Sehingga ia bisa menjadi panutan bagi rakyat yang dipimpinnya.

Mulut naga tampak sedikit terbuka (menyeringai) menunjukkan sikap kehati-hatian dalam bertutur kata. Karena kata-kata dari seorang Raja adalah sabda yang tidak bisa ditarik kembali (sabda pandita ratu tan keno wola-wali). Apa yang telah diucapkan seorang raja merupakan paugeran (aturan) yang harus dipatuhi, tidak hanya oleh para bawahan dan kawulo-nya melainkan juga berlaku bagi dirinya sendiri.

Penggambaran bentuk gigi runcing pada moncong khas naga nom-noman menggambarkan bakwa sosok naga tersebut merupakan sosok yang pemberani, mampu berjuang dan berkorban apapun demi sesuatu yang ingin dia lindungi.

Badan naga tampak prasojo (tidak gemuk namun juga tidak kurus) meliuk-liuk ke atas mengikuti bentuk luk, merupakan perwujudan dari usaha manusia mencapai kasampurnaning urip yang senantiasa menyandarkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebuah kesadaran tentang sangkan paraning dumadi atau ajaran tentang kehidupan berke-Tuhan-nan. Bentuk badan yang ramping dan meliku-liuk diartikan sebagai seseorang yang gesit, cepat bertindak. Jika dihubungkan dengan seorang pemimpin maka pemimpin bersifat gesit, tanggap, dan cepat mengambil keputusan.

PUDHAK SATEGAL, pada zaman dulu lebih lazim disebut pêkakan, merupakan sraweyan yang dibentuk menyerupai daun pudhak, letaknya di sor-soran. Bentuknya menyerupai pudhak (kelopak bunga pandan), dengan ujung-ujungnya yang runcing. Untuk keris tidak ada pakem khusus mengenai ragam posisi kedudukan pudhak sategal antara sisi depan dan belakang, sangat bergantung kreatifitas dari sang Empu. Ada yang sisi depan dan belakang rata sejajar, ada yang sisi depannya lebih tinggi, atau sebaliknya. Hanya pada dhapur tombak posisi pudhak sategal selalu dalam letak yang sejajar di kedua sisi.

Ada catatan menarik mengenai ricikan pudhak sategal yang ditulis dalam buku Ensiklopedi Keris oleh alm. Bambang Harsrinuksmo (2004). Menurutnya ricikan pudhak sategal baru ada pada zaman Mataram Akhir, dan baru populer pada zaman Surakarta. Masih menurut buku yang sama, keris-keris tangguh tua, seperti tangguh Majapahit, Blambangan, Tuban dan Madura Sepuh tidak ada yang menggunakan ricikan pudhak sategal.

Pudhak dalam bahasa Jawa merupakan sebutan untuk bunga pandan, dan Sategal adalah satu tegal. Dalam bahasa Jawa kata siji akan berubah menjadi sa-, yang sering diucapkan sebagai sak-, se-, ataupun sa-. Suatu daerah lahan kering dengan landskap permukaan yang tidak rata, yang pengairannya sangat bergantung oleh air hujan (karena pada saat musim kemarau akan kering dan sulit untuk ditanami), biasanya lahan tersebut ditanami tanaman musiman atau tahunan,  dan terpisah dari lingkungan sekitar rumah oleh orang jawa disebut sebagai “tegal” (berbeda lagi istilahnya dengan kebun, ladang, maupun sawah). Maka “Pudhak Sategal” secara harfiah dapat berati bunga pandhan yang terhampar penuh sejauh mata memandang dalam suatu lahan tegalan.

Jika baik daun pandan muda maupun tua mempunyai sifat yang membawa aroma sedap dimana pun mereka berada, lalu bagaimana caranya agar kita bisa menjalani hidup yang menyebarkan keharuman bagi sesama?

TANGGUH MATARAM AKHIR, Raja Amangkurat II lebih populer disebut Sinuhun Amral (karena Ia merupakan raja Jawa pertama yang memakai pakaian dinas ala Eopa sehingga rakyat memanggilnya dengan sebutan Sunan Amral, yaitu ejaan Jawa untuk Admiral). Seiring dengan hobi sang Sinuhun membuat tren baru dan pembaharuan di jagad perkerisan klasik. Amangkurat II lebih berselera menggunakan jasa Empu-Empu dari Madura karena memang terpengaruh pembaharuan dari roman Eropa, budaya renaisans, dan budaya barok. Termasuk dalam hal logam pabrikan asal Benua Biru itu, sehingga perkawinan budaya tosan aji dan besi eropa tak terhindarkan pada masa tersebut. Maka dari itu, tosan aji-nya berubah dari zaman Mataram.  Keris, dan tombak zaman Amangkurat Amral lebih besar, tebal dan kokoh tampak bisa diandalkan, lebih tegas, bergaya militer, tampak garang dan berwibawa.

Menurut Serat Paniti Kadga nama-nama Empu yang berkarya di Jaman Kartasura adalah: Empu Setranaya III, Empu Sendang Warih (putra Empu Setranaya III), Empu Taruwangsa, Empu Lujuguna III, Empu Japan, Empu Braja Kajoran (Brajaguna), Empu Lujuguna IV, Empu Sendhang Koripan (Putra Empu Sendang Warih) dan Empu Brajaguna II.

PAMOR NGULIT SEMONGKO, disebut demikian karena pamor yang dibuat oleh sang Empu mirip sekali dengan corak pada kulit buah semangka, yakni berupa beberapa garis lengkung dari bentuk garis lengkung terkecil kemudian melebar dengan lengkungan yang membesar, menunjukkan gerak yang teratur harmonis. Dapat dikatakan bahwa garis-garis lengkung yang berirama pada pamor ngulit semongko ini membawa pesan moral dalam kehidupan manusia yang selalu berubah (naik dan turun). Dalam setiap masalah “ada banyak jalan menuju Roma”. Ada solusi di setiap masalah yang dilalui. Dan selanjutnya berkembang untuk menjadi orang yang lebih percaya diri (optimis), bijaksana dalam memutuskan suatu permasalahan (dinamis), dan pandai dalam pergaulan untuk menyesuaikan dengan segala keadaan (flexible). Fase kehidupan yang kemudian berkembang untuk mencari jati diri, mau belajar dan menjalin kehidupan sosial agama. Yang nantinya akan membawa dirinya menuju ke dalam penyatuan diri melalui pasang surut  keadaan, dan pada akhirnya harus kembali ke asalnya.

CATATAN GRIYOKULO, diantara koleksi yang ada di Griyokulo, Naga Sapta Pudhak Sategal ini boleh dikata termasuk klangenan yang dicintai. Tidak hanya keindahan dan kedetailan garap dari sang Empu ataupun tingkat keutuhan yang mendekati 100% namun ada “perbowo” tersendiri yang susah dideskripsikan melalui tulisan. Siapapun yang pernah menantingnya akan dibuat jatuh hati, merasakan sensasi keterpukauan pusaka sekelas kiyahi/kanjeng kyahi ini. Apalagi bagi para pecinta pusaka keris-keris ganan naga duduk dalam jajaran strata atas atau tingkat spiritual tertinggi diantara dhapur keris-keris lain. Tidaklah mengherankan pula jika di pasar tosan aji mas kawin rata-rata dhapur Naga lebih “wah” dibandingkan keris “ganan” lain (keris berbentuk manusia atau hewan mitologi). Dengan nilai mahar yang masih sangat terjangkau untuk keris sekelas Naga TUS ini panjenengan nantinya masih bisa mengganti sandangan sesuai selera, misal salah satunya pergantian warangka dan hulu keris dari kayu menjadi gading. Sangat cocok menjadi ageman/piyandel.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *