Tombak Naga Penganten

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : ?,- (TERMAHAR) Tn D, Ciputat, Tangerang Selatan


1. Kode : GKO-402
2. Dhapur : Naga Penganten
3. Pamor : Wengkon
4. Tangguh : Kartasura (Abad XVIII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 1475/MP.TMII/XI/2019
6. Asal-usul Pusaka :  Blitar, Jawa Timur
7. Dimensi : panjang bilah 26 cm, panjang pesi 13,2 cm, panjang total 39,2 cm
8. Keterangan Lain : dhapur sangat langka, landeyan 160 cm


 

ULASAN :

“Pamintaku nimas sidoasih, atut runtut tansah reruntungan, ing sarina-sawengine, datan ginggang sarambut, lamun adoh caketing ati, yen cedhak tansah mulat, sidoasih tuhu, kaya mimi lan mintuna, ayo nimas bareng anetepi wajib, sidoasih bebrayan.”

“Permintaanku adinda Sidaasih, selalu rukun selalu bersama, siang dan malam, tidak terlepas barang serambut pun, jikalau jauh hatinya dekat, saat dekat akan penuh kehangatan, seperti Mimi dan Mintuna, mari adinda bersama-sama menjalani kewajiban hidup dalam rumah tangga penuh cinta kasih”

NAGA PENGANTEN, adalah salah satu bentuk dhapur tombak yang mudah ditengarai karena terdapat dua ekor relief naga pada sisi kanan dan kirinya saling membelakangi. Seringkali badan kedua naga tersebut saling berlilitan menjadi satu seperti tali tampar (tambang) mengikuti lekuk bilah hingga ujung panitis.

Salah satu pusaka keraton Yogyakarta dengan dhapur Naga Penganten adalah Kanjeng Kyai Naga Temanten. Setelah perjanjian Giyanti (1755) kerajaan Mataram dipecah menjadi dua, yaitu kasultanan Yogyakarta yang diperintah oleh Sultan Hamengkubuwono I dan Kasunanan Surakarta yang diperintah oleh Pakubuwono III. Pada tanggal 5 April 1755 dimulai pembukaan hutan Pabringan sebagai lokasi kerajaan Yogyakarta. Penyelesaian pembangunan keraton Yogyakarta ditandai dengan Sengkala Dwi Naga Rasa Tunggal, suatu lambang berbentuk naga yang badannya saling melilit. Dwi Naga Rasa Tunggal juga menunjukkan tahun Jawa 1682 (Dwi artinya 2, Naga artinya 8, Rasa artinya 6, dan Tunggal artinya 1, yang kemudian urutan tersebut dibaca dari belakang). Pada tanggal 7 Oktober 1756 Sri Sultan Hamengkubuwono I mulai bertahta di keraton baru tersebut. Kini tanggal 7 Oktober diperingati pula sebagai hari jadi kota Yogyakarta. Untuk memperingati berdirinya Kasultanan Yogyakarta dibuatlah sebuah tombak yang melambangkan Dwi Naga Rasa Tunggal, yaitu tombak Kanjeng Kyai Naga Temanten, pamornya wos wutah. Wujudnya sebilah tombak yang bilahnya menggambarkan sepasang naga yang badannya saling melilit hingga ke ujung ekornya, sedangkan kepalanya saling membelakangi. Karena itu dhapurnya disebut Naga Penganten.

Wujud relief Naga kembar ini tidak hanya terdapat pada tombak, sebagai contoh pada dhapur keris dengan bilah lurus, setidaknya terdapat dua nama dhapur keris dengan sor-soran naga pada sisi depan belakang, yakni Naga Sarama (lurus, naga kembar depan belakang, ri pandhan) dan Naga Warsa (lurus, bilahnya pendek lembar namun tipis, naga kembar depan dan belakang, ri pandhan). Sepasang naga ini seolah dibedakan antara laki-laki dan perempuan melalui ukuran dan karakter perwajahan bentuk naganya. Naga laki-laki berada pada bagian gandhik sisi depan (kiri) dengan ukuran kepala sedikit lebih besar, mahkotanya lebih tinggi, moncong lebih panjang serta mata naga lebih besar dan bulat. Karakter naga laki-laki memberikan kesan lebih gagah dan berwibawa. Sedangkan naga perempuan berada pada sisi gandhik belakang (menghadap kanan), dengan kepala dan mahkota lebih kecil, serta mata naga tampak lebih sayu. Karakter naga perempuan memiliki kesan lembut dan feminin.

FILOSOFI, Naga Penganten secara harfiah berarti sepasang pengantin naga. Naga kembar pada sor-soran ibarat pasangan mempelai pria dan wanita. Di Indonesia, salah satu daerah yang punya prosesi pernikahan panjang adalah Jawa. Pengantin dalam pandangan orang Jawa adalah Raja dan Ratu sehari. Kelengkapann busana raja pada motif naga pengantin dapat diintrepetasikan bahwa rumah tangga yang dibangun melalui hubungan perkawinan merupakan kerajaan bagi sepasang suami-istri dan anak-anaknya kelak. Suami merupakan raja dan istri menjadi permaisurinya. Sebagai sebuah kerajaan, rumah tangga perlu dijaga kedaulatan dan kehormatannya. Mereka saling berada pada pihak yang sama dalam menghadapi setiap masalah, cobaan, godaan dan tantangan.

Dan masing-masing disebut garwo, artinya sigaraning nyawa atau belahan jiwa. Apa maksudnya? Apakah jiwa kita benar-benar hanya setengah atau sebelah? Dalam satu sudut pandang, aku adalah aku sendiri ini. Secara mandiri dan bebas aku berdiri sendiri dengan utuh. Namun sadarkah, aku yang ini, aku yang mandiri dan bebas ini sebenarnya hanya “setengah”. Sebenarnya aku yang sendiri belumlah utuh. Lalu setengahnya lagi siapa? maka setengahnya lagi adalah belahan jiwaku. Menggenapi hukum alam tentang keseimbangan, Ia ada untuk menyempurnakan hidup kita. Ia ada untuk mendampingi kita ke jalan yang diridhoi-Nya. Ia mitra dalam mendidik, mengarahkan dan mendamping anak-anak agar kelak menjadi pribadi-pribadi yang hebat di dunia dan selamat di akhirat.

Hakikat perkawinan adalah “ monodualis ” artinya dua jenis insan laki-laki dan perempuan, dua raga dan jiwa suami-istri menjadi satu. Mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Satu dalam arti “manunggal”. “Manunggaling jiwa raga”. Keduanya sering pula disebut juga sebagai ‘loro-loroning atunggal‘ atau dwi tunggal,  dua orang yang memiliki kesatuan tujuan.

Monodualis juga berarti adanya ikatan lahir dan batin dari pasangan suami- istri, diikat oleh perkawinan yang syah menurut agama dan pemerintah, berdasarkan cinta dan kasih sayang. Keduanya sepakat membina keluarga yang tenteram, ayem (sakinah), saling sayang-menyayangi (mawadah) dan saling menghormati (warahmah). Melalui hubungan perkawinan diharapkan kesempurnaan, keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia dapat tercapai.

Maka, dhapur Naga Pengantin adalah sebagai perwujudan mantram tolak bala serta doa/keyakinan akan keselamatan, ketenteraman, dan harapan pencapaian kemakmuran dalam sebuah kerajaan (baca : rumah tangga) yang dibangun. Juga memberikan gambaran kehidupan ideal suami dan istri. Yang hidup bersama dalam kekompakan dan kebahagiaan, penuh keharmonisan sebagai pasangan yang saling memberi, saling menerima, saling melengkapi, saling menghormati, saling menghargai, saling mencintai, dan saling merindui. Mereka berdua adalah pasangan yang selalu “atut runtut, tansah reruntungan”, selalu bersama-sama dalam suka dan duka. Seperti Mimi dan Mintuna, yang tidak bisa hidup sendiri-sendiri. Seperti Mimi dan Mintuna, yang akan mati jika dipisahkan.

Lalu, bagaimana dengan kita?

TENTANG PAMOR, Pamor wengkon adalah nama pamor yang bentuk gambarnya menyerupai bentuk bingkai di sepanjang tepi bilah keris. Jika pada buku-buku perkerisan menyebutkan bahwasanya pamor wengkon tergolong pamor “rekan”, yakni pamor yang bentuknya dirancang terlebih dahulu oleh sang Empu, namun pada pusaka-pusaka tayuhan bentuk-bentuk pamor yang kerap muncul justru diperoleh secara “tiban”, dimana sang Empu secara khusyuk berdoa dan menempa, apapun hasilnya diserahkan kepada Yang Maha Kuasa. Dan ajaibnya, seringkali pamor-pamor yang muncul justru seolah menolak sependapat dengan teori-teori yang ada dalam buku.

Tidak serapi yang tergolong rekan, memang. Namun di kalangan pecinta esoteri justru pamor-pamor seperti inilah yang diburu, karena dipercaya mendapat “gift” atau titipan khusus dari Yang Maha Kuasa. Dipercaya pamor wengkon merupakan wujud doa dan harapan akan tidak ada bahaya, tidak ada masalah dan tidak ada halangan (siro winengku, lir ing sambekolo). Pamor ini tergolong tidak pemilih, siapa saja dapat memilikinya.

CATATAN GRIYOKULO, kesan sakral dapat dirasakan ketika membuka tutup tombaknya. Relief Naga kembar dipahatkan sederhana, tidak berlebihan namun tetap tampak hidup, ada semacam jiwa mengalirinya. Karakter besi dengan pori kasar dan pamor agal dibawa oleh Empu-empu Madura yang hijrah ke Kartasura. Tombak ini dilengkapi dengan landeyan templak (lebih kurang 1,6 m) dengan kelengkapan blongsong, sopal dan tunjung yang masih prima. Sudah dijamas dan diwarangi, tidak ada pekerjaan rumah menunggu sehingga Panjenengan tinggal menyimpannya sebagai tombak pusaka keluarga, yang jarang ditemukan kembarannya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *