Keris Tayuhan Rajah Pancuran Mas

Mahar : 3.450,000,-


 

1. Kode : GKO-327
2. Dhapur : Sombro Kebo Lajer
3. Pamor : Mrambut
4. Tangguh : Cirebon (Abad XVIII)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 1556/MP.TMII/XI/2018
6. Asal-usul Pusaka :  Pangandaran, Jawa Barat
7. Dimensi : panjang bilah 20 cm, panjang pesi 6 cm, panjang total 28 cm
8. Keterangan Lain : rajah pancuran mas, gonjo iras, pesi unik berbentuk phallus (alat kelamin pria)


ULASAN :

KEBO LAJER, atau sering disebut Mahesa Lajer. Adalah termasuk salah satu dhapur keris yang populer di Pulau Jawa, terutama di kalangan masyarakat pedesaan yang hidupnya dari kegiatan bertani. Kebo Lajer berbilah lurus, tipis, permukaannya rata tanpa ada-ada. Gandik-nya pun polos, panjang gandik-nya kira-kira dua kali ukuran gandik keris normal. Sedangkan ukuran panjang dan lebar bilahnya sedang.

Menurut dongeng atau mitos keris dhapur Kebo Lajer pertama kali dibabar oleh Mpu Mayang pada masa pemerintahan Nata Prabu Dwastaratha pada tahun Jawa 725. Di Keraton Mataram sendiri setidaknya terdapat beberapa keris pusaka ber-dhapur Kebo Lajer, yaitu Kanjeng Kiai Ageng Mahesa Nular, merupakan pusaka persembahan Kiai Mandureja kepada Nyai Mas Ageng Danureja I, isteri Sri Sultan Hamengku Buwono IV. Kemudian ada Kanjeng Kiai Mahesa Gendari, berpamor wos wutah, semula milik Adipati Danurejo yang bergelar KPH Kusumoyudo. Kemudian diserahkan ke Kraton pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono V.

SOMBRO KEBO LAJER, Bentuk keris kebo lajer ini memang agak anomali. Bentuknya yang lebar dan pendek, serta pejetan samar pada gandik sebagian orang justru cenderung menyebut keris Sombro. Sombro sendiri  sebenarnya juga bukan ‘pakem‘ nama dhapur keris, tetapi dengan menyebut nama  ‘sombro’ orang-orang perkerisan sudah akan paham keris dengan bentuk ricikan spesifik seperti apa yang dimaksud. Dimana penyebutan nama dhapur Sombro merujuk untuk keris dengan bilah pendek (sejengkal) dengan ricikan pejetan dangkal. Penampilan kerisnya sederhana dan cenderung  agak wagu. Banyak diantaranya tergolong ganja iras (ganja menyatu dengan wilah).

FILOSOFI, Kebo atau Mahesa = Kerbau (Jantan), Lajer = Lurus. Kebo adalah lambang akan ketangguhan dalam artian mampu untuk bekerja keras untuk menarik beban atau menjadi tulang punggung keluarga. Juga bisa diartikan sebagai sarana untuk mencapai kemakmuran. Sedangkan hakekat Lajer adalah rumusan hidup yang sederhana : lurus saja (jangan aneh-aneh), Shirat al-Mustaqim. Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus, jalan orang-orang yang kau beri nikmat, bukan jalan mereka yang Kau murkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

Konon Soeharto, Presiden Ke-2 Republik Indonesia yang berkuasa selama 32 tahun memiliki beberapa piyandel pusaka, salah satunya ber-dhapur Kebo Lajer. Kebo dalam pemahaman pusaka Jawa adalah “rojo koyo” yang sehari-hari akrab dengan rakyat. Bagi orang Jawa pusaka kebo lajer bagaikan sebuah kekuatan juga pengingat bahwa ia berasal dari kalangan wong cilik (rakyat petani), oleh karenanya jangan sampai lupa atau meninggalkan asal usulnya.

KERIS TAYUHAN, merupakan sebutan bagi keris yang dalam pembuatannya lebih mementingkan soal esoteri (tuah) daripada keindahan garap (pemilihan bahan besi dan pembuatan pamornya). Keris semacam itu biasanya mempunyai kesan wingit. Walaupun dari segi keindahan tidak dinomor-satukan, keris Tayuhan tetaplah tidak bisa dipandang sebelah mata karena pembuatnya juga seorang Empu. Patut diketahui bahwa keris-keris pusaka milik keraton, baik di Yogyakarta maupun di Surakarta, pada umumnya adalah jenis tayuhan. Dhapur keris tayuhan biasanya sederhana, misalnya tilam upih, jalak dinding, kebo lajer, bukan jenis dhapur yang mewah semacam naga sosro atau singo barong. Selain itu, keris Tayuhan umumnya berpamor tiban, bukan pamor rekan. Di kalangan pecinta keris, keris Tayuhan biasanya sinengker, atau lebih bersifat pribadi bukan keris yang mudah diperlihatkan kepada orang lain, apalagi dengan tujuan untuk sekedar pamer.

TAYUHAN      (sumber : Ensiklopedi Keris hal 466 )

TANGGUH CIREBON, Mas Ngabehi Wirasoekadga, Abdi Dalem Mantri Pande di Surakarta dalam Serat Panangguhing Duwung menjelaskan tangguh Cirebon : “Dhuwung ganja waradin iras, gulu meled cekak, sirah cecak buweng, buntut urang methit, seblakipun keras ampang, wasuhanipun madya, pamoripun kirang lulut, sekar kacang ngecambah dhuwung ingkang kathah alit-alit serta celak, punapa dene wesi jejeranipun iras kaliyan dhuwungipun, medala leres utawi luk srapatipun sami, sogokan gatra kados kasebut nginggil, dene dhapuripun kirang manggen, sajak dhapur seking”.

Secara eksplisit Wirasukadga menjelaskan jika kebanyakan keris-keris Cirebon baik dhapur luk maupun leres rata-rata berukuran kecil-kecil dan pendek, malah beberapa ada juga yang hulunya menyatu dengan bilah (seperti keris sajen). Secara kualitas garap, mulai dari cara wasuhan, besi hingga pamor semuanya biasa saja seperti halnya keris-keris tayuhan yang tidak mementingkan garap luar atau kedetailan ricikan melainkan ‘isi’ yang utama.  Wirasukadgo juga menduga seperti halnya ‘seking’ (tosan aji bentuknya seperti pisau pendek), keris cirebonan memang difungsikan untuk memudahkan pemiliknya jika harus ‘disengkelit dan diajak’ berpergian. Sejak dahulu Cirebon selalu menjadi pusat tasawuf dengan sinkretik yang kuat.

keris Empu Sombro koleksi Museum Kasepuhan Cirebon, dilengkapi rajah

Aura keris tayuhan sangat terasa pada sombro kebo lajer ini. Meski tampil tidak dalam show off gebyarnya pamor, justru di dalam kesederhanaanya seolah menyimpan sesuatu yang tidak bisa diduga. Ada rahasia yang disembunyikan. Entah mengapa dalam cover atau “tampilan biasanya” keris tayuhan jika dirasakan menggunakan “roso”, mereka yang sensitif akan bisa merasakan adanya “jiwa” yang mengalir pada keris-keris tayuhan, yang tanpa mengecilkan mutu garap keris kamardikan, jiwa atau energi ini kurang bisa dirasakan pada keris-keris baru. Bisa saja karena lambaran laku atau tirakat dari sang Empu yang berbeda menghasilkan induksi yang berbeda pula. Secara keseluruhan keris tayuhan ini sudah nyandang pantes, tidak kurang maupun berlebih. Warangka sandang walikat mengadopsi bentuk relief yang ada di candi-candi Jawa sangat flexible untuk menemani sang pemilik ketika sedang bemusafir.

HULU RAJAMALA, Bentuknya menyerupai canthik perahu Rajamala, perahu tanpa layar digerakkan belasan pendayung penjaga memori tentang Bengawan Solo dua abad silam. Selain sarat makna filosofi, bentuk kepala rajamala yang angker itu berbuah menjadi sangat menarik dan berkarakter. Hulu berbentuk Rajamala dipercaya mempunyai kekuatan gaib, mengandung semacam doa atau mantra bagi pemiliknya. Cerita ini dikuatkan dengan kisah kesaktian Raden Harya Rajamala, dalam cerita pewayangan. Rajamala adalah ksatria berbentuk raksasa yang sakti mandraguna. Dia tidak akan mati, bila jasadnya dimasukkan kembali ke dalam air. Bila mengalami cedera fisik yang sangat parah, hanya dengan diperciki sedikit air, tubuhnya akan kembali bugar. Mitos inilah yang kemudian diambil spirit-nya oleh masyarakat perkerisan, untuk membuat ukiran dengan bentuk kepala Rojomolo. Tentu saja, diharapkan bentuk ini bisa mempertebal daya isoteris keris, yaitu memiliki energi penolak memala atau bala.

PESI PHALLUS, Pesi sering diucapkan peksi, adalah nama bagian ujung bawah dari sebilah keris, bentuknya bulat panjang seperti pensil yang merupakan tangkai dari keris itu sendiri. Dalam kepercayaan orang Jawa, pesi mempunyai kedudukan yang sakral. Pasi – “papane siningid, tempatnya disembunyikan di dalam hulu (pegangan), seolah ada namun tiada. Ada karena letaknya tersembunyi, menjadi tiada karena tersembunyi di dalam hulu. Seolah menjadi simbol Dzat “tan kena kinira tan kena kinaya ngapa“. Karenanya para penganut aliran esoteri mungkin agak menghindari memilih pusaka yang pesinya sudah patah atau tidak utuh lagi, dianggapnya sudah hilang kekuatannya.

Bentuk pesi pada keris ini terbilang cukup unik, meskipun sudah agak terkorosi, dapat dilihat bagian ujungnya menyerupai phallus atau penis yang dalam bahasa Jawa Tengahan dan Jawa Baru disebut “gathak”, yang merupakan simbol esensi kehidupan juga kesuburan. Ritus kesuburan bertujuan untuk membuat jalinan komunikasi terhadap kekuatan adikodrati guna mendapatkan kesuburan, dalam arti subur untuk mempunyai anak, kesuburan tanah, maupun pembiakan hewan ternak (rojo koyo).

PAMOR MRAMBUT, merupakan salah satu motif atau pola gambaran pamor yang bentuknya menyerupai deretan garis yang membujur dari pangkal hingga ujung keris, seperti rambut lurus yang terurai. Seringkali memang garis-garis itu bukan garis yang utuh, melainkan terputus-putus. Tuah pamor ini oleh para pecinta keris adalah untuk menangkal atau menolak bala (halangan), atau sesuatu yang tidak diinginkan. Pamor ini tergolong pamor yang pemilih, sebab tidak setiap orang akan cocok bila memilikinya. Selain itu istilah mrambut juga digunakan untuk menilai besi wasuhan keris. Besi yang mrambut artinya besi itu tampak berserat halus bagaikan rambut. Kesan tersebut bisa dirasakan melalui perabaan maupun melalui penglihatan. Jika seratnya agak kasar, disebut besi yang ngawat.

RAJAH PANCURAN MAS, Rajah biasanya merupakan sekumpulan huruf-huruf atau kalimat (yang terpenggal) membentuk suatu gambar tertentu yang dipercayai sebagai penyembuh, kesaktian, keselamatan atau pengasihan atau hal-khusus lain. Bentuk dan jenis hurufnya bermacam-macam, sebagian bisa dibaca dan ada yang hanya berupa huruf atau malah simbol saja. Ada yang terkumpul seperti bulatan, kotak, segitiga dan semacamnya. Jika dienskripsikan pada bilah keris/tombak/pedang biasanya “menyimpan rahasia” atau dimaksudkan untuk “kebutuhan” khusus.

Kesakralan penyandang nama “pancuran mas” tidak hanya terdapat pada tosan aji saja. Katuranggan burung perkutut yang dipercaya mendatangkan pengaruh baik juga salah satunya diberikan nama itu. Burung-burung yang mempunyai ciri katuranggan baik harganya bisa puluhan bahkan ratusan kali lebih mahal dari burung perkutut biasa. Contohnya perkutut pancuran mas dimana dicirikan : dada belah dari leher sampai tembolok saja atau dari tembolok sampai dubur saja.

Pada tosan aji sendiri rajah atau pamor pancuran mas berupa garis lurus yang kemudian bercabang dua. Jadi secara keseluruhan gambaran rajah itu serupa lidah ular yang bercabang. Bagi penggemar keris. pamor atau rajah pancuran mas ini dinilai baik untuk para pedagang dan pengusaha. Tuahnya dinilai sama dengan pamor udan mas, jika pancuran pada umumnya mengeluarkan air, maka pancuran mas berarti pancuran yang mengeluarkan emas dimana diharapkan siapapun yang ketempatan pamor/rajah tersebut akan banyak rejekinya seperti memiliki sumber emas yang mengalir. Wallahu a’lam.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *