Tombak Daradasih Mataram Sultan Agung

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 4.950,000,- (TERMAHAR) Tn D, Ciputat, Tangerang Selatan


1. Kode : GKO-401
2. Dhapur : Daradasih
3. Pamor : Beras Wutah
4. Tangguh : Mataram Sultan Agung (Abad XVI)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 1474/MP.TMII/XI/2019
6. Asal-usul Pusaka :  Surakarta
7. Dimensi : panjang bilah 23,5 cm, panjang pesi 14 cm, panjang total 37,5 cm
8. Keterangan Lain : methuk limaran eks kinatah


ULASAN :

DARADASIH, adalah salah satu bentuk dhapur tombak luk lima. Bilahnya pipih dan simetris. Tombak Daradasih memakai ada-ada di tengah bilah, yang ukurannya besar dan tebal sehingga terlihat dengan jelas. Sisi bilah tombak ini juga berbentuk menyudut. Ricikan lainnya tidak ada.

Daradasih, mimpi yang menjadi kenyataan

FILOSOFI, Mimpi dalam budaya timur memang seringkali dianggap sebagai isyarat, lambang, sasmita atau petunjuk tentang kejadian nyata yang akan segera terjadi. Mimpi sering pula dianggap sebagai dunia tak riil namun memiliki keterkaitan dengan dunia riil.

Daradasih atau derdasih atau doradasih dalam bahasa kawi berarti “terus”. Daradasih juga merupakan istilah untuk penyebutan jenis mimpi yang datang berulang kali, dan apabila perlambang dalam mimpi ini kemudian benar-benar terjadi dimasa yang akan datang, maka disebut “mimpi yang Daradasih” atau mimpi yang menjadi kenyataan (precognitive dream).

Dalam pandangan mistik kejawen, mimpi Daradasih diyakini mengungkapkan adanya campur tangan Tuhan YME, menyingkapkan apa yang tersembunyi di dalam diri kita agar dapat diketahui, diterima, dan kemudian diolah atau diterapkan sebagai petunjuk dalam kehidupan selanjutnya. 

 

TANGGUH SULTAN AGUNG, Barangkali fase yang dianggap paling mewakili kejayaan pembuatan tosan aji semasa Kerajaan Mataram Islam adalah era Sultan Agung. Ketika itu, perkembangan keris dan tombak berlangsung dengan pesat, baik secara kualitas maupun kuantitas. Pada zaman Mataram era Sultan Agung beragam reformasi di bidang seni, budaya dan penanggalan terjadi. Masyarakat umum diberi kebebasan untuk memiliki keris dan para empu diberi kebebasan untuk membuat kreasi karya terbaik, sehingga pasikutan sangat beragam sejak awal pemerintahannya. Para empu juga melestarikan dengan membuat pula model keris tangguh sebelumnya dengan memadukan ciri khas era mataram Sultan Agung. Maka bisa dikatakan Jaman Mataram Sultan Agung memang menjadi surga para Empu. Karakter keris zaman Mataram Sultan Agung pasikutan-nya demes, serasi, menyenangkan enak dilihat, pamornya pun terkenal sangat royal dan mubyar menyala terang.

METHUK LIMARAN, Apabila kita amati secara lebih seksama pada bagian methuk wulung-nya terdapat semacam kalenan (guratan) berbentuk limaran yang disinyalir dulunya tempat menempelkan serasah emas. Methuk limaran merupakan salah satu pola hias pada methuk tombak dan karah pedang. Wujud pola hias itu mirip dengan batik limaran, yang diukirkan di sekeliling methuk atau karah satu lingkaran penuh (tepung gelang, Jw). Ada yang berpendapat bahwa kata limaran berasal dari kata samaran yang berarti samar-samar. Namun ada juga yang berpendapat bahwa limaran berasal dari kata limar, yaitu sejenis sutra yang melambangkan kemewahan.

PAMOR BERAS WUTAH, adalah gambaran motif pamor yang menyerupai tebaran butiran beras yang tumpah (tercecer). Mengandung sebuah doa; “Mbesuk anak putuku aja sampe nemu sengsara sebagaimana yang kami alami. Hidup bahagialah kalian, dengan beras yang berkecukupan, sehingga diistilahkan ‘mawur-mawur‘ (wutah atau tumpah) menandakan kehidupan yang gemah ripah loh jinawi (makmur penuh berkah).

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *