Semar Kuncung

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_nMahar : ?,- (TERMAHAR) Tn. J, Bandung


1. Dhapur : Semar Kuncung
2. Pamor : Nyanak
3. Tangguh : Abad XIX-XX?
4. Asal-usul Pusaka :  Klaten, Jawa Tengah
5. Dimensi : panjang bilah 7,8 cm, lebar 5,5 cm, panjang pesi 2,8 cm, panjang total 10 cm
6. Keterangan Lain : jimatan


ULASAN :

JIMATAN, Berakar dari kepercayaan animisme dan dinamisme warisan nenek moyang berabad-abad lamanya, banyak diantara masyarakat umum yang masih menyimpan beberapa “cekelan” (barang pegangan) yang dianggapnya mempunyai kekuatan magi serta dapat berpengaruh pada kehidupannya. Barang pegangan yang dipercaya sebagai “sarana pengantar” penyelesaian masalah duniawi oleh orang jawa disebut sebagai jimat (siji kudu dirumat). Arus modernisasi rupanya tidak mengurangi antusiasme dari jumlah peminat jimat. Hingga saat ini, jimat masi belum kehilangan eksistensinya. Jimat masih menempati salah satu titik kenikmatan batin bagi orang Jawa. Bagaimana tidak, jimat telah lama dipercaya sebagai kunci spiritual dari semua permasalahan yang ada. Entah itu sarana keselamatan, wibawa, kharisma, pengasihan, penglarisan, bahkan masalah pengobatan, ibarat memiliki sebuah kartu truf untuk memenangkan surga di dunia.

SEMAR KUNCUNG, Semar dengan rambut kuncungnya yang panjang. Bambang Harsrinuksmo (alm) dalam buku Ensiklopedi Keris (2004) menulis: “Semar adalah tokoh punakawan dalam pewayangan asli Indonesia. Sejak pertengahan abad ke-19 yang lampau mulai dimasukkan dalam budaya tosan aji, khususnya di Pulau Jawa. Dengan maksud atau tujuan yang “samar” (kurang jelas), bahkan ada yang menempa tombak-tombak berbilah lebar dan membentuknya menjadi serupa dengan penampilan wujud Semar dalam wayang kulit. Di kalangan para penggemar tosan aji, dhapur  Semar yang seringkali memiliki bentuk sederhana dan garapan yang asal/apa adanya ini digolongkan sebagai jimatan, bukan dhapur keris maupun dhapur tombak, walaupun begitu masih dianggap sebagai tosan aji”.

Dan hampir 99% jimatan semar yang beredar di pasar rata-rata hanya merupakan  barang ‘kelas koden‘ (dari arti kodian) atau produk yang dijual secara masal untuk keperluan dunia mistik, perdukunan atau segmentasi lain. Bentuknya pun kebanyakan hampir seragam, karena dihasilkan dengan cara dituang dalam cetakan yang sama. Apalagi bermimpi menemukan yang “sepuh”, bisa menemukan jimatan semar yang memang sedari awal dibabar, dalam arti bukan hasil owah-owahan saja atau rombakan tombak dengan ritual ketat selayaknya sebuah tosan aji adalah sebuah keberuntungan tersendiri.

FILOSOFI, Semar adalah pemimpin para panakawan (pana dalam bahasa Jawa; artinya memahami, mengerti, cerdik, jelas, terang atau cermat , sedang kata kawan berarti teman). Dengan demikian, panakawan artinya teman (pamong) dalam kesukaran yang memahami, mengerti, sangat cerdik, dapat dipercaya serta mempunyai pandangan yang luas. Kepada Arjuna misalnya, Semar selalu memanggil dengan ungkapan khas: “Lae..lae bendara momongan kulo…” (tuan asuhan kami).

Itulah sebabnya. di dalam pewayangan, sangat eksplisit bahwa Semar sangat dibutuhkan oleh para Pendhawa, hingga mereka begitu mati-matian membela dan mempertahankan Semar. Sebab, ia adalah simbol ketentraman dan keselamatan hidup. Itulah kenapa, Semar dianggap jimat hidupnya para Pendhawa. Terbukti, dalam lakon “Semar Minta Bagus“, atau “Semar Gugat” dikisahkan jika para Pendhawa ditinggalkan oleh punakawan, dan akibatnya banyak terjadi malapetaka dan bencana alam (pageblug) di negara Amarta. Segera setelah para punakawan datang dan bergabung kembali bersama para Pandhawa, keadaan rakyat Amarta pun berangsur-angsur aman sentosa serta sejahtera kembali.

CATATAN GRIYOKULO, Jika kebanyakan bentuk semar jimatan tampil simetris sisi depan (perut) dan belakang (bokong) yang akan menggampangkan orang menjadi Su’udzon bahwa semar-semar tersebut hanyalah rombakan dari tombak/tosan aji lainnya, maka pada semar ini sisi belakang/bokong tampak lebih mendominasi sesuai karakter semar dalam pewayangan. Tak nampak banyak pamor memang, karena disinyalir dibuat dari besi-besi kejen/kabudhan. Besi kejen dulunya biasanya digunakan oleh Empu-empu Desa, karena mereka tidak mampu membeli bahan pamor meteorit yang selain langka mahal pula harganya. Lagi pula mereka sangat percaya bahwa besi kejen bertuah bagus. Empu Ngadeni di Gunung Kidul adalah salah satu Empu di Jawa yang masih menggunakan besi-besi kejen sebagai bahan pusaka tayuhannya, termasuk semar.

Semar kuncung ini masih menggunakan handle bawaan sebelumnya yang mirip sekali dengan hulu keris, namun lebih panjang dan melengkung yang terbuat dari kayu galih asem (kayu bagian tengah dari pohon asam). Bersama pohon beringin, ia sukses membentuk dwi tunggal pohon markas dhemit yang disegani dan selalu bikin bergidik ngeri siapapun yang melewatinya. Dipercaya kayu galih asem akan memperkuat energi dari pusaka yang ditempatinya. Sedangkan pada kelengkapan tutupnya sudah dibuatkan model baru dengan mengambil bentuk siluet sang semar yang membulat seperti telor, terbuat dari kayu cemara wangi dengan unyeng puser bolak-balik (adalah unyeng-unyeng yang terletak dibagian perut, tuahnya diyakini dapat mempermudah pemiliknya dalam mencari rezeki dan memberikan kemakmuran sandang pangan), dimana sebelumnya semar kuncung ini menggunakan warangka keris.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *