Tombak Pataka Makara

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 9.999,999,- (TERMAHAR) Tn. HK, Kebayoran Baru, Jakarta


1. Kode : GKO-398
2. Dhapur : Baru Kuping Kinatah Makara
3. Pamor : Keleng
4. Tangguh : Surakarta (Abad XIX)
5. Sertifikasi Museum Pusaka No : 1270/MP.TMII/X/2019
6. Asal-usul Pusaka :  Temuan Wuwungan Rumah Joglo
7. Dimensi : panjang bilah 24 cm, panjang pesi  11 cm, panjang total 35 cm
8. Keterangan Lain : kolektor item


ULASAN :

TOMBAK PATAKA, adalah tombak yang biasanya dipasang pada ujung bendera/panji/lambang pasukan. Secara etimologi, bendera/panji merupakan secarik kain kibaran yang berwarna, kadang juga bergambar dan/atau bertulisan, yang dikibarkan sebagai lambang cita dan tanda kehormatan dari yang menggunakan. Dulunya panji-panji ini sangat sakral sekali kedudukannya, dikenal oleh pengikut-pengikut maupun musuh-musuhnya. Selain melambangkan kehormatan, dianggap memiliki kekuatan gaib. Malahan, panji perang dianggap punya kekuatan luar biasa, objek yang bisa membuat gentar musuh-musuhnya.

Lalu, sejak kapan sebenarnya pataka ini mulai hadir di Nusantara? Sedikit menelisik ke belakang, ternyata Candi Borobudur sebagai salah satu peninggalan arkeologis memberikan bukti lekatnya pataka terhadap sejarah Bangsa Indonesia. Candi yang dibangun pada masa Dinasti Syailendra pada abad ke IX ini memiliki bukti relief di salah satu dindingnya yang menggambarkan tiga orang hulubalang membawa pataka/umbul-umbul berwarna gelap dan terang, diduga melambangkan warna merah dan putih.

Selanjutnya, Pararaton juga pernah mencatat mengenai sebuah kerajaan yang bernama Singhasari berdiri pada tahun 1222 sampai 1292 setelah Kerajaan Kediri mengalami kemunduran. Sejarah yang disebut dalam tulisan Jawa kuno memakai tahun 1216 Caka (1254 Masehi), diantaranya menceritakan tentang perang antara Jayakatwang melawan Raden Wijaya. Pada saat itu tentara Singasari sedang dikirim ke Semenanjung Melayu (ekspedisi Pamalayu), Jayakatwang mengatur siasat mengirimkan tentaranya dengan mengibarkan panji-panji berwarna merah putih dan gamelan kearah selatan Gunung Kawi.

Kidung Pararaton menerangkan: Samangka siraji jayakathong mangkat marep ing Tumapel, sanjata kang saka lor ing Tumapel, wong Deha naghala hala, tunggul kalawan tatabuhan penuh

[Sekarang raja Jaya Kathong berangkat menyerang Tumapel. Tentaranya yang datang dari sebelah utara Tumapel terdiri dari orang orang Daha yang tidak baik, berbendera dan bunyi bunyian penuh].

Melompat pada era perang Jawa, pada era itu lazim tokoh-tokoh pemimpin punya panji perang yang diberikan nama. Menurut Serat Babad Pakunagaran yang meriwayatkan tahun 1750, di tengah-tengah perang di Gondang, dekat Surakarta, ditulis deskripsi panji perang Mangkunagara: bandera wulung kakasih, pun Samber Nyawa, ciri wulan aputih; sebuah panji perang berwarna wulung, namanya Samber Nyawa, dan berciri bulan berwarna putih (hampir pasti bulan sabit). Dalam sumber primer lain, kita juga bisa mengetahui panji perang Pangeran Mangkubumi bernama Gula Kalapa. Prawira terkemuka Rongga Prawiradirja mempunyai panji yang bernama Geniroga (api penyakit) dengan gambar seekor monyet yang berwarna wulung.

Semakin terlatih suatu bregada atau resimen maka mereka akan semakin disiplin dalam menerapkan suatu formasi yang ditentukan panglimanya. Adalah hal yang penting untuk setiap resimen agar memiliki kemampuan untuk bisa mempertahankan formasinya masing-masing dalam pertempuran sebagai penunjang keberhasilan strategi memenangkan peperangan. Dalam kekacauan yang terjadi dalam suatu pertempuran, para prajurit harus bisa menentukan dimana posisi resimen mereka masing-masing. Untuk inilah sebuah panji menjadi semacam penunjuk vital dalam peperangan untuk menandai titik berkumpul atau lokasi para senapati perang.

Namun dalam angkatan bersenjata modern seperti sekarang ini, dikarenakan perkembangan senjata muthakir dan perubahan taktik berperang, pataka biasanya tidak lagi dibawa ke medan pertempuran, namun tetap digunakan dalam acara-acara kemiliteran yang bersifat formal.

MAKARA, Bagian tubuh manusia yang diyakini sebagai simbol penolak bala adalah muka. Keyakinan itu telah ada dan berkembang sejak masa pra Hindu, terus ada dalam zaman pengaruh Hindu-Budha, bahkan hingga kini tidak serta merta hilang di beberapa kelompok etnis Nusantara. Pada awal kemunculannya, penggambaran muka tampak sederhana, kemudian berkembang menjadi bentuk kala atau banaspati (di Bali). Sesuai dengan keyakinan yang melatarinya, maka keberadaan relief kala-makara tersebut mengandung makna bahwa daerah itu merupakan area yang “bersih”, hal yang sama berlaku pula bagi orang-orang yang melewati gerbang makara, telah hilang pula pengaruh roh-roh jahat.

Dan ketika para orang tua di zaman dahulu mengajarkan kepada anak-anaknya agar takut kepada Buta Kala, yang sebenarnya adalah kita diajarkan untuk takut pada raksasa yang ada dalam diri kita sendiri, yakni hawa nafsu yang dahaganya tak kenal puas. Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan mampu mengekang diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah yang nanti layak menjadi tempat berpulangnya.

PAMOR KELENG, Dalam pamor keleng tidak nampak guratan pamor warna putih atau abu-abu seperti halnya pamor-pamor lain. Keris/tombak/pedang dengan pamor keleng jika diwarangi hanya terlihat hitam kehijauan, kebiruan atau keabu-abuan. Kadang dalam masih terlihat sedikit nyanak, akan tetapi banyak yang mengatakan warna tersebut muncul akibat dari lipatan besi.

Keris/tombak/pedang dengan pamor keleng lebih mengutamakan kematangan tempa juga kesempurnaan garap, sehingga memiliki pesona tersendiri bagi penikmat tosan aji. Garap di sini yang dimaksud adalah meliputi keindahan bentuk bilah, termasuk di dalamnya ricikan. Pamor Keleng juga bisa menjadi bahasa untuk memahami tingkat kematangan Sang Empu, secara lahir maupun batin. Secara lahir bisa dilihat kesanggupan Sang Empu dalam mengolah besi untuk menjadi matang. Dalam penggarapan selain skill dibutuhkan pula kedalaman batin. Kedalaman batin Empu diterjemahkan dalam pamor yang hitam polos tidak bergambar. Empu sudah menep (mengendap) dari keinginan nafsu duniawi. Efek yang ditimbulkan dari sugesti terhadap keris keleng tersebut adalah, bahwa keris tersebut mampu menjadi tolak bala. Ada juga yang beranggapan bahwa keris keleng tersebut memiliki kekuatan yang secara esoteri lebih multifungsi, dibanding dengan keris yang berpamor.

CATATAN GRIYOKULO, dhapur langka, garap terasa hidup, besi pulen, dan sandangan pun sudah macak baris. Beberapa variabel yang biasanya ingin diwujudkan dalam memilih tosan aji sudah dihadirkan. Maka biarlah ia memilih tuannya.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.


Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *