Suratman Ketip

10590558_1712292255668741_9142982091114899016_n

Mahar : 4,343,430,- (TERMAHAR) Tn. AP, Gatsu – Jakarta


 
  1. Kode : GKO-225
  2. Dhapur : Tilam Upih
  3. Pamor : Ketip
  4. Tangguh : Tuban Mataram (Abad XVI)
  5. Sertifikasi : Museum Pusaka TMII No : 255/MP.TMII/IV/2017
  6. Asal-usul Pusaka : Pekalongan, Jawa Tengah
  7. Dimensi : panjang bilah 36,7 cm, panjang pesi 6 cm, panjang total 42,7 cm
  8. Keterangan Lain : ketip berjumlah 43


Ulasan :

SURATMAN KETIP, Nama Suratman konon berasal dari nama seorang Empu yang berasal dari Tuban di era pasca kerajaan Majapahit. Empu Suratman merupakan anak dari Mpu Kuwung, Pajajaran. Konon dalam pengembaraannya Mpu Suratman pernah singgah dan membabar keris di desa Gambaran, Pekalongan.

Sedangkan Ketip diambil dari nama mata uang logam jaman dulu. Dhapur keris lurus dengan ricikan sederhana, seperti tilam upih, tilam sari atau brojol dengan ciri khas berpola geometri (bulatan) mirip picis atau kepeng (uang logam kuno) yang ditata rapi dari sor-soran atau pangkal bilah hingga pucukan atau ujung bilah familiar dikenal sebagai keris Suratman Ketip jika berada di kota Pekalongan dan sekitarnya. Pada pamor ketip bulatan uang logam itu ada yang terpisah-pisah renggang, ada yang seolah bertumpuk berjajar (dinamakan lethrek) dan ada pula pada bulatannya terdapat garis tengah  (dinamakan rentheng). Uniknya pula selalu berjumlah ganjil dan letak uang logam tersebut berselang seling tingginya antara sisi muka dan sisi belakang.

Keris Suratman Ketip sangat diyakini oleh masyarakat Pekalongan sebagai pusaka kerejekian, kemakmuran dan cocok untuk pedagang atau pengusaha. Bahasa semiotik menjabarkan pengambaran akan simbol-simbol tersebut merepresentasikan rejeki (harta) yang selalu berderet (keajegan atau konsistensi), menumpuk tiada habisnya (kesejahteraan). Uang logam juga memiliki kemampuan untuk memikat kesuksesan. Orang jawa menyebutnya dengan “cepak rejeki /sandang pangane”. Tak ayal lagi sampai sekarang keris-keris ini masih sinengker dan banyak disimpan sebagai ‘piyandel’ dagang oleh juragan-juragan batik atau kapal di kota Pekalongan. Mereka berkeyakinan tuah pamor keris Suratman Ketip tidak kalah dahsyatnya dengan pamor udan mas.

Selain itu, Keris Suratman Ketip biasanya memang tidak diwarangi, warna hitamnya identik dengan cara perawatannya dimana perawatan keris suratman ketip memang biasanya hanya diolesi minyak misik hitam kemudian diasapi dengan menyan/hio/dupa untuk menutup pori bilah. Justru dengan tidak diwarangi akan membuat besi tampak hitam dan awet. Perpaduan kearifan lokal antara minyak dan asap ternyata cukup efektif meredam serangan karat.

CATATAN GRIYOKULO, semerbak aroma wangi yang mistis akan langsung tercium siapapun yang melolos bilah pusaka ini dari sarung yang sudah tampak berumur. Penampilan besinya yang tampak hitam oleh endapan minyak puluhan bahkan sangat mungkin ratusan tahun menambah aura kewingitannya tersendiri. Penampilan bilah keris Suratman Ketip yang otentik seperti inilah yang paling disukai, lurus hitam legam sesuai dengan lambang Kabupaten Pekalongan yang di tengah perisai terlukis sebuah keris lurus terhunus berwarna hitam. Oleh karena itu khusus keris yang satu ini (baca: Suratman Ketip), seolah berlaku “hukum tak tertulis” untuk tidak atau cenderung menghindari memutihkan bilah hingga mewaranginya. Di pasar tosan aji pun keris Suratman ketip yang sudah dijamas cenderung kurang disukai kolektor.

Karakter keris langgam Tuban sangat dominan mempengaruhi bagian sor-soran, tikel alis yang cantik, terlihat nggagang terong (memiliki ketebalan umum, panjang dan melengkung di bagian ujungnya) seolah sang empu ingin menambahkan unsur femininitas untuk mengimbangi unsur “wingit”. Tantingan begitu ringan, jika besi dijenting dengan jari terdengar bunyi ting yang nyaring pertanda matang tempa.

Ukuran panjang bilah 36-37 termasuk agak panjang diantara keris ketip yang lain (walau adapula keris ketip corok dengan panjang lebih dari 40 cm). Demikian pula jumlah pamor ketip yang berderet berjumlah 43, melebihi jumlah rata-rata keris ketip umumnya. Semakin banyak jumlah ketip yang berderet diyakini semakin powerful untuk menjadi magnet rezeki. Wallahu a’lam.

Dialih-rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.

Contact Person :

Griyokulo Gallery Jl. Teluk Peleng 128A Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan

Facebook : Griyo Kulo SMS/Tlp/WA : 0838-7077-6000 Email : admin@griyokulo.com

————————————

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *